Kamis, 02 Mei 2013

Rangking 1



“Rangking berapa pak anaknya?”. Tanya seorang ibu orang tua murid.
“Satu!.”
“Wah, hebat ya.”
“Iya.” Kataku mantap sambil elus-elus kepala anakku.
Hatta, anakku nyengir saja waktu rambut ikalnya ku elus sayang.
*****
Pertanyaan yang sama dari istriku waktu aku dan Hatta tiba dirumah.
“Rangking berapa, Pa?.” Tanya istriku penasaran.
“Satu!.”
“Serius, Pa?,” Tanya istriku kesal.
Tanpa menjawab apapun. Kuberikan rapot anakku.
“Huh, ini sih bukan rangking satu!, ini rangking dua!.” Kata istriku kesal. “Dua dari belakang.”
Memang betul apa kata istriku. Hatta rangking dua puluh empat dari dua puluh lima, jumlah murid di kelasnya.
“Untung saja naik.” Kata istriku ketus. Sambil menutup rapot, lalu meletekannya begitu saja di meja sudut.
Wage datang menghampiri ke arah ku dan Mama nya.
“Masak apa, Ma?. Hatta lapar.”
“Ayam goreng kecap kesukaanmu. Ambil sendiri saja ya.” Kata Mama pada Hatta.
Hatta pun sigap membalikkan badannya. Sebelum dia meninggalkan kami, aku pun memanggilnya.
“Hatta, sini!.”
“Ada apa lagi, Pa?, Hatta kan udah laperrrr.”
“Kalau teman-teman kamu tanya, Hatta rangking berapa, Hatta jawabnya apa?.” Tanyaku mengingatkan Hatta.
“Satu!.” Teriak Hatta.
“Hebat, mantabs!. Itu baru anak Papa. Anak Papa semua adalah anak-anak terbaik, rangking satu semua.” Kataku memujinya. “Ya, sudah sana kamu makan dulu.”
Hatta pun pergi menuju dapur.
*****
Perlu aku jelaskan, Hatta adalah anak kedua kami. Sekarang duduk dikelas tiga mau naik ke kelas empat. Beda dengan si sulung anak pertamaku. Rangking si sulung selalu Top Ten di sekolahnya. Walaupun beda dengan kakaknya, perhatianku pada Hatta tidak berbeda. Semua anak dapat perhatian yang sama, aku tahu sebagai orang tua kita mesti adil karena kalau pilih kasih tidak bagus untuk perkembangan mental si anak.
Hatta bukanlah anak yang bodoh. Bagiku tidak anak yang bodoh yang bodoh. Kita sebagai orang tuanya dan juga guru disekolahnya yang berperan membentuk anak itu. Walaupun sering tertinggal dalam pelajaran di sekolahnya menurutku Hatta adalah anak yang kreatif. Bukankah setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangan yang unik?.
Sebagai anak dengan gerak motorik terbaik waktu di TK. Lebih cepat dan tepat dalam menyusun puzzle. Tidak cengeng ketika di tinggal sendiri waktu di TK. Lebih mudah mengurus anak yang bisa mandiri sejak kecil. Tertawanya kencang dan lepas, selalu riang gembira. Walaupun berbadan lebih kecil tapi selalu jadi leader diantara teman-temannya.
Dan yang membanggakan buatku, Hatta adalah anak “apa adanya”. Kalau ia tidak suka akan sesuatu maka ia akan katakan tidak suka. Teguh pendiriannya dan tidak mau dipaksa.
Seperti halnya masalah sekolah. Ia katakan bahwa ia tidak suka dengan “tetek bengek” yang ada di sekolah. Tugas-tugas sekolah, PR, Ulangan maupun Ujian di sekolah merupakan sesuatu yang ia tidak suka. Bagaimana mau dapat nilai bagus kalau soal ujiannya tidak dijawab?, hanya didiamkan kosong saja. Ketika kutanyakan kenapa ia tidak mengisi soal ujian itu?. Dengan ringannya, ia katakan bahwa ia tidak suka. Kutanya lagi, apa karena Hatta gak bisa?. Ia jawab bisa.
Malam harinya aku dan istriku dengan sedikit membujuk agar Hatta mau mengerjakan soal ujian itu. Akhirnya dikerjakan juga dan hasilnya membuat aku dan istriku bengong, ternyata cuma salah satu, artinya anakku bisa bukannya “bodoh”. Sejak itu kami tidak pernah memaksakan kehendak kami. Dengan nasihat, bujukan dan sedikit reward, akhirnya Hatta mulai mudah diarahkan untuk mau belajar. Walaupun kebiasaannya mencoret-coret buku dengan gambaran hayalinya belum bisa berubah.
Rangking bukanlah tujuan utama kami dalam mendidik anak. Pernah pada suatu hari ia pulang sekolah dengan muka cemberut. Ketika kutanyakan, ia kesal karena teman-temannya banyak yang nyontek makanya hasil ujiannya bagus. Sedangkan ia dapat nilai jelek, selain karena ia tidak bisa, Hatta pun tidak mau menyontek. Akupun tertawa bangga. Akhirnya sikap fair, jujur dan “apa adanya” yang selalu ku tanamkan pada Hatta membuahkan hasil.
“Lihat, Ma, anak kita punya prinsip.” Kataku pada istriku.
“Tapi kalau gak naik kelas bagaimana?.”
“Gak apa-apa, Ma. Buat apa dia naik kelas tapi bukan hasil jerih payahnya sendiri. Aku lebih suka dan bangga kalau dia begitu, Ma.”
Biasanya istriku cuma diam pasrah kalau aku sudah bicara tentang idealisme ku dalam mendidik anak-anakku.
“Terus bagaimana Pa, kok anak kita gak cocok sih dengan sekolah?.” Tanya istriku menyerah.
“Mama tahu Albert Einsten?.”
Istriku diam.
“Dia juga termasuk anak yang tidak cocok dengan sistim pendidikan di sekolah. Karena tidak ada kemajuan, akhirnya ibunya mengambil alih pendidikan si Albert itu dengan sistim home schooling.
“Maksudnya Pa?.”
“Ibunya yang mendidik si Albert itu di rumah, meletakkan dasar-dasar keilmuan dan pembentukan karakter anaknya hingga si Albert menjadi seorang penemu besar di dunia. Berkat penemuan si Albert itu dianggap membawa kemajuan peradaban manusia.”
Istriku bengong mendengarkan penjelasanku yang sangat meyakinkan.
“Nanti kalau sudah besar anak kita jadi apa ya, Pa?. Apa bisa jadi si Albert juga?.” Tanya istriku lugu.
“Hahahaha, orang seperti si Albert itu termasuk “barang langka” yang diciptakan Tuhan. Tapi…why not?. Apa yang tak mungkin di dunia ini?. Bisa saja anak kita lebih hebat dari si Albert. Dengan catatan, kemampuan kita mendidiknya harus lebih sabar, lebih care dan lebih hebat dari ibunya si Albert.” Kataku penuh semangat.
“Tapi, Ma… Papa gak berharap terlalu “muluk”. Mama ‘ngerti kan kenapa Papa ‘ngotot memberikan nama Hatta pada anak kedua kita?.”
“Papa ingin anak kita mengikuti jejak Bung Hatta. Sang proklamator tercinta, jujur, sederhana tapi bijaksana. Mengerti apa yang tersirat dalam hati rakyatnya sehingga ketika beliau dimakamkan, iring-iringan masyarakat yang menyemut. Hujan air mata dari pelosok negeri. Berjuta kepala tertunduk haru saat melepas beliau pergi.”
“Hiks, kok Mama jadi sedih Pa.” Kata istriku dengan airmata yang mengembang di kedua bola matanya.
“Kalau ingat beliau, Papa juga suka sedih Ma. Mungkin Tuhan terlalu cepat memanggilnya…ketika negeri ini masih merindukan pemimpin yang bersahaja dan sederhana seperti beliau.”
“Iya Pa, Mudah-mudahan ya Pa anak kita bisa seperti beliau.”
“Iya, Ma. Yang penting kita selalu berusaha dan berdo’a agar Tuhan memberikan yang terbaik buat anak kita.”
Istriku pun memeluk haru. Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya meledak juga. Akupun ikut meneteskan air mata penuh harap.
“Jadi Pa, kalau ada tetangga kita yang nanya Hatta rangking berapa?. Mama akan jawab dengan lantang: satuuuuu!.” Kata istriku mantabs sambil menghapus sisa air matanya yang masih ada di ujung mata.
“Hehehehe, pokoknya semua anak-anak Papa adalah anak-anak Rangking : satu, Ma.” Kataku dengan suara parau karena haru.
*****
Kutu Kata, Rangking : 1, 21062012

Dedicated for : Bung Hatta
Terbayang baktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas jiwa sederhanamu. Bernisan bangga, berkafan do’a dari kami yang merindukan orang sepertimu…”
(Lirik lagu “Bung Hatta” dari Iwan Fals)

Ilustrasi Gambar : www.hendywicaksono.com

Tidak ada komentar: