Seorang anak kecil
bertubuh dekil.
Tertidur berbantal
sebelah lengan.
Berselimut debu jalanan.
Ya, itu aku!. Itu aku!.
Seorang anak kecil menjajakan
semir. Dari kaki ke kaki, tak kenal lelah. Selalu ceria penuh semangat.
“Semir, Om.” Tawar si anak
kecil.
Aku pun mencopot sepatu kulitku.
Lalu anak kecil itu memberikan sepasang sandal jepit kusam.
Siang ini aku makan mie juhi di
jalan Sabang. Jalanan yang telah membesarkanku, memahatku menjadi seperti
sekarang ini.
Rindang pohon jalan
menunggu rela.
Kawan setia sehabis
bekerja.
Siang Di seberang sebuah
Istana.
Siang Di seberang Istana
Sang Raja.
“Kenapa kamu tak sekolah, Nak?.”
Tanya seorang pengemis padaku waktu itu.
“Apakah kamu mau jadi pengemis
seperti aku, Nak?.”
“Katamu tadi, kamu nyemir untuk
biaya sekolah?. Tapi kenapa kamu tidak sekolah siang ini?.”
“Lihatlah istana itu, Nak!,
bukan untuk si serakah dan pemalas istana itu!.” Kata kakek pengemis itu kesal.
“Untuk kamu Nak!.”
“Hehehehe, enak ya Pak jadi
raja?. Setiap hari bisa makan ayam.” Kataku pada kakek itu.
Setelah lelah dari pagi nyemir,
menyusuri sepatu-sepatu Om-Om dan Tante-tante dari Gedung Sarinah di Jalan
Thamrin terus ke jalan Sabang sampai ke Stasiun Gambir. Beristirahat di bawah
pohon jalanan di Taman Monas, di depan sebuah istana, istana sang raja. Sambil
minum es cincau, aku memandangi istana itu sambil membatin, duh enaknya jadi
raja, tinggal di istana megah, tidak perlu lagi menyemir sepatu.
Hehehehe, impian seorang anak
kecil. Karena nasehat kakek pengemis itu, aku pun berusaha untuk rajin ke sekolah.
Karena dalam hatiku, siapa yang sudi menjadi seorang pengemis. Aku mau menjadi
raja!.
Kotak semir mungil
dan sama dekil.
Benteng rapuh dari
lapar memanggil.
Dengan sigap, anak kecil itu
menyikat sepatu. Persis sepertiku dulu. Seperti melihat album kenangan masa
laluku saat ku perhatikan anak kecil tukang semir sepatu itu.
“Kamu gak sekolah?.” Tanyaku
padaanak kecil itu.
“Sekolah, Om. Hari ini libur,
gurunya ikut penataran”
“Ooo… Kalau sudah besar mau jadi
apa?.”
“Jadi raja, Om!.”
“Hehehehehe…. .” Aku tertawa
mendengar jawaban anak kecil itu.
“Memangnya tukang semir sepatu
gak boleh jadi raja, Om?.” Tanya anak kecil itu melotot padaku.
“Siapa bilang gak boleh?.”
“Itu tadi Om kok ketawa?.”
“Negara kita kan sudah merdeka,
siapapun boleh jadi raja.”
“Tapi ketawa Om itu, seperti
mengejekku.”
“Hehehehehe, ah masa sih?. Saya
tidak mengejekmu, justru ….”
Sekejap, ingatanku kembali ke
masa lalu, saat aku dan kakek pengemis itu di Taman Monas sambil memandangi
sebuah istana. Terasa hangat di pipiku, ih cengeng banget aku. Hehehehe, air
mata memang suka tak tertahan kalau kalbuku disentil. Disentil masa lalu yang
syahdu.
“Loh, kok Om menangis ?.”
“Hehehehe, justru saya menangis
karena saya bangga kamu punya cita-cita setinggi langit, hehehehe.”
Gema azan ashar sentuh
telinga.
Buyarkan mimpi si kecil
siang tadi.
Dia berjalan malas
melangkahkan kaki.
Di raihnya mimpi, di
genggam tak di letakkan …
Lagi.
“Sudah, Om.” Anak kecil itu
menyerahkan sepatuku yang telah selesai di semir.
“Berapa?.”
“Tiga ribu, Om.”
“Nih.” Sambil aku memberikan
selembar uang seratus ribuan.
“Wah, gede banget. Gak ada uang
kecil, Om?. Soalnya gak ada kembaliannya, Om.”
“Sebentar ya, Om… .” Anak kecil
itu bergegas, ke arah tukang parkir. Mungkin maksudnya untuk menukarkan uang.
Selesai membayar pada tukang mie
juhi. Aku pun bergegas kembali ke mobilku. Baru saja aku membuka pintu mobil.
“Selamat siang pak Haji,
assalamu’alaikum.” Kata si tukang parkir yang sudah berdiri di dekatku. Dan si
anak kecil berdiri disebelah tukang parkir sambil menggenggam uang recehan,
kembalian nyemir.
“Wa’alaikum salam … .” Jawabku.
“Ini, Om kembaliannya.” Kata si
anak kecil.
Aku hanya melirik tumpukan uang
kumal di tangan si anak kecil itu.
“Ambil saja buat kamu ya.”
“Hehehehe, ma kasih pak Haji,
hehehe ini anak saya pak Haji, anak sulung saya.”
Aku cuma tersenyum mendengar
penjelasan tentang hubungan si tukang parkir dan anak kecil itu.
“Ok, saya pergi dulu ya,
assalamu’alaikum.” Kataku pamit.
“Wa alaikum salam, ma kasih pak
Haji, hehehehe.”
Saat aku masuk mobil, sebelum
membanting pintu untuk menutupnya, masih kudengar si bapak tukang parkir
memarahi anaknya.
“Ah, bego luh!, itu kan raja,
masa gak tau sih?.” Kata si bapak pada anak kecil itu.
“Raja?, raja apa pak?.”
“Raja dangdut!. Pak Haji itu
penyanyi dangdut yang terkenal makanya di julukin raja dangdut.”
Mobilku melesat meninggalkan
jalan Sabang. Jalan yang penuh kenangan buatku.
“Ooo, gak tau saya pak.” Sahut
anak kecil itu polos. “Soalnya saya gak suka dangdut sih.”
*****
Kutu Kata ,
Siang Di Seberang Sebuah Istana, 13052012
Keterangan :
Tulisan yang di cetak miring
dan berhuruf tebal adalah lirik lagu Iwan Fals yang
berjudul : Siang Seberang Istana yang telah mengilhami tulisan
ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar