Kamis, 02 Mei 2013

Puisi Yang Tak Indah Buat Mama



“Pa, bikinin puisi dong buat Mama.” Pinta istriku.
Aih, ditodong bikin puisi?. Bagaimana bisa?.  Membuat puisi itu butuh perenungan dan ketenangan.
Ditengah rewel tangis bayi malah disuruh bikin puisi, hehehe … sungguh tragis nasibku.
“Ma, nenenin dulu si dede nya!.” Pintaku pada istriku.
“Iya, tapi Papa mesti bikinin puisi yang paling indah buat Mama.”
“Iya!.” Aku asal jawab saja. Istriku pun mulai menenangkan bayiku.
Otakku berfikir keras. Keringat dingin mulai menetes dari kerut keningku. Bikin puisi?. Bisikku dalam hati.
“Paaaa, Paaaapppaaa….”  Bayiku terbangun, mulai bawel memanggil-manggilku.
“Eh, dede sudah bisa bilang Papa ya?.”  Tanya istriku kagum. “Lihat, Pa, dede baru kali ini bisa bilang Papa.”
“Dedeeeee, deeeedeee Zee.” Aku pun memanggil-manggil bayiku, senang.
“Paaaaa, Paaaapaaa.” Panggil bayiku yang baru belajar bicara.
12 tahun pernikahan kita, panggilan ayah dari bayiku yang baru berumur setahun adalah hadiah terindah.
“Mana puisinya Pa?.”  Todong istriku lagi.
“Puisi apa Ma?.”  Tanyaku berlagak lugu.
“Sebentar lagi kan ulang tahun pernikahan kita, Mama minta hadiah puisi yang terindah dari ayah.”
Waduh, tambah deh beban mentalku. Bikin puisi yang biasa saja susah. Apalagi bikin puisi yang terindah.
“Gimana, Pa?.” Tanya istriku bawel.
“Papa lagi mikir nih, Ma.”
“Masih lama?.”
“Ho oh.” Jawabku tak bersemangat.
“Huh, Papa gak romantis. Mama mau tidur saja deh!.” Sahut istriku jutek.
“Bagaimana kalau hadiahnya bunga mawar?. Kue ulang tahun?, Tas Gucci buatan Tajur?, Kaca mata Christian Dior palsu?, Jaket Jeans buatan Cihampelas?. Atauuuuu… .” Tanyaku sambil berfikir keras.
“Gak mau!, Gak mau!, Gak mau!. Pokoknya gak mau!. Papa hutang puisi sama Mama. Besok pagi harus setor puisi.”
Istrikupun berangkat tidur sambil memeluk dede penuh kasih.
Semalaman ku pelototi monitor lap topku. Pfuih!, ternyata bikin puisi itu gak gampang.
Mungkin lebih gampang kalau aku disuruh bikin tempe orak arik kesukaanku. Ditambah telor balado?, hmm… pasti nikmat jika dimakan dengan nasi ‘ngebul-ngebul. Lah, kok jadi ngomongin makanan sih!.
Oh God !, tolong aku beri sisi puitisku yang t’lah lama hilang.
Besok pagi-pagi harus setor puisi terpaksa malam ini ngalong lagi.
Aku. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Kenapa Chairil Anwar yang datang?. Jelas gak ada hubungannya kan ulang tahun pernikahanku dengan binatang jalang?.
Kemana si Khalil Gibran?. Please tolong aku dalam penjara kebuntuan ini.
Akhirnya antara sadar dan tidak, entah saat itu aku ada di alam mimpi atau alam tidurku. Selesai juga kuketik sebait puisi yang tak indah. Hasil print-nya aku letakkan di meja sudut dekat tempat tidur kami.
Dalam keadaan masih kantuk, istriku menciumi pipiku, sambil berucap terima kasih ayah, puisi yang indah, kata istriku, Papa romantis, kata istriku lagi. Siapa yang perduli?, aku lagi ngantuuuuuk, Zzzz … zzz … zzz.
Sarapan terlezat sudah tersedia. Nasi putih plus ceplok telor. Dan sebait puisi yang dibacakan istriku :

Aku Tak Punya Puisi Untukmu
Tangis dede ditengah malam yang sering membangunkan kita adalah puisi itu.
Senyum tawa canda kamu, dede dan anak-anak kita adalah puisi itu.
Denyut jantung kamu, dede dan anak-anak kita adalah puisi itu.
Bersama kamu, dede dan anak-anak kita adalah puisi itu.
Segalamu, dede dan anak-anak kita adalah puisi itu.
Jarum jam, detik, menit hingga 12 tahun pernikahan kita itu yang menulis puisi ini.
Dinding rumah penuh coretan pensil dan crayon anak-anak kita itu yang menulis puisi ini.
Genteng bocor dikala hujan, airnya yang menetes dari plafon kamar  yang menimbulkan kepanikan kita tapi menjadi keriuh gembira anak-anak kita yang mereka anggap lucu itu yang menulis puisi ini.
Pohon delima dihalaman rumah kita yang ku tanam bersamaan dengan dibangunnya rumah kita itu yang menulis puisi ini.
Motor butut yang siap mengantar kita kemana saja itu yang menulis puisi ini.

Mama ingat tidak?.
Dengan puisi aku meminangmu.
Dengan puisi aku mulai merayumu.

Hingga akhirnya Mama menyerahkan mahkota yang paling berharga yang selalu Mama jaga pada Papa.
Dengan bisikan puisi Papa “membuahi” Mama. Hingga akhirnya Mama hamil.

Dengan puisi satu demi satu anak kita lahir, tumbuh dan berkembang seiring waktu.
Dengan puisi cinta kita ditempa. Dan terus ditempa hingga bermakna.

Yakinlah, Ma.

Dengan puisi pula kita berharap cinta kita tak akan lekang di makan usia.
“Oh, Co Cwit!.” Sahut istriku sambil terisak haru. Ia mencium pipiku sambil berbisik, ” I just wan to say. You are my beloved husband. I hope we can together until in heaven, Amien. I lov U, Papa.”
“I love you, Mam.” Aku pun membalas ciuman istriku.

*****
Kutu Kata, Puisi Yang Tak Indah Buat Mama, 27062012

Ilustrasi Gambar :  yaserantblog.blogspot.com

Tidak ada komentar: