Sarapan pagiku adalah kesepian. Yang kau hidangkan dalam piring kesedihan.
Kureguk segelas kepahitan yang ‘kan menghangatkan amarahku.
Pagi-pagi aku berangkat dalam
keengganan menuju kebosanan.
Bekerja yang seharusnya adalah
mewarnai, malah menyurami jiwa.
Dimana bisa ku beli sepiring
humor?.
“Ma’af Tuan, disini tidak
menjual humor. Yang ada semur, semur daging atau ayam,Tuan?”. Ibu penjaga
warteg itu tidak mengerti tentang “lapar”ku.
“Ada obat humor,Pak?.”
“Ada juga Viagra, Ciallis, Kuku
si Bima, Tongkat si Ali dan Ramuan Mak Erot.” Jelas si pedagang obat kuat.
Huh, pedagang obat itu tidak
mengerti bukan obat yang membuatku tetap kuat.
“Otak Tuan masih Pentium 2
kali?.” Kata tukang service komputer.
“Hmm, mungkin. Bisa di up grade?.”
“Hmm, mungkin. Bisa di up grade?.”
“Perbanyak nonton tayangan
humor, Tuan.” Jelasnya lagi.
“Dimana? Di TV?. Stand Up Comedy, tempatnya para pelawak belajar melawak?. OVJ?, bosan, sudah gak lucu lagi!.”
“Dimana? Di TV?. Stand Up Comedy, tempatnya para pelawak belajar melawak?. OVJ?, bosan, sudah gak lucu lagi!.”
“Wah, selara humor Tuan terlalu tinggi. Jadi apa yang bisa membuat Tuan terhibur?.” Tanya pemuda, tukang service komputer.
Jakarta Lawyers Club,
sidang-sidang anggota DPR yang ditayangkan di TV, Perdebatan-perdebatan”pepesan
kosong”antara pejabat dan pengamat. Kira-kira itu yang masih bisa membuatku
tersenyum. Sebuah tayangan lawak yang lumayan lucu walaupun basi. Akupun terus
mencari dimana bisa kubeli sepiring humor untuk mengenyangkan rasa warasku.
Dimana lagi bisa kubeli sepiring
humor?.
Di tukang loak?. Di lokalisasi?.
Atau di panti pijat-panti pijat plus?.
Tok,tok, tok!. Managerku masuk
tanpa permisi, “Kita sudah terima kontrak untuk 100 episode lagi.” Katanya
sambil berbunga-bunga.
“Apa?. Sudah gila kau ini?.”
“Kenapa?, Ini adalah puncak
karir Tuan. Orang-orang masih suka dengan humor Tuan.”
“Aku sudah tidak punya selera
humor lagi. Titik!, aku berhenti.”
“Tidak bisa, Tuan harus
lanjutkan acara itu!.”
“Apakah kamu masih punya selera humor?.
Mengapa tidak kamu saja jadi bintangnya?. Hmm, lumayan bayarannya besar.”
Kataku mengejek.
“Ingat, Tuan tidak bisa berhenti
begitu saja, Tuan masih terikat kontrak dengan kami. Pembatalan kontrak secara
sepihak akan dituntut sesuai hukum yang berlaku!.” Managerku marah.
Setiap hari, aku dituntut untuk
bisa menghibur orang lain. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk menghibur diriku
sendiri. Ironis pekerjaan ini. Orang-orang menganggap aku lucu sementara aku
menganggap mereka yang menertawakanku adalah menyebalkan.
Mereka berani membayarku mahal
hanya untuk mengenyangkan rasa warasnya. Sementara aku, untuk membeli sepiring
humor saja, tidak ada yang menjual. Padahal berapapun akan aku bayar kalau
memang itu memenuhi selera humorku.
Akibat stroke, kondisi kesehatan
Tuan sangat payah. Mulut, tulang pipi dan lehernya tidak simetris lagi.
Ia tak bisa berkata-kata, cuma
bisa senyum dan senyum. Tidak ada orang yang tahu arti dan maksud dari
senyumnya. Hanya Tuan dan Tuhan saja yang tahu.
Hehehe, Tuhan, Kau buat aku
stroke, kemana-mana ku cari yang menjual sepiring humor ternyata Kau punya
selera humor juga.
*****
Kutu Kata, Sepiring
Humor, 03072012
Ilustrasi Gambar : www.funnyfoodart.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar