Jumat, 17 Mei 2013

Kamar 326




“Mas, bawa berapa ?.”
“Tiga.”
“Banyak banget, Mas?”
“Gak bisa beli satu an, satu pack isinya tiga. Jadi aku bawa saja satu pack.”
*****
“Terus, sisa nya bagaimana, Mas?.”
Si Mas garuk-garuk kepala, berfikir.
“Kalau dibawa pulang resiko, Mas. Nanti kalau Papa atau Mama tahu bagaimana?. Mas nyimpen “sesuatu itu” kan jadi repot urusannya.”
“Dibuang aja ya say?.”
“Sayang. Di simpan disini aja, Mas. Kalau kita kemari lagi kan, bisa kita pakai.”
Si Mas dan pacarnya, masing-masing diam sesaat berfikir.
Si Mas bangkit dan berjalan ke arah toilet. Setelah beberapa saat, dia keluar dari toilet.
“Gak bisa nyimpen disana, kaca rias nya nempel di tembok.”
“Terus, simpan dimana dong?.”
Cling!, Aha!, aku dapat ide. Kata hati si Mas sambil senyum penuh arti.
“Kamu bangun dulu (perintah si Mas pada pacarnya). Kita simpan aja di bawah kasur. Kasurnya kan double. Bagian atasnya kasur dan bagian bawahnya adalah spring bednya. Kita taruh saja diantara kasur itu.”
Setelah kasur atas bergeser sedikit. Diletakkan sesuatu itu diselipan antara kasur atas dan kasur bagian bawahnya.
“Berapa yang disimpan?.”
“Dua say, sisanya kan memang dua.”
“Aman gak?”
“Hehehe, mana aku tahu???.”
******
Malam lainnya.
“Mas, bawa gak?.”
“Kan masih ada disana, sisa dua yang waktu itu?.”
“Memangnya masih ada, kalau hilang bagaimana?. Beli lagi aja, Mas… Aku gak mau resiko, kalau aku hamil, bagaimana, Mas?.”
“Iya, nanti kita mampir dulu ke mini market.”
“Kamarnya sudah di booking?. Kalau bisa kamar yang waktu itu, Mas. Aku suka view nya.”
“Sudah. Kamar 326 kan?. Sengaja aku pesan kamar itu lagi, hehehe, ada “tabungan” kita kan disana.”
“Sisa dua yang kita taruh di selipan kasurkan?.
“He eh. hehehe… .” Jawab si Mas cengengesan.
*****
“Sisa dua yang ini, kita taruh lagi aja diselipan kasur, Mas.”
“Iya deh. Kamu bangun dulu (perintah si Mas pada pacarnya)!.”
Digesernya kasur bagian atas sedikit. Dengan wajah senang, si Mas berkata pada pacarnya.
“Say!, say, masih ada say, sisa yang kemarin, hehehe … .!.”
“Gak hilang.”
“Gak kok, masih utuh. Kita simpan lagi aja sisa yang kemarin, hehehe, jadi “tabungan” kita ada empat.”
“Ya Mas. Sekalian aja kita jadikan kamar 326 ini sebagai kamar favorit kita.”
“Kamar “Cinta Sejati” . Hehehe, gimana say suka gak dengan nama itu?.”
“Wuiiih. Pffuih!. Melambung rasanya aku, Mas.”
*****
Malam lain lagi.
“Kamar sudah OK?.”
“Sudah aku booking untuk malam ini. Tenang saja, Say … kamar 326, kamar “Cinta Sejati”, saksi cinta kita abadi.
“Siiip lah, Mas!.”
*****
“Coba di cek dulu, Mas. “Tabungan” kita masih ada gak?.”
Si Mas menggeser kasur bagian atas.
“Hah!.” Si Mas kaget.
“Kenapa?.”
“Tabungan kita beranak. Terakhir kan tabungan kita ada empat. Wah, sekarang ada delapan.”
“Delapan?, banyak banget Mas.”
“Iya, punya kita empat. Dan yang empat lagi mereknya beda-beda. Yang dua Durex dan yang dua lagi Fiesta.”
“Punya kita Sutra, masih utuh ada empat.” Jelas si Mas panjang lebar pada pacarnya.
“Yang Durex dan Fiesta itu punya siapa?.”
“Mana aku tahu, say?. Yang jelas pasti pemiliknya adalah orang yang berbeda. Karena pilihannya beda.”
“Itu artinya, sudah banyak yang tahu dong tempat rahasia kita, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say.”
“Termasuk kamar 326 ini?, sudah banyak orang yang favoritkan dong, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say. Memangnya kenapa?.”
“Huh!, Sebel aku!.” Tiba-tiba saja muka si pacar berubah cemberut. Mukanya ditekuk persis dompet tanggung bulan.
“Bagaimana say, mau coba yang mana?. Sutra?, Durex?. Atau Fiesta?. Hehehe, mumpung banyak pilihan nih.”
“Malas aku!. Sudah hilang mood ku!.” Teriak si pacar pada Mas nya.
“Malam ini kita nonton TV aja!, gak usah minta yang macam-macam!.” Teriak si pacar lagi.
“Nonton TV doang?”. Tanya si Mas lugu.
Si Mas semakin jutek dilihatnya pacarnya asyik nonton TV kabel, sambil memencet-mencet remote, berpindah-pindah channel.
Keduanya saling diam beberapa saat. Kamar 326 hanya dibisingi suara TV.
“Mas … Mas … Kapan kita kawin?.” Tanya si pacar pada Masnya.
Si Mas diam saja, pura-pura tidur tertelungkup memeluk bantal.
“Gak baik kan kita begini terus?. Dulu bilangnya, nanti kalau sudah selesai kuliah. Eh, sekarang sudah selesai kuliah, bilangnya nanti kalau sudah dapat kerja.”
“Nah, giliran sudah kerja, alasannya ada saja ; belum siap lah!, masih mau mengejar karir lah!. bla bla bla … dasar laki-laki, pintar cari alasan!. Pokoknya, kalau minggu depan Mas gak datang melamar, kita putus saja deh!. ” Teriak si pacar pada Mas nya.
Gak tahu si Mas nya pura-pura tidur atau memang sudah tertidur pulas.Bantal yang tadi dipeluknya kini sudah berpindah untuk menutupi wajah dan telinganya.
*****
Kutu Kata, Kamar 326 - 20052012


Ilustrasi Gambar : http://chicatphilsplace.blogspot.com

Tidak ada komentar: