Allah,
Allah, Allah.
Allah,
Engkaulah Robbi yang mengenalkan asma Mu sendiri.
Di
kuasa Mu segala hikmah dijernihkan.
Di
Rahman Mu segala mahabbah di agungkan.
Di
Rahiim Mu segala zat dikembalikan.
Seirama
degup jantung, dalam desir darah mengalir di setiap hela napas. Asma Mu ku
lafadz satu satu.
Allah,
Alah, Allah.
Ruku
dan sujudku dalam rengkuh Mu. Menjadi lebur dibara maghfiroh Mu.
Yang
terdengar tinggal suara batinku ; Ahad, Ahad, Ahad.
Engkaulah
Allah yang satu, tiada sekutu bagi Mu dan tiada satu pun yang serupa dengan Mu.
Ya
Allah, mengapa aku yang Kau perjalankan?.
Dalam
globe cahaya Mu, sajadahku melayang. Mengangkasa menuju langit Mu.
Mengoyak
batas akalku, diantara bumi, matahari dan galaksi bima sakti.
Terus
mengangkasa menembus lapisan langit demi langit. Entah aku sudah di langit ke
berapa?.
Dosaku
yang bagai buih di lautan. Pantaskah ku bertemu dengan Mu?.
Tangisku
bagai rintik harpa di gulita malam.
Allah,
mengapa aku?, mengapa aku?. Mengapa aku yang Kau perjalankan?.
Merasa
kecil di kebesaran Mu. Seperti titik yang menggapai-gapai makrifat Mu.
Menembus
lapisan langit maha pekat disitulah tempat jutaan bintang-bintang bertaburan.
Jutaan
kilau cahaya memuji asma Mu. Jutaan kilau cahaya berserah diri pada Mu.
Maha
suci Engkau ya Allah yang telah menciptakan jutaan bintang-bintang dalam
keteraturan Mu.
Segala
puji bagi Mu ya Allah yang telah menciptakan keindahan kilauan jutaan
bintang-bintang bukan tanpa maksud.
Maha
besar Engkau ya Allah, begitu kecilnya aku diantara jutaan bintang-bintang
ciptaan Mu.
Allah,
mengapa Kau bersusah payah memperjalankan aku yang khilaf’ ini?.
Suara
sejuk Mu mengetuk ketuk hati nuraniku.
“Ambillah
tongkat ini!.”
Ya
Allah, apakah aku yang lemah ini pantas menerima amanat Mu?.
“Ambillah
tongkat ini!.” Begitu bunyi perintah Mu yang kedua.
Aku
cuma menangis sejadi-jadinya, bagaimana mungkin aku yang Kau pilih?.
Tongkat
yang Kau berikan bermakna sebuah amanat yang berat, aku yang banyak dosa ini
bagaimana mungkin sanggup memikulnya?.
“Ambillah
tongkat ini!.”
Aku
semakin kecil di kebesaran Mu. Allah, mungkinkah Kau telah salah pilih?.
Aku
cuma bisa menangis dan menangis.
“Ku
ciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, menjadi pemimpin diantara
kalian. Memimpin dalam segala kebaikan dan kemaslahatan umat. Bukan untuk
merusak bumi!”
Dalam
globe cahaya Mu, sajadahku pun perlahan turun.
Ketika
tersadar, aku menangis dalam sujud Mu.
Ya
Allah, mengapa aku yang Kau perjalankan?.
Sepenggal
perjalanan yang menggurat batinku.
Ramadhan
kala itu aku rasa begitu dekat dengan Mu.
Ramadhan,
1988.
*****
Kutu Kata, Sepenggal Perjalanan, 140812
Ilustrasi Gambar : www.youtube.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar