Ini cerita tentang aku. Si
kerikil, begitu sering Papa menjuluki aku.
Tidak seperti anak yang lain,
dari ke lima anak-anak Papa. Aku adalah anak laki-laki pertengahan. Diantara
dua kakak lelaki dan dua adik perempuan.
Dari proses kelahiran saja,
bapak sudah ku dibuat kesal. Walaupun waktu kelahiran sudah lewat beberapa
hari, aku lebih betah di dalam kandungan Mama. Dengan perjuangan Mama yang
berat, disertai suara halilintar yang bersahutan, kilat cahayanya seperti
memoto awan gelap. Hujan disertai angin kencang ditumpahkan dari langit ke
bumi. Suasana begitu mencekam. Duh, Gusti alamat apa ini?. Fikir Papa
saat aku dilahirkan.
Dari mulai TK sampai SD, aku
selalu rangking 1 atau 2, hehehe…dari belakang. Sebuah prestasi yang tidak bisa
dibanggakan jika dibanding dengan prestasi kedua kakakku. Mau jadi apa nanti,
kamu nak?. Tanya Papa kesal saat melihat buku raportku.
Mau jadi kerikil, Pa. Jawabku
singkat. Papa hanya terkekeh-kekeh mendengar keinginanku.
Bolehkan, Pa?. Hehehe, ada-ada
saja kamu. Kata Papa. Papa tidak mengiyakan dan juga tidak melarangku.
Komunikasi antara aku dan Papa,
selalu berakhir dengan kekesalan. Sebuah komunikasi yang unik antara seorang
Papa dan anak. Kalau tidak Papa yang kesal. Ya, pasti aku yang ngambek.
Anak aneh!, Anak tak bisa
diatur!, keras kepala!. Begitu kata-kata Papa memberikan stigma yang
menempel kuat pada diriku. Ibu dengan lemah lembutnya membantah stigma
itu, kalau aku bukanlah anak yang seperti Papa sering ucapkan. Aku hanyalah
anak yang kreatif.
Kesadaran belajarku yang sangat
terlambat berbeda dengan teman-teman seusiaku yang rajin belajar dan
mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sedangkan aku, kerjaku cuma bermain dan
menggambar. Buku-buku tulisku penuh dengan gambar-gambar kartun. Gambar
pertarungan antara pahlawan kebaikan dan penjahat kebatilan. Dari kecil,
aku sudah memimpikan pahlawan kebaikanlah yang nantinya akan memenangkan pertarungan
abadi.
Pelajaran dan tugas-tugas
sekolah adalah momok yang menakutkan buatku. Sekolah bagiku adalah si penjahat
kebatilan yang akan menjebloskan aku dalam penjara kebosanan. Menggambar dan
bermain, itulah yang akan melawannya. Apakah anggapan itu salah untuk anak usia
10 tahun sepertiku?. Kalau tidak karena kebaikkan guru-guru di sekolah dan
rengekan ibuku pada mereka, hehehe… mungkin sudah beberapa kali aku tinggal
kelas.
Tidak naik kelas adalah aib
memalukan bagi setiap orang tua. Termasuk orang tuaku sendiri. Dengan segala
cara, semua orang tua berharap agar anaknya naik kelas. Sebuah harapan yang
wajar. Tapi buatku, apa perdulinya?, mau naik atau tidak bukan masalah bagiku.
Yang penting, aku masih bisa menggambar dan bermain di alam khayalku sendiri.
Sekolah Dasar akhirnya bisa ku
lewati dengan prestasi yang biasa saja. Masuk SMP, kebiasaanku menggambar bukan
menghilang malah semakin menjadi. Hampir semua buku tulisku berubah menjadi
komik. Imajinasiku yang lapar akhirnya terobati. SMP kuselesaikan dengan
prestasi yang biasa juga kalau memang itu pantas disebut sebagai prestasi.
Lulus SMA, Papa menginginkan aku
mengikuti jejak kakak-kakakku. Kuliah di IPDN, lulus jadi pamong praja, sebuah
jenjang karir yang jelas. Kalau mau jadi orang sukses di Indonesia, jadilah
pejabat atau pengusaha. Begitu kata Papa. Papa marah ketika aku bilang bahwa
aku mau masuk IKIP dan menjadi guru setelah lulus nanti. Dengan pongahnya, Papa
bilang ; mau makan apa lamu jadi guru?.
Akhirnya, aku dipaksa Papa masuk
ke Universitas swasta yang terkenal jurusan Teknik Perminyakan. Tidak ada
kendala dalam perkuliahan. Empat tahun ku selesaikan seluruh beban SKS yang
harus diambil untuk menjadi seorang sarjana. Tinggal Skripsi yang membuatku
malas untuk menyelesaikan kuliah. Waktu luangku lebih banyak ku isi dengan
kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan.
Tahun 1998, ketika kampusku
dikirimi paket yang berisi celana dalam wanita, bra, lipstik dan kaca rias.
Disertai surat kaleng yang berisi ; Kampus banci!, pakai ini dan jadilah banci
selamanya. Jangan mengaku sebagai mahasiswa Indonesia. Tertanda BEM UI (Badan
Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia). Sebagai pengurus Senat
kemahasiswaan, aku pun geram dan marah. Begitu juga dengan teman mahasiswa yang
lain. Aku dan teman-teman yang “beraliran keras” mendesak Ketua Senat kami agar
tidak ragu lagi untuk turun ke jalan unjuk gigi.
“Kita harus ambil bagian dalam
proses reformasi ini!.” Kataku lantang pada saat rapat harian senat. “Siapa
yang mau tercatat dalam sejarah sebagai banci?.”
“Huuuuuh!.” Suara gaduh dalam
rapat.
“Besok juga kita harus turun ke
jalan!.” Kata temanku yang lain.
“Kerahkan semua mahasiswa, kita long
march besok dari kampus kita ke gedung DPR!.”Kata seorang mahasiswi
garang.
“Setujuuuuu!.”
Keputusan kami bulat bahwa besok
kami akan mengadakan aksi demo besar-besaran. Seluruh mahasiswa seluruh
angkatan diikut sertakan, praktis perkuliahan lumpuh total. Sebagai mahasiswa
senior, aku dan beberapa aktifis menjadi titik simpul pada demo itu agar gerakan
kami tidak terinfiltrasi dari para provokator yang akan
mengacaukan kami.
Aku sempat mengintip di jalan
layang S. Parman, Slipi ada beberapa pasukan yang telah mengintai kami dengan
senapan yang siap ditembakkan. Persis sniper dan kamilah kelinci percobaannya.
Demo kami terhadang di depan pengadilan negeri Jakarta Barat di jalan S.
Parman, Slipi. Pasukan militer menghadang laju gerakan kami, mereka minta agar
kami kembali ke kampus dan cukup demo di lingkungan kampus saja.
Hadangan mereka awalnya, kami
sambut secara simpatik dengan pemberian seikat bunga dari para mahasiswi kami
kepada para pasukan. Keinginan kami untuk meneruskan long march ke
gedung DPR jadi tertunda. Dalam suasana negosiasi yang buntu dan
keresahan kami, tiba-tiba saja keadaan jadi hiruk pikuk. Para mahasiswa yang
tadinya ada dalam barisan menjadi semrawut. Sebagian mahasiswa berlari
menerjang pasukan yang menghadang di depan. Sebagian besar lagi, lari ke arah
kampus kembali. Terdengar tembakan dari para sniper, beberapa teman-teman kami
ambruk diterjang peluru. Suasana jadi kacau. Kami diserang dan dipukuli oleh
pasukan yang tadi menghadang kami. Sementara para sniper dengan asyiknya
menembaki kami. Bukan hanya dengan peluru karet tapi juga pakai peluru tajam,
mematikan. Hai!, para sniper apakah kami ini musuh bangsa?. Peristiwa
penembakan itupun terkenal dengan istilah tragedi Trisakti.
Beberapa adik kelas kami, gugur
sebagai pahlawan reformasi. Papa marah padaku. Goblok!, mau jadi pahlawan
kesiangan?, Gak mati saja sudah bagus kamu!.
Setelah setahun tragedi
Trisakti, akhirnya aku pun di wisuda. Tak ada senyum kebanggan sedikitpun di
wajah Papa. Kulihat wajah Mama yang bening karena pancaran senyum yang
tulus kepadaku. Akhirnya, kamu jadi insinyur juga, Nak. Kata Mama bangga.
Setahun aku kerja di off
shore (pengeboran minyak lepas pantai), kebosanan kembali
memenjarakan aku. Kehidupan yang penuh dengan rutinitas kerja, tidak ada
dinamika hidup dan tidak ada tantangannya menurutku, semua selalu on
schedule. Aku pun memutuskan untuk berhenti bekerja. Papa tidak bisa
menerima alasanku berhenti bekerja di perusahaan perminyakan. Gajinya gede, mau
dimana lagi kamu kerja?. Begitu kata Papa. Selalu uang yang jadi landasannya
berfikir.
Aku memutuskan untuk menjadi
guru. Mengajar anak-anak pemulung di TPA Bantar Gebang. Keputusan yang gila,
kata Papa marah. Pekerjaan yang dibayar dengan dollar aku tinggalkan, eh malah
lebih memilih menjadi guru yang tidak ada penghasilannya. Memang mengajar
anak-anak pemulung lebih sebagai panggilan jiwa saja, kadang malah aku “nombok“.
Ketika Papa bilang aku sudah
gila, aku cuma bilang ke Papa. Pa, sudah banyak yang Papa dan kakak-kakak ambil
dari uang rakyat. Mungkin ini saatnya aku mengembalikannya kepada mereka, Pa.
“Kurang ajar!.” Papa menampar
mukaku. “Jadi kamu menuduh Papa dan kakak-kakakmu itu koruptor?.”
“Cuma Papa sendiri yang bisa
jawab.” Kataku lembut.
Hasil tabunganku selama bekerja
di off shore cukup untuk membuatku hidup mandiri. Sejak keributan itu,
aku pun pergi meninggalkan rumah. Tinggal di rumah petakan yang aku sewa.
Dengan bau berjuta sampah yang mulai hidungku akrabkan. Bukan hanya mengajar,
sedikit demi sedikit aku pun mencari dana dari yayasan dan teman-teman kuliahku
yang telah sukses untuk mendirikan sekolah darurat. Sekolah yang dibangun dari
tempelan triplek dan kardus-kardus bekas. Hehehe, lumayan yang penting tidak
kehujanan dan kepanasan. Seiring berjalannya waktu, sekolah darurat itu telah
menjadi sekolah semi permanen. Para pengajarnya sudah ada beberapa orang,
pembagian kelas dan buku-buku pelajarannya sudah mulai tertib. Ah!, sudah tidak
ada lagi tantangannya. Aku pun meninggalkan semua yang telah kubangun. Dengan
diiringi isak tangis murid-muridku dan rasa sedih yang mendalam dari para
pengajar lainnya. Aku kuatkan dengan senyum. Selamat tinggal TPA Bantar
Gebang!, Selamat Datang daerah terpencil.
Menuju ke bandara. Aku pun tak
kuat menahan tangis. Air mataku tumpah mengingat masa laluku di sekolah
darurat. Murid-muridku dengan segala keterbatasannya tapi tetap penuh semangat.
Pengabdian para rekan pengajar sepertiku. Sering kami bersenda gurau di
sela-sela jam istirahat sekolah. Apa yang kita cari disini, teman?. Para
pejabat pemerintahpun tidak melirik kita. Hehehehe, semoga Tuhan pun tidak
lupa, kalau disini masih ada kita yang perduli pada anak-anak bangsa. Hehehe,
aku jadi cengeng. Menangis, menangis dan menangis sepanjang jalan.
Kini aku sudah di Bandara
Sentani, Irian Jaya menunggu pesawat yang akan membawaku ke Jakarta kembali.
Memandang sepucuk surat yang tiba beberapa hari yang lalu. Surat dari Mama yang
mengabarkan bahwa Papa sakit keras. Dan mungkin ini adalah “waktu terakhir”
buat Papa. Hmm, tidak terasa sudah lebih sepuluh tahun aku meninggalkan rumah.
Si kerikil, anakku pulanglah!. Begitu Papa sering mengigau kata Mama.
Tanpa terasa air mata menetes di
pipiku, mengingat Papa. Mengingat segala perbedaanku dengan Papa. Mengingat
pertengkaranku dengan Papa. Tunggu aku, Pa. Aku, si kerikil, si anak hilang
akan pulang, Pa. Dan akan bersimpuh di kakimu.
*****
Kutu Kata , Si Kerikil, Anakku, 15052012
Dedicated for :
Para guru bagi anak-anak
pemulung, anak-anak miskin dan terlantar. Para guru di daerah terpencil di bumi
pertiwi. Yakinlah, Tuhan yang akan membalas jasa-jasa kalian. Dan ketahuilah,
balas jasa dari para pejabat pemerintah hanyalah basa basi belaka. “Selamat
berjuang, pahlawan yang tak berharap jasa.”
Ilustrasi Gambar : sastralangit.wordpress.com
Ilustrasi Gambar : sastralangit.wordpress.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar