Jumat, 17 Mei 2013

Burungku, Burungmu dan Garuda



Suatu sore, dibawah rindangnya pohon beringin ada debat kusir antar anak-anak tentang burung.

ANAK RAKYAT :
“Tunjukkan burung yang ada di dalam sarungmu!, kalau kamu gentle , Pasti !, burungmu dan burungku, sama-sama burung.”
ANAK PEJABAT :
“Walaupun sama-sama burung, yang jelas burungku lebih perkasa (karena ANAK PEJABAT) dari pada burungmu … dan sudah barang tentu, lebih berpengalaman (karena ANAK PEJABAT juga) dari pada burungmu!.”

Huh!, seharusnya burungku yang lebih perkasa dari pada burungnya. Bisik Anak Rakyat dalam hati. Kalau masalah pengalaman … hemmm, itu sih relatif!. Karena kamu, anak pejabat saja uangnya lebih banyak, jadi pengalaman terbangnya tinggi.

Bisa sampai mancanegara ; Hongkong, Macau, Thailand, Singapur, Las Vegas (beberapa kota judi dan surga sex). Itu pun sebatas pengakuannya saja.

Bahkan beberapa hari yang lalu, dia bilang kalau burungnya telah terbang sampai ke Uzbek juga (waktu dia berkunjung ke tempat “hiburan” di daerah Gajah Mada, Kota).
Setelah bersusah payah berfikir, Anak Rakyat pun berkata spontan.

ANAK RAKYAT :
“Mana lebih perkasa, burungmu dibanding Garuda?.”
ANAK PEJABAT :
“Ya, jelas Garuda dong!.”
ANAK RAKYAT:
“Mana yang lebih besar, burungmu atau Garuda?.”
ANAK PEJABAT :
“Kamu ini bagaimana sih?, pada masing-masing sayap burung Garuda ada 17 helai bulu, di ekornya ada 8 helai bulu dan di bagian lehernya ada 45 helai bulu … kalau burungku…? (berfikir sebentar) mana pernah aku hitung?.”
ANAK RAKYAT :
“Menurut sejarah, Garuda berasal dari burung bapak moyangku (dibaca : rakyat)!, Jadi kalau Garuda lebih perkasa dan lebih besar dari burungmu, mestinya ; burungku juga lebih perkasa dan lebih besar dari burungmu.”
ANAK PEJABAT :
“Ah!, itu kan cuma mitos saja!, sejarah kan tergantung siapa yang berkuasa!.”
ANAK RAKYAT :
“Benar juga katamu, Garuda saja sekarang sudah di ‘bonsai!.”
ANAK PEJABAT :
“Jangan ngawur, kamu!.”
ANAK RAKYAT :
“Bapakmu dan teman-teman bapakmu yang bonsai!.”
ANAK PEJABAT :
“Sembarang saja kau menuduh!, cemburu sosial ya kamu!.”
ANAK RAKYAT :
“Garuda besar yang biasa menghias di dinding sekolah kita, sudah di bonsai bapakmu menjadi sebesar pin agar bisa disematkan di jas safari bapakmu!.”
ANAK PEJABAT :
“Itu sebagai tanda penghormatan dan rasa cinta bapakku dan teman-teman nya pada Garuda.”
ANAK RAKYAT
“Kalau bicara cinta, mana lebih cinta pada Garuda, bapakmu atau aku …?.”
“Ini buktinya …”
Sambil mengangkat sarungnya, maka terlihat Anak Rakyat itu memakai celana dalam bergambar Garuda yang mencolok.
ANAK PEJABAT
“(kaget) Hei!, kurang ajar … itu pusaka negara!.”
ANAK RAKYAT
“Itu pusakamu!, bukan pusakaku … karena cuma kamu yang bisa menikmati negeri ini, ha ha ha ha ha…”

Anak Rakyat pun tertawa puas sambil pergi meninggalkan Anak Pejabat.
Debat kusir pun selesai. Hasilnya ; pepesan kosong.

Wans Sabang, GJL,160312

Keterangan Gambar : tuvaro.com

Tidak ada komentar: