Aih, ditodong bikin puisi?. Bagaimana bisa?.
Membuat puisi itu butuh perenungan dan ketenangan.
Ditengah rewel tangis bayi malah disuruh bikin
puisi, hehehe … sungguh tragis nasibku.
“Ma, nenenin dulu si dede nya!.” Pintaku pada
istriku.
“Iya, tapi Papa mesti bikinin puisi yang paling
indah buat Mama.”
“Iya!.” Aku asal jawab saja. Istriku pun mulai menenangkan
bayiku.
Otakku berfikir keras. Keringat dingin mulai
menetes dari kerut keningku. Bikin puisi?. Bisikku dalam hati.
“Paaaa, Paaaapppaaa….” Bayiku terbangun,
mulai bawel memanggil-manggilku.
“Eh, dede sudah bisa bilang Papa ya?.” Tanya
istriku kagum. “Lihat, Pa, dede baru kali ini bisa bilang Papa.”
“Dedeeeee, deeeedeee Zee.” Aku pun
memanggil-manggil bayiku, senang.
“Paaaaa, Paaaapaaa.” Panggil bayiku yang baru
belajar bicara.
12 tahun pernikahan kita, panggilan ayah dari
bayiku yang baru berumur setahun adalah hadiah terindah.
“Mana puisinya Pa?.” Todong istriku lagi.
“Puisi apa Ma?.” Tanyaku berlagak lugu.
“Sebentar lagi kan ulang tahun pernikahan kita,
Mama minta hadiah puisi yang terindah dari ayah.”
Waduh, tambah deh beban mentalku. Bikin puisi yang
biasa saja susah. Apalagi bikin puisi yang terindah.
“Gimana, Pa?.” Tanya istriku bawel.
“Papa lagi mikir nih, Ma.”
“Masih lama?.”
“Ho oh.” Jawabku tak bersemangat.
“Huh, Papa gak romantis. Mama mau tidur saja deh!.”
Sahut istriku jutek.
“Bagaimana kalau hadiahnya bunga mawar?. Kue ulang
tahun?, Tas Gucci buatan Tajur?, Kaca mata Christian Dior palsu?, Jaket Jeans
buatan Cihampelas?. Atauuuuu… .” Tanyaku sambil berfikir keras.
“Gak mau!, Gak mau!, Gak mau!. Pokoknya gak mau!.
Papa hutang puisi sama Mama. Besok pagi harus setor puisi.”
Istrikupun berangkat tidur sambil memeluk dede
penuh kasih.
Semalaman ku pelototi monitor lap topku. Pfuih!,
ternyata bikin puisi itu gak gampang.
Mungkin lebih gampang kalau aku disuruh bikin tempe
orak arik kesukaanku. Ditambah telor balado?, hmm… pasti nikmat jika dimakan
dengan nasi ‘ngebul-ngebul. Lah, kok jadi ngomongin makanan sih!.
Oh God !, tolong aku beri sisi puitisku yang t’lah
lama hilang.
Besok pagi-pagi harus setor puisi terpaksa malam
ini ngalong lagi.
Aku. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang
terbuang. Kenapa Chairil Anwar yang datang?. Jelas gak ada hubungannya kan
ulang tahun pernikahanku dengan binatang jalang?.
Kemana si Khalil Gibran?. Please tolong aku dalam
penjara kebuntuan ini.
Akhirnya antara sadar dan tidak, entah saat itu aku
ada di alam mimpi atau alam tidurku. Selesai juga kuketik sebait puisi yang tak
indah. Hasil print-nya aku letakkan di meja sudut dekat tempat tidur
kami.
Dalam keadaan masih kantuk, istriku menciumi
pipiku, sambil berucap terima kasih ayah, puisi yang indah, kata istriku, Papa
romantis, kata istriku lagi. Siapa yang perduli?, aku lagi ngantuuuuuk, Zzzz …
zzz … zzz.
Sarapan terlezat sudah tersedia. Nasi putih plus
ceplok telor. Dan sebait puisi yang dibacakan istriku :
Aku Tak Punya Puisi Untukmu
Tangis dede ditengah malam yang sering
membangunkan kita adalah puisi itu.
Senyum tawa canda kamu, dede dan anak-anak kita
adalah puisi itu.
Denyut jantung kamu, dede dan anak-anak kita
adalah puisi itu.
Bersama kamu, dede dan anak-anak kita adalah
puisi itu.
Segalamu, dede dan anak-anak kita adalah puisi
itu.
Jarum jam, detik, menit hingga 12 tahun
pernikahan kita itu yang menulis puisi ini.
Dinding rumah penuh coretan pensil dan crayon
anak-anak kita itu yang menulis puisi ini.
Genteng bocor dikala hujan, airnya yang menetes
dari plafon kamar yang menimbulkan kepanikan kita tapi menjadi keriuh
gembira anak-anak kita yang mereka anggap lucu itu yang menulis puisi ini.
Pohon delima dihalaman rumah kita yang ku tanam
bersamaan dengan dibangunnya rumah kita itu yang menulis puisi ini.
Motor butut yang siap mengantar kita kemana
saja itu yang menulis puisi ini.
Mama ingat tidak?.
Dengan puisi aku meminangmu.
Dengan puisi aku mulai merayumu.
Hingga akhirnya Mama menyerahkan mahkota yang
paling berharga yang selalu Mama jaga pada Papa.
Dengan bisikan puisi Papa “membuahi” Mama. Hingga
akhirnya Mama hamil.
Dengan puisi satu demi satu anak kita lahir,
tumbuh dan berkembang seiring waktu.
Dengan puisi cinta kita ditempa. Dan terus
ditempa hingga bermakna.
Yakinlah, Ma.
Dengan puisi pula kita berharap cinta kita tak
akan lekang di makan usia.
“Oh, Co Cwit!.” Sahut istriku sambil terisak haru.
Ia mencium pipiku sambil berbisik, ” I just wan to say. You are my beloved
husband. I hope we can together until in heaven, Amien. I lov U, Papa.”
“I love you, Mam.” Aku pun membalas ciuman istriku.
*****
Kutu Kata, Puisi Yang Tak
Indah Buat Mama, 27062012
Ilustrasi Gambar : yaserantblog.blogspot.com
Ilustrasi Gambar : yaserantblog.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar