“10 tahun yang lalu, kir-kira kita mesti siapkan
dana sebesar 1 eM.”
“5 tahun yang lalu, harus didukung dana yang kuat.
Kalau tidak punya 2 eM mending gak usah ‘nyaleg deh.”
“Bagaimana nanti tahun 2014, wah yang jelas
bisa lebih dari itu, Mas.”
“Bapak masih tertarik?.” Tanyaku si wartawan
bodrex.
“Insya Allah.”Jawab Caleg itu bijak.
“Sudah dua periode bapak gagal, apa itu tidak
buang-buang duit, Pak?.”
“Jangan bilang: GAGAL!. Tidak ada kata gagal dalam
kamus hidup saya. Sebut saja belum berhasil.”
“Bapak gak kapok?.”
“Seandainya saya yang punya duit, sudah saya
gunakan buat ternak lele dumbo,Pak.”
“Lantas kapan saatnya kita memberikan pengabdian
pada bangsa dan negara ini?. Menjadi seorang anggota dewan adalah tugas yang
mulia, oleh karena itu saya gak akan kapok-kapok.”
“Sebentar pak, saya foto-foto dulu. Mumpung bapak
ada di gedung DPR.” Pinta wartawan Bodrex.
“Hehehe, bagaimana gagah kan saya ini?. Jas saya
baru, jahitnya di Afung.”
“Wah, apik, mantabs, elegant pak.” Kataku memuji.
“By the way, Afung itu siapa?. Kalau di mall-mall
di Jakarta, Afung itu pengusaha baso, Pak.”
“Si Afung itu tukang jahit terkenal didaerah saya.
Lantas kalau di Jakarta siapa?.”
“Ahai, penjahit jas terkenal, dengan motto : pagi
pesan sore kelar.”
“Yo wis, kalau orang tanya, saya bilang saja jas
saya jahit di Ahai, pagi pesan sore kelar.”
Gedung DPR yang bentuknya seperti BH (bra,
pakaian dalam wanita) terbalik memang memancarkan aura yang dahsyat.
“1,2,3…action, klik!.”
“Wah pokoke mantabs,Pak.”
“Sekali lagi ya pak!, oh ya jangan lupa map nya
didekap di dada dan tangan kanan bapak, bapak tinjukan ke udara, sambil
berteriak : merdeka!, biar terlihat seperti bung Tomo. Ok,pak, siap ya?, 1,2,3
action…klik!.”
Bapak caleg bergaya abis-abisan. Narsis banget
mumpung di Jakarta dan mumpung juga sedang di gedung DPR.
“By the way lagi nih pak, bapak kemari dalam rangka
sowan?.”
“Hehehe, Iya, pinter sekali, sampeyan. By the way
juga nih, sampeyan dinas dimana?.”
“Wah banyak pak. Bapak maunya surat kabar apa?. Apa
saja saya bisa Pak, asal jangan di surat kabar besar dan terkenal.” Sahut si
wartawan sombong.
“Jadi foto-foto saya ini bisa dimuat di koran?.”
“Ya bisa lah!, pasti bisa!, saya poles dan diberi
narasi sedikit, besok bapak sudah bisa lihat, wajah bapak yang guuanteng ini
akan terpampang di koran.”
“Hehehe.” Bapak caleg itu sumringah wajahnya, merah
ranum pipinya persis seorang gadis lugu yang hendak dilamar pujaan hatinya.
“Bayar?.”
“Yaaaa… Pengertian sajalah pak.” Kata si wartawan
berlagak lemas.
“Yo wis ora opo-opo. Dari pada sampeyan “gajebo”
mending jadi tim sukses saya saja.” Pinta Bapak Caleg.
“Gajebo itu apa pak?.”
“Gak jelas bo… Hehehe.”
“Hehehe, gaul juga nih bapak.”
Begitu cerita singkat perkenalan saya dengan Bapak
Caleg paling bersemangat yang pernah saya kenal.
Sudah setahun ini, saya mengais rejeki dengan membantu mensukseskan beliau agar terpilih menjadi angoota dewan nanti di tahun 2014.
Berdasarkan survey, pada kantong-kantong suara di daerah pemilihannya. Kans beliau sebenarnya tipis untuk bisa terpilih menjandi anggita dewan. Setiap orang yang beliau temui selalu menyemangati beliau, yang ujung-ujungnya adalah hanya mengharapkan amplop dari beliau saja.
Sudah setahun ini, saya mengais rejeki dengan membantu mensukseskan beliau agar terpilih menjadi angoota dewan nanti di tahun 2014.
Berdasarkan survey, pada kantong-kantong suara di daerah pemilihannya. Kans beliau sebenarnya tipis untuk bisa terpilih menjandi anggita dewan. Setiap orang yang beliau temui selalu menyemangati beliau, yang ujung-ujungnya adalah hanya mengharapkan amplop dari beliau saja.
Hihihi, apa bedanya saya dengan orang-orang itu?.
Saya sering berpikir realistis dan selalu berdo’a, kalau beliau tidak terpilih menjadi anggota dewan, mudah-mudahan beliau ikhlas atas segala kebaikan yang telah beliau berikan pada saya agar rejeki yang anak bini saya makan menjadi berkah.
Do’a saya yang kedua, apabila beliau tidak terpilih, mudah-mudahan saja sakit jantungnya kumat dan langsung meninggal dunia agar beliau tidak bisa menuntut ganti rugi atas semua uang yang telah beliau berikan pada saya.
Do’a saya yang ketiga, apabila beliau tidak terpilih, mudah-mudahan saja beliau diserang penyakit gila. Hehehe agar beliau selalu gembira tertawa tertiwi disisa akhir hidup beliau.
Do’a yang terakhir, mudah-mudahan datang keajaiban sehingga beliau terpilih menjadi anggota dewan dan nasib saya juga ikut berubah, Amien.
Saya sering berpikir realistis dan selalu berdo’a, kalau beliau tidak terpilih menjadi anggota dewan, mudah-mudahan beliau ikhlas atas segala kebaikan yang telah beliau berikan pada saya agar rejeki yang anak bini saya makan menjadi berkah.
Do’a saya yang kedua, apabila beliau tidak terpilih, mudah-mudahan saja sakit jantungnya kumat dan langsung meninggal dunia agar beliau tidak bisa menuntut ganti rugi atas semua uang yang telah beliau berikan pada saya.
Do’a saya yang ketiga, apabila beliau tidak terpilih, mudah-mudahan saja beliau diserang penyakit gila. Hehehe agar beliau selalu gembira tertawa tertiwi disisa akhir hidup beliau.
Do’a yang terakhir, mudah-mudahan datang keajaiban sehingga beliau terpilih menjadi anggota dewan dan nasib saya juga ikut berubah, Amien.
“Huss!, sampeyan pagi-pagi kok malah bengong. Apa
schedule kita hari ini?.” Tanya Bapak Caleg mengagetkan aku.
Cepat saya membuka agenda. “Oh iya pak, pagi ini
acaranya : “Tebar Pesona” di pasar-pasar tradisional dilanjutkan siangnya “Tawa
Canda” dengan tukang beca, tukang ojek, para pengemis dan gelandangan. Malamnya
ke pengajian bapak-bapak yang ada di kampung anu.”
“Sudah disiapkan amplopnya?.”
“Beres pak!.”
“Awas jangan sampe kurang. Sensitif masalah amplop,
sedikit saja kita bikin kesalahan maka akan diserang habis oleh “lawan” kita.”
“Ok pak, beres!.”
Akhirnya, kami pun berangkat menuju ke tujuan
pertama. Didalam mobil, saya sempat bertanya kepada beliau,”apa harapan bapak
jika bapak terpilih menjadi anggota dewan?.”
Beliau diam, beberapa detik kemudian
berbicara,”besar harapan saya, mudah-mudahan rakyat ikhlas kalau saya korupsi,
sampeyan tau sendirikan sudah berapa banyak uang saya keluar?. Dan KPK juga
harus ngerti lah, untuk menjadi pejabat itu dibutuhkan dana yang besar, jadi
kalau sudah jadi pejabat korupsi sedikit mbok ya wajar-wajar sajalah. Supaya
balik modal.”
“Jadi bapak gak ikhlas?.”
“Ikhlas si ikhlas tapi siapa orangnya yang mau
rugi?. Gak ada kan?. Mungkin cuma orang gila saja yang mau rugi. Apalagi saya
ini pengusaha, seperak dua peraknya harus jelas perhitungannya. Menurut
sampeyan itu salah gak saya berprinsip seperti itu?.”
Aku diam saja tidak menjawab.
Ya sudahlah. Jalani saja hidup ini dari pada
gajebo, gak jelas boooo…
Dalam hati kecilku masih berharap, mudah-mudahan
saja beliau terpilih, lalu kemudian korupsi.
Uang hasil korupsi nya di cuci (money
laundring) sama aku. Akan saya buat kolam untuk ternak lele
berhektar-hektar, disekelilingnya akan saya tanami pohon Jabon. Ditengah-tengah
empang akan saya bangun saung tempat berteduh.
Oh, indahnya uang hasil korupsi. Hehehehe, maafkan
saudara-saudara, khayalan saya kadang suka ‘ngawur bin ngaco. Namanya saja
khayalan, bebaskan?. Masa menghayal kecipratan uang hasil korupsi saja takut.
Lah wong yang korupsi saja sudah gak punya rasa takut. Hehehehe.
*****
Kutu Kata si Kutu Buku Rangkat, Wartawan Bodrex Dan
Bapak Caleg, 29062012
Keterangan:
1. Wartawan bodrex : istilah untuk wartawan tanpa surat kabar.
2. Caleg : Calon anggota Legislatif.
3.Gajebo : gak jelas bo… Atau status yang tidak jelas.
Ilustrasi Gambar : www.alicia-logic.com
1. Wartawan bodrex : istilah untuk wartawan tanpa surat kabar.
2. Caleg : Calon anggota Legislatif.
3.Gajebo : gak jelas bo… Atau status yang tidak jelas.
Ilustrasi Gambar : www.alicia-logic.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar