Siapa yang tidak akan tergoda olehku?. Begitulah prinsip RG. Seperti Wanita genit yang sedap dipandang mata sengaja diciptakan Tuhan untuk menggoda iman manusia. Cuma orang yang gak waras yang tidak suka RG.
“Disini cuma ada dua polisi
jujur, polisi tidur dan patung polisi.” Kata Pak Ogah pada RG.
“Kalau si Hugeng mati, mungkin
jadinya ada tiga polisi jujur.” Kata Pak Ogah tanpa rasa hormat.
“Siapa Hugeng?.”
“Mba tadi lewat pertigaan
Bubulak?. Sepi kan?. Tidak ada angkot-angkot yang ngetem?.”
“Bagus kan?. Jalanan jadi gak
semrawut.”
“Hari ini adalah hari kejujuran,
hari dimana si Hugeng dinas, hari dimana pertigaan Bubulak tidak ada angkot
yang ngetem, hari dimana para Pak Ogah nganggur alias tidak ada pemasukkan.”
Kata Pak Ogah kesal.
“Ngomong-ngomong sekarang sudah
ada perbaikan nasib dong?. Dulu kan bapak disebut polisi “cepe” sekarang mana
ada orang yang ngasih cepe, kebanyakan seribu. Jadi status bapak meningkat
menjadi polisi “seceng”.”
“Bah!, mba ini memuji atau
‘ngenye?. Perubahan dari cepe menjadi seceng bukan perbaikan nasib tapi
dikarenakan koreksi atas nilai kurs mata uang rupiah yang selalu merosot.”
Sahut Pak Ogah kesal.
Wah hebat, Pak Ogah sekarang
sudah tahu nilai kurs mata uang. Ada kemajuan yang signifikan dalam era
keterbukaan dibidang informasi. Bisik hati RG.
Siapa si Hugeng itu?. Yang jelas
dia bukan bagian dari Pak Ogah. Apakah aku telah luput menggodanya?. Aku harus
menemuinya dan mengajaknya “selingkuh”.
“Selamat pagi Pak Hugeng?. Boleh
saya ngobrol-ngobrol sebentar dengan bapak?.”
“Maaf, mba ini siapa? Wartawan
atau…?.”
“Pak Hugeng belum kenal saya.
Kalau sudah kenal dijamin bapak pasti akan suka dan tidak bisa melupakan saya.”
Kata RG genit sambil mengedip-ngedipkan matanya menggoda.
“Sekarang saya sedang tugas.
Kalau mau ngobrol nanti pas jam istirahat saja.” Kata Pak Hugeng tegas.
Huh!,sombongnya si Hugeng itu.
Pangkat rendahan saja tapi belagunya minta ampun. Komandannya saja sering
selingkuh dengan aku. Dari tingkat pusat, daerah sampai sektor yang terkecil
sekalipun pernah selingkuh denganku.
Pada waktu majalah Tempo
menayangkan perselingkuhanku dengan mereka. Banyak pejabat polisi yang
‘blingsatan’ seperti cacing kepanasan. Dikritiklah Tempo itu sebagai penghinaan
atas institusi polisi dengan alasan: institusi polisi yang terhormat masa di
imejkan dengan gambar celengan babi yang gendut. Karena kekuatan kekuasaan
akhirnya berita itu menguap persis kentut. Yang tercium cuma baunya saja.
Kentutnya tidak ditemuan. Apalagi yang kentut, siapa yang mau mengaku?.
Kembali kepada Pak Hugeng.
Setelah aku dapatkan informasinya. Pak Hugeng memang tidak memiliki rekening
pribadi di bank manapun. Mutasi yang tercatat di rekening resminya adalah saldo
tiap bulan sebagai gaji yang ia terima dari negara. Selanjutnya adalah
pengeluaran-pengeluaran yang bersifat biasa. Semanya nampak wajar, tidak ada
hal yang mencurigakan. Aneh?. Semuanya clear. Apa orang ini sudah gila?. Semua
orang waras pasti suka duit.
“Mba ini wartawan atau setan?.”
Kata Pak Hugeng sambil mendelikkan matanya melotot.
“Masalah rekening saya adalah
masalah dapur saya, masalah privacy saya. Gak perlu mba ikut prihatin
dan kasihan pada saya. Lalu ujung-ujungnya mba mengiming-imingi saya dengan
sejumlah uang agar saya mau ber-kompromi dengan Bossnya Pak Ogah.”
“Tapi Pak, teman-teman bapak
semuanya begitu.” Kata RG membela diri.
“Biar saja!. Itu urusan mereka
dengan Tuhan dan bangsa ini!.”
“Komandan bapak juga tahu,
beliau menerima setoran dari polisi seperti teman-teman bapak. Yang
sebenarnya uang itu juga berasal dari Boss Pak Ogah.”
“Bukan urusan saya!.” Pak Hugeng
meninggalkan RG dan kembali berdinas mengatur lalu lintas di pertigaan Bubulak.
Di terik matahari,Pak Hugeng
tetap Pak Hugeng. Begitupun di hujan deras, hujan badai, angin badai, topan
yang dahsyat, ya Pak Hugeng tetaplah Pak Hugeng, polisi yang menjalankan
tugasnya dengan penuh disiplin dan tanggung jawab.
Pak Hugeng, Pak Hugeng, saya
berniat baik tapi kenapa bapak malah “jijik” pada saya?. Apa bapak tidak
perduli dengan istri bapak yang prihatin dan selalu kekurangan setiap
bulannya?. Apa bapak tidak sayang dengan putri bapak yang tidak punya hand
phone sementara teman-temannya asyik ber-BBM ria?. Apa bapak ingin
mengasingkan mereka dari dunia yang gemerlapan?. Apa bapak ingin menciptakan
mereka seperti bapak, makhluk aneh dan langka di Indonesia ini?.
Ya, memang Pak Hugeng punya satu
rekening yang tidak bisa kubuka aksesnya karena nomor rekeningnya aneh dan
perhitungan debet kreditnya pun tidak sama seperti bank pada umumnya. Rekening
akhirat namanya.
Setiap hari Pak Hugeng menyetor
ke rekening akhiratnya. Malaikat si pencatat yang tahu berapa saldonya. Dan
anehnya, satu kebaikan yang ditanam Pak Hugeng bisa berbunga tujuh kali lipat
bahkan bisa bunga berbunga sampai tujuh puluh atau tujuh ratus kali lipat. Wow
fantastis, pantas Pak Hugeng tidak tergoda olehku. Walapun aku sudah bugil di
hadapannya tapi Pak Hugeng tidak melirik sedikitpun kepadaku. Karena ternyata
ia sudah punya account dari Tuhan.
Hmm, siapa lagi yang akan
kugoda?. Lamunan RG dibuyarkan oleh Pak Ogah.
“Sebenrnya mba ini siapa sih?.
Kok tertarik banget dengan orang seperti Pak Hugeng?.”
“Hehehe, kenapa penasaran ya?.
Panggil saya RG kepanjangan dari Rekening Gendut.”
“Rekening Gendut?. Wauuuw mau
dong mba?.” Kata Pak Ogah takjub.
“Pak ogah mau?.”
“Mau, mau, mau.” Kata Pak Ogah
persis Upin Ipin waktu ditawari ayam gorang.
“Nanti ya Pak Ogah kalau Pak
Ogah sudah jadi pejabat, pasti Pak Ogah akan mengajak saya selingkuh.
Hihihihi.” Kata RG dengan tawanya yang menggoda.
*****
Kutu Kata, Polisi
Jujur, Pak Ogah Dan Dahsyatnya Godaan RG, 28062012
Ilustrasi Gambar : www.kaskus.co.id
Ilustrasi Gambar : www.kaskus.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar