Hans
tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.
“Mom,
Mom … Mom!.” Hans memanggil Mommy nya.
Tas
ranselnya dilemparkan ke sofa. Jaket almamaternya kemudian menyusul hinggap di
punggung sofa.
“Moooom,
Moooommmm !.”
Mommy
pun keluar dari dalam kamar. Dengan piyama bermotif bunga dan rambut masih
digelung.
“Ada
apa, Hans?.” Tanya Mommy bingung.
“Moomm,
Mom, aku akan jadi orang terkenal, Mom!.” Jawab Hans penuh semangat.
Mommy
bingung melihat Hans, anak semata wayangnya berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Sambil
menggengam lengan Mommynya, Hans berucap keras. “Sebentar lagi aku akan jadi
orang terkenal, Mom!.”
Daddy
keluar dari kamar, sambil tangan kanannya membetulkan kaca mata plus nya dan
tangan kirinya memegang lipatan koran.
Sambil
merebut koran yang ada di tangan Daddynya, Hans menunjukkan koran itu pada Mom
dan Dad nya.
“Wajah Hans akan terpampang besar di halaman pertama koran ini!.”
Mommy
dan Daddy hanya saling lirik.
“Siapa
yang masuk koran?, kamu?.” Tanya Daddy pada Hans.
Hans
mengangguk dengan semangat. “Revolusi, Dad!.”
“Apa?.”
Tanya Mommy bingung.
“Hanya
dengan Revolusi negara ini akan berubah, Dad!.”
“Maksudmu?.”
Tanya Daddy bingung.
“Pokoknya
Revolusi!, Itu sudah harga mati, Dad, Revolusi sampai mati!.” Sahut Hans sambil
mengacungkan tangan.
Hans
meninggalkan Mom dan Dad nya yang masih bengong.
“Hei!,
Hans.. jangan gila kau!.” Teriak Daddy pada Hans. Tapi, Hans acuh saja.
*****
Di
ruang oval. Mr Presiden berdiri gagah memandangi cermin besar yang ada di
ruangan itu.
“Kalau
bukan aku, siapa orang yang pantas menjadi presiden dinegeri ini?.” Tanya Mr.
Presiden dalam hati.
Inggih
Pak, inggih pak. Selain bapak, tidak ada orang lain yang lebih berpengalaman
untuk menjadi presiden?. Mr Presiden teringat akan laporan Bapak Hari-Hari
Omong Kosong, salah satu menterinya.
Seluruh
rakyat masih menghendaki bapak untuk jadi presiden. Mr Presiden cuma
manggut-manggut saja waktu Bapak Hari -Hari Omong Kosong datang menghadapMr
Preside.
Mr Presiden, sudah saatnya anda beristirahat. Menikmati hari tua anda
dengan memancing di Kepulauan Seribu, berkunjung ke peternakan anda di Tapos
atau bermain dengan cucu. Begitu bisik si Pembisik kepada tuannya, Mr Presiden.
Cucu
anda tentu saja akan senang bermain-main dengan Eyangnya, hehehehe…. . Kata si
pembisik lagi.
Sudah
cukuplah pengabdian anda pada negeri ini, mundur dengan legowo membuat diri
anda terlihat elegant.
Kalau
aku mundur, siapa yang akan menggantikan aku?. Tanya Mr Presiden pada si
Pembisik. Semua anak laki-lakiku tak ada yang bisa diharapkan, borjouis dan
foya-foya saja kerjanya. Aku hanya bisa berharap pada putri tertuaku saja.
Bagaimana
kalau putri tertuaku saja yang akan menggantikan aku, Pak Hari-Hari Omong
Kosong?. Aku akan legowo.
Hah!,
apa kata dunia Pak?. Negara kita ini bukan kerajaan. Rakyat masih menghendaki
bapak untuk menjadi presiden. Kalau perlu, bapak jadi presiden seumur hidup.
Itu yang sedang kita godok di Partai Kuning kita.
Seumur
hidup?. Huh!, memalukan!. Kata si Pembisik.
Siapa
yang memalukan?. Tanya Mr. Presiden marah. Aku?. Atau si penjilat itu?. Memang
sengaja ku pelihara anjing itu karena sampai saat ini dia masih setia padaku.
Tapi mata batinku tidak bisa dibohongi, sekali Dorna tetap saja dia Dorna.
Baru
saja, anjing anda berkata ; negara kita ini bukan kerajaan. Dan anda bukan raja
kan?. Itu yang ku maksud dengan memalukan. Kata si Pembisik.
*****
Tanggal
27 Juli 1996, Di Jalan Diponegoro No 58, Jakarta Pusat.
Terjadi
pengambil alihan secara paksa dan penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi
Indonesia (PDI) yang dikuasai kubu Megawati Soekarnoputri oleh kubu Soerjadi
yang dibantu oleh massa dan segerombolan pemuda cepak dan berbadan tegap,
disinyalir gerombolan itu adalah aparat dari kepolisian dan TNI.
Massa
pendukung Surjadi dan segerombolan pemuda cepak dan berbadan tegap,
bersiap-siap untuk menyerbu. Sasaran utama mereka adalah beberapa pemuda yang
berdemo sambil menari-nari dan meneriakkan yel-yel.
“Revolusi!,
Revolusi sampai mati!.”
“Revolusi!,
Revolusi sampai mati!.”
“Revolusi!,
Revolusi sampai mati!.”
Peristiwa
penyerbuan ini kemudian meluas menjadi chaos terjadi kerusuhan dan
pembakaran gedung-gedung serta beberapa kendaraan di sekitar Jalan Diponegoro,
Salemba, Kramat dan Senen.
*****
“Gila
kamu, Hans!.” Teriak Daddy sambil membanting koran. Ketika Daddy, Mommy dan
Hans sedang sarapan di meja makan.
“Ini
Revolusi, Dad, Kita perlu berubah!.” Kata Hans kalem.
“Please,
Hans, apa yang sudah kamu lakukan?, sampai Daddymu marah.”
“Coba
lihat ini, Mom!.” Sambil Daddy menunjukkan sebuah foto di koran.
“Hah!,
sudah gila kamu Hans!.” Teriak Mommy kaget.
“Hans,
sudah bilang kan Mom, Hans akan jadi orang terkenal Mom!.”
“Tapi
bukan dengan cara seperti ini Hans!.” Kata Mommy pada Hans.
“Sebentar
lagi Hans akan dijemput oleh jurnalis media on line dalam dan luar negeri. Hans
akan di wawancara sebagai nara sumber, Mom!.”
“Kamu
bisa dituduh makar Hans dengan membakar foto-foto presiden!.” Sahut Daddy
kesal. “Kalau kamu mau demo, ya demo saja, gak perlu kamu pakai bakar-bakar
foto presiden. Subversif itu namanya!”
“Ah,
ini sudah biasa Dad dalam sebuah revolusi.”
“Ting
nong!, Ting nong!.” Suara bel dari luar pintu.
“Mom
Dad, Hans permisi dulu, Hans sudah dijemput.” Hans pamit sambil mencium tangan
Mommy dan Daddy nya.
“Eh,
Hans kau habiskan dulu rotinya!.” Teriak Mom pada Hans.
“Gampang
itu Mom, nanti disana Hans juga dikasih makan!.”
“Jam
berapa kau pulang?.”
“Sebentar,
Mom nanti sore juga Hans pulang!.”
“Kalau
kau pulang malam, jangan lupa telpon Mommy!.”
“OK,
Mom Dad, Hans pergi dulu ya..bye!.”
*****
Dua
tahun kemudian. Mei 1998.
Krisis
ekonomi yang berkepanjangan, rupiah yang terus anjlok, kelaparan dimana-mana,
demo mahasiswa yang semakin hari semakin besar, rakyat marah, semua menuntut
anda mundur. Kata si Pembisik di dalam pesawat pada waktu Mr. Presiden
berkunjung ke negara-negara sahabat.
Percuma
anda ke luar negeri, kredibilitas anda sudah hancur!. Kata si Pembisik itu
lagi.
Kerut
di kening Mr. Presiden mulai nampak. Pipinya pun semakin cekung. Senyum khasnya
telah hilang.
Apa
yang anda harapkan dari si anjing Dorna itu?. Para penjilat-penjilat lainnya.
Mereka semua akan menusuk anda dari belakang. Lihatlah nanti!. Percayalah pada
kata-kataku!.
Nrimo
dan legowo. Seperti yang sering anda ucapkan kepada para wartawan. Mundurlah
dengan legowo. Kapal sudah hampir karam.
Tidak!,
aku tidak akan mundur sejengkalpun!. Sampai titik darah penghabisan. Aku akan
memberikan kekuasaan ini pada putri tertuaku. Yang kelak nanti akan melindungi
aset-aset kekayaanku.
Terserah!.
Terserah anda sajalah!. Aku ini kan cuma si Pembisik. Aku ini adalah hati
nurani anda sendiri, Mr Presiden. Terserah anda, apakah anda mau mendengarkan
apa yang telah aku bisikkan atau anda abaikan saja semua bisikanku.
*****
Akhirnya
Mr. Presiden bisa digulingkan dalam sebuah tragedi Mei 1998, yang kemudian
dikenal dengan gerakan Reformasi. Kaum muda, para mahasiswa dan kaum
intelektual dari kelas menengah yang bediri di baris depan gerakan Reformasi.
Kejatuhan
Mr. Presiden memberikan harapan baru. Euforia masyarakat terjadi
dimana-mana. Gerakan Reformasi bukanlah akhir dari perjuangan untuk melakukan
perubahan di Indonesia. Masih terbentang jalan panjang nan berliku untuk menuju
Indonesia baru.
Salah
satu hadiah dari gerakan Reformasi adalah sumbat kebebasan bersuara yang
dibuka. Pers dibebaskan, masyarakat tak lagi dibatasi dan diawasi dalam
berserikat dan berkumpul. Kini semua orang boleh bicara apa saja, termasuk
mengkritik pemerintah dan presidennya.
Dulu
waktu kekuasaan Mr. Presiden masih absolut, orang-orang yang
menentangnya akan diculik, dibunuh atau dibuang dan sebagian lagi
dimasukkan kedalam penjara sebagai tahanan politik yang tak terampuni.
*****
Sebuah
bajaj menghampiri Mommy yang sedang berteduh dibawah pohon beringin.
“Eh,
Pak Jokowi!.” Sahut Mommy kepada tukang bajaj langganannya.
“Ke
Komnas HAM lagi, Mom?.” Tanya Pak Jokowi.
“Iya,
Pak!.”
Mommy
pun langsung masuk kedalam bajaj yang panas dan sumpek itu.
Disela-sela
jeritan mesin bajaj yang memekakkan telinga terjadi dialog antara Mommy dan Pak
Jokowi, tukang bajaj langganannya.
“Sudah
ada kabar tentang Hans, Mom?.”
“Belum
Pak.”
“Si
Daddy, Papa nya Hans sebenarnya sih sudah pasrah, Pak.”
“Tapi
saya sebagai ibu yang melahirkan Hans, tidak akan menyerah begitu saja.”
“Sebagai
seorang ibu, saya selalu berharap Hans masih hidup tapi…kalau memang Hans sudah
meninggal, saya harus tahu dimana kuburannya?.” Kata Mommy sedih.
*****
Mereka
yang sejatinya menjadi penggerak gerakan Reformasi, lambat laun semakin
terpinggirkan. Bagaikan minyak dengan air, idealisme mereka tak bisa disatukan
dengan para oportunis. Oportunis-oportunis politik yang menguasai
parlemen dan pemerintahan dari pusat sampai daerah.
Seorang
Budiman Sudjatmiko yang dituduh sebagai penggerak kerusuhan 27 Juli 1996,
sempat dijebloskan ke dalam penjara selama 13 tahun pada masa pemerintahan orde
baru. kini sudah hidup makmur. Setelah membubarkan partai Rakyat Demokratik
(PRD) yang dipimpinnya karena tidak lolos verifikasi, menjadi kutu loncat
dengan menumpang perahu PDIP lalu kemudian menjadi anggota parlemen dan kini
hidupnya sudah makmur.
Andi
Arif yang menjadi salah satu korban penculikan yang ditengarai dilakukan oleh
Tim Mawar yang dipimpin oleh Prabowo Subiyanto, kini masuk dalam pemerintahan.
Anehnya,
salah satu dari sembilan aktivis yang diculik Tim Mawar yaitu Pius
Lustrilanang, kini malah menjadi tokoh penting di Partai Gerindra, partai yang
didirikan oleh Prabowo.
Politik
kadang memang di luar akal sehat. Di dalam politik, tidak ada lawan maupun
kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Selama kepentingan
politiknya sama, bisa menjadi kawan. Tapi akan menjadi lawan jika kepentingan
politiknya berbeda. Kepentingan siapa?, kepentingan rakyat?, Kalau kita lihat
hari ini, sia-sia rasanya gerakan Reformasi yang telah menumpahkan darah. Bagai
menggarami air laut. Pantas, kalau sebagian orang mengatakan bahwa politik itu
kotor, politik itu kejam.
Diambil
dari catatan aktivis yang berserakan.
Kutu
Kata, Si Pembisik Presiden, 28042012
Ilustrasi Gambar : mikeportal.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar