"Bu, sejak kapan ia tumbuh?"
"Bersamaan dengan kau tumbuh dan mulai bisa berkata-kata." Jawab ibu.
"Rawat dan jagalah ia!" Pinta ibu, "semai dan pupuki juga!"
"Biar tumbuh rimbun dengan berjuta aksara yang
berjuntai-juntai menyapa."
"Akarnya 'kan menancap kuat di jiwa yang basah. Disitulah tempat para penyair berteduh lelah.Bertatap kata dengan Dia sang pencipta kata." Begitu cerita ibu tentang pohon kata-kata yang tumbuh di halaman batin sang penyair.
Aih, pohon kata-kata yang indah, batangnya adalah
cipta, ranting-rantingnya adalah karya, tunas-tunasnya adalah asa. Kagumku dal;am hati.
"Ibu, bilakah pohon kata-kata ku seindah pohon
kata-kata sang penyair?"
"Sayangi ia dengan segala rasa dan warna. Cinta ia dengan segenap jiwa dan raga.Karena ia adalah lidah, darah dan nyawamu juga." Pesan ibu kepadaku.
Benar kata ibu, pohon kata-kataku sudah tumbuh dan tak malu lagi
bercerita padaku.
Tentang surga, tentang Dia … yang suatu ketika aku
sempat bertegur sapa dengan-Nya.
*****
Kutu Kata , Pohon
Kata-Kata Yang Tumbuh Di Halaman Batinku, 13052012
Ilustrasi Gambar : suelifenixando.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar