Kamis, 02 Mei 2013

Selamat Jalan No Name




Pukul 14:30. Biasanya on time. Detik, menit, jam dan juga mataharinya. Sengat panas yang sama diseling tiupan angin yang kurindu.
Biasanya aku tiba lebih dulu di stasiun kereta UI. Duduk didekat penjual teh botol karena payungnya yang besar yang akan menaungi aku. Dan juga dia.
Dia yang kemudian datang lalu duduk disebelahku. Kemudian melihat kearahku, melempar senyum yang ku tak mengerti. Mengeluarkan diary berwarna biru, berfikir lalu mencatat sesuatu pada diary itu.
Pukul 14:30 telah lewat. Kereta pun tiba. Aku bergegas. Dia pun bergegas, segera memasukkan diary kembali kedalam tasnya. Aku dan dia bersama beberapa orang lainnya bergegas masuk kedalam kereta karena pintu kereta akan tertutup otomatis hanya dalam beberapa setik saja.
Kalau penumpangnya penuh. Aku berdiri. Dan tak jauh dari ku, dia pun berdiri. Ketika aku melihatnya, beradu pandang. Akunya kikuk. Dan dia pun tertunduk malu. Kemudian dia angkat wajahnya lalu melempar senyum padaku. Dan aku pun membalas senyumannya.
Kalau penumpangnya kosong dan kebetulan aku dan dia dapat tempat duduk saling bersebelahan. Aku membuang pandang keluar jendela. Begitupun dia, pandangannya menyapu keseluruh ruang kereta. Ketika aku asyik memandangnya, mata kami pun beradu pandang. Dia tersenyum. Apalagi yang bisa kubuat?, akupun membalas senyumnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Begitupun mulutku diam terkunci seribu bahasa. Karena aku bukanlah tipe laki-laki yang berani menafsirkan arti sebuah senyum dari seorang gadis.
Begitulah ritual yang dia dan aku lakukan. Selalu kutanamkan dalam hati kecilku bahwa senyum yang dia berikan hanyalah senyum keramahan karena aku dan dia berasal dari kampus yang sama, menunggu di stasiun kereta yang sama, naik kereta yang sama pula. Banyak kesamaan yang memungkinkan dia untuk ramah padaku. Begitupun aku, akan ramah terhadap orang lain yang juga ramah padaku, tidak lebih dan tidak kurang. Perbedaan aku dan dia adalah kami  berbeda fakultas.
Senyum ramah yang terus ku kerdilkan dalam hati kecilku. Tanpa terasa telah berjalan  dua semester. Duh, senyum itu. Senyum yang telah mengisi kekosonganku. Senyum yang telah mewarnai hari-hariku. Senyum penyemangatku. Senyum ceriaku. Akhirnya menjadi senyum yang selalu ku rindu.
Aku menyebutnya “no name”, karena sampai saat ini aku tidak tahu siapa namanya?. Gadis pemilik senyum itu, gadis yang sering melempar senyum padaku. Karena kami memang tidak pernah berkenalan. Aku hanya berani menunggu dan terus menunggu, sebuah keinginan yang terlalu berlebih jika aku harus memperkenalkan diri lebih dulu. Karena bagiku senyum itu hanyalah milik seorang gadis yang ramah.
No name, sudah beberapa hari ini dia tidak pernah terlihat di stasiun kereta UI.  Berjuta tanya menari dalam benakku. Apakah dia telah bermobil datang dan pulang kekampus?. Atau jadwal kuliahnya yang telah berubah?. Atau memang dia sudah tak ingin lagi bertemu denganku?.
Pukul 14:30 di stasiun kereta UI yang telah membuatku menjadi si pecundang, tolol dan lelah. Lelah menafsirkan arti senyumnya, lelah hingga hari ini pun aku belum bisa menyimpulkan apa maksud dia melemparkan senyumnya padaku.
Kini aku t’lah kosong. Pandai sekali dia membuatku menjadi nol. No name, dimanakah dia?.
Kini sudah pukul 18:00, entah sudah berapa kali kereta yang lewat?. Aku masih menunggu dia. Menunggu senyum yang tak bisa kulupa. Menunggu senyum yang tak mungkin bisa kuhapus.
Kini aku t’lah kalah. Kalah oleh senyum yang telah mengacaukan selera makanku. Kalah oleh senyum yang telah merubahku menjadi kalong. Senyum no name, senyum yang masih ku tunggu. Senyum yang rela kutunggu, entah sampai kapan?.
Kuliahku berantakan. Ah, aku tak perduli!. Nilai-nilaiku merosot. Konsentrasiku cuma pada dia. No name, mengapa dia tak pernah datang lagi?. Oh, aku telah gila.  Dia telah berhasil menjadikanku orang yang paling pesimis di dunia ini, Dia telah berhasil menjadikanku orang yang paling  lancang menggugat Tuhan.
Waktu terus berlalu dan tak pernah perduli. Tak ada yang berubah, pukul 14:30, aku menunggu kereta di stasiun UI, dinaungi tenda dari tukang teh botol, sendiri. Tanpa dia, tanpa senyumnya. Dia renggut semua keceriaanku. Dia hapus semua warna-warni dalam hariku. Hanya ada kelabu dan namanya yang terpahat di relung-relung jiwaku, hanya ada no name.
*****
“Mama tunggu saja di stasiun UI, tepat jam 14:30. Dan jangan lupa, Mama bawa diaryku. Mama pegang saja diary biruku ini. Kalau ada seorang pemuda yang menanyakan siapa pemilik diary ini?. Berikan saja diaryku ini, mudah-mudahan saja dia mau mengerti. Tolong, Mam… aku mencintai dia. Tapi Mama kan tahu, dokter telah memvonis umurku. Leukemia ini akan terus menggerogoti umurku. Cuma senyum pemuda itu yang membuatku mampu bertahan hidup lebih lama dari vonis dokter itu, Mam … .”
Seorang ibu yang dipanggil Mama menangis mendengar permintaan terakhir anak gadisnya. Sebelum dia benar-benar pergi untuk selamanya.
*****
Sudah pukul 22:00. Kereta terakhir menuju jakarta baru saja lewat. Stasiun nampak sepi, cuma ada seorang pemuda duduk menekuri lantai. Matanya basah. Buku diary biru itu digenggamnya kuat-kuat, dipendam dalam dada sambil ia menahan perih batinnya.
Selamat jalan no name….
*****

Kutu Kata, Selamat Jalan No Name, 30062012

Ilustrasi Gambar : www.kwong.wordpress.com

Tidak ada komentar: