Sebuah buku sudah di cetak, lalu
apa lagi?.
Apakah aku terlalu cepat
mengambil keputusan?. Mencetak beberapa cerpen-cerpenku dalam sebuah
buku. Dengan lay out yang grafis dan judul yang cukup fenomenal.
Lalu apa lagi?.
Penerbitan main stream,
apakah mereka mau menerima?. Atau kumpulan cerpenku cuma jadi sampah maya.
Lalu kuputuskan untuk bekerja
sama dengn penerbitan indie. Bukankah sekarang era nya indie,
jika formalitas dan kekakuan yang ada di penerbitan main stream maka
kebebasan dan fleksibilitas yang dikedepankan oleh penerbit indie.
Aku bebas, boleh menggunakan
jasa editor. Atau sesuka hatiku saja karena sang “penggunting” adalah
aku sendiri, egoku sendiri.
Dari mulai lay out sampul,
desain gambar, tata warna dan jenis huruf, aku tentukan sendiri.
Beberapa naskah (lagi-lagi yang menurutku ‘keren atau pantas untuk
dibukukan) telah ku pilih dan ku email ke penerbitan indie itu. Beberapa kali
aku harus komunikasi kan by email hingga aku benar-benar conform
dengan sampul depan buku pertamaku.
Hmm, aku pikir, sampul dengan
dominan warna black and white akan menjadi ciri khas buku-bukuku
nanti. Subyektifitas yang menjadi dasar pilhanku karena aku hanya
mengandalkan rasa dan intuisi ku saja sebagai seorang “sok”
seniman.
Uang ongkos cetak dan perjanjian
fee royalty sudah lebih dulu aku transfer dan tanda tangani. Karena
itu sudah menjadi persyaratan awal sebagai langkah keseriusanku untuk
mencetak sebuah buku.
Kini buku sudah dicetak, sebuah
buku kini sudah ada ditanganku. Dari aku terus membolak-balikkan isi buku,
kemudian ku baca lagi kata pengantar, lalu ku lihat sampul buku yang menurutku
‘keren. Pada halaman pertama buku itu sebuah kertas putih yang hanya berisi
judul kumpulan cerpenku kemudian aku tanda tangani dengan bangga. Ah, sebuah
perbuatan norak yang aku lakukan sebagai penulis pemula.
Siapa yang tidak bangga?,
mencetak buku adalah cita-cita tertinggi dari setiap penulis. Wow, ‘keren kini
aku sudah jadi penulis!.
Lalu apa lagi?.
Siapa yang akan membeli buku
ku?. Ah, aku kok jadi ragu!. Siapa yang sudi membacanya mungkin itu saja
harapanku. Kebangganku kini berbanding terbalik ketika aku berfikir, hendak ku
kemana kan buku yang telah ku cetak ini?.
Minimnya ilmu pemasaran. Tidak
adanya survey pasar lebih dahulu, trend apa yang sedang diminati oleh
pasar?. Baru sekarang terasa kalau aku cuma bermodalkan idealisme ku
saja. Sebuah idealisme atau sebuah kekonyolan menjadi tipis sekali
perbedaan nya. Cita-citaku yang menggebu kadang mudah kandas karena kurang
percaya diriku lebih sering mengemuka jika melihat realita yang ada.
Jangankan mengharap untung besar
dalam penjualan buku itu, ada yang mau membaca dan memberikan atensi
dan komen atas isi buku ku saja sudah aku syukuri. Nama besar seorang
penulis, hahahaha… kini cuma jadi impianku saja. Siapa yang kenal aku?,
tetangga-tetangga dan saudara-saudaraku saja mengenalku sebelum mencetak
buku dan sesudah mencetak buku sama saja. Apa ada yang berubah pada diriku?,
kurasa sama saja. Cuma kepalaku saja yang kadang suka “membesar” karena sering
mengidap penyakit Ge Er.
Tumpukan buku-buku di ruang
perpustakaanku telah penuh sesak. Sebuah buku karyaku sendiri hampir tak ada
tempat di rak perpustakaanku sendiri. Apakah aku mencetak buku hanya ingin
menambah sesak saja?. Pikiran konyol itu membuat lompatan-lompatan pikiran,
gagasan dan ide-ide ku berkelana kemana-mana, bebas mengembara karena ia tak
dibatasi dimensi.
Aku pernah membaca, berapa hutan
yang akan dirusak demi mencetak sebuah buku?. Mengapa sejauh itu aku berfikir,
siapa sebenarnya yang telah merusak hutan?, merusak bumi?. Jawabannya adalah
manusia.
Pikiranku melompat lagi,
Bayangkan jika sebuah judul buku dicetak dalam beberapa eksemplar?. Berapa buku
yang dicetak dalam sehari ini diseluruh dunia dikalikan dengan jumlah rata-rata
eksemplar, akan menghasilkan angka yang dahsyat. Angka yang dahsyat itu jika
dikalikan 365 hari dalam setahun akan menghasilkan sebuah angka yang pantas
menjadi alasan manusia menebangi pohon, merusak hutan inchi demi inchi, merusak
bumi hektar demi hektar setiap hari diseluruh muka bumi.
Lantas, jika terjadi bencana
pada alam, kita mudah saja menuding bahwa Tuhan tidak adil. Bukankah ketidak
seimbangan ekosistim pada bumi kita sendiri yang buat?.
Sebagai makhluk yang “mencoba”
berbudaya dan beradab, aku pun miris melihat kenyataan itu.
Keputusanku mencetak buku adalah sebuah keputusan yang terburu-buru, hanya
mengejar popularitas dan nilai ekonomis semata.
Sementara banyak sisi lain yang kurasa lebih bijak sebagai wadah tempatku
ber-ekspresi. Melalui blog dan web site pribadiku, aku bisa
terus berkarya tanpa dihantui perasaan sebagai perusak hutan. Blog ku di Kompasiana,
merupakan wujud eksistensiku dalam dunia penulisan. Walau hanya ada di
pojok sepi, dilirik saja pun, aku sudah bersyukur.
Sebuah Essai Kutu Kata, 281012
Keterangan Gambar : Sumber Gambar : link http://www.ve.lt/naujienos/laisvalaikis/ivairybes/biblioteku-dienos-jau-baigesi-915950/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar