Kamis, 02 Mei 2013

Kertas Pembungkus Cabe



Cerpenku HL lagi.
Banyak komen yang masuk,apakah sekedar say hello atau ada juga yang memberikan komen dengan gaya bahasa sastra yang “tinggi”.

Aku sendiri tidak tahu apakah yang aku tulis ini layak dikategorikan sebagai sebuah karya sastra.
Cyber sastra, ah istilah apa lagi?.
Aku cuma menulis dan menulis. Mengekspresikan diri, mengejakulasikan hasrat berkata-kataku. Apakah aku pernah berfikir atau mungkin berharap tulisanku masuk HL?.
Seperti Liem Swi King, ketika ia melakukan King Smash apakah dia tahu bahwa smash itu adalah smash yang selalu memberinya kemenangan?. King hanyalah mengikuti nalurinya, selalu memberikan smash terbaiknya, permainan terbaiknya dan sejatinya ia tidak tahu apakah ia akan menang. King hanya memberikan yang terbaik dan terbukti kemenangan demi kemenangan mengikutinya.
Sebagai penulis yang banyak disukai orang. Aku harus selalu tampil smart, ramah,perhatian dan penuh peduli. Mudah-mudahan saja apa yang kulakukan adalah sebuah ketulusan yang tanpa pamrih.
Bukankah kebaikan akan dibalas dengan kebaikan?.Begitulah aku berharap, segala sikapku ini akan berbuah manis.
Segala bentuk popularitas adalah sebuah relativitas, sebuah keniscayaan. Apalagi di dunia maya, hari ini kita dipuji dan di puji setinggi langit. Esok harinya,siapa yang kenal aku?. Bertegur sapa pun, mereka enggan.
Kembali kesepian menjadi teman sejati kita berkarya.
Tak ada gemuruh tepuk tangan, tak ada lagi orang yang menyeru nama kita lagi.
Begitulah hidup,terkadang Tuhan menciptakan humor yang satire.
Melawan kesepian, bangkit walaupun tertatih.Yakin dan percaya,banyak maha karya yang dicipta atas kekecewaan yang dalam, kesepian yang sangat,kesedihan yang pedih.
Aku menulis dengan hati. Hati yang tak sudi dipasung.Hati yang selalu bangga akan dirinya. Hati yang selalu gembira.
Bebanku cuma satu. Ketika aku menjadi orang lain.Menulis tidak dari dalam hati.
Sebuah kekalahan, ketika aku menulis karena ingin tulisanku masuk HL, lalu melupakan siapa diriku, siapa jati diriku sebenarnya.
Mereka suka atau tidak, aku tetap menulis. Menulis dengan hatiku sendiri.
Catatan berserak itupun aku remas-remas ku buang ke tempat sampah. Berharap esok pagi akan ada yang memulungnya. Mengambil kertas-kertas bekas coretanku dan menjadikannya sebagai pembungkus cabe. Mungkin itu lebih baik karena ia telah berguna.

*****
Kutu Kata,, Kertas Pembungkus Cabe, 15062012
Ilustrasi Gambar : Kertaslecek Rara - Youtube.com


Tidak ada komentar: