Suasana desa tiba-tiba heboh, seorang gadis nampak di tepian jembatan. Ada kengerian disitu, gadis itu mencoba bunuh diri terjun ke sungai Rangkat yang berarus deras.
Di pagi buta, Pak Kades Hans
bersama warga desa tersentak melihat pemandangan itu.
“Hei!, mau mati ya Lo?.” Teriak
Bang Ibay kesal.
“Bang Ibay ini bagaimana sih?.
Orang mau bunuh diri dibilang mau mati!.” Jelas Jingga Ketus.
“Orang mau bunuh diri itu kan
artinya mau mati, Jingga!. Memangnya beda?.”Jelas Bang Ibay lagi.
“Coba saja tanya Bocing, mungkin
Bocing lebih tau.” Saran si Kutu Buku. “Cing, menurut kamu bagaimana mau bunuh
diri sama gak dengan mau mati?.”
Bocing berfikir sebentar. Kerut
dikeningnya semakin menebal. Cling!. Akhirnya Bocing menjawab, “boleh Bocing
searching dulu di google?.”
“Wah kelamaan Cing, keburu mati
tuh Orang.” Jawab Pak Kades tegang. “Gimana dong Mom?, Mungkin Mommy lebih tahu
cara menangani gadis itu?.”
“Mommy kan belum tahu kenapa gadis
itu mau bunuh diri?.” Jawab Mommy bingung.
“Menurut survey, 75% orang mau
bunuh diri karena frustasi, Mom.” Jawab Bocing meyakinkan.
“Weeeeih, hebat juga nih Bocing.
Baru kali ini otaknya terang.” Teriak Mahar.
“Wah menyesal nih, Jeng Mahar
menolak Bocing.” Olok mba Aciek pada Mahar.
“Oh iya Kang El mana?.” Tanya
Mommy kebingungan.
“Kang El sudah nunggu di bawah
Mom sambil berdo’a, agar orang yang bunuh diri diberikan keselamatan dan
kesehatan.” Jelas Bunda Enggar.
“Apa cukup dengan do’a saja?.”
Tanya Pak Kades Hans sambil garuk-garuk kepalanya yang gak gatal. “Ada ide gak,
bagaimana cara mencegah agar gadis itu tidak bunuh diri?.”
“Bocing nya mau gak, Pak
Kades?.” Tanya si Kutu Buku.”Cing, kamu mau gak?.”
“Mau apa. Om?.” Tanya Bocing dan
Pak Kades bersamaan.
Si Kutu Buku membisikkan sesuatu
ke telinga Bocing. Bocing manggut-manggut tanda mengerti. Pak Kades penasaran
ingin tahu, ide apa yang dibisikkan si Kutu Buku ke telinga Bocing.
“Mau Cing?.” Tanya si Kutu Buku
lagi.
Dengan semangat 45′ nya, Bocing
langsung teriak, “mau, mau, mau.”
“Mau apa sih Om?.” Tanya Pak
Kades Hans pada si Kutu Buku.
“Lihat saja aksi Bocing
selanjutnya!.” Jelas si Kutu Buku.
“Heeeeiii!, aku yang mau bunuh
diri kok, malah kalian asyik nge-gossip sih?.” Teriak si gadis itu.
Gadis itu semakin nekat,
diangkat sebelah kakinya. Kini dia hanya bertumpu pada sebelah kaki.
“Hah!.” Jantung warga desa yang
dari tadi menonton gadis itu serasa copot. Mommy menangis berpelukan
dengan Jingga. Jeng Mahar dan Aya bengong tidak tahu apa yang harus mereka
perbuat. Pak Kades menutup matanya ngeri. Kang El, melihat ke arah atas
jembatan sambil komat kamit nya dipercepat.
“Ayo, Cing, maju!. kamu pasti
bisa!.” Teriak si Kutu Buku pada Bocing.
Dengan gagahnya Bocing melangkah
maju, melewati tembok jembatan berdiri di tepian, hanya berjarak beberapa meter
saja dari gadis itu.
“Sekali lagi kamu melangkah,
saya akan terjun ke sungai.” Ancam gadis itu.
Bak seorang pahlawan dengan
macho nya Bocing menenangkan gadis itu. “Sa… sabar sayang, semua masalah kan
bisa dibicarakan. Dengan A’a Bocing disini, Insya Allah semua masalah akan
beres.”
“Sengaja A’a datang untuk
menolongmu, gadis cantik.” Kata Bocing merayu.
Di bilang cantik, wajah gadis
itu bersemu merah. “Hihihi, cuma A’a yang bilang aku cantik.”
“A’a bicara apa adanya.” Sahut
Bocing pada gadis itu. Kemudian dengan santai nya Bocing menyanyikan sebait
lagu Iwan fals.
“Salah sendiri kau gadis,
punya wajah teramat manis. Wajar saja bila ku ganggu, agar tak murung dunia…
mata indah bola ping pong ... apakah kamu sedang kosong?.”
“Hihihi, Kok A’a tahu kalau aku
sedang kosong?.” Sahut gadis itu tersipu malu. “Apa benar A’ mataku
seperti bola ping pong?.”
“Bukan hanya mata kamu, hidung
kamu, pipi kamu, telinga kamu persis bola ping pong.” Kata Bocing
merayu.
“Terus wajahku seperti apa A’?.”
Tanya gadis itu bingung.
“Meja ping pong
kaleeee.” Jawab Bocing seenaknya.
Gadis itu langsung cemberut dan
marah. “Kalau A’a bilang aku jelek lagi, maka aku tidak ragu-ragu lagi untuk
terjun ke sungai.”
“Jangan marah say,
kalau lagi cemberut gitu, A’a jadi tambah sayang deh.” Bujuk Bocing.
“Benar A’a sayang sama aku?. Apa
buktinya?.”
“Apapun yang kamu minta akan A’a
turutin.” Jawab Bocing kalem.
“Aku minta ciuman yang paling
hot dari A’a, boleh gak?.”
Plak!, Guuubbbrak!,
Toooeeeet!. Otak Bocing tiba-tiba terbuka lebar. Rejeki nomplok sayang
kalau ditolak, bisik hati Bocing.
Bocing dengan elegant
nya mendatangi gadis itu. Meraih tangannya, memeluknya … lalu mencium bibir
gadis itu dengan penuh nafsu.
“Wow, french kiss, Mom.
I like it, Mom” Sahut Jingga sambil berdesah dari kejauhan.
“french kiss itu
makanan apa sih, Jingga?.” Tanya Mommy polos.
Hampir lima belas menit mulut
mereka berpagutan tak mau lepas, seperti ular yang sedang berasyik masyuk.
Dengan nafas tersengal akhirnya
Bocing bertanya pada gadis itu. “Kalau boleh A’a tahu, sebenarnya apa yang
membuatmu ingin bunuh diri.”
“Aku benci sama Bapak dan
‘Emak!.” Jawab gadis itu ketus.
“Lah memangnya kenapa?.”
“Bapak dan ‘Emak melarangku
memakai pakaian wanita.” Terang gadis itu.
“Kenapa Bapak dan ‘Emak
melarangnya?.” Tanya Bocing bingung.
“Karena aku sebenarnya
laki-laki, A’ bukan wanita.” Jelas gadis itu kalem.
“Apaaaa?. Jadi kamu… ?.” Bocing
shock dan tidak bisa meneruskan kata-katanya.
“Masa Bocing lupa sih?. Aku dulu
kan Kang Inin…. .”
“Haaah, apa?!.” Bocing semakin
shock.
“Aaaaaauuuuuuwwww.” Untuk
menutupi malunya Bocing pun terjun dari atas jembatan.
Warga desa bingung, kenapa
Bocing yang bunuh diri?. Mereka pun banyak yang berteriak, “Booociiing.”
“Aaaaauuuuuooooo.” Tiba-tiba
saja Bang Ibay ikut terjun menyusul Bocing.
Warga Desa semakin kaget dan
bingung, kehebohan terjadi. Pak Kades bingung, Mommy dan Jingga menangis
tersedu-sedu. Kang El melongo, mulutnya tak mampu lagi melafadhz kan do’a.
Dengan kepandaian renangnya,
Bang Ibay akhirnya dapat menolong Bocing. Mengangkat Bocing yang pingsan ke
daratan.
Warga Desa berlarian ke bawah
jembatan menuju ke arah Bang Ibay yang sedang membopong Bocing.
Sebagian warga berucap
syukur dan ada juga yang bertepuk tangan atas usaha penyelamatan Bang
Ibay.
“Selamat, Bang Ibay. Untung saja
Bang Ibay mau berkorban untuk menyelamatkan Bocing.” Kata Pak Kades Hans
memberikan selamat.
“Sebentar … sebentar, Pak Kades.
Saya mau protes sama warga desa.”
“Protes apa Bang Ibay?.” Tanya
Pak Kades Hans bingung.
“Saya mau protes tadi siapa yang
jail, sudah jorokin saya ke sungai?.”
Warga Desa bingung saling
berpandangan satu sama lainnya. Dikerumunan belakang Ki Dalang cekikikan
menahan tawa.
“Kamu ya Ki Dalang!. Kamu kan
yang ada dibelakangku tadi.”
“Sudahlah Bang Ibay yang
pentingkan Bocing sudah bisa diselamatkan.” Kata mba Aciek bijak.
“Amit-amit deh!. Kalau gak di
jorokin, siapa yang mau nolongin Bocing?. Hehehehe.” Sahut Bang Ibay
berkelakar.
*****
Di tepi jembatan, Jeng Mahar dan
Aya kesal pada Kang Inin.
“Bocing yang terjun ke sungai,
kenapa celana kamu yang basah, Kang?.” Bentak Jeng Mahar.
“Kok basahnya cuma disitu doang,
Jeng?.” Tanya Aya pada Jeng Mahar.
“Apa?.” Gadis itu atau Kang Inin
jadi-jadi an langsung memeriksa celananya.
“Hah!, gak mungkiiiiinnnn!.”
Teriak Kang Inin kesal.
“Bbbuuuuarrrrh. Astaghfirulloh.”
Nafas Kang Inin tersengal-sengal, ia tersentak kaget bangun dari tidurnya.
Matahari pagi menyorot ke wajah
Kang Inin. Wah, kesiangan lagi deh subuhnya. Bisik hati Kang Inin.
Dengan berat, Kang Inin bangkit
dari tidurnya. Disingkirkannya selimut yang melingkari tubuhnya.
Hah!, Gak mungkin lah!. Begitu
jerit hati Kang Inin ketika ia meraba celana tidurnya yang basah karena
“sesuatu”.
Sesampai di kamar mandi, Kang
Inin masih bermalas-malasan. Masa sih?, gue mimpi basah sama Bocing?.
Hirrrrkkk, bergidik tengkuk Kang Inin mengingat mimpinya. Diambil nya pasta
gigi dan dioleskannya pada sikat gigi. Dengan sekuat tenaga, Kang Inin menyikat
giginya. Bukan hanya sekali, berkali-kali ia menyikat giginya namun suara
misterius itu semakin nyaring menertawakannya.
Hihihihi, biar sampai habis
odolnya Kang, kenangan buruk itu tak mudah dihapus begitu saja. Hihihihi.
****
Bunuh Diri, Kutu Kata, 221012
Ilustrasi Gambar : lintasberita.in

Tidak ada komentar:
Posting Komentar