Sudah
makan siang!!!.
Lelaki
yang hanya mengenal tanda seru (!). Aku sebut saja si Tanda Seru.
Apa
disekolah dulu dia tidak pernah diajarkan tanda baca?. Masa tidak bisa
membedakan kapan tanda seru (!) atau tanda tanya (?) dipakai.
Kalimat
yang harusnya cukup di akhiri dengan titik saja, kenapa harus diakhiri dengan
tanda seru?.
Aku
ingin jadi penulis!. Karena mencintaimu adalah sumber inspirasiku!. Begitu isi
sms yang baru kuterima beberapa menit yang lalu dari laki-laki si Tanda Seru.
Terserah
saja, dia mau jadi penulis atau jadi apapun, bukan urusanku!. Aku tak perduli.
Aku tegaskan sekali lagi karena aku bukanlah “siapa-siapa” nya dia. Secuilpun
aku tidak ada rasa padanya.
Tentang
sms-sms nya, masa sih dia tidak ‘peka?. Sejak dia nyatakan cinta, sejak itu
pula aku muak untuk membalas smsnya. Apakah tidak terkesan kasar jika aku
katakan bahwa aku tidak mencintainya. Bahkan aku hampir benci dengan ulahnya
yang keterlaluan. Bahasa tubuhku sudah katakan tapi dia tetap saja bebal
mencintaiku. Cinta itu buta, seperti katanya. Tapi buatku, dia bukan hanya buta
tapi juga tuli dan bisu.
Terpaksa
aku bicara apa adanya, karena rasa percaya dirinya membunuh rasa sadar dirinya.
Awalnya kami adalah teman semasa kecil, sekarangpun masih tetap teman dan
sampai kapanpun ‘gak lebih dan ‘gak kurang, dia hanyalah teman. Sebentar lagi,
akan aku putuskan pertemanan dengannya, aku muak melihat seringai senyumnya.
Rasanya mau muntah atas segala perhatiannya padaku.
“Sabarlah,
Ruth.” Kata Jo padaku,”kenapa kamu tidak terus terang saja Ruth?. Jelaskan yang
sebenarnya bagaimana perasaanmu padanya!.”
Sama
sekali Jo tidak gusar dengan kegalauanku. Mengapa Jo begitu dingin?. Apakah Jo
senang kalau aku jadian dengan si Tanda Seru itu?.
“Jo
… “
“Ya,
Ruth.” Sahut Jo sambil matanya tidak lepas dari monitor PC nya. “Sorry ya Ruth,
aku sambil kerja, banyak laporan yang harus ku laporkan pada Boss awal bulan
ini.”
“Ya,
nama nya juga anak buah, harus siap disuruh apa saja, hehehe… .” Kata Jo lagi.
Kenapa
Jo mengalihkan pembicaraan?. Apakah masalahku tidak penting buat Jo?. Ah, Jo,
kau sama saja dengan lelaki si Tanda Seru itu. Apakah semua laki-laki memang
tidak peka terhadap bahasa cinta dari lawan jenisnya?. Egois!.
“Jo,
nanti pulang kerja kita ke café’ yuk?.”
“Aku
pulangnya mungkin telat, Ruth. Kamu mau nunggu?.”
“He
eh.” Aku mengiyakan. Menunggu seabad pun akan aku lakukan. Demi kamu, Jo.
Sumringahku dalam hati.
“OK,
Jo, semoga pekerjaannya cepat beres dan kita bisa cepat meluncur ke café’.”
“OK,
Ruth, Thanx ya.”
Jo
adalah teman sekerjaku cuma beda divisi. Jo di divisi IT sedangkan aku di
Accounting. Kalau ada trouble pada PC kantor, Jo selalu sigap memperbaiki
pekerjaan kami yang hang. Aku suka sama Jo, selain handsome, Jo
juga smart. Tidak sombong dan murah senyum. Tidak pernah mengeluh kalau
kami bawel minta bantuannya.
Bukan
aku saja yang suka sama Jo. Nisa chief teller, Angie PR, dan
juga Bu Rina personalia yang sudah punya suami dan dua anak. Bu Rina
sering sesumbar kalau ia masih gadis, ia akan mengejar Jo sampai dapat. Atau
kalau Bu Rina punya anak gadis maka ia akan mengambil Jo sebagai menantunya.
Apakah itu sekedar joke atau serius, aku tidak tahu maksud
perkataan Bu Rina. Yang jelas, Bu Rina tidak malu-malu mengatakan itu di depan
kami semua. Dan seperti biasa, Jo cuma senyum cool. Senyum yang
diam-diam aku kangenin.
Sayang,
lagi apa!.
Nanti
sore kita ketemu yuk!. Akan aku tunjukkan draft cerpen yang baru saja ku tulis,
semoga kamu suka!.
Huh!,
sms lagi dari laki-laki si Tanda Seru itu. Buru-buru aku off HP ku. Berratus
kali dia sms, berribu kali aku kesal membaca smsnya. Mengapa dia masih tetap
sms padahal hampir semua smsnya tak pernah kubalas. Telepon berkali-kali pun,
tak pernah kuangkat. Rasanya ingin ku buang saja HP ini tapi nomor ku sudah
terlanjur dikenal oleh teman-temanku.
Walhasil,
setiap bunyi sms atau dering telpon, aku bergidik. Aku intip di layar HP apakah
ini sms atau telpon dari si Tanda Seru atau dari orang lain?. Tanda Seru,
begitu aku menulis namanya di daftar kontak HP ku. Supaya aku bisa langsung
matikan kalau dia telpon.
Aku
berharap Jo yang sms atau telpon. Tapi Jo cuma sms atau telpon masalah
pekerjaan saja. Jo yang dingin, Jo yang tidak punya perasaan padaku.
*****
Aku
menunggu Jo mengambilkan pesananku. vanilla late’ with ice
sementara Jo memesan green tea dan rogu hangat. Jo suka
sekali rogut, ada sensasi tersendiri, keju cairnya yang meleleh pada
waktu di gigit. Apapun yang Jo suka, aku pun jadi ikut suka. Rogut
dengan saos sambel yang banyak, begitu pesanku pada Jo.
Tak
lama kemudian, Jo datang dengan membawa pesanan kami berdua. Lalu Jo duduk
dihadapanku. Saat kami asyik menikmati rogut.
“Hai,
Ruth !.” Teriak seorang laki-laki dari pintu masuk.
“Hah!.”
Baru saja satu suapan rogut yang masuk kemulutku, suapan yang kedua terasa
tercekat di kerongkonganku.
“Hai,
rupanya kami disini!. Tadi aku sempat ke kantormu tapi kamu tidak ada!.”
Lelaki
‘tak diundang’ itu, cuek saja duduk diantara kami berdua. Seolah tak
memperdulikan keberadaan kami berdua, lelaki itu terus saja ‘nyerocos.
“Aku
sms dan telpon kamu beberapa kali tapi tidak kamu jawab. Hp kamu low batt? atau
error?.”
Huh!,
lelaki si tanda seru itu lagi!. Dari mana dia tahu kalau aku ada disini?.
Apakah ini cuma suatu kebetulan saja?. Sebuah kebetulan yang aku benci!.
“Kalau
kamu mau, aku akan belikan HP terbaru untuk mengganti HP jadulmu itu!. Oh, iya
kenalkan …calonnya Ruth!.”
Jo
menyebut nama nya lalu balas menjabat tangan lelaki itu. “Jo.”
“Teman
kantor Ruth?.” Tanya lelaki itu pada Jo. Jo mengiyakan.
“Aku
dan Ruth teman sejak kanak-kanak dulu. Keakraban kami berlanjut sampai kami
duduk di sekolah menengah….”
Huh!,
siapa yang bilang aku akrab dengannya?!. Dasar Ge er!. Bisik Ruth kesal.
Jo
memperhatikan perubahan wajah Ruth yang kaku. Jo tahu kalau Ruth sebenarnya
tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Kuliah
lah yang memisahkan kami berdua. Akhirnya Tuhan jua yang merestui hubungan kami
berdua dengan mempertemukan kami di kota ini.”
“Oh,
iya?. Wow!. Sebuah persahabatan yang indah!.” Sahut Jo berusaha mencairkan
suasana.
“Bukan
sekedar persahabatan, Bung, tapi lebih dari itu … .” Kata lelaki si tanda seru.
“Oooohhh?.
Kenapa kamu tidak cerita Ruth?.” Tanya Jo polos pada Ruth.
“Jo!.”
Ruth mendelikkan matanya ke arah Jo. Marah yang dipendam akhirnya meledak juga.
Ruth membanting garpu ke meja lalu meninggalkan Jo dan lelaki itu.
“Ruth!.”
Teriak Jo memanggil Ruth.
Tanpa
memperdulikan panggilan Jo, Ruth terus saja berlalu pergi sambil menahan isak
tangisnya.
“Ah,
sayang sekali Ruth pergi. Sebenarnya aku mau menunjukkan draft cerpen terbaruku
padanya.” Lelaki itu mengeluarkan lembaran kertas dari tasnya. Lembaran kertas
itu kemudian diserahkan pada Jo.
“Bacalah,
Bung. Dan tolong kritisi aku!.” Kata Lelaki itu pada Jo.
Jo
membaca sambil mengernyitkan keningnya. Mengapa setiap kalimat selalu diberi
tanda seru (!) ?. Bisik Jo dalam hati.
“Bagaimana
Bung ceritanya?.” Tanya Lelaki itu,
“Hmmm
,,, Ok.” Kata Jo sambil manggut-manggut. “Tapi … mengapa?.”
“Tanda
seru!, maksud Bung.” Potong Lelaki itu. “Memang tulisanku banyak sekali tanda
serunya. Aku suka sekali dengan tanda seru, karena menyiratkan kalau aku adalah
orang yang paling percaya diri dan selalu optimis dalam memandang hidup ini.”
“Tapi,
Bung … .” Protes Jo pada Lelaki itu.
Akhirnya
terjadi perdebatan seru antara Jo dan Lelaki itu.
*****
Semenjak
kejadian di café’. Ruth menjaga jarak dari Jo. Tak pernah lagi Ruth bertegur
sapa dengan Jo. Ruth hanya sesekali mengintip Jo yang sepertinya acuh juga
padanya dan asyik tenggelam dalam pekerjaannya.
“Selamat
siang, mba. Ada kiriman bunga buat mba.” Tegur Security mengagetkan lamunan
Ruth.
“Eh
iya, Pak.” Ruth kaget. “Taruh saja diatas meja pak!.”
Security
itu pun meletakkan setangkai bunga mawar dan amplop surat berwarna pink di atas
meja kerja Ruth.
Ruth
pun mengambil amplop surat, lalu membacanya. Seketika saja Ruth jadi kesal.
Dibuangnya bunga mawar dan robekan surat itu ke tempat sampah dikolong mejanya.
Keesokan
paginya security itu pun mengantarkan kiriman yang sama. Setangkai bunga mawar
dan sebuah amplop surat untuk Ruth.
“Dari
siapa lagi sih?.” Tanya Ruth kesal pada security.
“Mana
saya tahu, mba?. Yang ngantar itu orangnya pakai sepeda sepertinya sih tukang
bunga yang ada diseberang jalan itu.” Jelas security.
“Iya
pak, terima kasih ya.”
Ruth
membaca suratnya lalu merobek-robek dan membuangnya ke tempat sampah.
Hari
ketiga, security menghampiri Ruth.
“Ini,
mba!.” Sambil menyerahkan setangkai bunga mawar dan sebuah amplop berwarna
pink.
“Sepertinya
sama mba dengan kiriman yang kemarin.” Kata security menjelaskan.
Ruth
mengerutkan keningnya. Apa sih maksud orang itu?. Huh!, dasar tidak tahu diri!.
Mukanya nampak marah.
Security
pun berlalu pergi dari hadapan Ruth.
“Eh,
eh, Pak!.” Ruth memanggil security itu. “Oh iya Pak, mulai hari ini, apabila
ada kiriman bunga mawar merah seperti itu lagi untuk saya, bapak langsung buang
saja!. Gak usah diantar ke tempat saya lagi!. Ingat itu, Pak!. Jangan sampai
ada di meja saya, Pak!”
“Iya,
mba, Permisi!.” Sahut security itu lalu berlalu pergi.
Sampai
hari ke sepuluh, kiriman bunga mawar itu pun cuma sampai di pos security. Tak
pernah lagi diantar ke mejanya Ruth. Hari-hari selanjutnya Ruth mulai bisa
bernafas lega. Kiriman bunga mawar dari Lelaki si tanda seru itu bagaikan teror
dalam kehidupannya. Ruth tidak pernah mengindahkannya. Tapi teror itu cukup
memalukan juga karena teman-teman kerja Ruth senang menyindir dan
mengolok-oloknya.
Sampai
suatu hari. Security datang kembali membawa setangkai mawar putih beserta
amplop berwarna putih glossy ke arah meja Ruth.
Ruth
langsung marah. “Bukankah saya pernah bilang pada bapak, kenapa tidak langsung
dibuang saja!.”
“Tapi,
mba. Dulu mba bilangnya kan mawar merah. Kalau yang ini kan mawar putih jadi
saya tidak berani buang, mba.”
Ruth
mengernyitkan keningnya, berfikir sebentar. “Ya sudah, taruh saja di meja Pak.”
Sepeninggal
security, Ruth pun semakin penasaran. Hmm, siapa lagi yang ngirim?. Kalau dia
lagi yang ngirim, aku akan laporkan ke polisi karena privacy ku jelas
terganggu. Bisik Ruth dalam hati.
Ruth
pun mulai membuka amplop putih itu lalu membaca suratnya : kapan kita makan
rogut lagi?. Tentu saja dengan saos sambelnya yang banyak …
Joooo.
Pekik Ruth gembira. Diliriknya ke arah ruang kerja Jo yang hanya dibatasi sekat
panel. Jo pun membalas senyum Ruth sambil tangannya mengisyaratkan kalau Jo
minta di telpon.
*****
“Ting
nong, ting nong.” Bunyi suara bel pagar rumah Ruth.
“Pos
kilat, mba!.” Sahut tukang Pos saat Ruth menghampirinya.
Ruth
menerima sebuah bungkusan beramplop coklat lalu membubuhkan tanda tangannya di
kertas tanda terima barang.
Di
ruang tengah, Ruth mulai merobek kertas pembungkusnya.
Novel?.
Pikir Ruth heran. Ya, sebuah novel. Lalu Ruth membaca judulnya : Sepuluh
Tangkai Mawar Yang Berakhir Di Tong Sampah.
Hmm,
judul yang aneh. Pikir Ruth lagi.
Hah!.
Ruth kaget ketika membaca nama si penulis novel itu.
*****
Sepulang
dari kantor, Jo mendapati istrinya, Ruth duduk di sofa sedang membaca novel.
Matanya mengembang, sesekali diusap air matanya dengan ujung baju.
Jo
heran melihat Ruth seperti itu, “kenapa Ma?.”
“Eh,
oh, Papa… sudah pulang, Pa?.” Ruth bangkit dari sofa sambil mengusap tergesa ke
matanya yang sembab.
“Mama
kenapa?.” Tanya Jo penasaran. “Apa yang membuat Mama sedih?.”
Ruth
menunjuk ke arah meja.
“Novel?.”
Tanya Jo bingung. “Kapan Mama beli novel?.”
Ruth
ke arah meja lalu mengambil sebuah novel dan diberikannya ke Jo.
“Tadi
siang novel ini dikirim via pos.” Jelas Ruth pada Jo.
Jo
masih diam saja belum mengerti.
“Penulisnya
sendiri yang kirim. Katanya ini novel pertamanya, Pa.” Jelas Ruth.
“Terus?.”
Tanya Jo bingung.
“Papa
tahu siapa penulisnya?.” Ruth langsung memberikan novel itu pada Jo.
“Coba
Papa baca halaman tiga puluh!.” Periuntah Ruth.
Jo
pun membolak balik isi novel itu. Diam sesaat, lalu mulai membaca apa yang
diminta oleh Ruth.
“Hah!.”
Jo kaget. “Jadi penulisnya …?.” Tanya Jo tak percaya.
“Bagus,
Pa, ceritanya… aku saja sampai larut membacanya.” Jelas Ruth.
“Masa
sih?.” Sahut Jo penasaran. “Sudah tidak banyak tanda seru (!) nya kan?,
hehehe..”
“Ih,
Papa begitu banget sih, setiap orang kan bisa berubah, Pa … kalau memang dia
mau.” Jelas Ruth.
“Jadi
sekarang Mama ngefans sama penulisnya?.”
“Hihihi,
Papa cemburu ya?.” Sahut Ruth sambil mencubit ke perut Jo dengan manja.
*****
Kutu Kata, Lelaki Yang Hanya Mengenal Tanda Seru, 20092012
Ilustrasi Gambar : s412photobucket.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar