Kamis, 02 Mei 2013

Sepiring Humor



Sarapan pagiku adalah kesepian. Yang kau hidangkan dalam piring kesedihan.
Kureguk segelas kepahitan yang ‘kan menghangatkan amarahku.
Pagi-pagi aku berangkat dalam keengganan menuju kebosanan.
Bekerja yang seharusnya adalah mewarnai, malah menyurami jiwa.
Dimana bisa ku beli sepiring humor?.
“Ma’af Tuan, disini tidak menjual humor. Yang ada semur, semur daging atau ayam,Tuan?”. Ibu penjaga warteg itu tidak mengerti tentang “lapar”ku.
“Ada obat humor,Pak?.”
“Ada juga Viagra, Ciallis, Kuku si Bima, Tongkat si Ali dan Ramuan Mak Erot.” Jelas si pedagang obat kuat.
Huh, pedagang obat itu tidak mengerti bukan obat yang membuatku tetap kuat.
“Otak Tuan masih Pentium 2 kali?.” Kata tukang service komputer.
“Hmm, mungkin. Bisa di up grade?.”
“Perbanyak nonton tayangan humor, Tuan.” Jelasnya lagi.
“Dimana? Di TV?. Stand Up Comedy, tempatnya para pelawak belajar melawak?. OVJ?, bosan, sudah gak lucu lagi!.”

“Wah, selara humor Tuan terlalu tinggi. Jadi apa yang bisa membuat Tuan  terhibur?.” Tanya pemuda, tukang service komputer.
Jakarta Lawyers Club, sidang-sidang anggota DPR yang ditayangkan di TV, Perdebatan-perdebatan”pepesan kosong”antara pejabat dan pengamat. Kira-kira itu yang masih bisa membuatku tersenyum. Sebuah tayangan lawak yang lumayan lucu walaupun basi. Akupun terus mencari dimana bisa kubeli sepiring humor untuk mengenyangkan rasa warasku.
Dimana lagi bisa kubeli sepiring humor?.
Di tukang loak?. Di lokalisasi?. Atau di panti pijat-panti pijat plus?.
Tok,tok, tok!. Managerku masuk tanpa permisi, “Kita sudah terima kontrak untuk 100 episode lagi.” Katanya sambil berbunga-bunga.
“Apa?. Sudah gila kau ini?.”
“Kenapa?, Ini adalah puncak karir Tuan. Orang-orang masih suka dengan humor Tuan.”
“Aku sudah tidak punya selera humor lagi. Titik!, aku berhenti.”
“Tidak bisa, Tuan harus lanjutkan acara itu!.”
“Apakah kamu masih punya selera humor?. Mengapa tidak kamu saja jadi bintangnya?. Hmm, lumayan bayarannya besar.” Kataku mengejek.
“Ingat, Tuan tidak bisa berhenti begitu saja, Tuan masih terikat kontrak dengan kami. Pembatalan kontrak secara sepihak akan dituntut sesuai hukum yang berlaku!.” Managerku marah.
Setiap hari, aku dituntut untuk bisa menghibur orang lain. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk menghibur diriku sendiri. Ironis pekerjaan ini. Orang-orang menganggap aku lucu sementara aku menganggap mereka yang menertawakanku adalah menyebalkan.
Mereka berani membayarku mahal hanya untuk mengenyangkan rasa warasnya. Sementara aku, untuk membeli sepiring humor saja, tidak ada yang menjual. Padahal berapapun akan aku bayar kalau memang itu memenuhi selera humorku.
Akibat stroke, kondisi kesehatan Tuan sangat payah. Mulut, tulang pipi dan lehernya tidak simetris lagi.
Ia tak bisa berkata-kata, cuma bisa senyum dan senyum. Tidak ada orang yang tahu arti dan maksud dari senyumnya. Hanya Tuan dan Tuhan saja yang tahu.
Hehehe, Tuhan, Kau buat aku stroke, kemana-mana ku cari yang menjual sepiring humor ternyata Kau punya selera humor juga.
*****
Kutu Kata, Sepiring Humor, 03072012
Ilustrasi Gambar : www.funnyfoodart.com

Tidak ada komentar: