Aku ingin menulis puisi.
Puisi yang membumi. Bukan puisi cinta-cintaan dengan kata-kata yang menjuntai lebai.
Rima puisi yang mengetuk hati. Irama sumbang yang
tak enak didengar. Diksi yang tak mengaburkan isi karena esensi lebih penting
dari sekedar diksi. Dengan alur puisi yang membuatmu
ternganga,terpana,terbata-bata kehilangan kata. Karena aku adalah penyair
realistik bukan romantik.
Hei,penyair roman picisan!. Bacalah puisiku,
kritisi dengan belati jiwamu agar pikiranmu tak picis.
Tok!,Tok!,Tok!.
Kuketuk kebebalan Tuan.
Tetap tak terdengar.
Gubbbrrraaak!.
Kutendang pintu ketamakan Tuan.
Masa bodo, tetap tak bersahut.
Masih pantaskah kusebut Tuan, manusia bertelinga?.
Atau Tuan adalah hewan bertelinga yang mengaku-aku manusia?.
Dimana Tuan rebahkan nurani Tuan?.
Berleha-leha dihotel-hotel bintang lima bersama para lady escort dan wanita panggilan kelas tinggi yang mengaku mahasiswi?.
Dimana Tuan sematkan lencana hormat bersepuh emas miliki Tuan?.
Dikantung-kantung celana para calo yang tak mengenakan celana dalam.
Dimana jas safari Tuan gantungkan?.
Dipundak-pundak para mafia bertanduk. Sebenarnya Tuan atau para mafia itu yang mafia?.
Kuketuk kebebalan Tuan.
Tetap tak terdengar.
Gubbbrrraaak!.
Kutendang pintu ketamakan Tuan.
Masa bodo, tetap tak bersahut.
Masih pantaskah kusebut Tuan, manusia bertelinga?.
Atau Tuan adalah hewan bertelinga yang mengaku-aku manusia?.
Dimana Tuan rebahkan nurani Tuan?.
Berleha-leha dihotel-hotel bintang lima bersama para lady escort dan wanita panggilan kelas tinggi yang mengaku mahasiswi?.
Dimana Tuan sematkan lencana hormat bersepuh emas miliki Tuan?.
Dikantung-kantung celana para calo yang tak mengenakan celana dalam.
Dimana jas safari Tuan gantungkan?.
Dipundak-pundak para mafia bertanduk. Sebenarnya Tuan atau para mafia itu yang mafia?.
Ah,sebenarnya aku sudah alergi membuat puisi dodol
ini. Karena hanya jadi bahan canda dan tawaan Tuan-Tuan saja.
Sambil bercerutu ria, memicingkan mata memandangku hina.
Sial!, Kampret!, Sontoloyo!. Dasar bajingan!. Semua caci maki dan sumpah serapahku hanya menampar angin.
Dan Tuan-Tuan tetap saja “The Untouchable”.
Sambil bercerutu ria, memicingkan mata memandangku hina.
Sial!, Kampret!, Sontoloyo!. Dasar bajingan!. Semua caci maki dan sumpah serapahku hanya menampar angin.
Dan Tuan-Tuan tetap saja “The Untouchable”.
Hukum yang lemah syahwat. Para pemuka agama yang
sibuk meninggikan sorban dan jubah. Sementara anak ayam t’lah kehilangan induk.
Pengadilan jalanan.
Lumpur Lapindo yang t’lah menenggalamkan
nyawa,harta dan cita-cita mereka. Tuan bilang itu fenomena alam.
Para pedagang liar yang terpaksa berkaki lima karena tak ada lagi pilihan, Tuan tindas karena pandang tak sedap dimata Tuan.
Tuan terus sibuk bersolek diri, menutupi kerut dan keriput di jiwa Tuan.
Tuan terus sibuk mencitrakan diri, mengharapkan piala citra juga Tuan?.
Hei!, sebentar lagi kampanye!. Mari kita tebar pesona dan bodohi rakyat lagi!. Cuma itu yang ada dibenak Tuan-Tuan yang terhormat?.
Para pedagang liar yang terpaksa berkaki lima karena tak ada lagi pilihan, Tuan tindas karena pandang tak sedap dimata Tuan.
Tuan terus sibuk bersolek diri, menutupi kerut dan keriput di jiwa Tuan.
Tuan terus sibuk mencitrakan diri, mengharapkan piala citra juga Tuan?.
Hei!, sebentar lagi kampanye!. Mari kita tebar pesona dan bodohi rakyat lagi!. Cuma itu yang ada dibenak Tuan-Tuan yang terhormat?.
Bagaimana dengan nasib saudara-saudara kita yang
hidup diperbatasan?.
Bagaimana dengan nasib saudara-saudara kita yang hidup didaerah tertinggal?.
Mereka ingin merdeka seperti Tuan!.
Mereka ingin merdeka yang kedua kali!. Merdeka yang mereka ciptakan sendiri.
Bagaimana dengan nasib saudara-saudara kita yang hidup didaerah tertinggal?.
Mereka ingin merdeka seperti Tuan!.
Mereka ingin merdeka yang kedua kali!. Merdeka yang mereka ciptakan sendiri.
Bukan dengan nurani, Desintegrasi Tuan libas.
Sehingga dengan sendirinya jiwa-jiwa mereka telah ter-desintegrasi dengan Tuan yang tak berjiwa.
Sehingga dengan sendirinya mereka rela mengangkat senjata karena Tuan t’lah memerangi mereka.
Sehingga dengan sendirinya jiwa-jiwa mereka telah ter-desintegrasi dengan Tuan yang tak berjiwa.
Sehingga dengan sendirinya mereka rela mengangkat senjata karena Tuan t’lah memerangi mereka.
Tuan-Tuan “The Untouchable” sengaja kuberi judul
puisi dodol karena Tuan-Tuan adalah dodol.
Ma’afkan aku yang tidak hormat pada Tuan karena Tuan telah lebih dulu menjual kehormatan Tuan sendiri.
Ma’afkan puisiku yang apa adanya karena Tuan telah lebih dulu menjual segalanya kekayaan bangsa.
Ma’afkan aku yang tidak hormat pada Tuan karena Tuan telah lebih dulu menjual kehormatan Tuan sendiri.
Ma’afkan puisiku yang apa adanya karena Tuan telah lebih dulu menjual segalanya kekayaan bangsa.
Pembalakan liar masih terus berlangsung.
Penggelapan pajak malah semakin marak.
Pengangguran dan lowongan kerja yang tidak berbanding lurus.
Penculikan bayi.
Perkosaan di angkot.
Pembongkaran paksa gubuk-gubuk liar.
Pengemis dan gelandangan yang menjadi profesi.
Penggelapan pajak malah semakin marak.
Pengangguran dan lowongan kerja yang tidak berbanding lurus.
Penculikan bayi.
Perkosaan di angkot.
Pembongkaran paksa gubuk-gubuk liar.
Pengemis dan gelandangan yang menjadi profesi.
Urut-urutan permasalahan yang terus memanjang.
Entah, bagaimana harus ku akhiri puisi dodol ini?.
Tanpa salam dan terima kasih.
Karena puisi ini akan terus hidup selama Tuan-Tuan memilih menjadi lawan dan bukan kawan kebenaran.
Entah, bagaimana harus ku akhiri puisi dodol ini?.
Tanpa salam dan terima kasih.
Karena puisi ini akan terus hidup selama Tuan-Tuan memilih menjadi lawan dan bukan kawan kebenaran.
Hei Tuan-Tuan!, Go to hell!, tunggu saja
puisi-puisi dodolku selanjutnya yang akan menohok, menampar, menjambak dan
menendang Tuan-Tuan.
Ku berkata sambil memicingkan mata memandang mereka hina.
Ku berkata sambil memicingkan mata memandang mereka hina.
*****
Kutu Kata, Puisi
Dodol, 07072012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar