Apa memang perih itu ada sisi indahnya?.
Seperti buah durian, siapa menyangka kalau di dalam
duri-durinya yang tajam ada kelezatan yang siap menanti?.
Perlu usaha untuk mengambil daging buahnya.
Perlu alat untuk menyingkirkan duri-durinya.
Dan sudah barang tentu, perlu uang untuk
membelinya.
Kecuali kita punya kebun durian sendiri.
Pernahkah hati kita merasa perih?.
Mana lebih perih dengan tertusuk duri buah durian?.
Atau mana lebih sakit tertiban “durian runtuh”?.
Perlu dicoba?. Sekedar untuk perbandingan
tingkat keperihan hati.
Kalau tusukan duri durian itu tidak membuat perih
pada bagian tubuh kita. Itu artinya hati kita juga mestinya kebal.
Tapi kalau tusukan duri durian itu membuat perih,
artinya wajar kalau hati kita pun akan meraakan perih.
Lantas bagaimana kita bisa menemukan sisi indahnya
perih itu?.
Jangan tanya saya dong!. Saya juga masih mencari.
Yuuukkk di sore ini kita sama-sama cari!.
Mudah-mudahan kita bisa temukan sehingga kita
dengan bangga bisa berkata ;
“Akhirnya, aku telah bisa miliki rasa indahnya
perihku sendiri.”
*****
NB :
Terkadang aku tak habis pikir. Mengapa Tuhan
repot-repot menciptakan duri-duri yang tajam hanya untuk menciptakan buah durian
yang lezat?.
Berfikir!, Berfikirlah!, maka engkau hidup!.
Kutu
Kata, Rasa Indahnya Perihku, 02072012
Ilustrasi Gambar : www.juxtapost.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar