Kamis, 02 Mei 2013

Labirin




Aneh?. Senyum yang aneh. Seringai nya membuatku takut. Jhon Cusack, pria tambun dengan gigi-giginya yang kuning akibat nikotin. Aku tidak tahu, apa alasan Mama menerima Jhon Cusack sebagai pacarnya.
Sophia, Jhon adalah pemilik cafĂ©’ tempatku bekerja. Ini hanya sementara, Sophia. Sampai aku dapat pekerjaan lain.
Aku diam saja mendengar penjelasan Mama. Tapi, Ma. Sampai kapan?. Senyumnya yang aneh membuatku takut.
Mama menuangkan crackers dan susu kedalam mangkuk.
“Habiskan, Sophia!. Aku paling tidak suka kalau sarapanmu bersisa. Kamu tidak tahukan bagaimana sulitnya mencari uang.”
Aku hanya memandangi mangkuk yang membosankan itu. Sesekali melihat Mama menyiapkan kopi untuk pacarnya.
“Sophia!, ayo cepat dimakan.”
“Jhon, aku tinggalkan Sophia padamu. Sedikit saja kau sentuh anakku. Akan aku bunuh kamu, Jhon!.” Teriak Mama pada pacarnya.
Aku melirik ke arah Jhon. Gigi nya yang kuning dan seringai senyumnya yang membuatku takuit. Secepatnya, aku habiskan crackers dan susu itu. Aku ingin secepatnya keluar rumah dan bermain-main di hutan Oak.
“Apa yang kamu resahkan, Helena. Anakmu adalah anakku juga. Aku juga menyayangi, Sophia.” Kata Jhon lembut.
“Sophia, kamu jangan bermain-main di hutan itu. Habiskan waktu di rumah saja. Kamu bisa bermalas-malasan di kamarmu, bermain bersama Barbie.”
Aku benci dengan larangan Mama agar aku tidak bermain-main dihutan. Setiap Sabtu dan Minggu, Jhon Cusack menginap di rumahku. Sabtu, Mama tetap masuk kerja. Jadi setiap Sabtu cuma aku dan Jhon yang ada di rumah. Kecuali Minggu, Mama menghabiskan waktu bersama Jhon, hampir seharian. Hanya sesekali saja, Mama atau Jhon keluar kamar karena keperluan lain.
Setiap Sabtu dan terkadang Minggu, aku bermain-main di hutan Oaks. Dan sekarang aku sudah punya teman seekor kupu-kupu hitam yang aku panggil peri. Aku bebas bernyanyi-nyanyi dan menari-nari, bertiga, aku, my Barbie dan peri. Setiap aku membutuhkan, peri selalu datang menghiburku. Dan my Barbie teman sejatiku.
Sabtu ini, Mama sudah berangkat kerja. Tinggal aku dan Jhon Cusack di rumah. Suasana sepi beberapa saat. Aku bermain dengan my Barbie di kamar. Dan Jhon, mungkin saja di ruang tengah menonton pertandingan softball, kesukaannya.
Tok, Tok, Tok.
Ah, siapa yang mengetuk pintu kamarku. Aku beringsut ketika ketakutan mulai menyergapku. Mungkinkah, Jhon?. Aku takut, Jhon merngancamku lagi. Awas Sophia, kalau kau cerita pada Mamamu, akan aku bunuh kau, Sophia.
“Sophia!, Sophia!.”
Bukan hanya sekali, Jhon mengancamku. Setiap “saat” Jhon mengancamku. Setiap ia selesai mengerjakan keinginannya. Awal, dipanggilnya aku. Lalu Jhon memberi strawberry candy kesukaanku. Akhirnya aku punya Papa lagi yang akan menyayangiku. Aku pun langsung bermanja-manja dipangkuan Jhon, terkadang Jhon memeluk dan menggelitikku. Aku pun tertawa-tawa ceria karena Jhon bisa menjadi teman candaku.
Anggapanku ternyata salah. Jhon melakukan itu bukan karena sayang padaku yang dianggap sebagai anaknya. Lama kelamaan, apa yang dilakukan Jhon menjadi suatu hal yang aneh buat gadis kecil sepertiku. Jhon melucuti pakaianku, hingga tinggal kaus dalam dan celana dalam. Meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh. Menggesek-gesekkan tangannya pada tempat pipisku. Jhon tersenyum, seringai nya aneh. Gigi-gigi kuningnya tampak jelas. Tangan kirinya ditubuhku dan tangan kanannya melakukan “sesuatu” pada alat kelaminnya. Beberapa saat, hingga akhirnya Jhon mendesah kelelahan. Setelah itu, Jhon mengancamku lalu menyuruhku kembali kekamar.
Bukan hanya sekali itu. Setiap ada kesempatan, Jhon melakukan itu. Bahkan perbuatan aneh Jhon itu semakin membuatku takut.
“Sophia!, Sophia!.” Jhon memanggilku lagi.
Aku beringsut ke arah sudut. Tanpa sadar, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Tapi aku menggigil. Dan semakin menggigil.
“Buka pintunya, Sophia!, atau aku dobrak pintu ini!.”
Aku ketakutan. Tapi aku lebih takut lagi pada ancaman Jhon. Aku pun membuka pintu kamarku.
Jhon sempoyongan masuk kemarku. Bau alkohol tajam tercium. Oh, iya Jhon bukan hanya seorang perokok berat. Jhon juga seorang peminum beer yang gila.
Jhon duduk di tepi tempat tidurku.
“Kemarilah Sophia, aku sayang kamu. Kemarilah!. Hei, kenapa mukamu pucat sekali. Apakah kau sedang melihat hantu?.”
Ya, aku sedang melihat hantu, Jhon. Bisik hatiku. Aku menepi bersandar di meja bufet, tempat TV.
“Apakah aku harus selalu meminta padamu, Sophia?. Mestinya kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan setiap aku datang padamu.”
Aku muak mendengar kata-kata itu.
“Apakah aku harus memukulmu dulu, Sophia hingga kau menjadi anak yang penurut.”
Biasanya aku takut kalau mendengar kata-kata itu. Kali ini tidak, aku tidak mau, tidak mau. Aku semakin rapat dengan lemari bufet.
Jhon dengan gontai menghampiriku. Bau beer dari mulutnya semakin memenuhi ruang. Aku takut. Sungguh aku takut.
Jhon memegang pundakku. Mencubit pipiku. “Hei, pucat sekali kau, Sophia.”
Jhon mulai membuka ikatan tali-tali bajuku. Aku menggigil.
“Hei kamu pipis ya?, hehe hehe hehe.”
Tanpa kusadari, aku benar-benar telah pipis di celana. Mungkin karena ketakutan yang sangat.
Jhon mulai merunduk. Ia ingin melepas tali-tali di rokku. Aku mundur selangkah. Entah apa yang terlintas dalam pikiranku, aku meraih vas bunga violet kesukaan Mama yang ada diatas TV. Aku membenturkan vas bunga itu dengan sekeras-kerasnya ke kepala Jhon. Jhon langsung tersungkur, rebah tak sadarkan diri.
Aku bergegas turun. Aku akan lari ke hutan mengadu pada peri, berharap peri bisa menolongku. Aku menuruni tangga dengan tergesa. Ketika sampai ruang bawah, aku baru ingat. Oh my Barbie tertinggal di kamar. Tak mungkin aku meninggalkan, my Barbie bersama laki-laki setan itu. Aku pun menaiki tangga kembali, masuk kembali kekamar. Dimana my Barbie?. Aku lupa menaruhnya dimana?. Di tempat tidur tidak ada, di meja sudut tidak ada. Aku lihat my Barbie tertindih di kaki Jhon. Oh, my Barbie, kasihan kamu.
Aku menggeser-geser kaki Jhon. Tubuhnya yang tambun dan sudah barang tentu, kakinya pun penuh dengan gumpalan daging dan lemak. Dengan sekuat tenaga, aku bisa melepaskan my Barbie dari siksaan kakinya Jhon. Baru saja, aku mau lari. Tangan Jhon mencengkeram kaki kiriku. Secepat kilat, kaki kananku menginjak kepala Jhon hingga kaki kiriku terlepas dari cengkeramannya. Ayo, my Barbie kita lari.
Aku menuruni tangga dengan cepat. Dengan terhuyung Jhon mulai bangkit. Aku sudah keluar rumah sementara Jhon baru menuruni tangga. Aku terus berlari ke arah hutan. Peri!, peri tolonglah aku.
Jhon mengejarku dengan senapan berburunya.
“Sophia!. Sophia!.”
Peri!, peri tolonglah aku!. Peri datanglah!, datanglah padaku sekarang juga. Aku memegang kuat-kuat my Barbie seolah tak mau berpisah dengannya.
Seekor kupu-kupu hitam yang ku panggil peri mengajakku masuk kedalam sebuah lubang. Lubang yang sangat dalam dan gelap. Oh, mungkinkah ini labirin yang pernah Mama ceritakan.
Sampai di dasar labirin, ada ruang terang yang biasa disebut singgasana raja, kata peri. Sang raja dan ratu yang berduka kini ceria kembali. Menyambut kedatangan kembali puterinya. Seluruh penduduk labirin menyambutku bagai seorang puteri raja. Aneh, seluruh penduduknya adalah makhluk bersayap. Hanya raja dan ratu, manusia persis sepertiku.
“Wahai raja, janganlah engkau terus berduka. Aku telah membawa puterimu kembali.” Kata peri pada sang raja.
“Sambutlah wahai ratu, Sophia Selonica, puteri kesayanganmu.” Kata peri pada sang ratu.
Hei, aku Sophia Gomes bukan Sophia Selonica. Mungkin kau telah salah orang. Kata-kata itu hanya menggantung di bibirku saja.
“Kemarilah, Nak. Aku sudah bilang janganlah kau bermain-main di dunia atas. Dunia manusia. Dunia yang kejam dan fana. Bukankah di labirin ini, kita akan hidup bahagia selama-lamanya.” Kata sang raja padaku.
“Di labirin ini tak ada sakit dan kesedihan, selalu penuh kebahagiaan dan kesenangan. Kita akan abadi disini. Tak usah lagi kau pergi ke dunia atas.” Bujuk sang ratu.
Aku menghampiri sang raja dan ratu. Mereka memelukku hangat. “Selamat kembali, puteriku.”
“Wahai penduduk labirin, sambutlah tuan puteri Sophia Selonica.”
Para penduduk labirin pun bersenang-senang dengan makanan dan minuman yang berlimpah ruah. Aku benar-benar diperlakukan sebagai seorang puteri raja. Aku senang, aku bahagia disini. Tidak perlu takut bertemu Jhon lagi. Bagaimana dengan Mama?, Ah, Mama lebih perduli pada Jhon, pacarnya dibanding padaku.
*****
Sudah hampir seminggu para polisi menyusuri hutan mencari seorang gadis berumur 13 tahun yang hilang.
Pas hari ke tujuh, tinggal menyisakan dua unit polisi dilengkapi dengan anjing pelacak yang masih melakukan pencarian.
Seekor anjing pelacak, mengorek-korek gundukan tanah dengan cakarnya.
Kemudian anjing pelacak itu, menggonggong-gonggong beberapa kali. Nampak tersembul beberapa helai rambut berwarna blonde dari gundukan tanah yang berantakan karena dikorek anjing pelacak. Polisi bergegas menuju ke lokasi tempat anjing itu berisik. Seorang polisi lain, sibuk melapor dengan radionya. Seorang ibu dengan tatapan sedih menatap polisi yang mulai mengorek gundukan tanah.
“Nyonya Helena, benar boneka ini milik anak Nyonya?.” Tanya seorang polisi.
“Oh, Sophia.” Helena mengangguk mengiyakan.
Setelah ditemukan sebuah boneka Barbie yang di identifikasi milik seorang gadis bernama Sophia. Beberapa polisi melakukan penggalian dengan menggunakan sekop. Sampai kedalaman dua meter tidak ditemukan apa-apa. Atas permintaan seorang ibu, tim polisi pun menurunkan alat berat backhoe untuk melakukan penggalian. Sampai kedalaman dan lebar seperti kolam renang, tetap tidak ditemukan apa-apa.
Dikantor polisi, berkas-berkas tentang Sophia Gomes, masuk kedalam arsip daftar orang-orang hilang.

*****

Kutu Kata si Kutu Buku Rangkat, Labirin, 26052012

Ilustrasi Gambar : www.etsy.com


Tidak ada komentar: