Kamis, 02 Mei 2013

Reggae, Joint Kopi Dan Mati




Siapa bilang Bob Marley sudah mati?.
Buktinya Reggea tidak pernah mati. Satu Bob Marley pergi, seribu bahakan mungkin berjuta-juta Bob Marley bangkit di seluruh dunia. Salah satunya adalah aku.
Aku mungkin salah seorang yang paling tidak terpengaruh dengan iklan shampoo. Shampoo apa pun yang diiklankan, setidaknya ada dua orang yang tidak perduli ; aku dan orang yang kepalanya plontos alias botak habis.

Rambut gimbalku, kalau harus shampoo-an berapa lama aku harus mengelung dan mengkuncir rambutku hingga gimbal kembali. Wah, cape deh. Mending shampoo-an nya sebulan sekali saja kalau perlu tiga bulan sekali. Bisa irit, dari pada uangnya dibelikan shampoo mending juga dibelikan se-sachet kopi.

Hahahaha, ternyata Tuhan punya selera humor juga. Aku terkenal (minimal dikenal oleh para penggemarku) disaat aku tidak muda lagi. Disaat usia ku ditemaram senja. Padahal aku bermusik sejak muda dari halte ke halte, terminal ke terminal, Gelanggang remaja Bulungan, Senen dan dimana saja aku menjalani hidup, bernafas, menghirup aroma kopi yang kental serta dimana saja aku hembuskan rokok kretekkku, aku akan bernyanyi dengan senang hati. Menyanyikan lagu reggeae, menghibur hatiku sendiri. Tak perduli aku mau dibayar berapapun asal ada kopi dan rokok kretek serta ada orang-orang penyuka reggae maka akupun akan “gila” bernyanyi reggae.

Hidup adalah perjalanan. Seperti halnya pekerjaanku yang mengalir begitu saja. Pekerjaan apapun pernah ku jalani, saat kecil menjadi pedagang asongan, berjualan kacang goreng dan es lilin. Hidup menetap itu seperti mati suri, aku pernah menjadi tukang sobek karcis disebuah bioskop dikampungku pada saat aku baru menikah.

Setelah terbangun dari “mati suri”, aku pun memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Hahaha, perjalanan merantau ku bukan hanya tiba di Jakarta lalu kemudian aku puas. Akupun sempat merantau ke beberapa negara bagian di Amerika dan Kanada. Pernah bekerja di pengeboran minyak dan di pertambangan.

Panggilan berkesenianku tak bisa kubunuh begitu saja. Seperti Reggea yang tak pernah mati, akupun kembali ke tanah kelahiranku. Dengan sebuah gitar, aku terus menyanyikan lagu-lagu Reggae “penyemangat” hidupku. Hahaha, Hei Bob!, kamu tidak pernah mati!, Reggae akan terus hidup seperti halnya aku yang terus bersemangat menyanyikannya walau usiaku sudah tidak muda lagi.

Apa yang ku suka dari Reggae?. Hahaha, lagu Reggae adalah ungkapan hatiku apa adanya, tak perlu bahasa puitis dan penuh klise. Begitulah hidupku yang aku tampilkan apa adanya, tidak perlu topeng, bedak atau gincu untuk mencitrakan diriku. Karena aku adalah aku!. Teman-teman pemusik yang lebih muda banyak memanggilku; mbah.

Hahaha, gak apa-apa. Kenapa aku mesti malu atau menutupi diri kalau aku memang sudah pantas jadi mbah-nya mereka. Baru saja satu lagu ku rilis, namaku sudah melambung. Lagunya yang jenaka dan apa adanya disukai oleh tua dan muda bahkan anak-anakpun bisa menikmati laguku. Aku gembira, Reggae yang selalu kuusung bisa diterima oleh masyarakat. Tiba-tiba saja aku jadi orang terkenal, mereka memanggilku ; mbah Surip. Duh, gusti, baru sekarang kita saling bertegur sapa.

Aku sang fenomenal. Begitu tulis para wartawan tentang aku. Hahahaha, padahal aku adalah tetap aku, selalu bersahaja dan apa adanya baik sebelum terkenal maupun setelah terkenal. Kepada siapapun  aku tetap ramah dan tidak sombong karena tanpa mereka, para penggemarku, para penggila Reggae, mbah Surip bukanlah siapa-siapa.

Produser sibuk mengontrak lagu-laguku, padahal lagu itu sudah lama kuciptakan dan sudah sering kunyanyikan. Kok baru “meledak” sekarang?, Hahahaha, sakarep mu lah!. Asal sesuai dengan kesepakatan saja. Para wartawan sibuk mengulas riwayat hidupku. Mereka gak percaya, biar jelek-jelek begini, hahaha…aku juga pernah kuliah. Bahkan aku pernah ambil master filsafat, tapi apa mereka percaya?. Hahaha, sakarep mu lah!.

Waktu produser tanya, mbah Surip uangnya kalau sudah banyak buat beli apa?. Hahaha, akujawab saja ; helicopter!. Mereka pun tertawa dianggapnya aku gak serius. Padahal aku sudah bosan kena macet di Jakarta, apa cuma konglomerat atau pejabat tinggi saja yang boleh naik helicopter?. Jadi yang namanya mbah Surip gak boleh?. Hahaha, kalau gak boleh… ya sudah!, tak gendong sajalah kemana-mana!. Hahahaha!.

Kopi dan rokoklah yang pertama menyapa kerongkonganku tiap pagi. Lalu suara semberku diiringi gitar kesayanganku sebagai sarapannya. Kalau sudah kerasukan Reggae, aku bisa lupa makan atau lebih pas nya, aku tak bernafsu lagi makan. Seperti pada suatu pagi, di awal Agustus, selepas aku menghirup kopi dan menghembuskan asap rokok kretek kesukaanku, dokter mendiagnosaku sebagai gagal jantung dan aku dinyatakan mati.

Hahaha, siapa bilang mbah Surip mati?. Reggae akan terus hidup, begitu juga lagu-laguku, akan terus hidup. I love you full, hahahaha.

Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangunnnn, tidur lagi
Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangunnnn, tidur lagi …

Hidup adalah perjalanan. Aku tidak mati!. Aku tetap hidup dan sedang menjalani kehidupan di kehidupan lainnya. Orang yang mati adalah orang yang diam ditempat dan tidak berjalan karena akal pikirannya pun lama dibiarkannya mati. Hahahaha.

*****

Kutu Kata, Reggae, Joint Kopi Dan Mati, 24092012


Tidak ada komentar: