Pulang ke kesejatian.
Pulang dan tak ingin kembali
lagi.
Mati maksudmu?. Tanya kawan
padaku.
Memangnya setelah mati, selesai
sudah semua urusanmu?. Tanya kawan itu lagi padaku.
Tak semudah itu, sobat. Setelah
kita mati pun, urusan kita baru saja dimulai. Satu persatu benang kusut itu
akan di urai.
Tangan dan kakimu akan bicara
tentang hidupmu dulu di dunia fana. Kawanku menjelaskan tentang kehidupan
setelah kematian.
Ah, kadang aku buang jauh-jauh
pikiran seperti itu. Aku cuma berharap setelah aku mati, selesai sudah semua
urusan.
Tubuhku akan dimakan cacing,
ulat dan bakteri pengurai lainnya hingga lebur jadi tanah. Dari tanah kembali
lagi ke tanah, bukankah itu akan lebih baik?.
Tak perlu kau cari karena
kematian pasti akan datang. Entah dimana dan kapan?, itu yang kita tidak pernah
tahu.
Apakah kita bisa memilih kapan,
dimana dan dengan cara apa kita akan mati?. Kalau saja bisa, setiap orang pasti
akan memilih yang sesuai dengan harapannya.
Begitu kawanku menjelaskan
tentang kematian padaku.
Perasaan ingin pulang ku tak
pernah surut atau hilang. Rasa nya aku ingin mati dari kehidupan di dunia.
Kalau pun dihidupkan kembali di alam lain, aku akan memilih kehidupanku yang
lebih baik dari di dunia ini. Tentu saja ini sebuah keinginan yang tak
berlebihankan?.
Memangnya kita punya hak untuk
memilih sobat?. Tanya kawanku lagi.
Kenapa waktu di dalam rahim
ibumu dulu kamu tidak memilih kehidupan yang baik?. Tanya kawanku mengejek.
Aku cuma diam. Tak bisa menjawab
pertanyaan kawanku.
Jadi kita cuma harus
menjalaninya saja, kawan?. Tanyaku penasaran. Menjalani saja apa yang t’lah
digariskan untuk kita?.
Kini kawanku yang terdiam.
Beberapa saat, dia hanya bisa menarik napas lalu membuangnya kesal.
Ah, terserah kau sajalah sobat!.
Kau mau mati atau tidak, itu urusanmu!. Bukankah kalau kau mati pun tak akan
ada orang yang merindui kamu?. Kata kawanku kesal.
Hahaha, mungkin cuma kamu saja
yang tidak menginginkan aku mati. Bukankah begitu, kawan?. Tanyaku padanya.
Jangan Ge Er, sobat!. Lihatlah
siapa yang akan menangisi kematian kita nanti!. Kata kawanku menantang.
Ok!, tentu saja harus ada yang
mati lebih dulu diantara kita. Dan yang masih hidup akan menjadi saksi, siapa
kelak yang akan menangisi kematian kita masing-masing.
Hahaha, apakah kau akan
menangisi kematianku, sobat?. Hahaha, aku tak perlu sedu sedanmu itu!. Ejek
kawanku.
Aku juga!. Tak perlu isak
tangismu yang meraung-raung di batu nisanku, kawan!. Biar tak seorangpun yang
akan menangisi!. Walau langit menurunkan rintik hujannya pun, aku tak akan
rela!. Biarkan aku sendiri dalam kematianku!. Hahahaha!.
Ha!, begitu getir keinginanmu
sobat!. Biar aku sajalah yang mati lebih dulu, agar kau sempat menangisi
aku, hahaha. Dan aku akan merasa tersanjung ditangisimu, sobat!. Kata kawanku
mulai merajuk.
Hei!, lancang sekali kau kawan!.
Dari awal aku bicara, aku yang lebih dulu ingin pulang. Bukankah kau masih
mencintai dunia ini sobat!. Kau masih betahkan di dunia ini?.
Biar aku saja yang lebih dulu
mati. Dan aku tak minta setetes pun air mata darimu, kawan. Karena aku tak
butuh itu!. Lepaskan kepergianku seperti kau melepaskan angin…
Kentut, maksudmu?. Hahaha,
baiklah kalau memang itu sudah mau mu. Aku akan mengentuti kepergianmu kelak,
Ok?.
Hahaha, bukan itu maksudku
kawan. Tapi tak apalah!. Apakah ada bedanya tangisan dan kentut mu itu?.
Hahaha, sama-sama tak berguna, kawan!. Cuma basa-basi pengantar upacara
kematian saja, agar terlihat lebih tragis tentunya, bukan begitu kawan?.
Hahaha, apakah kita ini sudah
gila, sobat?. Berrebut tentang kematian. Bukankah kematian itu rahasia Tuhan?.
*****
Tak perlu sedu sedan itu,
Aku ini binatang jalang,
Dari kumpulan yang terbuang
…
Syair karya Chairil Anwar itu
agar di pahat di batu nisanku kelak jika aku telah tiada. Begitu pesanku pada
kawanku. Begitu kami tinggal dua orang yang tersisa yang masih hidup kala kami
tersesat di Gunung Lawu.
Dari lima orang yang tersesat,
aku dan kawanku memilih jalur menyusuri sungai menuju ke desa terdekat.
Sementara tiga orang kawan kami lainnya, mencoba menyusuri hutan mencari
jejak-jejak yang pernah kita lalui.
Sudah seminggu lebih kami
tersesat dan hanya berputar-putar diantara lembah dan jurang di Gunung Lawu.
Kelaparan dan keletihan yang amat sangat, membuat kematian seperti sebuah
lelucon dimata kami.
Disebuah pagi yang masih
dipenuhi kabut, sebujur tubuh kawanku kaku membiru akibat dingin yang menusuk
tulang kami semalam. Aku mencoba membangunkan nya. Dia tetap kaku tak bergerak.
Matanya melotot, mulutnya ternganga tapi tak ada jejak desah yang keluar dari
mulutnya. Aku pun terdiam, jatuh tersungkur ke tanah.
Tuhan, kenapa tidak aku saja
mati?. Bukankah aku yang selalu minta ingin pulang…
Tanpa terasa hangat menetes di
pipiku. Aih, akhirnya aku menangisi mu kawan. Apakah kau masih perlu sedu
sedanku itu, kawan?.
Aku akan menemanimu kawan!. Mati
dalam pendakian adalah cara mati terhormat bagi pendaki gunung seperti kita.
Aku ingin mati di Mount Everest, begitu cita-citaku dulu. Ah, itu cuma darah
mudaku saja. Melihat kau terbujur kaku saja aku sudah menangis tersedu-sedu.
Sudah berapa lama aku menangisi jenazah kawanku tapi tetap saja aku tidak
mati-mati.
Matahari telah sepenggalan naik,
kabut mulai pudar dicerai terik.
Selamat tinggal kawan!. Aku
tidak ingin mati disini!, aku hanya ingin mati di Mount Everest dalam pendakianku
nanti.
*****
Setelah setengah hari aku
terseok dan tertatih-tatih menyusuri jalan curam, aku pun ditemukan oleh
beberapa orang tim SAR. Teriak-teriakan mereka yang riuh tertelan deru angin.
Saat mataku manangkap fatamorgana itu, tiba-tiba saja semangatku seperti
dibakar kembali. Aku melambai-lambaikan tangan ke arah mereka.
“Woooooiii… !.”
Diantara mereka ada yang
menangkap isyaratku. Mereka pun akhirnya bergegas memburuku. Seketika itu juga
aku pingsan. Dan tak tahu apa-apa lagi.
Tuhan aku yang selalu ingin
pulang. Hanya bisa menangisi kepergian empat orang temanku lainnya saat mereka
dikebumikan. Ya, diantara kami berlima yang tersesat cuma aku yang selamat.
Apakah aku harus berterima kasih pada-Mu, Tuhan?.
Ah, entahlah?. Dari puncak
gunung ke puncak gunung lainnya aku mencari-Mu, Tuhan. Kini aku dan timku
menyusuri jalan setapak ke puncak Gunung Kerinci. Akankah kita saling bertegur
sapa lagi, Tuhan?.
*****
Kutu Kata, Aku Ingin Pulang,
27022012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar