Kamis, 02 Mei 2013

Sastra Dodolku






Apa beda cybersastra dengan dodol?.
Habis manisnya, buang saja sampahnya. Jangan dimakan!.
_______________
Apa gunanya syair, pantun, gurindam dan hikayat?.
Jaman sudah berubah, budi tak lagi dijunjung.
Apa gunanya prosa dan puisi?.
Kini bukan jamannya lagi, bermanis-manis kata.
Apa gunanya prosa dan puisi jika ia tak membumi?.
Dipijak tak berharga, dijunjung tak berarah.
Sambil memapak dodol liat dan lekat, yang menginspirasiku layaknya bak seorang sastrawan. Sastrawan cyber, sastrawan dodol. Sastrawan dunia maya, dunia penuh semu.
Prosa dan puisi Balai Pustaka adalah pisau galak yang telah menikam, menyayat, merobek-robek luka adat yang pongah, tradisi-tradisi yang telah meng-kelas-kelas kan masyarakat.
Kesetaraan, kesejajaran perlu diajar, agar si kaya tak lagi kurang ajar!. Itulah makanya “Azab dan Sengsara” bagi “Siti Nurbaya” karena para petua, ninik mamak “Salah Asuhan”. “Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan” “Cinta Yang Membawa Maut” karena “Pertemuan Djodoh” yang “Salah Pilih”.
Apa yang rakyat papa harapkan dari sastra?. Pujangga Baru memberikan harapan bahwa ; seni bukanlah hanya untuk seni tapi seni untuk membangun dan memberdayakan rakyat papa.
Semoga semangat itu bagai “Dian Yang Tak Kunjung Padam”. Bebaskan “Belenggu” yang telah lama menjajah rakyat papa agar menjadi manusia yang “Jiwa Berjiwa”. Semoga pencerahan ini adalah “Layar Terkembang” menuju lautan Indonesia Raya, Indonesia Merdeka.
Apakah romantik idealistik para pujangga baru masih dibutuhkan pada masa euforia kemerdekaan?.
Keinginan merdeka yang sebenar-benarnya, gejolak sosial, politik dan budaya di negeri ini, melahirkan Angkatan ‘45 yang ingin lebih bebas berkarya sesuai dengan hati nurani yang bergelora di alam kemerdekaan. Para sastrawannya yang melihat persoalan hidup bukan hanya persoalan dirinya sendiri, ada persoalan besar  yaitu persoalan bangsa yang perlu diperjuangkan sehingga dibutuhkan pemikiran-pemikiran yang realistik.
Sastra adalah “Kerikil Tajam”, “Deru Campur Debu” yang menggelorakan amarah rakyat papa yang t’lah lama menyekam. “Merdeka Atau Mati!”, “Mari Bung Rebut Kembali!.”
Sastra menjadi terkotak-kotakan, perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara Sastrawan angkatan 50 an karena sastra telah dikebiri kedalam politik praktis. Mereka lupa, sastra itu universal, sastra itu merdeka, sastra itu adalah teriak-teriakan anak ‘nakal’ bukan ‘anak manis’ yang dimanja oleh partai-partai politik. Sastra selalu ber-oposisi pada kekuasaan karena sastra adalah rakyat papa yang tak sudi ditindas. Hanya sedikit sastrawan yang masih berfikir realistik walaupun fikiran sosialistik sedang digandrungi karena dipercaya sebagai jalan keluar dari kebuntuan keadilan dan kesejahteraan.
Aku ternganga, terpana dan terbata. Ketika aku ber-sastra sambil memapak dodol. Menulis sastra dodolku.
Setiap menit datang dan pergi prosa dan puisi, era internet, era cybersastra kataku bangga. Pernahkah terpikir olehku, berserakan sampah prosa dan puisi berjejal-jejal di dunia maya?. Lantas untuk apa sastra-sastraku jika ia seperti dodol yang habis manisnya, lalu ku buang sampahnya. Memang ada diantara kalian yang mau makan sampahnya?.
Sastra dodolku yang liat dan lekat, jadi lah bumi karena disini engkau lahir walau kau hidup dan besar di dunia maya.
Sastra dodolku jadilah pisau galak yang siap menikam, menyayat, merobek-robek kebodohan, keserakahan dan ketidak adilan. Karena perjuangan melawan kebodohan, keserakahan dan ketidak adilan bukan hanya milik sastrawan tempo doeloe.
Sastra dodolku adalah teriak-teriakan rakyat papa yang tak mudah disumpal dan dijejali alam khayali karena sastra dodolku adalah nyata, senyata dodol yang manis, legit dan nikmat ini.

******
Kutu Kata, Sastra Dodolku, 05072012

Ilustrasi Gambar : pacific-heart.blogspot.com

Tidak ada komentar: