“Ma … Ma … .” Aku tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Dengan nafas masih tersengal, sibuk mencari istriku.
Dari
arah dapur, istriku pun bergegas keluar.
“Ada
apa, say?.” Tanya istriku bingung. “Kaya di kejar-kejar setan aja!.”
“Ini
loh, Ma! (sambil menunjukkan buku tabungan). Ada yang transfer seratus
juta ke rekeningku, Ma!.”
“Hah!.”
“Siapa
ya yang transfer?.” Tanyaku bingung.
“Lah!,
siapa, Pa?, Papa gak tau?, Aneh… .?” Sahut istriku bawel.
“Apa..
mungkin Tuhan, Pa?.”
“Tuhan
gak punya nomor rekening, Ma!.”
“Hehehehe,
bukan itu maksudku Pa, anggap saja itu rejeki dari Tuhan!.”
“Hus!,
nanti dulu… kalau yang punya minta, bagaimana?.”
“Memangnya
punya siapa?.”
“Gak
tau deh!.” Sahutku bingung. “Jangan-jangan … .”
“Kenapa,
Pa?.” Tanya istriku ketakutan.
“money
laundring!.” Sahutku ketakutan juga.
Istriku
cuma diam, gak ngerti money laundring.
Apa
mungkin Koruptor yang ketakutan karena di periksa KPK?, berubah menjadi
sinterklas yang membagi-bagikan hadiah dengan sembarangan transfer ke
rekeningku untuk mencuci uang?.
Waduh,
bisa gawat nih urusan nya!. Dorce gamalama (maksudnya : buah simalakama),
dimakan bapak mati, gak di makan ibu yang mati. Di ambil duitnya, di tangkap
polisi. Gak di ambil duitnya, di sangka kerja sama dengan si koruptor, terus di
tangkap polisi juga. Ah!, mending dihabisin sekarang saja duitnya. Urusan
polisi?. Pasang badan saja, paling di hukum cuma 3 bulan.
“Ayo,
kita ke bank sekarang juga, Ma!.”
“Papa
ini gimana sih, Bank kan jam 3 tutup.”
“Oh,
iya.. .” Sahutku linglung.
“Pake
ATM saja, Pa!.”
“Ah,
cuma bisa 5 juta doang, Ma!.”
“Gak
apa-apa, Pa … lumayan!.”
“Hah!,
lumayan bagaimana? (kesal), gak seimbang dong masa ngambil 5 juta
dihukumnya 3 bulan juga.”
“Loh,
kok dihukum?, memangnya kita maling?.”
“Mengambil
yang bikin miliknya, maling juga namanya, Ma.”
“Papa
ini bagaimana sih, sudah pensiun saja masih idealis.” Sahut istriku marah.
“Kalau kita ngambilnya dari rekening orang lain, baru maling nama nya, Pa!.”
“Kita
ini kan ngambil uang dari rekening kita sendiri … tabungan milik kita sendiri.”
Sahut istriku lembut. “Kalau ada orang yang salah transfer, ya salahnya dia
sendiri toh!.”
“Tapi,
Ma … kita kan gak tau, apa uang itu uang hasil korupsi atau boleh merampok?.”
“Terus
Papa mau selidiki, gitu?.” Tanya istriku kesal. “Jalan saja sudah pakai tongkat
mau bergaya seperti detektif!, eling, Pa!, eling … wis tuwir (terjemahan
nya : sudah tua) kita ini, Pa!.”
“Hehehehehe
… .” Aku nyengir sambil garuk-garuk kepalaku yang sudah botak beruban. “Yuk,
kita ke ATM sekarang!.”
Aku
dan istriku pun bergegas pergi ke ATM dekat rumah.
“Pelan-pelan
dong, Ma … jalannya!.” Sambil aku sibuk menuntun tongkat.
Sementara
istriku sudah gak sabar menunggu beberapa langkah di depanku.
“Kita
naik bajaj saja ya, Pa… biar cepat.”
“Memangnya
ada budget nya. Ma ?.” Tanyaku prihatin.
“Nanti
kan kita dapat 5 juta, Pa.” Jawab istriku mantabs.
Sesampai
nya di sebuah super market.
Langsung
saja istriku menyalurkan hobi konsumtifnya, sementara aku berdiri antri di
depan mesin ATM yang ada di dalam super market itu.
Antrian
yang panjang, memberi aku kesempatan untuk melirik-lirik ke arah istriku yang
sibuk memasukkan barang-barang kedalam keranjang.
Sabun
mandi 5 buah, shampoo 3 botol, Sabun cuci 10 kantong, pasta gigi 3 pak, kornet
3 kaleng, kecap 5 botol, saos pedas 3 botol, Minyak goreng 2 liter 3 kantong,
bubur instan 10, dan gak ketinggalan cotton buds 1 kantong. Waduh, stock
buat berapa bulan tuh, Ma?. Jeritku dalam hati.
5,
3, 10, 3, 5 … angka-angka itu menari-nari di otakku.
“Pak!,
Pak!, maju, Pak!.”
Suara
orang di belakang menyadarkanku.
“Eh
oh ah, maa aa af, ya.” Aku pun melangkah tertatih ke depan mesin ATM.
Masukkan
kartu ATM. Tunggu sebentar.
Masukkan
no pin anda. Perintah yang nampak di layar mesin ATM.
Aku
ketik angka : 5, 3, 10, 3, 5. Lalu, tunggu sebentar lagi.
No
pin yang anda masukkan salah. Perintah yang nampak di layar mesin ATM.
Kok
salah?. Sabun mandi kan 5, shampoo 3. Ku ketik lagi angka-angka yang sedari
tadi asyik menari-nari di otakku. 5, 3, 10 … eh berapa lagi angkanya?.
No
pin yang anda masukkan salah. Perintah yang nampak di layar mesin ATM.
Kok
salah lagi sih?, cotton buds nya kan cuma 1?, bukan10. Yang 10 itu bubur
instan. Lah, kok jadi ngawur begini otakku.
Otakku
lumpuh. Kartu ATM ku ditelan mesin. Langkahku jadi limbung, tongak ditanganku
serasa mengambang tak menyentuh lantai.
Dengan
dua keranjang penuh, istriku yang sudah berdiri di depan kasir, memanggilku.
“Pa!,
Pa, sini!.” Dengan senyum termanisnya.
Aku
pun bergegas ke arah kasir.
sebelum
kasir selesai me rekap jumlah pembayaran semua belanjaan istriku.
“Mba!,
Mba … maaf, mba bisa cancel gak ?.” Pintaku pada kasir.
“Yang
mana yang mau di cancel, Pak?.” Tanya kasir ramah.
“Yang
ini!, yang ini! … yang ini!.” Sahutku pada kasir sambil menunjuk beberapa
barang belanjaan.
Istriku
memandangi ku dengan bengong.
“Yang
ini, Pak?.” Tanya kasir.
“Kalau
yang itu, jadi mba!.”
“Semua
nya cancel, yang jadi cuma cotton buds doang?. Tanya kasir,
mempertegas.
“Iya,
mba.”
Sepanjang
perjalanan pulang dari super market ke rumah. Istriku ngomel-ngomel.
“Papa
ini gimana sih, bikin malu saja!.” Omel istriku lagi. “Boro-boro 100
juta, 5 juta aja gak dapat!.”
Sepanjang
perjalanan pulang dari supermarket ke rumah. Istriku ngomel-ngomel sepanjang
perjalan pulang dari super market ke rumah. Akibat kartu ATM ku tertelan, niat
mau ambil uang jadi gagal, akibat ke pikunanku.
Dan
aku diam saja, karena akan terasa sesak kalau berjalan sambil bicara apalagi
ngomel, maklumlah pensiunan seperti aku ini, harusnya sudah hidup lebih tenang
dan mapan. Sambil main dengan cucu tercinta. Dan tidak memikirkan lagi tentang
kebutuhan-kebutuhan hidup.
Orang
tua memang di ciptakan Tuhan untuk mengasihi anaknya. Entahlah anak?, apakah di
ciptakan Tuhan juga untuk mengasihi kami, para orang tua.
Hukum
sebab akibat, hukum take and give, sering tidak berlaku untuk
hubungan orang tua dan anak. Seperti halnya aku, orang tua yang telah renta
ini.
Putri
sulungku adalah seorang dokter. Siapakah dokter yang pertama merawatku di kala
aku sakit?. Jawaban seharusnya adalah putriku tapi kenyataan nya tidak. Setelah
aku di rawat beberapa hari di rumah sakit, dengan tergopoh-gopoh barulah
putriku, lengkap dengan jas putih dokternya datang menjenguk. Sesuatu yang
masih menghiburku, cucuku yang gagah ikut juga menjenguk.
“Ma…
ma, Opa sakit, apa Ma?.” Tanya cucuku kepada Mama nya.
“Biasa
aja, sayang … maklumlah opa kan sudah tua, jadi sering sakit-sakitan.”
Ya
memang, harus banyak maklum sebagai orang tua. Tapi putri ku lupa, “dari mana”
ia bisa mendapatkan jas putih dokternya itu?. Kalau aku protes, ia sering
berdalih kalau tugas-tugasnya sebagai kepala puskesmas yang baru telah banyak
menyita waktunya.
Lain
lagi, putra anak bungsuku. Sukses sebagai marketing alat-alat berat di
kalimantan. Hanya dengan menjual 1 buah excavator atau merentalkan 1
buah alat Loader saja sudah cukup untuk mencukupi kebutuhannya selama 1
bulan.
Ia
lebih memilih untuk tinggal bersama istri dan kedua anaknya di kalaimantan,
karena peluang untuk karir dan “cari duit” nya lebih besar. Hampir sebulan
sekali, ia datang ke Jakarta. Menengok kami sebentar. Malam nya ia menginap di
hotel bintang lima sebagai fasilitas yang telah di sewa perusahaannya. Dan
paginya, bermain golf bersama para koleganya, fasilitas sekaligus lambang prestise
perusahaannya di mata para kolega dan mitra bisnis anakku.
Di
perjalanan arah ke Bandara, suka juga ia sempatkan telpon ke Mamanya
“Ma…
putra, langsung balik aja ke Kalimantan, soalnya besok masih banyak kerjaan …
.”
“Oh,
iya, Ma … Papa mana?.”
Dengan
repot, istriku memberikan hp nya kepadaku. “Pa .. halo, Pa… Papa masih ada “duit”?.”
“Masih.”
Jawabku singkat.
“Pa,
kalau perlu apa-apa, bilang aja!, gak usah sungkan-sungkan.”
“Masih
ada, gak usahlah kamu repot-repot, uang pensiun Papa masih cukup buat makan
Papa dan Mama mu … .”
“Ok,
Pa … bye!.”
Itulah
yang membedakan orang tua dengan anak. Orang tua akan selalu memberi tanpa
diminta si anak. Tapi, apakah orang tua harus meminta lebih dulu baru kemudian
diberi oleh si anak?.
Ketahuilah,
Nak!. Semua orang tua di bumi ini tidak ada yang ingin “membebankan” anaknya.
Mengapa Tuhan menciptakan hukum ini kepada para orang tua?. Entah karena kami
para orang tua masih punya “malu” untuk meminta kepada si anak?.
Tanpa
kusadari, hangat terasa air mata menetes di sela-sela pipiku yang kerut.
“Pak!,
Paaak… !.” Seorang security Bank menegurku. “Bapak mau ambil pensiun kan?,
nomor antrian berapa?.”
“Ah,
eh, oh… Iya pak “ Aku pun kaget, lantas melihat angka di secarik kertas. “385,
Pak!.”
“Nomor
antrian 385, di teller 8.” Suara dari loud speaker.
“Silahkan,
Pak … di teller 8.” Tegur Security Bank simpatik.
Aku
pun berjalan tertatih di lorong teller 8, dengan tongkat setiaku.
Ya,
Tuhan… kenapa aku bisa menghayal, ada yang transfer Rp 100 juta ke rekeningku?.
Bisikku dalam hati.
Tulang-tulang
menua dan hidup yang renta. Tuhan, ternyata hidup dan kehidupan yang panjang
ini membuatku lelah juga.
*****
Kutu
Kata, Lelah, 05042012
Ilustrasi Gambar : www.flickr.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar