Penulis diundang oleh Mabes
Polri dalam rangka …. (Sengaja penulis kosongkan agar pihak-pihak yang terkait
tidak merasa terusik).
Seminar yang dilaksanakan
bertujuan untuk memberikan “wawasan” dan “penyegaran” kepada para reporter,
wartawan media cetak dan televisi, serta tidak ketinggalan para wartawan bodrex
dan penulis lepas atau para pengamat di negeri ini. Duh, betapa banyaknya
pengamat di negeri ini?. Apa yang luput dari pengamatan nya para pengamat?.
Pembicara dari Mabes Polri
mengisahkan tentang kehebatan dan kepiawai-an anggotanya dalam mengungkap,
membongkar lalu menangkap jaringan terorisme di negeri ini.
Para pendengar sudah mulai
‘ngantuk dan jenuh. Wah, Rehat kopi atau coffee break masih lama?. Pikir
penulis. Mulut sudah asem dan pikiran tambah mumet di jejalin doktrin-doktrin
tentang betapa pentingnya Hankamnas demi keutuhan NKRI.
Disela-sela kejenuhan para
pendengar. Salah seorang wartawan kritis langsung saja menyahut ; “Bagaimana
dengan kasus Munir?. Kasus penculikan-penculikan lainnya, kenapa belum bisa
diungkap?.”
Lampu ruangan tiba-tiba padam.
“Aaargh!. Gubrak! Auuuuw!.”
Suara hiruk pikuk dari tengah ruang sidang. Seperti suara orang yang terkena
pukulan.
“Bukan!, bukan kami,Pak!. Bukan
saya yang bertanya tadi!.”
Lampu ruang menyala kembali.
Orang yang menyanggah tadi
kemudian di papah,lalu diboyong oleh dua orang berbadan tegap dan berkepala
cepak.“Auuuw!.” Orang yang digiring itu nampak kesakitan sambil mengelus-elus
pipinya yang memar.
“Maaf ya bapak-bapak, ada
“kesalah pahaman” sedikit, bapak tadi belum dipersilahkan bertanya… Eh, malah
bertanya!. Jadi merusak “skenario” seminar yang sudah kami buat!.” Kata sang
pembicara mencoba menjelaskan.
“Dan kejadian yang “memalukan”
tadi tolong “off the record” ya… Kalau sampai “bocor”, Identitas bapak-bapak
yang ada di ruangan ini sudah kami catat!.” Kata si pembicara lagi.
“Diminta kerja sama bapak-bapak semua demi menjaga keutuhan NKRI, bagi yang
membocorkan bisa dikenai tuduhan subversif!.”
Penulis melirik ke arah sebelah.
Wartawan itu nampak kaku wajahnya, keringat dingin deras mengucur dari pelipisnya.
“Kenapa Pak?.” Tanya Penulis
pada wartawan disebelah penulis.
“Anu … Anuuu.. Mmm… (gugup), saya mau pipisss, Mas!.”
“Kalau mau pipis, ya ke toilet saja Pak!.” Pinta penulis.
“Saya takut… Nanti dituduh
subversif!.” Kata wartawan itu. “Kasihan istri muda saya, baru nikah tiga bulan
masa sudah jadi janda nantinya!.”
Tok!, Tok!, Tok!. Terdengar
suara palu diketuk. “Bapak-bapak semua harap tenang… .”
Setelah ruang seminar kembali
tenang. “Pokoknya tenang saja, amplop-amplop buat bapak-bapak semua sudah kami siapkan!.
Tapi tolong masalah amplop ini “off the record” juga ya, demi kode etik
jurnalistik!.”
“Setuju!.” Suara koor terdengar
bersemangat.
“Amplop apa Mas?.” Tanya penulis
bingung. “Supaya seminar ini berjalan sesuai dengan “skenario” mereka.”
“Maksudnya?.” Tanya penulis
lagin asli karena penulis benar-benar gak ngerti.
“Mas gak butuh amplopnya?.”
Tanya wartawan itu.
“Iya, saya butuh isi nya…
Hehehe, amplopnya buat Mas saja!.” Sahut penulis ceria dan kelihatannya penulis
mulai mengerti maksudnya “skenario” itu.
*****
Penulis Satire, Off The Record, 12112012
Ilustrasi Gambar : ana-jannah.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar