Aneh?. Senyum yang aneh. Seringai nya membuatku takut. Jhon Cusack, pria tambun dengan gigi-giginya yang kuning akibat nikotin. Aku tidak tahu, apa alasan Mama menerima Jhon Cusack sebagai pacarnya.
Sophia, Jhon adalah pemilik cafĂ©’
tempatku bekerja. Ini hanya sementara, Sophia. Sampai aku dapat pekerjaan lain.
Aku diam saja mendengar
penjelasan Mama. Tapi, Ma. Sampai kapan?. Senyumnya yang aneh membuatku takut.
Mama menuangkan crackers dan
susu kedalam mangkuk.
“Habiskan, Sophia!. Aku paling
tidak suka kalau sarapanmu bersisa. Kamu tidak tahukan bagaimana sulitnya
mencari uang.”
Aku hanya memandangi mangkuk
yang membosankan itu. Sesekali melihat Mama menyiapkan kopi untuk pacarnya.
“Sophia!, ayo cepat dimakan.”
“Jhon, aku tinggalkan Sophia
padamu. Sedikit saja kau sentuh anakku. Akan aku bunuh kamu, Jhon!.” Teriak
Mama pada pacarnya.
Aku melirik ke arah Jhon. Gigi
nya yang kuning dan seringai senyumnya yang membuatku takuit. Secepatnya, aku
habiskan crackers dan susu itu. Aku ingin secepatnya keluar rumah dan
bermain-main di hutan Oak.
“Apa yang kamu resahkan, Helena.
Anakmu adalah anakku juga. Aku juga menyayangi, Sophia.” Kata Jhon lembut.
“Sophia, kamu jangan
bermain-main di hutan itu. Habiskan waktu di rumah saja. Kamu bisa
bermalas-malasan di kamarmu, bermain bersama Barbie.”
Aku benci dengan larangan Mama
agar aku tidak bermain-main dihutan. Setiap Sabtu dan Minggu, Jhon Cusack
menginap di rumahku. Sabtu, Mama tetap masuk kerja. Jadi setiap Sabtu cuma aku
dan Jhon yang ada di rumah. Kecuali Minggu, Mama menghabiskan waktu bersama
Jhon, hampir seharian. Hanya sesekali saja, Mama atau Jhon keluar kamar karena
keperluan lain.
Setiap Sabtu dan terkadang
Minggu, aku bermain-main di hutan Oaks. Dan sekarang aku sudah punya teman
seekor kupu-kupu hitam yang aku panggil peri. Aku bebas bernyanyi-nyanyi
dan menari-nari, bertiga, aku, my Barbie dan peri. Setiap aku
membutuhkan, peri selalu datang menghiburku. Dan my Barbie teman
sejatiku.
Sabtu ini, Mama sudah berangkat
kerja. Tinggal aku dan Jhon Cusack di rumah. Suasana sepi beberapa saat. Aku
bermain dengan my Barbie di kamar. Dan Jhon, mungkin saja di ruang
tengah menonton pertandingan softball, kesukaannya.
Tok, Tok, Tok.
Ah, siapa yang mengetuk pintu
kamarku. Aku beringsut ketika ketakutan mulai menyergapku. Mungkinkah, Jhon?.
Aku takut, Jhon merngancamku lagi. Awas Sophia, kalau kau cerita pada Mamamu,
akan aku bunuh kau, Sophia.
“Sophia!, Sophia!.”
Bukan hanya sekali, Jhon
mengancamku. Setiap “saat” Jhon mengancamku. Setiap ia selesai mengerjakan
keinginannya. Awal, dipanggilnya aku. Lalu Jhon memberi strawberry candy kesukaanku.
Akhirnya aku punya Papa lagi yang akan menyayangiku. Aku pun langsung
bermanja-manja dipangkuan Jhon, terkadang Jhon memeluk dan menggelitikku. Aku
pun tertawa-tawa ceria karena Jhon bisa menjadi teman candaku.
Anggapanku ternyata salah. Jhon
melakukan itu bukan karena sayang padaku yang dianggap sebagai anaknya. Lama
kelamaan, apa yang dilakukan Jhon menjadi suatu hal yang aneh buat gadis kecil
sepertiku. Jhon melucuti pakaianku, hingga tinggal kaus dalam dan celana dalam.
Meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh. Menggesek-gesekkan tangannya pada
tempat pipisku. Jhon tersenyum, seringai nya aneh. Gigi-gigi kuningnya tampak
jelas. Tangan kirinya ditubuhku dan tangan kanannya melakukan “sesuatu” pada
alat kelaminnya. Beberapa saat, hingga akhirnya Jhon mendesah kelelahan.
Setelah itu, Jhon mengancamku lalu menyuruhku kembali kekamar.
Bukan hanya sekali itu. Setiap
ada kesempatan, Jhon melakukan itu. Bahkan perbuatan aneh Jhon itu semakin
membuatku takut.
“Sophia!, Sophia!.” Jhon
memanggilku lagi.
Aku beringsut ke arah sudut.
Tanpa sadar, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Tapi aku menggigil.
Dan semakin menggigil.
“Buka pintunya, Sophia!, atau
aku dobrak pintu ini!.”
Aku ketakutan. Tapi aku lebih
takut lagi pada ancaman Jhon. Aku pun membuka pintu kamarku.
Jhon sempoyongan masuk kemarku.
Bau alkohol tajam tercium. Oh, iya Jhon bukan hanya seorang perokok berat. Jhon
juga seorang peminum beer yang gila.
Jhon duduk di tepi tempat
tidurku.
“Kemarilah Sophia, aku sayang
kamu. Kemarilah!. Hei, kenapa mukamu pucat sekali. Apakah kau sedang melihat
hantu?.”
Ya, aku sedang melihat hantu,
Jhon. Bisik hatiku. Aku menepi bersandar di meja bufet, tempat TV.
“Apakah aku harus selalu meminta
padamu, Sophia?. Mestinya kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan setiap aku
datang padamu.”
Aku muak mendengar kata-kata
itu.
“Apakah aku harus memukulmu
dulu, Sophia hingga kau menjadi anak yang penurut.”
Biasanya aku takut kalau
mendengar kata-kata itu. Kali ini tidak, aku tidak mau, tidak mau. Aku semakin
rapat dengan lemari bufet.
Jhon dengan gontai
menghampiriku. Bau beer dari mulutnya semakin memenuhi ruang. Aku takut.
Sungguh aku takut.
Jhon memegang pundakku. Mencubit
pipiku. “Hei, pucat sekali kau, Sophia.”
Jhon mulai membuka ikatan
tali-tali bajuku. Aku menggigil.
“Hei kamu pipis ya?, hehe hehe
hehe.”
Tanpa kusadari, aku benar-benar
telah pipis di celana. Mungkin karena ketakutan yang sangat.
Jhon mulai merunduk. Ia ingin
melepas tali-tali di rokku. Aku mundur selangkah. Entah apa yang terlintas
dalam pikiranku, aku meraih vas bunga violet kesukaan Mama yang ada
diatas TV. Aku membenturkan vas bunga itu dengan sekeras-kerasnya ke kepala
Jhon. Jhon langsung tersungkur, rebah tak sadarkan diri.
Aku bergegas turun. Aku akan
lari ke hutan mengadu pada peri, berharap peri bisa menolongku.
Aku menuruni tangga dengan tergesa. Ketika sampai ruang bawah, aku baru ingat.
Oh my Barbie tertinggal di kamar. Tak mungkin aku meninggalkan, my
Barbie bersama laki-laki setan itu. Aku pun menaiki tangga kembali, masuk
kembali kekamar. Dimana my Barbie?. Aku lupa menaruhnya dimana?. Di
tempat tidur tidak ada, di meja sudut tidak ada. Aku lihat my Barbie
tertindih di kaki Jhon. Oh, my Barbie, kasihan kamu.
Aku menggeser-geser kaki Jhon.
Tubuhnya yang tambun dan sudah barang tentu, kakinya pun penuh dengan gumpalan
daging dan lemak. Dengan sekuat tenaga, aku bisa melepaskan my Barbie
dari siksaan kakinya Jhon. Baru saja, aku mau lari. Tangan Jhon mencengkeram
kaki kiriku. Secepat kilat, kaki kananku menginjak kepala Jhon hingga kaki
kiriku terlepas dari cengkeramannya. Ayo, my Barbie kita lari.
Aku menuruni tangga dengan cepat.
Dengan terhuyung Jhon mulai bangkit. Aku sudah keluar rumah sementara Jhon baru
menuruni tangga. Aku terus berlari ke arah hutan. Peri!, peri
tolonglah aku.
Jhon mengejarku dengan senapan
berburunya.
“Sophia!. Sophia!.”
Peri!, peri
tolonglah aku!. Peri datanglah!, datanglah padaku sekarang juga. Aku
memegang kuat-kuat my Barbie seolah tak mau berpisah dengannya.
Seekor kupu-kupu hitam yang ku
panggil peri mengajakku masuk kedalam sebuah lubang. Lubang yang sangat dalam
dan gelap. Oh, mungkinkah ini labirin yang pernah Mama ceritakan.
Sampai di dasar labirin, ada
ruang terang yang biasa disebut singgasana raja, kata peri. Sang
raja dan ratu yang berduka kini ceria kembali. Menyambut kedatangan kembali
puterinya. Seluruh penduduk labirin menyambutku bagai seorang puteri
raja. Aneh, seluruh penduduknya adalah makhluk bersayap. Hanya raja dan ratu,
manusia persis sepertiku.
“Wahai raja, janganlah engkau
terus berduka. Aku telah membawa puterimu kembali.” Kata peri pada sang raja.
“Sambutlah wahai ratu, Sophia Selonica,
puteri kesayanganmu.” Kata peri pada sang ratu.
Hei, aku Sophia Gomes bukan
Sophia Selonica. Mungkin kau telah salah orang. Kata-kata itu hanya menggantung
di bibirku saja.
“Kemarilah, Nak. Aku sudah
bilang janganlah kau bermain-main di dunia atas. Dunia manusia. Dunia yang
kejam dan fana. Bukankah di labirin ini, kita akan hidup bahagia
selama-lamanya.” Kata sang raja padaku.
“Di labirin ini tak ada sakit
dan kesedihan, selalu penuh kebahagiaan dan kesenangan. Kita akan abadi disini.
Tak usah lagi kau pergi ke dunia atas.” Bujuk sang ratu.
Aku menghampiri sang raja dan
ratu. Mereka memelukku hangat. “Selamat kembali, puteriku.”
“Wahai penduduk labirin,
sambutlah tuan puteri Sophia Selonica.”
Para penduduk labirin pun
bersenang-senang dengan makanan dan minuman yang berlimpah ruah. Aku
benar-benar diperlakukan sebagai seorang puteri raja. Aku senang, aku bahagia
disini. Tidak perlu takut bertemu Jhon lagi. Bagaimana dengan Mama?, Ah, Mama
lebih perduli pada Jhon, pacarnya dibanding padaku.
*****
Sudah hampir seminggu para
polisi menyusuri hutan mencari seorang gadis berumur 13 tahun yang hilang.
Pas hari ke tujuh, tinggal
menyisakan dua unit polisi dilengkapi dengan anjing pelacak yang masih
melakukan pencarian.
Seekor anjing pelacak,
mengorek-korek gundukan tanah dengan cakarnya.
Kemudian anjing pelacak itu,
menggonggong-gonggong beberapa kali. Nampak tersembul beberapa helai rambut
berwarna blonde dari gundukan tanah yang berantakan karena dikorek
anjing pelacak. Polisi bergegas menuju ke lokasi tempat anjing itu berisik.
Seorang polisi lain, sibuk melapor dengan radionya. Seorang ibu dengan tatapan
sedih menatap polisi yang mulai mengorek gundukan tanah.
“Nyonya Helena, benar boneka ini
milik anak Nyonya?.” Tanya seorang polisi.
“Oh, Sophia.” Helena mengangguk
mengiyakan.
Setelah ditemukan sebuah boneka
Barbie yang di identifikasi milik seorang gadis bernama Sophia. Beberapa polisi
melakukan penggalian dengan menggunakan sekop. Sampai kedalaman dua meter tidak
ditemukan apa-apa. Atas permintaan seorang ibu, tim polisi pun menurunkan alat
berat backhoe untuk melakukan penggalian. Sampai kedalaman dan lebar
seperti kolam renang, tetap tidak ditemukan apa-apa.
Dikantor polisi, berkas-berkas
tentang Sophia Gomes, masuk kedalam arsip daftar orang-orang hilang.
*****
Kutu Kata si Kutu Buku
Rangkat, Labirin, 26052012
Ilustrasi Gambar : www.etsy.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar