Kamis, 02 Mei 2013

Suratku Yang Membatu


 

Suratku Yang Membatu
Ini adalah surat-surat diamku.
Surat yang hanya kusimpan dalam kotak sepi.
Surat diam yang bercerita pada angin malam,
Surat yang ku tulis dengan jiwa penuh rasa.
Surat yang tak pernah kau baca hingga membatu.
Istriku,
Mari lah kita duduk di kursi batu teras rumah kita.
Duduk di lautan kesyahduan bintang-bintang.
Bercengkerama di gelap malam dicemburui terang bulan.
Duduk diam. Bercakap-cakap tanpa kata.
Burung malam bercit-cit pilu.
Temani perginya malam.
Istriku, inilah duduk dan saling diam yang begitu indah karena kita telah sama-sama mengerti bahwa semua persoalan hidup akan dijernihkan dan digenapkan oleh sang waktu. Dan Waktu jua yang kan menyembuhkan dengan hikmah.
Istriku,
Jika waktu t’lah terbaring hening
kisah kasih kita tinggallah sketsa
memudar meredup begitu saja.
seperti bintang yang tenggelam dan langit pun kosong.
Istriku,
Suratku yang membatu. Surat-surat yang tak pernah kukirimkan padamu.
Berharap kelak jika ku t’lah tiada. Kau pun tahu betapa aku mencintaimu.

Istriku,
Kenang-kenangkanlah aku yang penuh cela ini.
Ceritakan pada anak-anak kita tentang seorang ayah yang membanggakan.
Ceritakan pada anak-anak kita tentang seorang suami yang bertanggung jawab.
Suamiku
Bagai berdzikir ku baca surat-surat diammu.
Surat yang kau tulis dengan air mata.
Suamiku,
Didalam makammu ku kubur suratmu yang membatu.
Kenang-kenangkanlah aku. Katamu.
Kan selalu ku kenang walau tinggal sebuah pusara bernisan cinta.
Suamiku,
Percakapan kita yang tanpa kata.
Kan selalu tersimpan dalam pori-pori misteri jiwaku.
*****
Kutu Kata, Suratku Yang Membatu, 24062012

Ilustrasi Gamabar : etsy.com

Tidak ada komentar: