Apa
yang diajarkan di sekolah?. Berhitung dan Menghapal. Apakah bekal itu cukup
untuk menghadapi kerasnya persaingan hidup?.
Aku
memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Papa marah. Dan Mama menasehatiku agar
aku menuruti saja kemauan Papa. Kalau kamu gak kuliah terus kamu mau apa?.
Kerja?. Kerja apa?. Apa ada pekerjaan yang baik untuk seorang lulusan sekolah
menengah?. Ya, tentu saja tidak ada. Terus?. Papa bingung dan Mama diam saja
menunggu reaksiku.
Menjadi
seorang Enterpreneur, Pa. Jelasku pada Papa. Apa itu?. Tanya Papa sinis.
Setelah aku jelaskan bahwa istilah itu hanyalah persamaan dari wiraswasta, Papa
melotot padaku. Dagang?, kamu mau dagang?. Mama ngeri melihat Papa mulai
melotot. Dengan bibir gemetar, Mama lontarkan juga suara hatinya yang dari tadi
tercekat di tenggorokannya. Memangnya salah kalau anak kita mau dagang, Pa?.
Tanya Mama membelaku.
Bisa
apa dia?. Teriak Papa pada kami. Bukankah Papa juga adalah seorang pedagang?.
Tanya Mama mulai berani membelaku. Iya, Pa. Kataku pelan. Beda!, dari kecil aku
memang dilahirkan sebagai seorang pedagang, menjual Koran, tukang semir sepatu,
jualan gorengan, hingga sekarang Papa punya pabrik. Mental pedagang Papa sudah
terbentuk dari kecil. Kalau dia, apa?. Papa menunjuk ke arah hidungku. Anak
manja!. Sudah besar saja, bangun pagi masih dibangunkan oleh alarm atau Mamamu.
Salah
Papa terlalu memanjakanmu. Kata Papa penuh penyesalan. Kerasnya jiwa Papa
terbentuk karena Papa dulunya memang anak orang yang tak mampu. Begitu pahitnya
masa kecil Papa, sehingga untuk membeli sarapan saja Papa harus menjual sepuluh
koran atau menyemir tiga pasang sepatu dulu. Makanya Papa tidak ingin anak-anak
Papa mengalami nasib seperti Papa. Semua anak-anak, Papa sekolahkan tinggi
kalau perlu ke luar negeri agar kelak setelah lulus akan mendapatkan pekerjaan
yang pantas. Begitupun harapan semua orang tua ingin agar anaknya hidup
bahagia.
Papa
hanya akan buang-buang uang saja memaksaku kuliah. Kataku berusaha tegar. Aku
tetap mau usaha sendiri, Pa. Sudahlah Pa, gak baikkan memaksakan kehendak kita
pada anak. Kata Mama membelaku lagi. Baik!, kalau kamu mau usaha, kamu magang
aja dulu diperusahaan Papa setahun. Kamu boleh pilih mau magang di divisi apa?,
marketing, HRD, atau finance?. Bagaimana?. Tanya Papa mulai lembut.
Tapi,
Pa. Aku mau usaha sendiri. Jiwaku bukan disitu, Pa. Kataku berusaha menjelaskan
pada Papa. Apalagi Tirta?, nama mu air tidak sepantasnya kamu keras kepala
seperti batu. Apa aku telah salah kasih nama, Ma?. Harusnya dulu aku kasih nama
anak ini, Karang atau Batu, Ma. Kata Papa menyindirku. Mama diam mulai takut
lagi.
Ok.
Ok. Ok, terus kamu mau usaha apa?. Tanya Papa melecehkanku.
Aku
mengeluarkan draft atau mungkin lebih tepat disebut coretan-coretan
gagasanku. Aku jelaskan mulai dari pra produksi, kemudian produksi atau yang
aku sebut packing dan paska produksi yang meliputi marketing dan promo serta
distribusi.
Setelah
hampir sejam aku jelaskan, wajah Papa dingin tak bergeming. Aku yakin itu
karena Papa tidak tertarik dengan presentasiku. Maklumlah hanya presentasi yang
dibuat oleh seorang lulusan sekolah menengah. Lebih parah lagi, muka Mama
berkerut tidak mengerti dengan penjelasanku.
Jadi
apa yang kamu mau jual?. Air?. Hanya air putih tanpa rasa?. Tanya Papa
mendelik.
Aku
jawab dengan mantap. Iya, Papa.
Kamu
mau jual es di kutub utara?. Tanya Papa melotot. Aku tidak mengerti dengan
pertanyaan Papa. Aku beranikan diri untuk bertanya. Maksud, Papa?. Aku tanya,
Papa malah balik bertanya. Tirta, sebenarnya apa isi dalam kepalamu?.
Pertanyaan yang menyakitkanku. Papa telah menganggapku tolol.
Indonesia
itu adalah tanah air. Dari kata itu saja, harusnya kamu bisa menyimpulkan. Air
bukan masalah disini. Lain halnya kalau kau jual air di gurun sahara sana.
Orang tinggal gali sumur saja sudah bisa mendapatkan air. Begitu mudahnya orang
mendapatkan air lalu kenapa kamu mau menjual air?. Dalam prinsip ilmu ekonomi
manapun, pendapatmu itu salah. Jual apa yang dibutuhkan oleh pasar, itu baru
bisnis, Tirta. Jadi kalau kau jual air disini sama juga dengan kau jual es di
kutub utara. Siapa yang mau beli?.
Kamu
bukan bisnisman, Tirta. Kamu orang gila!. Kata Papa kasar. Atau kamu hanyalah
seorang penjudi. Dengan marah Papa meninggalkan aku dan Mama. Mama diam
menatapi lantai. Antara aku dan Mama cuma ada sepi. Tidak mungkin Mama mau
membelaku lagi. Aku pun pergi meninggalkan Mama tanpa sepatah katapun. Dalam
hati aku terus membatin, akan aku buktikan, Pa!.
Hmm,
lihatlah Pa!. Di meja direktur itu terpampang papan namaku. Dan di dindingnya
ada beberapa penghargaan dan diploma. Satu yang aku banggakan, sebuah kertas
penghargaan dari sebuah majalah Bisnis dan Ekonomi yang menyebutku ; Sang
Pelopor.
Sayangnya
Papa telah meninggal dunia sebelum aku benar-benar sukses. Akhirnya aku pun
bisa membahagiakan Mama. Perusahaan Air Minum Mineral terbesar di Indonesia,
mungkin di Asia Tenggara. Bukan hanya untuk kebutuhan dalam negeri, produk kami
pun sudah merambah ke manca negara. Tentu saja, perusahaan itu berdiri tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang dan melelahkan.
Butuh keahlian dan managemen yang rapi. Langkah awal memang selalu langkah yang
paling sulit, yaitu melawan paradigma Papa, seperti paradigma masyarakat pada
umumnya.
Apa
yang kamu jual?. Air?. Hanya air putih tanpa rasa?. Bukan hanya Papa yang telah
mencemoohkan aku. Mungkin juga berjuta-juta manusia lainnya. Semoga Papa damai
di alam sana. Aku sudah buktikan, Pa. Kalau aku bukanlah orang gila atau
seorang penjudi. Akulah Sang Pelopor, Pa!. Sang Pelopor yang berani mematahkan
pendapat Papa.
“Pak!,
Pak!, jadi kita menjual produk kita ke kutub utara?.” Tanya seorang staff
Research and Development di perusahaanku. Tanya yang telah membuyarkan
lamunanku.
“Apa?.
Jadi!, Jadi dong!.” Jawabku tegas.
“Tapi,
Pak.”
“Kenapa?,
kamu ragu?, memangnya orang di kutub utara tidak butuh minum?.” Tanyaku melotot
pada staffku.
“Turunkan
tim riset kesana, sekarang juga!.” Perintahku tegas.
“Siap,
Pak!.”
*****
Kutu Kata, Jual Es Di Kutub Utara, 27052012
Ilussstrasi Gambar : honeymoon.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar