Kamis, 02 Mei 2013

Siang Di Seberang Sebuah Istana




Seorang anak kecil bertubuh dekil.
Tertidur berbantal sebelah lengan.
Berselimut debu jalanan.

Ya, itu aku!. Itu aku!.

Seorang anak kecil menjajakan semir. Dari kaki ke kaki, tak kenal lelah. Selalu ceria penuh semangat.

“Semir, Om.” Tawar si anak kecil.

Aku pun mencopot sepatu kulitku. Lalu anak kecil itu memberikan sepasang sandal jepit kusam.

Siang ini aku makan mie juhi di jalan Sabang. Jalanan yang telah membesarkanku, memahatku menjadi seperti sekarang ini.

Rindang pohon jalan menunggu rela.
Kawan setia sehabis bekerja.
Siang Di seberang sebuah Istana.
Siang Di seberang Istana Sang Raja.

“Kenapa kamu tak sekolah, Nak?.” Tanya seorang pengemis padaku waktu itu.

“Apakah kamu mau jadi pengemis seperti aku, Nak?.”

“Katamu tadi, kamu nyemir untuk biaya sekolah?. Tapi kenapa kamu tidak sekolah siang ini?.”

“Lihatlah istana itu, Nak!, bukan untuk si serakah dan pemalas istana itu!.” Kata kakek pengemis itu kesal.

“Untuk kamu Nak!.”

“Hehehehe, enak ya Pak jadi raja?. Setiap hari bisa makan ayam.” Kataku pada kakek itu.

Setelah lelah dari pagi nyemir, menyusuri sepatu-sepatu Om-Om dan Tante-tante dari Gedung Sarinah di Jalan Thamrin terus ke jalan Sabang sampai ke Stasiun Gambir. Beristirahat di bawah pohon jalanan di Taman Monas, di depan sebuah istana, istana sang raja. Sambil minum es cincau, aku memandangi istana itu sambil membatin, duh enaknya jadi raja, tinggal di istana megah, tidak perlu lagi menyemir sepatu.

Hehehehe, impian seorang anak kecil. Karena nasehat kakek pengemis itu, aku pun berusaha untuk rajin ke sekolah. Karena dalam hatiku, siapa yang sudi menjadi seorang pengemis. Aku mau menjadi raja!.

Kotak semir mungil dan sama dekil.
Benteng rapuh dari lapar memanggil.

Dengan sigap, anak kecil itu menyikat sepatu. Persis sepertiku dulu. Seperti melihat album kenangan masa laluku saat ku perhatikan anak kecil tukang semir sepatu itu.

“Kamu gak sekolah?.” Tanyaku padaanak kecil itu.

“Sekolah, Om. Hari ini libur, gurunya ikut penataran”

“Ooo… Kalau sudah besar mau jadi apa?.”

“Jadi raja, Om!.”

“Hehehehehe…. .” Aku tertawa mendengar jawaban anak kecil itu.

“Memangnya tukang semir sepatu gak boleh jadi raja, Om?.” Tanya anak kecil itu melotot padaku.

“Siapa bilang gak boleh?.”

“Itu tadi Om kok ketawa?.”

“Negara kita kan sudah merdeka, siapapun boleh jadi raja.”

“Tapi ketawa Om itu, seperti mengejekku.”

“Hehehehehe, ah masa sih?. Saya tidak mengejekmu, justru ….”

Sekejap, ingatanku kembali ke masa lalu, saat aku dan kakek pengemis itu di Taman Monas sambil memandangi sebuah istana. Terasa hangat di pipiku, ih cengeng banget aku. Hehehehe, air mata memang suka tak tertahan kalau kalbuku disentil. Disentil masa lalu yang syahdu.

“Loh, kok Om menangis ?.”

“Hehehehe, justru saya menangis karena saya bangga kamu punya cita-cita setinggi langit, hehehehe.”

Gema azan ashar sentuh telinga.
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi.
Dia berjalan malas melangkahkan kaki.
Di raihnya mimpi, di genggam tak di letakkan …
Lagi.

“Sudah, Om.” Anak kecil itu menyerahkan sepatuku yang telah selesai di semir.

“Berapa?.”

“Tiga ribu, Om.”

“Nih.” Sambil aku memberikan selembar uang seratus ribuan.

“Wah, gede banget. Gak ada uang kecil, Om?. Soalnya gak ada kembaliannya, Om.”

“Sebentar ya, Om… .” Anak kecil itu bergegas, ke arah tukang parkir. Mungkin maksudnya untuk menukarkan uang.

Selesai membayar pada tukang mie juhi. Aku pun bergegas kembali ke mobilku. Baru saja aku membuka pintu mobil.

“Selamat siang pak Haji, assalamu’alaikum.” Kata si tukang parkir yang sudah berdiri di dekatku. Dan si anak kecil berdiri disebelah tukang parkir sambil menggenggam uang recehan, kembalian nyemir.

“Wa’alaikum salam … .” Jawabku.

“Ini, Om kembaliannya.” Kata si anak kecil.

Aku hanya melirik tumpukan uang kumal di tangan si anak kecil itu.

“Ambil saja buat kamu ya.”

“Hehehehe, ma kasih pak Haji, hehehe ini anak saya pak Haji, anak sulung saya.”

Aku cuma tersenyum mendengar penjelasan tentang hubungan si tukang parkir dan anak kecil itu.

“Ok, saya pergi dulu ya, assalamu’alaikum.” Kataku pamit.

“Wa alaikum salam, ma kasih pak Haji, hehehehe.”

Saat aku masuk mobil, sebelum membanting pintu untuk menutupnya, masih kudengar si bapak tukang parkir memarahi anaknya.

“Ah, bego luh!, itu kan raja, masa gak tau sih?.” Kata si bapak pada anak kecil itu.

“Raja?, raja apa pak?.”

“Raja dangdut!. Pak Haji itu penyanyi dangdut yang terkenal makanya di julukin raja dangdut.”

Mobilku melesat meninggalkan jalan Sabang. Jalan yang penuh kenangan buatku.

“Ooo, gak tau saya pak.” Sahut anak kecil itu polos. “Soalnya saya gak suka dangdut sih.”

*****

Kutu Kata , Siang Di Seberang Sebuah Istana, 13052012

Keterangan :
Tulisan yang di cetak miring dan berhuruf tebal adalah lirik lagu Iwan Fals yang berjudul : Siang Seberang Istana yang telah mengilhami tulisan ini.

Tidak ada komentar: