“Rangking
berapa pak anaknya?”. Tanya seorang ibu orang tua murid.
“Satu!.”
“Wah,
hebat ya.”
“Iya.”
Kataku mantap sambil elus-elus kepala anakku.
Hatta,
anakku nyengir saja waktu rambut ikalnya ku elus sayang.
*****
Pertanyaan
yang sama dari istriku waktu aku dan Hatta tiba dirumah.
“Rangking
berapa, Pa?.” Tanya istriku penasaran.
“Satu!.”
“Serius,
Pa?,” Tanya istriku kesal.
Tanpa
menjawab apapun. Kuberikan rapot anakku.
“Huh,
ini sih bukan rangking satu!, ini rangking dua!.” Kata istriku kesal. “Dua dari
belakang.”
Memang
betul apa kata istriku. Hatta rangking dua puluh empat dari dua puluh lima,
jumlah murid di kelasnya.
“Untung
saja naik.” Kata istriku ketus. Sambil menutup rapot, lalu meletekannya begitu
saja di meja sudut.
Wage
datang menghampiri ke arah ku dan Mama nya.
“Masak
apa, Ma?. Hatta lapar.”
“Ayam
goreng kecap kesukaanmu. Ambil sendiri saja ya.” Kata Mama pada Hatta.
Hatta
pun sigap membalikkan badannya. Sebelum dia meninggalkan kami, aku pun memanggilnya.
“Hatta,
sini!.”
“Ada
apa lagi, Pa?, Hatta kan udah laperrrr.”
“Kalau
teman-teman kamu tanya, Hatta rangking berapa, Hatta jawabnya apa?.” Tanyaku
mengingatkan Hatta.
“Satu!.”
Teriak Hatta.
“Hebat,
mantabs!. Itu baru anak Papa. Anak Papa semua adalah anak-anak terbaik,
rangking satu semua.” Kataku memujinya. “Ya, sudah sana kamu makan dulu.”
Hatta
pun pergi menuju dapur.
*****
Perlu
aku jelaskan, Hatta adalah anak kedua kami. Sekarang duduk dikelas tiga mau naik
ke kelas empat. Beda dengan si sulung anak pertamaku. Rangking si sulung selalu
Top Ten di sekolahnya. Walaupun beda dengan kakaknya, perhatianku pada Hatta
tidak berbeda. Semua anak dapat perhatian yang sama, aku tahu sebagai orang tua
kita mesti adil karena kalau pilih kasih tidak bagus untuk perkembangan mental
si anak.
Hatta
bukanlah anak yang bodoh. Bagiku tidak anak yang bodoh yang bodoh. Kita sebagai
orang tuanya dan juga guru disekolahnya yang berperan membentuk anak itu.
Walaupun sering tertinggal dalam pelajaran di sekolahnya menurutku Hatta adalah
anak yang kreatif. Bukankah setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangan yang
unik?.
Sebagai
anak dengan gerak motorik terbaik waktu di TK. Lebih cepat dan tepat dalam
menyusun puzzle. Tidak cengeng ketika di tinggal sendiri waktu di TK. Lebih
mudah mengurus anak yang bisa mandiri sejak kecil. Tertawanya kencang dan
lepas, selalu riang gembira. Walaupun berbadan lebih kecil tapi selalu jadi leader
diantara teman-temannya.
Dan
yang membanggakan buatku, Hatta adalah anak “apa adanya”. Kalau ia tidak suka
akan sesuatu maka ia akan katakan tidak suka. Teguh pendiriannya dan tidak mau
dipaksa.
Seperti
halnya masalah sekolah. Ia katakan bahwa ia tidak suka dengan “tetek bengek”
yang ada di sekolah. Tugas-tugas sekolah, PR, Ulangan maupun Ujian di sekolah
merupakan sesuatu yang ia tidak suka. Bagaimana mau dapat nilai bagus kalau
soal ujiannya tidak dijawab?, hanya didiamkan kosong saja. Ketika kutanyakan
kenapa ia tidak mengisi soal ujian itu?. Dengan ringannya, ia katakan bahwa ia
tidak suka. Kutanya lagi, apa karena Hatta gak bisa?. Ia jawab bisa.
Malam
harinya aku dan istriku dengan sedikit membujuk agar Hatta mau mengerjakan soal
ujian itu. Akhirnya dikerjakan juga dan hasilnya membuat aku dan istriku bengong,
ternyata cuma salah satu, artinya anakku bisa bukannya “bodoh”. Sejak
itu kami tidak pernah memaksakan kehendak kami. Dengan nasihat, bujukan dan
sedikit reward, akhirnya Hatta mulai mudah diarahkan untuk mau belajar.
Walaupun kebiasaannya mencoret-coret buku dengan gambaran hayalinya
belum bisa berubah.
Rangking
bukanlah tujuan utama kami dalam mendidik anak. Pernah pada suatu hari ia
pulang sekolah dengan muka cemberut. Ketika kutanyakan, ia kesal karena
teman-temannya banyak yang nyontek makanya hasil ujiannya bagus. Sedangkan ia
dapat nilai jelek, selain karena ia tidak bisa, Hatta pun tidak mau menyontek.
Akupun tertawa bangga. Akhirnya sikap fair, jujur dan “apa adanya” yang
selalu ku tanamkan pada Hatta membuahkan hasil.
“Lihat,
Ma, anak kita punya prinsip.” Kataku pada istriku.
“Tapi
kalau gak naik kelas bagaimana?.”
“Gak
apa-apa, Ma. Buat apa dia naik kelas tapi bukan hasil jerih payahnya sendiri.
Aku lebih suka dan bangga kalau dia begitu, Ma.”
Biasanya
istriku cuma diam pasrah kalau aku sudah bicara tentang idealisme ku
dalam mendidik anak-anakku.
“Terus
bagaimana Pa, kok anak kita gak cocok sih dengan sekolah?.” Tanya istriku
menyerah.
“Mama
tahu Albert Einsten?.”
Istriku
diam.
“Dia
juga termasuk anak yang tidak cocok dengan sistim pendidikan di sekolah. Karena
tidak ada kemajuan, akhirnya ibunya mengambil alih pendidikan si Albert itu
dengan sistim home schooling.”
“Maksudnya
Pa?.”
“Ibunya
yang mendidik si Albert itu di rumah, meletakkan dasar-dasar keilmuan dan pembentukan
karakter anaknya hingga si Albert menjadi seorang penemu besar di dunia. Berkat
penemuan si Albert itu dianggap membawa kemajuan peradaban manusia.”
Istriku
bengong mendengarkan penjelasanku yang sangat meyakinkan.
“Nanti
kalau sudah besar anak kita jadi apa ya, Pa?. Apa bisa jadi si Albert juga?.”
Tanya istriku lugu.
“Hahahaha,
orang seperti si Albert itu termasuk “barang langka” yang diciptakan Tuhan.
Tapi…why not?. Apa yang tak mungkin di dunia ini?. Bisa saja anak kita lebih
hebat dari si Albert. Dengan catatan, kemampuan kita mendidiknya harus lebih
sabar, lebih care dan lebih hebat dari ibunya si Albert.” Kataku penuh
semangat.
“Tapi,
Ma… Papa gak berharap terlalu “muluk”. Mama ‘ngerti kan kenapa Papa ‘ngotot
memberikan nama Hatta pada anak kedua kita?.”
“Papa
ingin anak kita mengikuti jejak Bung Hatta. Sang proklamator tercinta, jujur,
sederhana tapi bijaksana. Mengerti apa yang tersirat dalam hati rakyatnya
sehingga ketika beliau dimakamkan, iring-iringan masyarakat yang menyemut.
Hujan air mata dari pelosok negeri. Berjuta kepala tertunduk haru saat melepas
beliau pergi.”
“Hiks,
kok Mama jadi sedih Pa.” Kata istriku dengan airmata yang mengembang di kedua
bola matanya.
“Kalau
ingat beliau, Papa juga suka sedih Ma. Mungkin Tuhan terlalu cepat
memanggilnya…ketika negeri ini masih merindukan pemimpin yang bersahaja dan
sederhana seperti beliau.”
“Iya
Pa, Mudah-mudahan ya Pa anak kita bisa seperti beliau.”
“Iya,
Ma. Yang penting kita selalu berusaha dan berdo’a agar Tuhan memberikan yang
terbaik buat anak kita.”
Istriku
pun memeluk haru. Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya meledak juga.
Akupun ikut meneteskan air mata penuh harap.
“Jadi
Pa, kalau ada tetangga kita yang nanya Hatta rangking berapa?. Mama akan jawab
dengan lantang: satuuuuu!.” Kata istriku mantabs sambil menghapus sisa
air matanya yang masih ada di ujung mata.
“Hehehehe,
pokoknya semua anak-anak Papa adalah anak-anak Rangking : satu, Ma.” Kataku
dengan suara parau karena haru.
*****
Kutu Kata, Rangking : 1, 21062012
Dedicated
for : Bung Hatta
“Terbayang baktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas
jiwa sederhanamu. Bernisan bangga, berkafan do’a dari kami yang merindukan
orang sepertimu…”
(Lirik
lagu “Bung Hatta” dari Iwan Fals)
Ilustrasi Gambar : www.hendywicaksono.com
Ilustrasi Gambar : www.hendywicaksono.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar