Habis
manisnya, buang saja sampahnya. Jangan dimakan!.
_______________
Apa
gunanya syair, pantun, gurindam dan hikayat?.
Jaman
sudah berubah, budi tak lagi dijunjung.
Apa
gunanya prosa dan puisi?.
Kini
bukan jamannya lagi, bermanis-manis kata.
Apa
gunanya prosa dan puisi jika ia tak membumi?.
Dipijak
tak berharga, dijunjung tak berarah.
Sambil
memapak dodol liat dan lekat, yang menginspirasiku layaknya bak seorang
sastrawan. Sastrawan cyber, sastrawan dodol. Sastrawan dunia maya, dunia penuh
semu.
Prosa
dan puisi Balai Pustaka adalah pisau galak yang telah menikam, menyayat,
merobek-robek luka adat yang pongah, tradisi-tradisi yang telah
meng-kelas-kelas kan masyarakat.
Kesetaraan,
kesejajaran perlu diajar, agar si kaya tak lagi kurang ajar!. Itulah makanya
“Azab dan Sengsara” bagi “Siti Nurbaya” karena para petua, ninik mamak “Salah
Asuhan”. “Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan” “Cinta Yang Membawa Maut”
karena “Pertemuan Djodoh” yang “Salah Pilih”.
Apa
yang rakyat papa harapkan dari sastra?. Pujangga Baru memberikan harapan bahwa
; seni bukanlah hanya untuk seni tapi seni untuk membangun dan memberdayakan
rakyat papa.
Semoga
semangat itu bagai “Dian Yang Tak Kunjung Padam”. Bebaskan “Belenggu” yang
telah lama menjajah rakyat papa agar menjadi manusia yang “Jiwa Berjiwa”.
Semoga pencerahan ini adalah “Layar Terkembang” menuju lautan Indonesia Raya,
Indonesia Merdeka.
Apakah
romantik idealistik para pujangga baru masih dibutuhkan pada masa euforia
kemerdekaan?.
Keinginan
merdeka yang sebenar-benarnya, gejolak sosial, politik dan budaya di negeri
ini, melahirkan Angkatan ‘45 yang ingin lebih bebas berkarya sesuai dengan hati
nurani yang bergelora di alam kemerdekaan. Para sastrawannya yang melihat
persoalan hidup bukan hanya persoalan dirinya sendiri, ada persoalan
besar yaitu persoalan bangsa yang perlu diperjuangkan sehingga dibutuhkan
pemikiran-pemikiran yang realistik.
Sastra
adalah “Kerikil Tajam”, “Deru Campur Debu” yang menggelorakan amarah rakyat
papa yang t’lah lama menyekam. “Merdeka Atau Mati!”, “Mari Bung Rebut
Kembali!.”
Sastra
menjadi terkotak-kotakan, perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara
Sastrawan angkatan 50 an karena sastra telah dikebiri kedalam politik praktis.
Mereka lupa, sastra itu universal, sastra itu merdeka, sastra itu adalah
teriak-teriakan anak ‘nakal’ bukan ‘anak manis’ yang dimanja oleh partai-partai
politik. Sastra selalu ber-oposisi pada kekuasaan karena sastra adalah rakyat
papa yang tak sudi ditindas. Hanya sedikit sastrawan yang masih berfikir
realistik walaupun fikiran sosialistik sedang digandrungi karena dipercaya
sebagai jalan keluar dari kebuntuan keadilan dan kesejahteraan.
Aku
ternganga, terpana dan terbata. Ketika aku ber-sastra sambil memapak dodol.
Menulis sastra dodolku.
Setiap
menit datang dan pergi prosa dan puisi, era internet, era cybersastra kataku
bangga. Pernahkah terpikir olehku, berserakan sampah prosa dan puisi
berjejal-jejal di dunia maya?. Lantas untuk apa sastra-sastraku jika ia seperti
dodol yang habis manisnya, lalu ku buang sampahnya. Memang ada diantara kalian
yang mau makan sampahnya?.
Sastra
dodolku yang liat dan lekat, jadi lah bumi karena disini engkau lahir walau kau
hidup dan besar di dunia maya.
Sastra
dodolku jadilah pisau galak yang siap menikam, menyayat, merobek-robek
kebodohan, keserakahan dan ketidak adilan. Karena perjuangan melawan kebodohan,
keserakahan dan ketidak adilan bukan hanya milik sastrawan tempo doeloe.
Sastra
dodolku adalah teriak-teriakan rakyat papa yang tak mudah disumpal dan dijejali
alam khayali karena sastra dodolku adalah nyata, senyata dodol yang manis,
legit dan nikmat ini.
******
Kutu
Kata, Sastra Dodolku, 05072012
Ilustrasi Gambar : pacific-heart.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar