Kamis, 02 Mei 2013

Si Kerikil, Anakku



Ini cerita tentang aku. Si kerikil, begitu sering Papa menjuluki aku.

Tidak seperti anak yang lain, dari ke lima anak-anak Papa. Aku adalah anak laki-laki pertengahan. Diantara dua kakak lelaki dan dua adik perempuan.

Dari proses kelahiran saja, bapak sudah ku dibuat kesal. Walaupun waktu kelahiran sudah lewat beberapa hari, aku lebih betah di dalam kandungan Mama. Dengan perjuangan Mama yang berat, disertai suara halilintar yang bersahutan, kilat cahayanya seperti memoto awan gelap. Hujan disertai angin kencang ditumpahkan dari langit ke bumi. Suasana begitu mencekam.  Duh, Gusti alamat apa ini?. Fikir Papa saat aku dilahirkan.

Dari mulai TK sampai SD, aku selalu rangking 1 atau 2, hehehe…dari belakang. Sebuah prestasi yang tidak bisa dibanggakan jika dibanding dengan prestasi kedua kakakku. Mau jadi apa nanti, kamu nak?. Tanya Papa kesal saat melihat buku raportku.

Mau jadi kerikil, Pa. Jawabku singkat. Papa hanya terkekeh-kekeh mendengar keinginanku.

Bolehkan, Pa?. Hehehe, ada-ada saja kamu. Kata Papa. Papa tidak mengiyakan dan juga tidak melarangku.

Komunikasi antara aku dan Papa, selalu berakhir dengan kekesalan. Sebuah komunikasi yang unik antara seorang Papa dan anak. Kalau tidak Papa yang kesal. Ya, pasti aku yang ngambek.

Anak aneh!, Anak tak bisa diatur!, keras kepala!. Begitu kata-kata Papa memberikan stigma yang menempel kuat pada diriku. Ibu dengan lemah lembutnya membantah stigma itu, kalau aku bukanlah anak yang seperti Papa sering ucapkan. Aku hanyalah anak yang kreatif.

Kesadaran belajarku yang sangat terlambat berbeda dengan teman-teman seusiaku yang rajin belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sedangkan aku, kerjaku cuma bermain dan menggambar. Buku-buku tulisku penuh dengan gambar-gambar kartun. Gambar pertarungan antara pahlawan kebaikan dan penjahat kebatilan.  Dari kecil, aku sudah memimpikan pahlawan kebaikanlah yang nantinya akan memenangkan pertarungan abadi.

Pelajaran dan tugas-tugas sekolah adalah momok yang menakutkan buatku. Sekolah bagiku adalah si penjahat kebatilan yang akan menjebloskan aku dalam penjara kebosanan. Menggambar dan bermain, itulah yang akan melawannya. Apakah anggapan itu salah untuk anak usia 10 tahun sepertiku?. Kalau tidak karena kebaikkan guru-guru di sekolah dan rengekan ibuku pada mereka, hehehe… mungkin sudah beberapa kali aku tinggal kelas.

Tidak naik kelas adalah aib memalukan bagi setiap orang tua. Termasuk orang tuaku sendiri. Dengan segala cara, semua orang tua berharap agar anaknya naik kelas. Sebuah harapan yang wajar. Tapi buatku, apa perdulinya?, mau naik atau tidak bukan masalah bagiku. Yang penting, aku masih bisa menggambar dan bermain di alam khayalku sendiri.

Sekolah Dasar akhirnya bisa ku lewati dengan prestasi yang biasa saja. Masuk SMP, kebiasaanku menggambar bukan menghilang malah semakin menjadi. Hampir semua buku tulisku berubah menjadi komik. Imajinasiku yang lapar akhirnya terobati. SMP kuselesaikan dengan prestasi yang biasa juga kalau memang itu pantas disebut sebagai prestasi.

Lulus SMA, Papa menginginkan aku mengikuti jejak kakak-kakakku. Kuliah di IPDN, lulus jadi pamong praja, sebuah jenjang karir yang jelas. Kalau mau jadi orang sukses di Indonesia, jadilah pejabat atau pengusaha. Begitu kata Papa. Papa marah ketika aku bilang bahwa aku mau masuk IKIP dan menjadi guru setelah lulus nanti. Dengan pongahnya, Papa bilang ; mau makan apa lamu jadi guru?.

Akhirnya, aku dipaksa Papa masuk ke Universitas swasta yang terkenal jurusan Teknik Perminyakan. Tidak ada kendala dalam perkuliahan. Empat tahun ku selesaikan seluruh beban SKS yang harus diambil untuk menjadi seorang sarjana. Tinggal Skripsi yang membuatku malas untuk menyelesaikan kuliah. Waktu luangku lebih banyak ku isi dengan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Tahun 1998, ketika kampusku dikirimi paket yang berisi celana dalam wanita, bra, lipstik dan kaca rias. Disertai surat kaleng yang berisi ; Kampus banci!, pakai ini dan jadilah banci selamanya. Jangan mengaku sebagai mahasiswa Indonesia. Tertanda BEM UI (Badan Eksekutif  Mahasiswa Universitas Indonesia). Sebagai pengurus Senat kemahasiswaan, aku pun geram dan marah. Begitu juga dengan teman mahasiswa yang lain. Aku dan teman-teman yang “beraliran keras” mendesak Ketua Senat kami agar tidak ragu lagi untuk turun ke jalan unjuk gigi.

“Kita harus ambil bagian dalam proses reformasi ini!.” Kataku lantang pada saat rapat harian senat. “Siapa yang mau tercatat dalam sejarah sebagai banci?.”

“Huuuuuh!.” Suara gaduh dalam rapat.

“Besok juga kita harus turun ke jalan!.” Kata temanku yang lain.

“Kerahkan semua mahasiswa, kita long march besok dari kampus kita ke gedung DPR!.”Kata seorang mahasiswi garang.

“Setujuuuuu!.”

Keputusan kami bulat bahwa besok kami akan mengadakan aksi demo besar-besaran. Seluruh mahasiswa seluruh angkatan diikut sertakan, praktis perkuliahan lumpuh total. Sebagai mahasiswa senior, aku dan beberapa aktifis menjadi titik simpul pada demo itu agar gerakan kami tidak terinfiltrasi dari para provokator yang akan mengacaukan kami.

Aku sempat mengintip di jalan layang S. Parman, Slipi ada beberapa pasukan yang telah mengintai kami dengan senapan yang siap ditembakkan. Persis sniper dan kamilah kelinci percobaannya. Demo kami terhadang di depan pengadilan negeri Jakarta Barat di jalan S. Parman, Slipi. Pasukan militer menghadang laju gerakan kami, mereka minta agar kami kembali ke kampus dan cukup demo di lingkungan kampus saja.
Hadangan mereka awalnya, kami sambut secara simpatik dengan pemberian seikat bunga dari para mahasiswi kami kepada para pasukan. Keinginan kami untuk meneruskan long march ke gedung DPR jadi tertunda. Dalam suasana negosiasi yang buntu dan keresahan kami, tiba-tiba saja keadaan jadi hiruk pikuk. Para mahasiswa yang tadinya ada dalam barisan menjadi semrawut. Sebagian mahasiswa berlari menerjang pasukan yang menghadang di depan. Sebagian besar lagi, lari ke arah kampus kembali. Terdengar tembakan dari para sniper, beberapa teman-teman kami ambruk diterjang peluru. Suasana jadi kacau. Kami diserang dan dipukuli oleh pasukan yang tadi menghadang kami. Sementara para sniper dengan asyiknya menembaki kami. Bukan hanya dengan peluru karet tapi juga pakai peluru tajam, mematikan. Hai!, para sniper apakah kami ini musuh bangsa?. Peristiwa penembakan itupun  terkenal dengan istilah tragedi Trisakti.

Beberapa adik kelas kami, gugur sebagai pahlawan reformasi. Papa marah padaku. Goblok!, mau jadi pahlawan kesiangan?, Gak mati saja sudah bagus kamu!.

Setelah setahun tragedi Trisakti, akhirnya aku pun di wisuda. Tak ada senyum kebanggan sedikitpun di wajah Papa. Kulihat wajah Mama yang bening  karena pancaran senyum yang tulus kepadaku. Akhirnya, kamu jadi insinyur juga, Nak. Kata Mama bangga.

Setahun aku kerja di off shore (pengeboran minyak lepas pantai), kebosanan kembali memenjarakan aku. Kehidupan yang penuh dengan rutinitas kerja, tidak ada dinamika hidup dan tidak ada tantangannya menurutku, semua selalu on schedule. Aku pun memutuskan untuk berhenti bekerja. Papa tidak bisa menerima alasanku berhenti bekerja di perusahaan perminyakan. Gajinya gede, mau dimana lagi kamu kerja?. Begitu kata Papa. Selalu uang yang jadi landasannya berfikir.

Aku memutuskan untuk menjadi guru. Mengajar anak-anak pemulung di TPA Bantar Gebang. Keputusan yang gila, kata Papa marah. Pekerjaan yang dibayar dengan dollar aku tinggalkan, eh malah lebih memilih menjadi guru yang tidak ada penghasilannya. Memang mengajar anak-anak pemulung lebih sebagai panggilan jiwa saja, kadang malah aku “nombok“.

Ketika Papa bilang aku sudah gila, aku cuma bilang ke Papa. Pa, sudah banyak yang Papa dan kakak-kakak ambil dari uang rakyat. Mungkin ini saatnya aku mengembalikannya kepada mereka, Pa.

“Kurang ajar!.” Papa menampar mukaku. “Jadi kamu menuduh Papa dan kakak-kakakmu itu koruptor?.”

“Cuma Papa sendiri yang bisa jawab.” Kataku lembut.

Hasil tabunganku selama bekerja di off shore cukup untuk membuatku hidup mandiri. Sejak keributan itu, aku pun pergi meninggalkan rumah. Tinggal di rumah petakan yang aku sewa. Dengan bau berjuta sampah yang mulai hidungku akrabkan. Bukan hanya mengajar, sedikit demi sedikit aku pun mencari dana dari yayasan dan teman-teman kuliahku yang telah sukses untuk mendirikan sekolah darurat. Sekolah yang dibangun dari tempelan triplek dan kardus-kardus bekas. Hehehe, lumayan yang penting tidak kehujanan dan kepanasan. Seiring berjalannya waktu, sekolah darurat itu telah menjadi sekolah semi permanen. Para pengajarnya sudah ada beberapa orang, pembagian kelas dan buku-buku pelajarannya sudah mulai tertib. Ah!, sudah tidak ada lagi tantangannya. Aku pun meninggalkan semua yang telah kubangun. Dengan diiringi isak tangis murid-muridku dan rasa sedih yang mendalam dari para pengajar lainnya. Aku kuatkan dengan senyum. Selamat tinggal TPA Bantar Gebang!, Selamat Datang daerah terpencil.

Menuju ke bandara. Aku pun tak kuat menahan tangis. Air mataku tumpah mengingat masa laluku di sekolah darurat. Murid-muridku dengan segala keterbatasannya tapi tetap penuh semangat. Pengabdian para rekan pengajar sepertiku. Sering kami bersenda gurau di sela-sela jam istirahat sekolah. Apa yang kita cari disini, teman?. Para pejabat pemerintahpun tidak melirik kita. Hehehehe, semoga Tuhan pun tidak lupa, kalau disini masih ada kita yang perduli pada anak-anak bangsa. Hehehe, aku jadi cengeng. Menangis, menangis dan menangis sepanjang jalan.

Kini aku sudah di Bandara Sentani, Irian Jaya menunggu pesawat yang akan membawaku ke Jakarta kembali. Memandang sepucuk surat yang tiba beberapa hari yang lalu. Surat dari Mama yang mengabarkan bahwa Papa sakit keras. Dan mungkin ini adalah “waktu terakhir” buat Papa. Hmm, tidak terasa sudah lebih sepuluh tahun aku meninggalkan rumah. Si kerikil, anakku pulanglah!. Begitu Papa sering mengigau kata Mama.

Tanpa terasa air mata menetes di pipiku, mengingat Papa. Mengingat segala perbedaanku dengan Papa. Mengingat pertengkaranku dengan Papa. Tunggu aku, Pa. Aku, si kerikil, si anak hilang akan pulang, Pa. Dan akan bersimpuh di kakimu.

*****

Kutu Kata , Si Kerikil, Anakku, 15052012

Dedicated for :
Para guru bagi anak-anak pemulung, anak-anak miskin dan terlantar. Para guru di daerah terpencil di bumi pertiwi. Yakinlah, Tuhan yang akan membalas jasa-jasa kalian. Dan ketahuilah, balas jasa dari para pejabat pemerintah hanyalah basa basi belaka. “Selamat berjuang, pahlawan yang tak berharap jasa.”

Ilustrasi Gambar : sastralangit.wordpress.com

Tidak ada komentar: