Kamis, 02 Mei 2013

Aku Tak Pernah Memilih Untuk Menjadi Seorang Perempuan




Aku tak pernah memilih untuk menjadi seorang perempuan.
Katamu, ku dicipta dari tulang rusukmu. Pendamping sehidup sematimu. Teman seasa sehatimu.
Apakah aku dicipta dari tulang engselmu?. Yang selalu hanya manut nurut ketika kau kayuh tanpa rasa?.
Atau aku memang di cipta dari tulang kakimu?. Yang tetap bersikukuh teguh tanpa geliat ronta walau terus kau injak.
Sudah gurat nasibku kah menjadi seorang perempuan?.
Tak ada hasratku berceracau padamu. Apalagi nyinyir pada-Mu, Tuhan.
Atau keluh resahku ini hanya akan jadi olok-olokmu saja?
Tak perlu kau galau, ini cuma secuil riak kesal dari sejuta rekah cita dalam rentang cinta kita dibentang takdir.
Inilah hakikat cinta seorang perempuan yang sering salah kau tafsir.
Aku cuma seorang perempuan biasa. Yang kan terlunta tanpa asah asih asuhmu.
Kau bilang gemulaiku sudah tak pancarkan pesona lagi?. Bukankah perawanku dulu kau yang kelupas. Aku tahu, kecantikanku semakin kerontang dimakan umur.
Lihatlah kerut menggurat disekitar pelupuk mataku!. Pipiku yang dulu kau kagumi kini limbung terhuyung tak kencang lagi. Gelagat keriput melumuti perjuangan hari-hariku.
Sudah gurat nasibku kah menjadi seorang perempuan?.
Berkain belacu berkerudung malu. Tabu kah ku mengerang harap buai mesramu?.
Berselimut pesing ompol anak-anakmu. Berpanggang asap dan langu bau bumbu dapur aroma tubuhku.
Wajahku pias, keringat terperangkap dalam keseharian yang ku anyam untuk kenyamananmu dan anak-anak.
Aku cuma seorang perempuan biasa. Dalam lelah kalah, jangan pula kau rajam rasaku!.
Setiaku telah sepuh tak pernah surut apalagi susut. Terus kupijari lubuk cinta kita yang semakin lusuh kumuh dibekap acuh dileceh waktu.
Jangan kau tanya seberapa larutnya cintaku?. Cintaku tak kan tersungkur ditikam kala. Namun cintaku kan tanggal jika kesetiaanmu hanya salinan perjanjian yang fasih kita pahat di buku nikah saja. Sedang dihatimu kehadiranku t’lah lama usai. Dan dibenakmu selalu singgah sumringah perempuan-perempuan lain.
Sungging senyummu mengecoh. Merenggut telak tulusku. Menohok keras luguku.
Rasamu mangkir dijejal rayu dibekap peluk perempuan-perempuan itu.
Aih, dendang tawamu, masih bisakah aku dan anak-anakmu nikmati?.
Apa lagi yang bisa ku genggam, jika cinta kita t’lah menjadi bangkai?.
Apa lagi yang bisa kukenang, jika kesyahduan kita, kau simpan di jambangan masa silam?.
Sudah gurat nasibku kah menjadi seorang perempuan?.
Aku tidak pernah memilih untuk menjadi seorang perempuan!.
Di rahim ajalku kau titip benih anak-anakmu.
Dari luka perih menganga lahir anak-anakmu.
Dengan letih nyeri ku topang kibar anak-anakmu.
Apakah kau pikir, aku menyesal menjadi seorang ibu?.
Jangan pernah kau remehkan kasih sayang seorang ibu!. Tanpanya kau mungkin tak akan seperti sekarang ini!.
Ah, lagi-lagi aku terus saja berceracau!. Hatiku gamang saat kau jauh dariku karena aku cuma perempuan biasa. Sejujurnya, aku butuh kau ada disampingku disaat ku tenggelam di genang sepi.
Mana tanganmu yang kan merengkuh jemari lalu memeluk ringkih tubuh ini?.
Hei lelaki!. Bukankah aku dan ibumu sama-sama seorang perempuan?. Atau aku cuma comberan tempatmu membuang syahwat?.
Kemana lagi aku mengadu kalau bukan kepada-Mu, Tuhan.
Aku cuma seorang perempuan biasa. Selama masih ada degup di jantungku selama itu pula desis cintaku tetap hidup walau di masa lalu t’lah dia bunuh.
Sudah gurat nasibku kah menjadi seorang perempuan?.
Yang selalu sedia mengalah dan melupakan semua kekhilafannya.
Semoga Engkau Yang Maha Pengasih dan Penyayang, pemilik lautan mahabbah terus teteskan rinai cintaku padanya. Karena disitulah perempuan akan dimengerti.
Dalam remang sedih air mataku meleleh.
Tak terasa usia pernikahan kita t’lah sepenggalan naik. Sebentar lagi ditelan senja.
Anak-anak telah selesai makan dan mengulang kembali pelajarannya disekolah. Sekarang mereka telah bersiap kembali ke peraduan.
Telah ku kenakan pula gaun malam butut hadiah perkawinan kita dulu.
Dengan cipratan parfum murahan dan polesan gincu tipis, berharap kau suka aku apa adanya.
Makan malam hangatmu telah tersaji dingin.
Tiga kali sms ku tak kau balas. Ku telepon, hp mu mati.
Tanpa kabar, kau pulang larut lagi.
Ku menunggumu hingga tertidur di sofa.
Kau datang lalu cuma bilang ; “ma’af.”
Sudah gurat nasibku kah menjadi seorang perempuan?.
Yang selalu sedia mengalah dan melupakan semua kesalahanmu.
Secepat itu aku memaafkanmu … Tuhan, melihat dia pulang dengan selamat saja aku sudah bersyukur.
Tuhan, mungkin beginilah rasanya menjadi seorang perempuan.
Perempuan yang biasa-biasa saja. Perempuan yang tak sulit dimengerti.

*****

Puisi Kutu Kata, Aku Tak Pernah Memilih Untuk Menjadi Seorang Perempuan, 0502012

Ilustrasi Gambar : www.gempak.org

Tidak ada komentar: