“Mas, bawa berapa ?.”
“Tiga.”
“Banyak banget, Mas?”
“Gak bisa beli satu an, satu pack isinya tiga.
Jadi aku bawa saja satu pack.”
*****
“Terus, sisa nya bagaimana, Mas?.”
Si Mas garuk-garuk kepala, berfikir.
“Kalau dibawa pulang resiko, Mas. Nanti kalau
Papa atau Mama tahu bagaimana?. Mas nyimpen “sesuatu itu” kan jadi repot
urusannya.”
“Dibuang aja ya say?.”
“Sayang. Di simpan disini aja, Mas. Kalau kita
kemari lagi kan, bisa kita pakai.”
Si Mas dan pacarnya, masing-masing diam sesaat
berfikir.
Si Mas bangkit dan berjalan ke arah toilet.
Setelah beberapa saat, dia keluar dari toilet.
“Gak bisa nyimpen disana, kaca rias nya nempel
di tembok.”
“Terus, simpan dimana dong?.”
Cling!, Aha!, aku dapat ide. Kata hati si Mas
sambil senyum penuh arti.
“Kamu bangun dulu (perintah si Mas pada
pacarnya). Kita simpan aja di bawah kasur. Kasurnya kan double. Bagian
atasnya kasur dan bagian bawahnya adalah spring bednya. Kita taruh saja
diantara kasur itu.”
Setelah kasur atas bergeser sedikit. Diletakkan
sesuatu itu diselipan antara kasur atas dan kasur bagian bawahnya.
“Berapa yang disimpan?.”
“Dua say, sisanya kan memang dua.”
“Aman gak?”
“Hehehe, mana aku tahu???.”
******
Malam lainnya.
“Mas, bawa gak?.”
“Kan masih ada disana, sisa dua yang waktu itu?.”
“Memangnya masih ada, kalau hilang bagaimana?.
Beli lagi aja, Mas… Aku gak mau resiko, kalau aku hamil, bagaimana, Mas?.”
“Iya, nanti kita mampir dulu ke mini market.”
“Kamarnya sudah di booking?. Kalau bisa kamar
yang waktu itu, Mas. Aku suka view nya.”
“Sudah. Kamar 326 kan?. Sengaja aku pesan kamar
itu lagi, hehehe, ada “tabungan” kita kan disana.”
“Sisa dua yang kita taruh di selipan kasurkan?.
“He eh. hehehe… .” Jawab si Mas cengengesan.
*****
“Sisa dua yang ini, kita taruh lagi aja
diselipan kasur, Mas.”
“Iya deh. Kamu bangun dulu (perintah si Mas
pada pacarnya)!.”
Digesernya kasur bagian atas sedikit. Dengan
wajah senang, si Mas berkata pada pacarnya.
“Say!, say, masih ada say, sisa yang kemarin,
hehehe … .!.”
“Gak hilang.”
“Gak kok, masih utuh. Kita simpan lagi aja sisa
yang kemarin, hehehe, jadi “tabungan” kita ada empat.”
“Ya Mas. Sekalian aja kita jadikan kamar 326 ini
sebagai kamar favorit kita.”
“Kamar “Cinta Sejati” . Hehehe, gimana say suka
gak dengan nama itu?.”
“Wuiiih. Pffuih!. Melambung rasanya aku, Mas.”
*****
Malam lain lagi.
“Kamar sudah OK?.”
“Sudah aku booking untuk malam ini. Tenang saja,
Say … kamar 326, kamar “Cinta Sejati”, saksi cinta kita abadi.
“Siiip lah, Mas!.”
*****
“Coba di cek dulu, Mas. “Tabungan” kita masih
ada gak?.”
Si Mas menggeser kasur bagian atas.
“Hah!.” Si Mas kaget.
“Kenapa?.”
“Tabungan kita beranak. Terakhir kan tabungan
kita ada empat. Wah, sekarang ada delapan.”
“Delapan?, banyak banget Mas.”
“Iya, punya kita empat. Dan yang empat lagi
mereknya beda-beda. Yang dua Durex dan yang dua lagi Fiesta.”
“Punya kita Sutra,
masih utuh ada empat.” Jelas si Mas panjang lebar pada pacarnya.
“Yang Durex dan Fiesta itu punya siapa?.”
“Mana aku tahu, say?. Yang jelas pasti
pemiliknya adalah orang yang berbeda. Karena pilihannya beda.”
“Itu artinya, sudah banyak yang tahu dong tempat
rahasia kita, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say.”
“Termasuk kamar 326 ini?, sudah banyak orang
yang favoritkan dong, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say. Memangnya kenapa?.”
“Huh!, Sebel aku!.” Tiba-tiba saja muka si pacar
berubah cemberut. Mukanya ditekuk persis dompet tanggung bulan.
“Bagaimana say, mau coba yang mana?. Sutra?, Durex?. Atau Fiesta?. Hehehe, mumpung
banyak pilihan nih.”
“Malas aku!. Sudah hilang mood ku!.” Teriak si
pacar pada Mas nya.
“Malam ini kita nonton TV aja!, gak usah minta
yang macam-macam!.” Teriak si pacar lagi.
“Nonton TV doang?”. Tanya si Mas lugu.
Si Mas semakin jutek dilihatnya pacarnya asyik
nonton TV kabel, sambil memencet-mencet remote, berpindah-pindah channel.
Keduanya saling diam beberapa saat. Kamar 326
hanya dibisingi suara TV.
“Mas … Mas … Kapan kita kawin?.” Tanya si pacar
pada Masnya.
Si Mas diam saja, pura-pura tidur tertelungkup
memeluk bantal.
“Gak baik kan kita begini terus?. Dulu
bilangnya, nanti kalau sudah selesai kuliah. Eh, sekarang sudah selesai kuliah,
bilangnya nanti kalau sudah dapat kerja.”
“Nah, giliran sudah kerja, alasannya ada saja ;
belum siap lah!, masih mau mengejar karir lah!. bla bla bla … dasar laki-laki,
pintar cari alasan!. Pokoknya, kalau minggu depan Mas gak datang melamar, kita
putus saja deh!. ” Teriak si pacar pada Mas nya.
Gak tahu si Mas nya pura-pura tidur atau memang
sudah tertidur pulas.Bantal yang tadi dipeluknya kini sudah berpindah untuk
menutupi wajah dan telinganya.
*****
Kutu Kata, Kamar 326 - 20052012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar