Kamis, 02 Mei 2013

Wartawan Bodrex Dan Bapak Caleg



“15 tahun yang lalu untuk menjadi caleg dibutuhkan modal sekitar 400 sampai dengan 600 juta.”
“10 tahun yang lalu, kir-kira kita mesti siapkan dana sebesar 1 eM.”
“5 tahun yang lalu, harus didukung dana yang kuat. Kalau tidak punya 2 eM mending gak usah ‘nyaleg deh.”
“Bagaimana nanti tahun 2014, wah yang  jelas bisa lebih dari itu, Mas.”
“Bapak masih tertarik?.” Tanyaku si wartawan bodrex.
“Insya Allah.”Jawab Caleg itu bijak.
“Sudah dua periode bapak gagal, apa itu tidak buang-buang duit, Pak?.”
“Jangan bilang: GAGAL!. Tidak ada kata gagal dalam kamus hidup saya. Sebut saja belum berhasil.”
“Bapak gak kapok?.”
“Seandainya saya yang punya duit, sudah saya gunakan buat ternak lele dumbo,Pak.”
“Lantas kapan saatnya kita memberikan pengabdian pada bangsa dan negara ini?. Menjadi seorang anggota dewan adalah tugas yang mulia, oleh karena itu saya gak akan kapok-kapok.”
“Sebentar pak, saya foto-foto dulu. Mumpung bapak ada di gedung DPR.” Pinta wartawan Bodrex.
“Hehehe, bagaimana gagah kan saya ini?. Jas saya baru, jahitnya di Afung.”
“Wah, apik, mantabs, elegant pak.” Kataku memuji.
“By the way, Afung itu siapa?. Kalau di mall-mall di Jakarta, Afung itu pengusaha baso, Pak.”
“Si Afung itu tukang jahit terkenal didaerah saya. Lantas kalau di Jakarta siapa?.”
“Ahai, penjahit jas terkenal, dengan motto : pagi pesan sore kelar.”
“Yo wis, kalau orang tanya, saya bilang saja jas saya jahit di Ahai, pagi pesan sore kelar.”
Gedung DPR yang bentuknya seperti BH (bra, pakaian dalam wanita) terbalik memang memancarkan aura yang dahsyat.
“1,2,3…action, klik!.”
“Wah pokoke mantabs,Pak.”
“Sekali lagi ya pak!, oh ya jangan lupa map nya didekap di dada dan tangan kanan bapak, bapak tinjukan ke udara, sambil berteriak : merdeka!, biar terlihat seperti bung Tomo. Ok,pak, siap ya?, 1,2,3 action…klik!.”
Bapak caleg bergaya abis-abisan. Narsis banget mumpung di Jakarta dan mumpung juga sedang di gedung DPR.
“By the way lagi nih pak, bapak kemari dalam rangka sowan?.”
“Hehehe, Iya, pinter sekali, sampeyan. By the way juga nih, sampeyan dinas dimana?.”
“Wah banyak pak. Bapak maunya surat kabar apa?. Apa saja saya bisa Pak, asal jangan di surat kabar besar dan terkenal.” Sahut si wartawan sombong.
“Jadi foto-foto saya ini bisa dimuat di koran?.”
“Ya bisa lah!, pasti bisa!, saya poles dan diberi narasi sedikit, besok bapak sudah bisa lihat, wajah bapak yang guuanteng ini akan terpampang di koran.”
“Hehehe.” Bapak caleg itu sumringah wajahnya, merah ranum pipinya persis seorang gadis lugu yang hendak dilamar pujaan hatinya.
“Bayar?.”
“Yaaaa… Pengertian sajalah pak.” Kata si wartawan berlagak lemas.
“Yo wis ora opo-opo. Dari pada sampeyan “gajebo” mending  jadi tim sukses saya saja.” Pinta Bapak Caleg.
“Gajebo itu apa pak?.”
“Gak jelas bo… Hehehe.”
“Hehehe, gaul juga nih bapak.”
Begitu cerita singkat perkenalan saya dengan Bapak Caleg paling bersemangat yang pernah saya kenal.
Sudah setahun ini, saya mengais rejeki dengan membantu mensukseskan beliau agar terpilih menjadi angoota dewan nanti di tahun 2014.
Berdasarkan survey, pada kantong-kantong suara di daerah pemilihannya. Kans beliau sebenarnya tipis untuk bisa terpilih menjandi anggita dewan. Setiap orang yang beliau temui selalu menyemangati beliau, yang ujung-ujungnya adalah hanya mengharapkan amplop dari beliau saja.
Hihihi, apa bedanya saya dengan orang-orang itu?.
Saya sering berpikir realistis dan selalu berdo’a, kalau beliau tidak terpilih menjadi anggota dewan, mudah-mudahan beliau ikhlas atas segala kebaikan yang telah beliau berikan pada saya agar rejeki yang anak bini saya makan menjadi berkah.
Do’a saya yang kedua, apabila beliau tidak terpilih, mudah-mudahan saja sakit jantungnya kumat dan langsung meninggal dunia agar beliau tidak bisa menuntut ganti rugi atas semua uang yang telah beliau berikan pada saya.
Do’a saya yang ketiga, apabila beliau tidak terpilih, mudah-mudahan saja beliau diserang penyakit gila. Hehehe agar beliau selalu gembira tertawa tertiwi disisa akhir hidup beliau.
Do’a yang terakhir, mudah-mudahan datang keajaiban sehingga beliau terpilih menjadi anggota dewan dan nasib saya juga ikut berubah, Amien.
“Huss!, sampeyan pagi-pagi kok malah bengong. Apa schedule kita hari ini?.” Tanya Bapak Caleg mengagetkan aku.
Cepat saya membuka agenda. “Oh iya pak, pagi ini acaranya : “Tebar Pesona” di pasar-pasar tradisional dilanjutkan siangnya “Tawa Canda” dengan tukang beca, tukang ojek, para pengemis dan gelandangan. Malamnya ke pengajian bapak-bapak yang ada di kampung anu.”
“Sudah disiapkan amplopnya?.”
“Beres pak!.”
“Awas jangan sampe kurang. Sensitif masalah amplop, sedikit saja kita bikin kesalahan maka akan diserang habis oleh “lawan” kita.”
“Ok pak, beres!.”
Akhirnya, kami pun berangkat menuju ke tujuan pertama. Didalam mobil, saya sempat bertanya kepada beliau,”apa harapan bapak jika bapak terpilih menjadi anggota dewan?.”
Beliau diam, beberapa detik kemudian berbicara,”besar harapan saya, mudah-mudahan rakyat ikhlas kalau saya korupsi, sampeyan tau sendirikan sudah berapa banyak uang saya keluar?. Dan KPK juga harus ngerti lah, untuk menjadi pejabat itu dibutuhkan dana yang besar, jadi kalau sudah jadi pejabat korupsi sedikit mbok ya wajar-wajar sajalah. Supaya balik modal.”
“Jadi bapak gak ikhlas?.”
“Ikhlas si ikhlas tapi siapa orangnya yang mau rugi?. Gak ada kan?. Mungkin cuma orang gila saja yang mau rugi. Apalagi saya ini pengusaha, seperak dua peraknya harus jelas perhitungannya. Menurut sampeyan itu salah gak saya berprinsip seperti itu?.”
Aku diam saja tidak menjawab.
Ya sudahlah. Jalani saja hidup ini dari pada gajebo, gak jelas boooo…
Dalam hati kecilku masih berharap, mudah-mudahan saja beliau terpilih, lalu kemudian korupsi.
Uang hasil korupsi nya  di cuci (money laundring) sama aku. Akan saya buat kolam untuk ternak lele berhektar-hektar, disekelilingnya akan saya tanami pohon Jabon. Ditengah-tengah empang akan saya bangun saung tempat berteduh.
Oh, indahnya uang hasil korupsi. Hehehehe, maafkan saudara-saudara, khayalan saya kadang suka ‘ngawur bin ngaco. Namanya saja khayalan, bebaskan?. Masa menghayal kecipratan uang hasil korupsi saja takut. Lah wong yang korupsi saja sudah gak punya rasa takut. Hehehehe.

*****
Kutu Kata si Kutu Buku Rangkat, Wartawan Bodrex Dan Bapak Caleg, 29062012

Keterangan:
1. Wartawan bodrex : istilah untuk wartawan tanpa surat kabar.
2. Caleg : Calon anggota Legislatif.
3.Gajebo : gak jelas bo… Atau status yang tidak jelas.

Ilustrasi Gambar :  www.alicia-logic.com

Tidak ada komentar: