Kamis, 02 Mei 2013

Yuk, Kita Peringati Hari Kartini !





Kenapa setiap tahun, setiap tanggal 21 April selalu di rayakan hari Kartini?. Tanya teman Kutu waktu itu.

Kalau setiap hari, capeeeeee deh …. Itu jawab Kutu pada sang teman.
*****

Waktu itu Kutu masih PAUD, belum ngerti apa-apa dan gak kenal dengan ibu-ibu yang bernama Kartini. Semua teman Kutu, anak-anak PAUD semua kan, gak ada yang STW (dibaca : setengah tua).
Kutu cuma disuruh pakai, pakaian adat. Mama Kutu bingung, karena Mama merasa orang Indonesia, bukan orang Jawa lagi. Papa nya Mama orang Jawa tapi Mama nya Mama bukan orang Jawa walhasil Mama berdarah gad0-gad0. Dan Kutu berdarah kredok, pecel atau ketoprak. Mana Kutu tahu, Kutu kan masih PAUD?.
Untuk membeli baju daerah atau baju adat jelas dibutuhkan uang bukannya daun. Sewa pun pakai uang juga bukan pakai sendal jepit. Papanya Kutu pulang kerumah dengan muka cemberut. Waktu ditanya Mama, Papa cemberut kenapa?. Papa bilang, musim hujan gak ada yang mau minum cendol, dagangan sepi.
Mama jadi pusing gara-gara hari Kartini. Sebenarnya yang bikin pusing Mama bukan Bu Kar (maksudnya : Katini) tapi Bu Eyot (guru play grupnya Kutu).
“Huh, gara Kartini nih Mama jadi bingung!.”
“Sudah, Ma, cuek’in aja, Bu Kar bukan saudara kita ini.” Sahut Kutu.
“Nanti kamu dimarahin Bu Eyot!, Mama kan gak enak.”
“Memangnya Bu Eyot itu siapanya Bu Kar sih, Ma?.” Tanya Kutu polos.
“Ah, percuma ngomong sama anak kecil, kamu gak ngerti deh. Besokkan hari Kartini, sekolahan kamu kan  ada Carnaval pakaian adat keliling kampung.”
“Asyik, Kutu mauuuu, Ma, banyak makanan nya kan?.”
“Makanan melulu yang dipikirin!.” Kata Mama kesal. “Dari pada pusing, sudah besok kamu gak usah ikut saja!.”
“Ya, Mamaaaaa, gak seru dong!.”
“Au ah, gelap!.” Sahut Mama sambil meninggalkan Kutu yang sedih.
Namanya juga Kutu, dari pada sedih mending dia main. Main ke rumah Legowo, teman play grup sekaligus tetangganya.
“Wo, besok kamu ikut carnaval?.” Tanya Kutu.
“Ikut, dong. Besok saya pakai pakaian Jawa, pakai blangkon!.”
“Huh!, pakai blangkon aja bangga!.” Sahut Kutu Kesal.
Timothi datang sambil cengengesan. Timothi adalah teman play grup Kutu dan Legowo yang berasal dari Irian.
“Kenapa kamu cengengesan, Timothi?.” Tanya Hafid.
“Pokoknya, lihat saja besok!, di carnaval nanti, pasti aku yang paling heboh!.”
Wow, decak kagum Kutu dan Hafid.
Kutu pulang dari rumah Hafid, hati nya bertambah sedih. Teman-teman yang lain pada ikut Carnava, sedangkan aku tidak. Gara-gara cendolnya Papa gak laku, aku tidak bisa memperingati hari Kartini.
Hari H- Kartini tiba. Di halaman sekolah PAUD Desa Rangkat.
Suasana pagi di desa Rangkat ada warna-warni. Oh, ramai anak-anak PAUD desa Rangkat yang sedang bersiap-siap mengikuti acara Carnaval pakaian adat. Ada yang berpakaian adat jawa, sunda, minang dan betawi dan lain-lain.
Ibu-ibu yang mengantar pun ceria, wajahnya gembira melihat anak-anaknya yang cantik, anggun dan  gagah dengan pakaian adatnya.
Timothi datang bersama Mamanya. Beberapa ibu-ibu cengengesan, melirik Timothi bergantian melihat Mama nya juga.
Timothi, masuk ke barisan belakang. Seorang ibu ‘nyeletuk kepada Mamanya Timothi.
“Kok, Pakai koteka, Mama Timothi?.”
“Bandel, Bu anaknya!, dikasih pakaian adat yang lain dia gak mau!, mau nya pakai koteka!.” Sahut Mama nya Timothi.
“Ya, maklumlah… namanya juga anak-anak!.” Sahur Mamanya Timothi cengar-cengir.
“Hihihihihih… lucu ya anu nya, imut-imut !.” Sahut Ibu-ibu yang lain sambil menunjuk ke arah Timothi.
“Apanya yang lucu sih, Bu?.” Tanya Ibu yang disebelahnya gak ngerti.
“Itu sih, bukan lucu Bu!, tapi woooow seram.” Kata ibu yang lain lagi.
“Apanya yang seram sih, ibu-ibu?.” Tanya Mama Timothi.
“Hehehehe… koteka nya, Bu!.” Sahut ibu yang lain.
Seluruh murid-murid PAUD sudah bersiap-siap baris.
Tiba-tiba dari arah lain, seorang anak kecil berteriak-teriak.
“woiii, woiiii tunggu!, Kutu mau ikuuuuut!.”
Kutu berlari ke arah barisan anak-anak.
Sambil memperagakan gerakan silat beberapa jurus, Kutu berteriak, “Ciaaat!, ciat!, ciaaat!, Berubah!, berubah!.”
Ibu-ibu pada tertawa melihat gerak dan pakaian adat yang dikenakan si Kutu.
“Aya aya wae ya si Kutu!.” Tanyat seorang ibu dengan logat sundanya yang kental. “Eta teh, pakaian adat naon?.”
“Mane gue tau?.” Sahut Ibu lain dengan logat betawinya. “Emang gue pikirin, yang penting si Kutu pakai pakaian, tul’ gak ibu-ibu?.”
“Betttuuuuuul.” Sahut ibu-ibu koor.
“Jammaaaaaaaaah !.” Tiba-tiba dari arah belakang seorang ibu Jail menirukan suara da’i kondang. “Oww.. jamaah.”
Bu Eyot cengar cengir melihat tingkah si Kutu. Berhubung dia guru, jadi Bu Eyot harus Jaim dan terlihat bijak menanggapi tingkah anak-anak PAUD, terutama si Kutu.
“Hehehehehe… Kutu sini!, ayo baris paling depan!.”  Panggil Bu Eyot.
Kutu pun menghampiri Bu Eyot dan berdiri di barisan paling depan.
“Hehehehehe, by the way, kamu pakai pakaian apa, Kutu?.” Tanya Bu Eyot.
“Wah, kamseupay nih Bu guru, ini baju Megaloman!.” Sahut Kutu bangga, Dan langsung kutu memperagakan beberapa gerakan silat, lalu berteriak. “Ciiiaaaat!, ciat!, ciiiaaat!, Berubah!, berubah!.”
Bu Eyot jadi ketawa melihat tingkah lucu si Kutu.
“Hehehehehe … yang pentingkan kita peringati hari Kartini.” Kata Bu Eyot pada bu guru yang lainnya.
“Ho oh, Bu, hari Kartini bukan hari Kartono, Bu.” Sahut guru lain gak nyambung.
“Anak-anak PAUD Desa Rangkat, sudah siaaaaapppp!.” Teriak Bu Eyot pada anak-anak semua.
“Siiiiiaaaaap, Bu!.” Serempak anak-anak berteriak lantang.
“Ibu-ibu jangan ngerumpi melulu ya!, anak-anaknya pada dikawal ya ibu-ibu!.” Sahut Bu Eyot pada ibu-ibu.
Tetap saja, namanya ibu-ibu enakkan ngerumpi dari pada memperhatikan anak-anaknya, hehehehe.
Kutu gagah berjalan dibarisan paling depan. Disebelahnya, gadis cilik yang cantik dan anggun dengan pakaian adat jawa ala Kartini kecil.
“Kutu kenapa setiap tahun, setiap tanggal 21 April diperingati hari Kartini?.” Tanya Kartini kecil pada Kutu.
“Kalau setiap hari, capeeeee deh!.” Jawab Kutu seenaknya.

*****

Kutu Kata si Kutu Buku Rangkat, 21 April 2012

Ilustrasi Gambar :  juliefisipuns.blogspot.com


Tidak ada komentar: