Kamis, 02 Mei 2013

Lelaki Yang Hanya Mengenal Tanda Seru





Apa kabar sayang!.
Sudah makan siang!!!.
Lelaki yang hanya mengenal tanda seru (!). Aku sebut saja si Tanda Seru.
Apa disekolah dulu dia tidak pernah diajarkan tanda baca?. Masa tidak bisa membedakan kapan tanda seru (!) atau tanda tanya (?) dipakai.
Kalimat yang harusnya cukup di akhiri dengan titik saja, kenapa harus diakhiri dengan tanda seru?.
Aku ingin jadi penulis!. Karena mencintaimu adalah sumber inspirasiku!. Begitu isi sms yang baru kuterima beberapa menit yang lalu dari laki-laki si Tanda Seru.
Terserah saja, dia mau jadi penulis atau jadi apapun, bukan urusanku!. Aku tak perduli. Aku tegaskan sekali lagi karena aku bukanlah “siapa-siapa” nya dia. Secuilpun aku tidak ada rasa padanya.
Tentang sms-sms nya, masa sih dia tidak ‘peka?. Sejak dia nyatakan cinta, sejak itu pula aku muak untuk membalas smsnya. Apakah tidak terkesan kasar jika aku katakan bahwa aku tidak mencintainya. Bahkan aku hampir benci dengan ulahnya yang keterlaluan. Bahasa tubuhku sudah katakan tapi dia tetap saja bebal mencintaiku. Cinta itu buta, seperti katanya. Tapi buatku, dia bukan hanya buta tapi juga tuli dan bisu.
Terpaksa aku bicara apa adanya, karena rasa percaya dirinya membunuh rasa sadar dirinya. Awalnya kami adalah teman semasa kecil, sekarangpun masih tetap teman dan sampai kapanpun ‘gak lebih dan ‘gak kurang, dia hanyalah teman. Sebentar lagi, akan aku putuskan pertemanan dengannya, aku muak melihat seringai senyumnya. Rasanya mau muntah atas segala perhatiannya padaku.
“Sabarlah, Ruth.” Kata Jo padaku,”kenapa kamu tidak terus terang saja Ruth?. Jelaskan yang sebenarnya bagaimana perasaanmu padanya!.”
Sama sekali Jo tidak gusar dengan kegalauanku. Mengapa Jo begitu dingin?. Apakah Jo senang kalau aku jadian dengan si Tanda Seru itu?.
“Jo … “
“Ya, Ruth.” Sahut Jo sambil matanya tidak lepas dari monitor PC nya. “Sorry ya Ruth, aku sambil kerja, banyak laporan yang harus ku laporkan pada Boss awal bulan ini.”
“Ya, nama nya juga anak buah, harus siap disuruh apa saja, hehehe… .” Kata Jo lagi.
Kenapa Jo mengalihkan pembicaraan?. Apakah masalahku tidak penting buat Jo?. Ah, Jo, kau sama saja dengan lelaki si Tanda Seru itu. Apakah semua laki-laki memang tidak peka terhadap bahasa cinta dari lawan jenisnya?. Egois!.
“Jo, nanti pulang kerja kita ke café’ yuk?.”
“Aku pulangnya mungkin telat, Ruth. Kamu mau nunggu?.”
“He eh.” Aku mengiyakan. Menunggu seabad pun akan aku lakukan. Demi kamu, Jo. Sumringahku dalam hati.
“OK, Jo, semoga pekerjaannya cepat beres dan kita bisa cepat meluncur ke café’.”
“OK, Ruth, Thanx ya.”
Jo adalah teman sekerjaku cuma beda divisi. Jo di divisi IT sedangkan aku di Accounting. Kalau ada trouble pada PC kantor, Jo selalu sigap memperbaiki pekerjaan kami yang hang. Aku suka sama Jo, selain handsome, Jo juga smart. Tidak sombong dan murah senyum. Tidak pernah mengeluh kalau kami bawel minta bantuannya.
Bukan aku saja yang suka sama Jo. Nisa chief teller, Angie PR, dan juga Bu Rina personalia yang sudah punya suami dan dua anak. Bu Rina sering sesumbar kalau ia masih gadis, ia akan mengejar Jo sampai dapat. Atau kalau Bu Rina punya anak gadis maka ia akan mengambil Jo sebagai menantunya. Apakah itu sekedar joke atau serius, aku tidak tahu maksud perkataan Bu Rina. Yang jelas, Bu Rina tidak malu-malu mengatakan itu di depan kami semua. Dan seperti biasa, Jo cuma senyum cool. Senyum yang diam-diam aku kangenin.
Sayang, lagi apa!.
Nanti sore kita ketemu yuk!. Akan aku tunjukkan draft cerpen yang baru saja ku tulis, semoga kamu suka!.
Huh!, sms lagi dari laki-laki si Tanda Seru itu. Buru-buru aku off HP ku. Berratus kali dia sms, berribu kali aku kesal membaca smsnya. Mengapa dia masih tetap sms padahal hampir semua smsnya tak pernah kubalas. Telepon berkali-kali pun, tak pernah kuangkat. Rasanya ingin ku buang saja HP ini tapi nomor ku sudah terlanjur dikenal oleh teman-temanku.
Walhasil, setiap bunyi sms atau dering telpon, aku bergidik. Aku intip di layar HP apakah ini sms atau telpon dari si Tanda Seru atau dari orang lain?. Tanda Seru, begitu aku menulis namanya di daftar kontak HP ku. Supaya aku bisa langsung matikan kalau dia telpon.
Aku berharap Jo yang sms atau telpon. Tapi Jo cuma sms atau telpon masalah pekerjaan saja. Jo yang dingin, Jo yang tidak punya perasaan padaku.
*****
Aku menunggu Jo mengambilkan pesananku. vanilla late’ with ice sementara Jo memesan green tea dan rogu hangat. Jo suka sekali rogut, ada sensasi tersendiri, keju cairnya yang meleleh pada waktu di gigit. Apapun yang Jo suka, aku pun jadi ikut suka. Rogut dengan saos sambel yang banyak, begitu pesanku pada Jo.
Tak lama kemudian, Jo datang dengan membawa pesanan kami berdua. Lalu Jo duduk dihadapanku. Saat kami asyik menikmati rogut.
“Hai, Ruth !.” Teriak seorang laki-laki dari pintu masuk.
“Hah!.” Baru saja satu suapan rogut yang masuk kemulutku, suapan yang kedua terasa tercekat di kerongkonganku.
“Hai, rupanya kami disini!. Tadi aku sempat ke kantormu tapi kamu tidak ada!.”
Lelaki ‘tak diundang’ itu, cuek saja duduk diantara kami berdua. Seolah tak memperdulikan keberadaan kami berdua, lelaki itu terus saja ‘nyerocos.
“Aku sms dan telpon kamu beberapa kali tapi tidak kamu jawab. Hp kamu low batt? atau error?.”
Huh!, lelaki si tanda seru itu lagi!. Dari mana dia tahu kalau aku ada disini?. Apakah ini cuma suatu kebetulan saja?. Sebuah kebetulan yang aku benci!.
“Kalau kamu mau, aku akan belikan HP terbaru untuk mengganti HP jadulmu itu!. Oh, iya kenalkan …calonnya Ruth!.”
Jo menyebut nama nya lalu balas menjabat tangan lelaki itu. “Jo.”
“Teman kantor Ruth?.” Tanya lelaki itu pada Jo. Jo mengiyakan.
“Aku dan Ruth teman sejak kanak-kanak dulu. Keakraban kami berlanjut sampai kami duduk di sekolah menengah….”
Huh!, siapa yang bilang aku akrab dengannya?!. Dasar Ge er!. Bisik Ruth kesal.
Jo memperhatikan perubahan wajah Ruth yang kaku. Jo tahu kalau Ruth sebenarnya tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Kuliah lah yang memisahkan kami berdua. Akhirnya Tuhan jua yang merestui hubungan kami berdua dengan mempertemukan kami di kota ini.”
“Oh, iya?. Wow!. Sebuah persahabatan yang indah!.” Sahut Jo berusaha mencairkan suasana.
“Bukan sekedar persahabatan, Bung, tapi lebih dari itu … .” Kata lelaki si tanda seru.
“Oooohhh?. Kenapa kamu tidak cerita Ruth?.” Tanya Jo polos pada Ruth.
“Jo!.” Ruth mendelikkan matanya ke arah Jo. Marah yang dipendam akhirnya meledak juga. Ruth membanting garpu ke meja lalu meninggalkan Jo dan lelaki itu.
“Ruth!.” Teriak Jo memanggil Ruth.
Tanpa memperdulikan panggilan Jo, Ruth terus saja berlalu pergi sambil menahan isak tangisnya.
“Ah, sayang sekali Ruth pergi. Sebenarnya aku mau menunjukkan draft cerpen terbaruku padanya.” Lelaki itu mengeluarkan lembaran kertas dari tasnya. Lembaran kertas itu kemudian diserahkan pada Jo.
“Bacalah, Bung. Dan tolong kritisi aku!.” Kata Lelaki itu pada Jo.
Jo membaca sambil mengernyitkan keningnya. Mengapa setiap kalimat selalu diberi tanda seru (!) ?. Bisik Jo dalam hati.
“Bagaimana Bung ceritanya?.” Tanya Lelaki itu,
“Hmmm ,,, Ok.” Kata Jo sambil manggut-manggut. “Tapi … mengapa?.”
“Tanda seru!, maksud Bung.” Potong Lelaki itu. “Memang tulisanku banyak sekali tanda serunya. Aku suka sekali dengan tanda seru, karena menyiratkan kalau aku adalah orang yang paling percaya diri dan selalu optimis dalam memandang hidup ini.”
“Tapi, Bung … .” Protes Jo pada Lelaki itu.
Akhirnya terjadi perdebatan seru antara Jo dan Lelaki itu.
*****
Semenjak kejadian di café’. Ruth menjaga jarak dari Jo. Tak pernah lagi Ruth bertegur sapa dengan Jo. Ruth hanya sesekali mengintip Jo yang sepertinya acuh juga padanya dan asyik tenggelam dalam pekerjaannya.
“Selamat siang, mba. Ada kiriman bunga buat mba.” Tegur Security mengagetkan lamunan Ruth.
“Eh iya, Pak.” Ruth kaget. “Taruh saja diatas meja pak!.”
Security itu pun meletakkan setangkai bunga mawar dan amplop surat berwarna pink di atas meja kerja Ruth.
Ruth pun mengambil amplop surat, lalu membacanya. Seketika saja Ruth jadi kesal. Dibuangnya bunga mawar dan robekan surat itu ke tempat sampah dikolong mejanya.
Keesokan paginya security itu pun mengantarkan kiriman yang sama. Setangkai bunga mawar dan sebuah amplop surat untuk Ruth.
“Dari siapa lagi sih?.” Tanya Ruth kesal pada security.
“Mana saya tahu, mba?. Yang ngantar itu orangnya pakai sepeda sepertinya sih tukang bunga yang ada diseberang jalan itu.” Jelas security.
“Iya pak, terima kasih ya.”
Ruth membaca suratnya lalu merobek-robek dan membuangnya ke tempat sampah.
Hari ketiga, security menghampiri Ruth.
“Ini, mba!.” Sambil menyerahkan setangkai bunga mawar dan sebuah amplop berwarna pink.
“Sepertinya sama mba dengan kiriman yang kemarin.” Kata security menjelaskan.
Ruth mengerutkan keningnya. Apa sih maksud orang itu?. Huh!, dasar tidak tahu diri!. Mukanya nampak marah.
Security pun berlalu pergi dari hadapan Ruth.
“Eh, eh, Pak!.” Ruth memanggil security itu. “Oh iya Pak, mulai hari ini, apabila ada kiriman bunga mawar merah seperti itu lagi untuk saya, bapak langsung buang saja!. Gak usah diantar ke tempat saya lagi!. Ingat itu, Pak!. Jangan sampai ada di meja saya, Pak!”
“Iya, mba, Permisi!.” Sahut security itu lalu berlalu pergi.
Sampai hari ke sepuluh, kiriman bunga mawar itu pun cuma sampai di pos security. Tak pernah lagi diantar ke mejanya Ruth. Hari-hari selanjutnya Ruth mulai bisa bernafas lega. Kiriman bunga mawar dari Lelaki si tanda seru itu bagaikan teror dalam kehidupannya. Ruth tidak pernah mengindahkannya. Tapi teror itu cukup memalukan juga karena teman-teman kerja Ruth senang menyindir dan mengolok-oloknya.
Sampai suatu hari. Security datang kembali membawa setangkai mawar putih beserta amplop berwarna putih glossy ke arah meja Ruth.
Ruth langsung marah. “Bukankah saya pernah bilang pada bapak, kenapa tidak langsung dibuang saja!.”
“Tapi, mba. Dulu mba bilangnya kan mawar merah. Kalau yang ini kan mawar putih jadi saya tidak berani buang, mba.”
Ruth mengernyitkan keningnya, berfikir sebentar. “Ya sudah, taruh saja di meja Pak.”
Sepeninggal security, Ruth pun semakin penasaran. Hmm, siapa lagi yang ngirim?. Kalau dia lagi yang ngirim, aku akan laporkan ke polisi karena privacy ku jelas terganggu. Bisik Ruth dalam hati.
Ruth pun mulai membuka amplop putih itu lalu membaca suratnya : kapan kita makan rogut lagi?. Tentu saja dengan saos sambelnya yang banyak …
Joooo. Pekik Ruth gembira. Diliriknya ke arah ruang kerja Jo yang hanya dibatasi sekat panel. Jo pun membalas senyum Ruth sambil tangannya mengisyaratkan kalau Jo minta di telpon.
*****
“Ting nong, ting nong.” Bunyi suara bel pagar rumah Ruth.
“Pos kilat, mba!.” Sahut tukang Pos saat Ruth menghampirinya.
Ruth menerima sebuah bungkusan beramplop coklat lalu membubuhkan tanda tangannya di kertas tanda terima barang.
Di ruang tengah, Ruth mulai merobek kertas pembungkusnya.
Novel?. Pikir Ruth heran. Ya, sebuah novel. Lalu Ruth membaca judulnya : Sepuluh Tangkai Mawar Yang Berakhir Di Tong Sampah.
Hmm, judul yang aneh. Pikir Ruth lagi.
Hah!. Ruth kaget ketika membaca nama si penulis novel itu.
*****
Sepulang dari kantor, Jo mendapati istrinya, Ruth duduk di sofa sedang membaca novel. Matanya mengembang, sesekali diusap air matanya dengan ujung baju.
Jo heran melihat Ruth seperti itu, “kenapa Ma?.”
“Eh, oh, Papa… sudah pulang, Pa?.” Ruth bangkit dari sofa sambil mengusap tergesa ke matanya yang sembab.
“Mama kenapa?.” Tanya Jo penasaran. “Apa yang membuat Mama sedih?.”
Ruth menunjuk ke arah meja.
“Novel?.” Tanya Jo bingung. “Kapan Mama beli novel?.”
Ruth ke arah meja lalu mengambil sebuah novel dan diberikannya ke Jo.
“Tadi siang novel ini dikirim via pos.” Jelas Ruth pada Jo.
Jo masih diam saja belum mengerti.
“Penulisnya sendiri yang kirim. Katanya ini novel pertamanya, Pa.” Jelas Ruth.
“Terus?.” Tanya Jo bingung.
“Papa tahu siapa penulisnya?.” Ruth langsung memberikan novel itu pada Jo.
“Coba Papa baca halaman tiga puluh!.” Periuntah Ruth.
Jo pun membolak balik isi novel itu. Diam sesaat, lalu mulai membaca apa yang diminta oleh Ruth.
“Hah!.” Jo kaget. “Jadi penulisnya …?.” Tanya Jo tak percaya.
“Bagus, Pa, ceritanya… aku saja sampai larut membacanya.” Jelas Ruth.
“Masa sih?.” Sahut Jo penasaran. “Sudah tidak banyak tanda seru (!) nya kan?, hehehe..”
“Ih, Papa begitu banget sih, setiap orang kan bisa berubah, Pa … kalau memang dia mau.” Jelas Ruth.
“Jadi sekarang Mama ngefans sama penulisnya?.”
“Hihihi, Papa cemburu ya?.” Sahut Ruth sambil mencubit ke perut Jo dengan manja.
*****
Kutu Kata, Lelaki Yang Hanya Mengenal Tanda Seru, 20092012

Ilustrasi Gambar : s412photobucket.com

Tidak ada komentar: