Pukul 14:30. Biasanya on time. Detik, menit, jam dan juga mataharinya. Sengat panas yang sama diseling tiupan angin yang kurindu.
Biasanya aku tiba lebih dulu di
stasiun kereta UI. Duduk didekat penjual teh botol karena payungnya yang besar
yang akan menaungi aku. Dan juga dia.
Dia yang kemudian datang lalu
duduk disebelahku. Kemudian melihat kearahku, melempar senyum yang ku tak
mengerti. Mengeluarkan diary berwarna biru, berfikir lalu mencatat sesuatu pada
diary itu.
Pukul 14:30 telah lewat. Kereta
pun tiba. Aku bergegas. Dia pun bergegas, segera memasukkan diary kembali
kedalam tasnya. Aku dan dia bersama beberapa orang lainnya bergegas masuk
kedalam kereta karena pintu kereta akan tertutup otomatis hanya dalam beberapa
setik saja.
Kalau penumpangnya penuh. Aku
berdiri. Dan tak jauh dari ku, dia pun berdiri. Ketika aku melihatnya, beradu
pandang. Akunya kikuk. Dan dia pun tertunduk malu. Kemudian dia angkat wajahnya
lalu melempar senyum padaku. Dan aku pun membalas senyumannya.
Kalau penumpangnya kosong dan
kebetulan aku dan dia dapat tempat duduk saling bersebelahan. Aku membuang
pandang keluar jendela. Begitupun dia, pandangannya menyapu keseluruh ruang
kereta. Ketika aku asyik memandangnya, mata kami pun beradu pandang. Dia
tersenyum. Apalagi yang bisa kubuat?, akupun membalas senyumnya. Tak ada
sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Begitupun mulutku diam terkunci
seribu bahasa. Karena aku bukanlah tipe laki-laki yang berani menafsirkan arti
sebuah senyum dari seorang gadis.
Begitulah ritual yang dia dan
aku lakukan. Selalu kutanamkan dalam hati kecilku bahwa senyum yang dia berikan
hanyalah senyum keramahan karena aku dan dia berasal dari kampus yang sama,
menunggu di stasiun kereta yang sama, naik kereta yang sama pula. Banyak
kesamaan yang memungkinkan dia untuk ramah padaku. Begitupun aku, akan ramah
terhadap orang lain yang juga ramah padaku, tidak lebih dan tidak kurang.
Perbedaan aku dan dia adalah kami berbeda fakultas.
Senyum ramah yang terus ku
kerdilkan dalam hati kecilku. Tanpa terasa telah berjalan dua semester.
Duh, senyum itu. Senyum yang telah mengisi kekosonganku. Senyum yang telah
mewarnai hari-hariku. Senyum penyemangatku. Senyum ceriaku. Akhirnya menjadi
senyum yang selalu ku rindu.
Aku menyebutnya “no name”,
karena sampai saat ini aku tidak tahu siapa namanya?. Gadis pemilik senyum itu,
gadis yang sering melempar senyum padaku. Karena kami memang tidak pernah
berkenalan. Aku hanya berani menunggu dan terus menunggu, sebuah keinginan yang
terlalu berlebih jika aku harus memperkenalkan diri lebih dulu. Karena bagiku
senyum itu hanyalah milik seorang gadis yang ramah.
No name, sudah beberapa hari ini
dia tidak pernah terlihat di stasiun kereta UI. Berjuta tanya menari
dalam benakku. Apakah dia telah bermobil datang dan pulang kekampus?. Atau
jadwal kuliahnya yang telah berubah?. Atau memang dia sudah tak ingin lagi
bertemu denganku?.
Pukul 14:30 di stasiun kereta UI
yang telah membuatku menjadi si pecundang, tolol dan lelah. Lelah menafsirkan
arti senyumnya, lelah hingga hari ini pun aku belum bisa menyimpulkan apa
maksud dia melemparkan senyumnya padaku.
Kini aku t’lah kosong. Pandai
sekali dia membuatku menjadi nol. No name, dimanakah dia?.
Kini sudah pukul 18:00, entah
sudah berapa kali kereta yang lewat?. Aku masih menunggu dia. Menunggu senyum
yang tak bisa kulupa. Menunggu senyum yang tak mungkin bisa kuhapus.
Kini aku t’lah kalah. Kalah oleh
senyum yang telah mengacaukan selera makanku. Kalah oleh senyum yang telah
merubahku menjadi kalong. Senyum no name, senyum yang masih ku tunggu. Senyum
yang rela kutunggu, entah sampai kapan?.
Kuliahku berantakan. Ah, aku tak
perduli!. Nilai-nilaiku merosot. Konsentrasiku cuma pada dia. No name, mengapa
dia tak pernah datang lagi?. Oh, aku telah gila. Dia telah berhasil
menjadikanku orang yang paling pesimis di dunia ini, Dia telah berhasil
menjadikanku orang yang paling lancang menggugat Tuhan.
Waktu terus berlalu dan tak
pernah perduli. Tak ada yang berubah, pukul 14:30, aku menunggu kereta di
stasiun UI, dinaungi tenda dari tukang teh botol, sendiri. Tanpa dia, tanpa senyumnya.
Dia renggut semua keceriaanku. Dia hapus semua warna-warni dalam hariku. Hanya
ada kelabu dan namanya yang terpahat di relung-relung jiwaku, hanya ada no
name.
*****
“Mama tunggu saja di stasiun UI,
tepat jam 14:30. Dan jangan lupa, Mama bawa diaryku. Mama pegang saja diary
biruku ini. Kalau ada seorang pemuda yang menanyakan siapa pemilik diary ini?.
Berikan saja diaryku ini, mudah-mudahan saja dia mau mengerti. Tolong, Mam… aku
mencintai dia. Tapi Mama kan tahu, dokter telah memvonis umurku. Leukemia ini
akan terus menggerogoti umurku. Cuma senyum pemuda itu yang membuatku mampu
bertahan hidup lebih lama dari vonis dokter itu, Mam … .”
Seorang ibu yang dipanggil Mama
menangis mendengar permintaan terakhir anak gadisnya. Sebelum dia benar-benar pergi
untuk selamanya.
*****
Sudah pukul 22:00. Kereta
terakhir menuju jakarta baru saja lewat. Stasiun nampak sepi, cuma ada seorang
pemuda duduk menekuri lantai. Matanya basah. Buku diary biru itu digenggamnya
kuat-kuat, dipendam dalam dada sambil ia menahan perih batinnya.
Selamat jalan no name….
*****
Kutu Kata, Selamat Jalan No Name, 30062012
Ilustrasi Gambar : www.kwong.wordpress.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar