Aku ada di dalam sel penjara.
Itu artinya aku adalah setan dan teman-temanku dipenjara, mereka juga setan.
Seandainya anggota KPK itu bisa
disuap, tentu saja aku masih menikmati status sebagai manusia “terhormat”.
Seandainya setan-setan itu kompak untuk tutup mulut walaupun apa yang terjadi.
Seandainya, ya seandainya. Karena aku telah bekerja sama dengan para setan
untuk merugikan uang negara (baca : uang rakyat), ya tentu saja sesama setan
akan saling serang, saling menjatuhkan satu sama lainnya, berlagak sok bersih
padahal semuanya ikut menikmati hasil “rampasan” itu.
Dalam malam-malam heningku
dipenjara, aku jadi lebih sering bercakap-cakap dengan Tuhan. Tuhan, bagaimana
dengan setan-setan lainnya yang masih bebas berkeliaran mengapa tidak jua kau
jebloskan dalam penjara?.
Sabarlah semua kan butuh proses.
Lagi pula kalau semua setan dipenjara, bukankah penjara nanti akan penuh?. Kata
Tuhan menghiburku.
Hahaha, kalau semua setan jadi
dipenjara semuanya. Lantas jadi apa negeri ini?. Negeri tanpa pejabat publik.
Bagaikan rumah tanpa majikan. Akan terjadi kesemrawutan jika semua para
pembantu berebut mau jadi majikan.
“Hei, Hotma!. Berapa lama lagi
aku harus mendekam dipenjara?.” Bentakku pada pengacaraku.
“Sabarlah Boss, kita sedang
“kondisikan” semuanya.”
“Alah, kalau gak becus, aku
ganti kamu sama si Tompul!.”
“Tenang, Boss jangan panik… rest
and relax saja disini (maksudnya: dipenjara) yang penting ini nya kan sudah
kita amankan (sambil si Hotma memainkan jempol dan telunjuknya sebagai tanda
yang menunjukkan : uang).
“Kemana?.”
“Sudah kita transfer ke Cayman
island, Boss.”
“Boss duduk manis saja disini,
paling lama tiga sampai lima bulan, setelah itu Boss bisa jadi milliarder.”
“Setan kau, Hotma!. Kalau
masalah ini berlarut-larut, aku gantung kau!.”
“Tenang, Boss. Hakim, Kepala
Lapas dan polisi yang menangani kasus ini semua sudah kebagian jatah preman,
Boss!.”
“Honormu yang mahal itu tidak
akan aku cairkan kalau sampai aku dipontang-panting.”
“Pengadilan cuma sandiwara saja
Boss. Dipengadilan nanti, Boss pakai baju koko lengkap dengan kopiahnya mumpung
masih bulan puasa. Berlagak jadi orang alim yang pesakitan. Kalau perlu, waktu
Boss ditanya. Boss jawab dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
Bahasanya harus “ngambang” dan tetap tenang.” Kata Hotma mengguruiku.
Kalau ingat tingkah polah nya
Hotma, aku miris sekali. Bagiku cuma Hotma yang manusia dengan segala sifat
tamak dan serakahnya sedangkan hakim, kepala Lapas dan petugas polisi itu
semuanya setan.
Besok aku bebas, Tuhan. Berkat
kelicikan Hotma, semua proses hukumku terasa seperti aku sedang tour ke tempat
Mu, Tuhan.
Dimana lagi bisa kudengar jernih
bisik Mu, Tuhan kalau bukan dipenjara ini?.
Di luar sana, seperti pesta pora
di kepalaku. Tak puas-puasnya kami merampas, merampok dan menjarah kekayaan
negara (baca: rakyat). Aku sendiri sering tak habis pikir, akan aku kemanakan
uang sebanyak ini?. Tak habis dimakan tujuh turunan.
Sering Kau bilang, Tuhan. Semua
tak akan ku bawa ketika aku kembali pada-Mu.
Tenanglah Tuhan, aku akan
membangun mesjid berkubah emas, menyantuni fakir miskin dan anak-anak
terlantar. Paling hanya berapa persen sih yang akan aku keluarkan dari uang
hasil korup?. Gak akan membuatku bangkrutkan, Tuhan?.
Jujur!, aku tak betah di penjara
ini, Tuhan. Seringai senyum Mu seperti mengejekku. Sapaan Mu lebih tajam dari
pertanyaan para hakim.
Di keheningan ku selalu saja Kau
yang datang, Tuhan. Tak bosan-bosannya Kau menjengukku. Sementara para setan
sebangsaku cuma ramai dimeja makan saja. Saatku dipenjara, semua lari
terbirit-birit bersembunyi di lubang tikus.
Mungkin malam ini, malam
terakhir kita saling bertegur sapa, Tuhan. Besok aku akan menghirup udara
bebas. Aku akan kembali ke habitatku, habitat para setan. Suka atau tidak
memang itu habitatku tempat kembaliku. Daripada dipenjara ini, selalu bertemu
dengan Mu, aku seperti si pandir kelana dihadapan kuasa-Mu.
Hehehe, kalau Kau kangen
denganku, jebloskan saja aku ke penjara lagi!, Tuhan. Aku siap menjadi
pendengar yang baik saat bercakap-cakap denganMu, Tuhan.
Oh, iya ada oleh-oleh dari Mu,
Tuhan sebagai kata kenangan yang harus selalu ku ingat dalam hidup ini. Begitu
pesan Mu padaku. Akan aku tulis kata-kata itu pada status face book ku, itu
yang akan ku lakukan pertama kali saat ku bebas besok.
Di ke-esaan Ku tempat
kembali semua zat.
Di kuasa Ku, segala hikmah
dijernihkan.
Di rahmah Ku, diagungkan
segala mahabbah.
Sampai bertemu kembali, sampai
ketika sifat Rahman dan Rahiim Ku tunaikan.
Begitu pesan terakhir Mu, Tuhan.
Hehehehe, sampai bertemu kembali
Tuhan, sampai aku tak ada daya dan upaya tanpa se-izin Mu, Tuhan.
*****
Kutu Kata, Penjara,
02072012
Ilustrasi Gambar : www.timeslive.co.za

Tidak ada komentar:
Posting Komentar