Kamis, 02 Mei 2013

Penjara



Bukankah di bulan puasa ini semua setan dipenjara?.
Aku ada di dalam sel penjara. Itu artinya aku adalah setan dan teman-temanku dipenjara, mereka juga setan.
Seandainya anggota KPK itu bisa disuap, tentu saja aku masih menikmati status sebagai manusia “terhormat”. Seandainya setan-setan itu kompak untuk tutup mulut walaupun apa yang terjadi. Seandainya, ya seandainya. Karena aku telah bekerja sama dengan para setan untuk merugikan uang negara (baca : uang rakyat), ya tentu saja sesama setan akan saling serang, saling menjatuhkan satu sama lainnya, berlagak sok bersih padahal semuanya ikut menikmati hasil “rampasan” itu.
Dalam malam-malam heningku dipenjara, aku jadi lebih sering bercakap-cakap dengan Tuhan. Tuhan, bagaimana dengan setan-setan lainnya yang masih bebas berkeliaran mengapa tidak jua kau jebloskan dalam penjara?.
Sabarlah semua kan butuh proses. Lagi pula kalau semua setan dipenjara, bukankah penjara nanti akan penuh?. Kata Tuhan menghiburku.
Hahaha, kalau semua setan jadi dipenjara semuanya. Lantas jadi apa negeri ini?. Negeri tanpa pejabat publik. Bagaikan rumah tanpa majikan. Akan terjadi kesemrawutan jika semua para pembantu berebut mau jadi majikan.
“Hei, Hotma!. Berapa lama lagi aku harus mendekam dipenjara?.” Bentakku pada pengacaraku.
“Sabarlah Boss, kita sedang “kondisikan” semuanya.”
“Alah, kalau gak becus, aku ganti kamu sama si Tompul!.”
“Tenang, Boss jangan panik… rest and relax saja disini (maksudnya: dipenjara) yang penting ini nya kan sudah kita amankan (sambil si Hotma memainkan jempol dan telunjuknya sebagai tanda yang menunjukkan : uang).
“Kemana?.”
“Sudah kita transfer ke Cayman island, Boss.”
“Boss duduk manis saja disini, paling lama tiga sampai lima bulan, setelah itu Boss bisa jadi milliarder.”
“Setan kau, Hotma!. Kalau masalah ini berlarut-larut, aku gantung kau!.”
“Tenang, Boss. Hakim, Kepala Lapas dan polisi yang menangani kasus ini semua sudah kebagian jatah preman, Boss!.”
“Honormu yang mahal itu tidak akan aku cairkan kalau sampai aku dipontang-panting.”
“Pengadilan cuma sandiwara saja Boss. Dipengadilan nanti, Boss pakai baju koko lengkap dengan kopiahnya mumpung masih bulan puasa. Berlagak jadi orang alim yang pesakitan. Kalau perlu, waktu Boss ditanya. Boss jawab dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Bahasanya harus “ngambang” dan tetap tenang.” Kata Hotma mengguruiku.
Kalau ingat tingkah polah nya Hotma, aku miris sekali. Bagiku cuma Hotma yang manusia dengan segala sifat tamak dan serakahnya sedangkan hakim, kepala Lapas dan petugas polisi itu semuanya setan.
Besok aku bebas, Tuhan. Berkat kelicikan Hotma, semua proses hukumku terasa seperti aku sedang tour ke tempat Mu, Tuhan.
Dimana lagi bisa kudengar jernih bisik Mu, Tuhan kalau bukan dipenjara ini?.
Di luar sana, seperti pesta pora di kepalaku. Tak puas-puasnya kami merampas, merampok dan menjarah kekayaan negara (baca: rakyat). Aku sendiri sering tak habis pikir, akan aku kemanakan uang sebanyak ini?. Tak habis dimakan tujuh turunan.
Sering Kau bilang, Tuhan. Semua tak akan ku bawa ketika aku kembali pada-Mu.
Tenanglah Tuhan, aku akan membangun mesjid berkubah emas, menyantuni fakir miskin dan anak-anak terlantar. Paling hanya berapa persen sih yang akan aku keluarkan dari uang hasil korup?. Gak akan membuatku bangkrutkan, Tuhan?.
Jujur!, aku tak betah di penjara ini, Tuhan. Seringai senyum Mu seperti mengejekku. Sapaan Mu lebih tajam dari pertanyaan para hakim.
Di keheningan ku selalu saja Kau yang datang, Tuhan. Tak bosan-bosannya Kau menjengukku. Sementara para setan sebangsaku cuma ramai dimeja makan saja. Saatku dipenjara, semua lari terbirit-birit bersembunyi di lubang tikus.
Mungkin malam ini, malam terakhir kita saling bertegur sapa, Tuhan. Besok aku akan menghirup udara bebas. Aku akan kembali ke habitatku, habitat para setan. Suka atau tidak memang itu habitatku tempat kembaliku. Daripada dipenjara ini, selalu bertemu dengan Mu, aku seperti si pandir kelana dihadapan kuasa-Mu.
Hehehe, kalau Kau kangen denganku, jebloskan saja aku ke penjara lagi!, Tuhan. Aku siap menjadi pendengar yang baik saat bercakap-cakap denganMu, Tuhan.
Oh, iya ada oleh-oleh dari Mu, Tuhan sebagai kata kenangan yang harus selalu ku ingat dalam hidup ini. Begitu pesan Mu padaku. Akan aku tulis kata-kata itu pada status face book ku, itu yang akan ku lakukan pertama kali saat ku bebas besok.
Di ke-esaan Ku tempat kembali semua zat.
Di kuasa Ku, segala hikmah dijernihkan.
Di rahmah Ku, diagungkan segala mahabbah.
Sampai bertemu kembali, sampai ketika sifat Rahman dan Rahiim Ku tunaikan.
Begitu pesan terakhir Mu, Tuhan.
Hehehehe, sampai bertemu kembali Tuhan, sampai aku tak ada daya dan upaya tanpa se-izin Mu, Tuhan.

*****
Kutu Kata, Penjara, 02072012

Ilustrasi Gambar  : www.timeslive.co.za

Tidak ada komentar: