Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Burungku, Burungmu dan Garuda



Suatu sore, dibawah rindangnya pohon beringin ada debat kusir antar anak-anak tentang burung.

ANAK RAKYAT :
“Tunjukkan burung yang ada di dalam sarungmu!, kalau kamu gentle , Pasti !, burungmu dan burungku, sama-sama burung.”
ANAK PEJABAT :
“Walaupun sama-sama burung, yang jelas burungku lebih perkasa (karena ANAK PEJABAT) dari pada burungmu … dan sudah barang tentu, lebih berpengalaman (karena ANAK PEJABAT juga) dari pada burungmu!.”

Huh!, seharusnya burungku yang lebih perkasa dari pada burungnya. Bisik Anak Rakyat dalam hati. Kalau masalah pengalaman … hemmm, itu sih relatif!. Karena kamu, anak pejabat saja uangnya lebih banyak, jadi pengalaman terbangnya tinggi.

Bisa sampai mancanegara ; Hongkong, Macau, Thailand, Singapur, Las Vegas (beberapa kota judi dan surga sex). Itu pun sebatas pengakuannya saja.

Bahkan beberapa hari yang lalu, dia bilang kalau burungnya telah terbang sampai ke Uzbek juga (waktu dia berkunjung ke tempat “hiburan” di daerah Gajah Mada, Kota).
Setelah bersusah payah berfikir, Anak Rakyat pun berkata spontan.

ANAK RAKYAT :
“Mana lebih perkasa, burungmu dibanding Garuda?.”
ANAK PEJABAT :
“Ya, jelas Garuda dong!.”
ANAK RAKYAT:
“Mana yang lebih besar, burungmu atau Garuda?.”
ANAK PEJABAT :
“Kamu ini bagaimana sih?, pada masing-masing sayap burung Garuda ada 17 helai bulu, di ekornya ada 8 helai bulu dan di bagian lehernya ada 45 helai bulu … kalau burungku…? (berfikir sebentar) mana pernah aku hitung?.”
ANAK RAKYAT :
“Menurut sejarah, Garuda berasal dari burung bapak moyangku (dibaca : rakyat)!, Jadi kalau Garuda lebih perkasa dan lebih besar dari burungmu, mestinya ; burungku juga lebih perkasa dan lebih besar dari burungmu.”
ANAK PEJABAT :
“Ah!, itu kan cuma mitos saja!, sejarah kan tergantung siapa yang berkuasa!.”
ANAK RAKYAT :
“Benar juga katamu, Garuda saja sekarang sudah di ‘bonsai!.”
ANAK PEJABAT :
“Jangan ngawur, kamu!.”
ANAK RAKYAT :
“Bapakmu dan teman-teman bapakmu yang bonsai!.”
ANAK PEJABAT :
“Sembarang saja kau menuduh!, cemburu sosial ya kamu!.”
ANAK RAKYAT :
“Garuda besar yang biasa menghias di dinding sekolah kita, sudah di bonsai bapakmu menjadi sebesar pin agar bisa disematkan di jas safari bapakmu!.”
ANAK PEJABAT :
“Itu sebagai tanda penghormatan dan rasa cinta bapakku dan teman-teman nya pada Garuda.”
ANAK RAKYAT
“Kalau bicara cinta, mana lebih cinta pada Garuda, bapakmu atau aku …?.”
“Ini buktinya …”
Sambil mengangkat sarungnya, maka terlihat Anak Rakyat itu memakai celana dalam bergambar Garuda yang mencolok.
ANAK PEJABAT
“(kaget) Hei!, kurang ajar … itu pusaka negara!.”
ANAK RAKYAT
“Itu pusakamu!, bukan pusakaku … karena cuma kamu yang bisa menikmati negeri ini, ha ha ha ha ha…”

Anak Rakyat pun tertawa puas sambil pergi meninggalkan Anak Pejabat.
Debat kusir pun selesai. Hasilnya ; pepesan kosong.

Wans Sabang, GJL,160312

Keterangan Gambar : tuvaro.com

Kamar 326




“Mas, bawa berapa ?.”
“Tiga.”
“Banyak banget, Mas?”
“Gak bisa beli satu an, satu pack isinya tiga. Jadi aku bawa saja satu pack.”
*****
“Terus, sisa nya bagaimana, Mas?.”
Si Mas garuk-garuk kepala, berfikir.
“Kalau dibawa pulang resiko, Mas. Nanti kalau Papa atau Mama tahu bagaimana?. Mas nyimpen “sesuatu itu” kan jadi repot urusannya.”
“Dibuang aja ya say?.”
“Sayang. Di simpan disini aja, Mas. Kalau kita kemari lagi kan, bisa kita pakai.”
Si Mas dan pacarnya, masing-masing diam sesaat berfikir.
Si Mas bangkit dan berjalan ke arah toilet. Setelah beberapa saat, dia keluar dari toilet.
“Gak bisa nyimpen disana, kaca rias nya nempel di tembok.”
“Terus, simpan dimana dong?.”
Cling!, Aha!, aku dapat ide. Kata hati si Mas sambil senyum penuh arti.
“Kamu bangun dulu (perintah si Mas pada pacarnya). Kita simpan aja di bawah kasur. Kasurnya kan double. Bagian atasnya kasur dan bagian bawahnya adalah spring bednya. Kita taruh saja diantara kasur itu.”
Setelah kasur atas bergeser sedikit. Diletakkan sesuatu itu diselipan antara kasur atas dan kasur bagian bawahnya.
“Berapa yang disimpan?.”
“Dua say, sisanya kan memang dua.”
“Aman gak?”
“Hehehe, mana aku tahu???.”
******
Malam lainnya.
“Mas, bawa gak?.”
“Kan masih ada disana, sisa dua yang waktu itu?.”
“Memangnya masih ada, kalau hilang bagaimana?. Beli lagi aja, Mas… Aku gak mau resiko, kalau aku hamil, bagaimana, Mas?.”
“Iya, nanti kita mampir dulu ke mini market.”
“Kamarnya sudah di booking?. Kalau bisa kamar yang waktu itu, Mas. Aku suka view nya.”
“Sudah. Kamar 326 kan?. Sengaja aku pesan kamar itu lagi, hehehe, ada “tabungan” kita kan disana.”
“Sisa dua yang kita taruh di selipan kasurkan?.
“He eh. hehehe… .” Jawab si Mas cengengesan.
*****
“Sisa dua yang ini, kita taruh lagi aja diselipan kasur, Mas.”
“Iya deh. Kamu bangun dulu (perintah si Mas pada pacarnya)!.”
Digesernya kasur bagian atas sedikit. Dengan wajah senang, si Mas berkata pada pacarnya.
“Say!, say, masih ada say, sisa yang kemarin, hehehe … .!.”
“Gak hilang.”
“Gak kok, masih utuh. Kita simpan lagi aja sisa yang kemarin, hehehe, jadi “tabungan” kita ada empat.”
“Ya Mas. Sekalian aja kita jadikan kamar 326 ini sebagai kamar favorit kita.”
“Kamar “Cinta Sejati” . Hehehe, gimana say suka gak dengan nama itu?.”
“Wuiiih. Pffuih!. Melambung rasanya aku, Mas.”
*****
Malam lain lagi.
“Kamar sudah OK?.”
“Sudah aku booking untuk malam ini. Tenang saja, Say … kamar 326, kamar “Cinta Sejati”, saksi cinta kita abadi.
“Siiip lah, Mas!.”
*****
“Coba di cek dulu, Mas. “Tabungan” kita masih ada gak?.”
Si Mas menggeser kasur bagian atas.
“Hah!.” Si Mas kaget.
“Kenapa?.”
“Tabungan kita beranak. Terakhir kan tabungan kita ada empat. Wah, sekarang ada delapan.”
“Delapan?, banyak banget Mas.”
“Iya, punya kita empat. Dan yang empat lagi mereknya beda-beda. Yang dua Durex dan yang dua lagi Fiesta.”
“Punya kita Sutra, masih utuh ada empat.” Jelas si Mas panjang lebar pada pacarnya.
“Yang Durex dan Fiesta itu punya siapa?.”
“Mana aku tahu, say?. Yang jelas pasti pemiliknya adalah orang yang berbeda. Karena pilihannya beda.”
“Itu artinya, sudah banyak yang tahu dong tempat rahasia kita, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say.”
“Termasuk kamar 326 ini?, sudah banyak orang yang favoritkan dong, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say. Memangnya kenapa?.”
“Huh!, Sebel aku!.” Tiba-tiba saja muka si pacar berubah cemberut. Mukanya ditekuk persis dompet tanggung bulan.
“Bagaimana say, mau coba yang mana?. Sutra?, Durex?. Atau Fiesta?. Hehehe, mumpung banyak pilihan nih.”
“Malas aku!. Sudah hilang mood ku!.” Teriak si pacar pada Mas nya.
“Malam ini kita nonton TV aja!, gak usah minta yang macam-macam!.” Teriak si pacar lagi.
“Nonton TV doang?”. Tanya si Mas lugu.
Si Mas semakin jutek dilihatnya pacarnya asyik nonton TV kabel, sambil memencet-mencet remote, berpindah-pindah channel.
Keduanya saling diam beberapa saat. Kamar 326 hanya dibisingi suara TV.
“Mas … Mas … Kapan kita kawin?.” Tanya si pacar pada Masnya.
Si Mas diam saja, pura-pura tidur tertelungkup memeluk bantal.
“Gak baik kan kita begini terus?. Dulu bilangnya, nanti kalau sudah selesai kuliah. Eh, sekarang sudah selesai kuliah, bilangnya nanti kalau sudah dapat kerja.”
“Nah, giliran sudah kerja, alasannya ada saja ; belum siap lah!, masih mau mengejar karir lah!. bla bla bla … dasar laki-laki, pintar cari alasan!. Pokoknya, kalau minggu depan Mas gak datang melamar, kita putus saja deh!. ” Teriak si pacar pada Mas nya.
Gak tahu si Mas nya pura-pura tidur atau memang sudah tertidur pulas.Bantal yang tadi dipeluknya kini sudah berpindah untuk menutupi wajah dan telinganya.
*****
Kutu Kata, Kamar 326 - 20052012


Ilustrasi Gambar : http://chicatphilsplace.blogspot.com

Kamis, 02 Mei 2013

Pocong Lebay




Suasana desa Rangkat tiba-tiba gempar. Dorma yang biasa mangkal di pos Hansip, biasanya tidak takur sama Pocong. Eh, sekarang dia malah lari terbirit-birit ketika melihat Pocong.
“Habis Pocongnya gelantungan di pohon jambu dekat pos ronda. Rambutnya panjang tergerai. terus… Pocongnya asyik saja sedang menyisir rambutnya … .” Cerita Dorma pada Pongky.
“Mba Dorma lari terbirit-birit kenapa?.” Tanya Pongky.
“Pocongnya ngomong… .”
“Ngomong apa?.”
“Mba bukain pocongnya doooooonnngg. bukaaaaiiiinnn dooooonng, hiiiiii… jujur, bulu kuduk gue jadi berdiri… dari pada gue kencing ditempat, mending gue kabuuuuurrrrrr.”
“Sama gue gak takut tapi kenapa sama itu pocong mba Dorma takut?.”
“Lain, Pongky. Kalau kamu sih pocong gaul.”
“Mba Dorma kan hansip di desa ini, gak boleh takut dong… Kalau hansipnya aja takut bagaimana dengan warga nya?.”
“Pongky, coba kamu aja deh yang nanya … gue parno nih. Kalau gue sempat bukain, ihhhh seram… di ubun-ubunnya ada paku besar yang berdarah-darah.”
“Ah, itu kan ketakutan mba Dorma saja. bahasa Inggrisnya, halusinasi namanya.” Jelas Pongky berusaha menenangkan Dorma.
*****
Suatu malam yang mencekam, Dorma iseng banget ronda sendiri di pos hansip. Warga desa yang lain, belum kelihatan. Dikejauhan Dorma mendengar suara cekikikan. Dengan perasaan takut, Dorma mengarahkan senternya ke arah sekitar. Di bawah pohon beringin dilihatnya Pongky sedang tertawa terpingkal-pingkal.
Eh, bukankah itu pocong yang kemarin. Kok Pongky gak takut ya?. Bisik hati Dorma. Malah dia asyik tertawa-tawa bersama pocong itu.
“Mba Dorma, siniiii!.” Tiba-tiba saja Pongky memanggilnya.
Dorma kaget. Perasaan takutnya belum hilang, ia ragu untuk menghampiri Bocing. “I… iii.. iya, Pong.” Dorma pun menghampiri Pongky.
“Kenalkan, ini Dorma penjaga pos hansip di desa ini.” Sahut Pongky pada si pocong.
“Iiiihhh mba somse deh, kemarin ‘eke minta tolong aja mba gak mau.”
“He he he he.” Tawa Dorma masih bercampur takut.
Pocong ini kok ngomongnya ‘keriting sih?. Bisik hati Dorma. Ia cuma diam saja karena takut salah bicara, salah-salah Dorma takut kena ‘tulah nya alias sialnya.
“Pongky, ‘eke kemarin malam minta tolong di bukain, heeee mba ini malah kaburrrr.” Jelas si pocong pada Pongky.
“Bukan apa-apa mba, kemarin malam itu ‘eke kegerahan makanya minta tolong di bukain pocongnya.” Jelas si Pocong pada Dorma. “Lagian, siapa sih yang ‘ngiketin, ikatannya kenncengg ne’, ‘eke sampe sesak nafas, mau beli nafasin yang punya warung langsung ngibrit lihat ‘eke … akhirnya ‘eke musibah ketemu mba ini.”
“Sorry ya Cong, saya ketakutan.” Jelas Dorma.
“Memangnya tampang  ‘eke menakutkan?, Ih sebel, sundel bolong kalleeeee.” Gerutu si Pocong. “Pergaulan ‘eke kan sosialita banget deh waktu masih hidup.”
“Hahaha… mba Dorma itu takut kalau di ubun-ubun kamu ada paku besar yang berdarah-darah.” Jelas Pongky pada si Pocong.
“Ihhhh, horor banget deh.” Teriak si Pocong. “Nih lihat!.” Si Pocong membuka membuka seragam pocongnya lalu mengibaskan rambutnya yang panjang.
“Hah!.” Dorma kaget melihat “sesuatu” yang menancap di ubun-ubun si Pocong. Kok, cuma paku payung sih. Pikir Donna.
“Dulu ‘eke ini gadis sunsilk, mba … makanya ‘eke rawat banget rambut ini.” Jelas si Pocong.
“Si Pocong ini selain gadis sunsilk, dia juga desainer busana.” Jelas Pongky lagi. “Makanya cocok banget ngobrol sama Pongky.”
“Oooooo … .” Dorma cuma melongo melihat keakraban Pongky dengan si Pocong.
*****
Semakin larut, semakin diisi penuh tawa dan canda antara Pongky, Si Pocong dan Dorma.
“Daaggg, mmmuah, mmmuaaahhh.” Sambil si Pocong ber dag-dag mesra dengan si Pongky. ” ‘eke kembali ke kota dulu ya… mau menawarkan beberapa desainer karya ‘eke ke beberapa rumah butik.  Menghadapi tahun 2013, ‘eke pikir kita harus berani melakukan perubahan-perubahan yang mendasar tentang seragam pocong. Bukan begitu, Pongky?.”
“Setuju bangetsss.” Jawab Pongky senang.
“Menurut mba bagaimana?.” Tanya si Pocong pada Dorma.
“Wah bakalan keren tuh … apalagi yang model celana cingkrang, hehehehe… jadi Pocong gak perlu lompat-lompat kalau mau jalan.” Jawab Dorma.
“Hehehe, ide ‘eke OK kan mba?. Capeee kan kalau lompat-lompat terusss.”
Si Pocong pun pergi meninggalkan Pongky dan Dorma.
“Hebat juga teman kamu ya Pong. Kreatif banget.” Puji Dorma. “Oh ya, by the way siapa nama nya Pong?.”
“Wadaaaw, Pongky juga lupa nanya nama nya mba.” Jelas Pongky menyesal sambil menepuk jidatnya.
“Yaaaa, sayang banget Pongky.” Kata Dorma ikut menyesal.
“Kita kasih nama aja Pocong lebay, mba.” Jelas Pongky.
“Memangnya kamu gak tertarik, Pong?. Si lebay itu kannnn, lumayan juga sih… hehehe cantik.” Goda Dorma pada Pongky.
“Pongky ‘nyatet nomor HP nya sih, mba.”
“Jadi Pongky tertarik sama si lebay itu?.” Tanya Dorma serius.
Pongky salah tingkah ditanya begitu, pipi dan hidungnya semu memerah.
“Idiiiiihhhh, Pongky … masa jeruk makan jeruk sih!.” Ejek Dorma pada Pongky.
****
Si Kutu Buku, 241012

Ilustrasi Gambar : Sumber Gambar :  gerbongtiga.wordpress.com

Pongky, Seragam Pocongmu Gak Ada Yang Muat



Pongky alias Pongky Ci Pocong Insyaf sedang disidang oleh para pocong lainnya.
Ada-ada saja ulah si Pongky. Dia bersumpah bahwa dia sudah gak mau lagi pakai seragam pocong warna putih-putih.
“Lagian, kenapa juga seragam pocongnya mesti putih melulu sih?.” Protes Pongky pada Boss Pocong.
“Nama nya juga Pocong.” Begitu jawab si Boss Pocong. “Dari zaman kuda gigit besi yang namanya Pocong ya seragamnya putih-putih.”
“Zaman sudah berubah, Boss. Pocong itu gak harus seram lagi, memangnya gak bosen nakut-nakutin manusia doang kerjaannya?.” Protes Pongky lagi.
“Hei, Pongky baru jadi Pocong saja kamu kok sudah banyak protes!.”
“Sebenarnya saya protes bukan karena masalah warna Boss. Saya protes karena Boss sudah gak adil dan gak amanah lagi pada sesama pocong.” Jawab Pongky.
“Apa maksudmu, Pongky?.”
“Honor iklan pemutih so Klin, kok Pongky gak kebagian Boss?.”
“Kamu kan gak ikut sesi pemotretan dan shooting video iklan tersebut. Gimana sih, kamu gak ikut tapi mau terima honor juga. Itu nama nya kamu nya yang gak adil.”
“Bukannya Pongky gak mau ikut tapi saya gak diajak!.” Jawab Pongky kesal.  “Pongky ditinggal sendirian buat jaga gawang (baca : area pemakaman).”
“Kamu jangan salah paham dulu. Bukannya gak diajak, seragam pocongnya gak ada yang muat untuk kamu, Pongky.” Jelas Boss Pocong. “Ukuran XL saja gak muat, makanya kamu diet dan kurusin badan. Mana ada Pocong gemuk atau genduuuutts. Hehehe, bisa merusak citra per-pocongan nanti nya.”
“Eh, Boss jangan sembarangan ngomong ya. Pongky gemuk juga gak pernah minta makan sama Boss. Jadi Pongky mau gemuk, mau genduttss, mau kerempeng, itu sih terserah Pongky aja.”
“Kenapa kamu sekarang mudah marah, Pongky?. Aku ngomong kan apa adanya memang itu faktanya.” Jelas Boss Pocong.
“Terus kenapa Boss complain kalau seragam pocong Pongky berwarna Pink?.”Sahut Pongky kesal. “Terserah Pongky dong mau pakai warna pink atau batik, Pongky kan beli sendiri.”
“Pongky .. Pongky .. kamu memang keras kepala, mana ada pocong warnanya pink apalagi pakai batik?.  Apa kata dunia … ???.” Jawab Boss kesal.
Sejak pertengkaran itu, Pongky lebih senang berr-solo karir. Dengan trade mark yang baru bahwa Pocong itu tidak harus selalu seram dan Pocong bisa juga berseragam trendy sesuai tuntutan peran, akhirnya Pongky menjadi selebriti. Ia kebanjiran job main film, banyak bintang film horor besar lainnya pernah bermain bersama Pongky, diantaranya : Suster Ngesot, Nenek Gayung, Kakek Pacul, Penunggu Terowongan Casablanca dan bintang-bintang horor terkenal lainnya.
Pongky Ci Pocong Pinky sahabatku walaupun kamu sudah jadi selebriti, jangan sombong sama teman se-desa mu ini. Hehehehe, hebat kamu Pongky sudah jadi artis sedangkan aku tetap saja wong ndeso.

*****
Kutu Kata, 23102012

Ilustrasi Gambar : arsitexcommunity.wordpress.com

Bunuh Diri



Suasana desa tiba-tiba heboh, seorang gadis nampak di tepian jembatan. Ada kengerian disitu, gadis itu mencoba bunuh diri terjun ke sungai Rangkat yang berarus deras.
Di pagi buta, Pak Kades Hans bersama warga desa tersentak melihat pemandangan itu.
“Hei!, mau mati ya Lo?.” Teriak Bang Ibay kesal.
“Bang Ibay ini bagaimana sih?. Orang mau bunuh diri dibilang mau mati!.” Jelas Jingga Ketus.
“Orang mau bunuh diri itu kan artinya mau mati, Jingga!. Memangnya beda?.”Jelas Bang Ibay lagi.
“Coba saja tanya Bocing, mungkin Bocing lebih tau.” Saran si Kutu Buku. “Cing, menurut kamu bagaimana mau bunuh diri sama gak dengan mau mati?.”
Bocing berfikir sebentar. Kerut dikeningnya semakin menebal. Cling!. Akhirnya Bocing menjawab, “boleh Bocing searching dulu di google?.”
“Wah kelamaan Cing, keburu mati tuh Orang.” Jawab Pak Kades tegang. “Gimana dong Mom?, Mungkin Mommy lebih tahu cara menangani gadis itu?.”
“Mommy kan belum tahu kenapa gadis itu mau bunuh diri?.” Jawab Mommy bingung.
“Menurut survey, 75% orang mau bunuh diri karena frustasi, Mom.” Jawab Bocing meyakinkan.
“Weeeeih, hebat juga nih Bocing. Baru kali ini otaknya terang.” Teriak Mahar.
“Wah menyesal nih, Jeng Mahar menolak Bocing.” Olok mba Aciek pada Mahar.
“Oh iya Kang El mana?.” Tanya Mommy kebingungan.
“Kang El sudah nunggu di bawah Mom sambil berdo’a, agar orang yang bunuh diri diberikan keselamatan dan kesehatan.” Jelas Bunda Enggar.
“Apa cukup dengan do’a saja?.” Tanya Pak Kades Hans sambil garuk-garuk kepalanya yang gak gatal. “Ada ide gak, bagaimana cara mencegah agar gadis itu tidak bunuh diri?.”
“Bocing nya mau gak, Pak Kades?.” Tanya si Kutu Buku.”Cing, kamu mau gak?.”
“Mau apa. Om?.” Tanya Bocing dan Pak Kades bersamaan.
Si Kutu Buku membisikkan sesuatu ke telinga Bocing. Bocing manggut-manggut tanda mengerti. Pak Kades penasaran ingin tahu, ide apa yang dibisikkan si Kutu Buku ke telinga Bocing.
“Mau Cing?.” Tanya si Kutu Buku lagi.
Dengan semangat 45′ nya, Bocing langsung teriak, “mau, mau, mau.”
“Mau apa sih Om?.” Tanya Pak Kades Hans pada si Kutu Buku.
“Lihat saja aksi Bocing selanjutnya!.” Jelas si Kutu Buku.
“Heeeeiii!, aku yang mau bunuh diri kok, malah kalian asyik nge-gossip sih?.” Teriak si gadis itu.
Gadis itu semakin nekat, diangkat sebelah kakinya. Kini dia hanya bertumpu pada sebelah kaki.
“Hah!.” Jantung warga desa yang dari tadi menonton gadis itu serasa copot.  Mommy menangis berpelukan dengan Jingga. Jeng Mahar dan Aya bengong tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Pak Kades menutup matanya ngeri. Kang El, melihat ke arah atas jembatan sambil komat kamit nya dipercepat.
“Ayo, Cing, maju!. kamu pasti bisa!.” Teriak si Kutu Buku pada Bocing.
Dengan gagahnya Bocing melangkah maju, melewati tembok jembatan berdiri di tepian, hanya berjarak beberapa meter saja dari gadis itu.
“Sekali lagi kamu melangkah, saya akan terjun ke sungai.” Ancam gadis itu.
Bak seorang pahlawan dengan macho nya Bocing menenangkan gadis itu. “Sa… sabar sayang, semua masalah kan bisa dibicarakan. Dengan A’a Bocing disini, Insya Allah semua masalah akan beres.”
“Sengaja A’a datang untuk menolongmu, gadis cantik.” Kata Bocing merayu.
Di bilang cantik, wajah gadis itu bersemu merah. “Hihihi, cuma A’a yang bilang aku cantik.”
“A’a bicara apa adanya.” Sahut Bocing pada gadis itu. Kemudian dengan santai nya Bocing menyanyikan sebait lagu Iwan fals.
“Salah sendiri kau gadis, punya wajah teramat manis. Wajar saja bila ku ganggu, agar tak murung dunia… mata indah bola ping pong ... apakah kamu sedang kosong?.”
“Hihihi, Kok A’a tahu kalau aku sedang kosong?.” Sahut gadis itu tersipu malu. “Apa benar A’ mataku seperti bola ping pong?.”
“Bukan hanya mata kamu, hidung kamu, pipi kamu, telinga kamu persis bola ping pong.” Kata Bocing merayu.
“Terus wajahku seperti apa A’?.” Tanya gadis itu bingung.
“Meja ping pong kaleeee.” Jawab Bocing seenaknya.
Gadis itu langsung cemberut dan marah. “Kalau A’a bilang aku jelek lagi, maka aku tidak ragu-ragu lagi untuk terjun ke sungai.”
“Jangan marah say, kalau lagi cemberut gitu, A’a jadi tambah sayang deh.” Bujuk Bocing.
“Benar A’a sayang sama aku?. Apa buktinya?.”
“Apapun yang kamu minta akan A’a turutin.”  Jawab Bocing kalem.
“Aku minta ciuman yang paling hot dari A’a, boleh gak?.”
Plak!, Guuubbbrak!, Toooeeeet!.  Otak Bocing tiba-tiba terbuka lebar. Rejeki nomplok sayang kalau ditolak, bisik hati Bocing.
Bocing dengan elegant nya mendatangi gadis itu. Meraih tangannya, memeluknya … lalu mencium bibir gadis itu dengan penuh nafsu.
“Wow, french kiss, Mom. I like it, Mom” Sahut Jingga sambil berdesah dari kejauhan.
“french kiss itu makanan apa sih, Jingga?.” Tanya Mommy polos.
Hampir lima belas menit mulut mereka berpagutan tak mau lepas, seperti ular yang sedang berasyik masyuk.
Dengan nafas tersengal akhirnya Bocing bertanya pada gadis itu. “Kalau boleh A’a tahu, sebenarnya apa yang membuatmu ingin bunuh diri.”
“Aku benci sama Bapak dan ‘Emak!.” Jawab gadis itu ketus.
“Lah memangnya kenapa?.”
“Bapak dan ‘Emak melarangku memakai pakaian wanita.” Terang gadis itu.
“Kenapa Bapak dan ‘Emak melarangnya?.” Tanya Bocing bingung.
“Karena aku sebenarnya laki-laki, A’ bukan wanita.” Jelas gadis itu kalem.
“Apaaaa?. Jadi kamu… ?.” Bocing shock dan tidak bisa meneruskan kata-katanya.
“Masa Bocing lupa sih?. Aku dulu kan Kang Inin…. .”
“Haaah, apa?!.” Bocing semakin shock.
“Aaaaaauuuuuuwwww.” Untuk menutupi malunya Bocing pun terjun dari atas jembatan.
Warga desa bingung, kenapa Bocing yang bunuh diri?. Mereka pun banyak yang berteriak, “Booociiing.”
“Aaaaauuuuuooooo.” Tiba-tiba saja Bang Ibay ikut terjun menyusul Bocing.
Warga Desa semakin kaget dan bingung, kehebohan terjadi. Pak Kades bingung, Mommy dan Jingga menangis tersedu-sedu. Kang El melongo, mulutnya tak mampu lagi melafadhz kan do’a.
Dengan kepandaian renangnya, Bang Ibay akhirnya dapat menolong Bocing. Mengangkat Bocing yang pingsan ke daratan.
Warga Desa berlarian ke bawah jembatan menuju ke arah Bang Ibay yang sedang membopong Bocing.
Sebagian warga berucap syukur  dan ada juga yang bertepuk tangan atas usaha penyelamatan Bang Ibay.
“Selamat, Bang Ibay. Untung saja Bang Ibay mau berkorban untuk menyelamatkan Bocing.” Kata Pak Kades Hans memberikan selamat.
“Sebentar … sebentar, Pak Kades. Saya mau protes sama warga desa.”
“Protes apa Bang Ibay?.” Tanya Pak Kades Hans bingung.
“Saya mau protes tadi siapa yang jail, sudah jorokin saya ke sungai?.”
Warga Desa bingung saling berpandangan satu sama lainnya. Dikerumunan belakang Ki Dalang cekikikan menahan tawa.
“Kamu ya Ki Dalang!. Kamu kan yang ada dibelakangku tadi.”
“Sudahlah Bang Ibay yang pentingkan Bocing sudah bisa diselamatkan.” Kata mba Aciek bijak.
“Amit-amit deh!. Kalau gak di jorokin, siapa yang mau nolongin Bocing?. Hehehehe.” Sahut Bang Ibay berkelakar.
*****
Di tepi jembatan, Jeng Mahar dan Aya kesal pada Kang Inin.
“Bocing yang terjun ke sungai, kenapa celana kamu yang basah, Kang?.” Bentak Jeng Mahar.
“Kok basahnya cuma disitu doang, Jeng?.” Tanya Aya pada Jeng Mahar.
“Apa?.” Gadis itu atau Kang Inin jadi-jadi an langsung memeriksa celananya.
“Hah!, gak mungkiiiiinnnn!.” Teriak Kang Inin kesal.
“Bbbuuuuarrrrh. Astaghfirulloh.” Nafas Kang Inin tersengal-sengal, ia tersentak kaget bangun dari tidurnya.
Matahari pagi menyorot ke wajah Kang Inin. Wah, kesiangan lagi deh subuhnya. Bisik hati Kang Inin.
Dengan berat, Kang Inin bangkit dari tidurnya. Disingkirkannya selimut yang melingkari tubuhnya.
Hah!, Gak mungkin lah!. Begitu jerit hati Kang Inin ketika ia meraba celana tidurnya yang basah karena “sesuatu”.
Sesampai di kamar mandi, Kang Inin masih bermalas-malasan. Masa sih?, gue mimpi basah sama Bocing?. Hirrrrkkk, bergidik tengkuk Kang Inin mengingat mimpinya. Diambil nya pasta gigi dan dioleskannya pada sikat gigi. Dengan sekuat tenaga, Kang Inin menyikat giginya. Bukan hanya sekali, berkali-kali ia menyikat giginya namun suara misterius itu semakin nyaring menertawakannya.
Hihihihi, biar sampai habis odolnya Kang, kenangan buruk itu tak mudah dihapus begitu saja. Hihihihi.
****
 Bunuh Diri, Kutu Kata, 221012

Ilustrasi Gambar : lintasberita.in