Buktinya Reggea tidak pernah
mati. Satu Bob Marley pergi, seribu bahakan mungkin berjuta-juta Bob Marley
bangkit di seluruh dunia. Salah satunya adalah aku.
Aku mungkin salah seorang yang
paling tidak terpengaruh dengan iklan shampoo. Shampoo apa pun yang diiklankan,
setidaknya ada dua orang yang tidak perduli ; aku dan orang yang kepalanya
plontos alias botak habis.
Rambut gimbalku, kalau harus
shampoo-an berapa lama aku harus mengelung dan mengkuncir rambutku hingga
gimbal kembali. Wah, cape deh. Mending shampoo-an nya sebulan sekali saja kalau
perlu tiga bulan sekali. Bisa irit, dari pada uangnya dibelikan shampoo mending
juga dibelikan se-sachet kopi.
Hahahaha, ternyata Tuhan punya
selera humor juga. Aku terkenal (minimal dikenal oleh para penggemarku) disaat
aku tidak muda lagi. Disaat usia ku ditemaram senja. Padahal aku bermusik sejak
muda dari halte ke halte, terminal ke terminal, Gelanggang remaja Bulungan,
Senen dan dimana saja aku menjalani hidup, bernafas, menghirup aroma kopi yang
kental serta dimana saja aku hembuskan rokok kretekkku, aku akan bernyanyi
dengan senang hati. Menyanyikan lagu reggeae, menghibur hatiku sendiri. Tak
perduli aku mau dibayar berapapun asal ada kopi dan rokok kretek serta ada
orang-orang penyuka reggae maka akupun akan “gila” bernyanyi reggae.
Hidup adalah perjalanan. Seperti
halnya pekerjaanku yang mengalir begitu saja. Pekerjaan apapun pernah ku
jalani, saat kecil menjadi pedagang asongan, berjualan kacang goreng dan es
lilin. Hidup menetap itu seperti mati suri, aku pernah menjadi tukang sobek
karcis disebuah bioskop dikampungku pada saat aku baru menikah.
Setelah terbangun dari “mati
suri”, aku pun memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Hahaha, perjalanan
merantau ku bukan hanya tiba di Jakarta lalu kemudian aku puas. Akupun sempat
merantau ke beberapa negara bagian di Amerika dan Kanada. Pernah bekerja di
pengeboran minyak dan di pertambangan.
Panggilan berkesenianku tak bisa
kubunuh begitu saja. Seperti Reggea yang tak pernah mati, akupun kembali ke
tanah kelahiranku. Dengan sebuah gitar, aku terus menyanyikan lagu-lagu Reggae
“penyemangat” hidupku. Hahaha, Hei Bob!, kamu tidak pernah mati!, Reggae akan
terus hidup seperti halnya aku yang terus bersemangat menyanyikannya walau
usiaku sudah tidak muda lagi.
Apa yang ku suka dari Reggae?.
Hahaha, lagu Reggae adalah ungkapan hatiku apa adanya, tak perlu bahasa puitis
dan penuh klise. Begitulah hidupku yang aku tampilkan apa adanya, tidak perlu
topeng, bedak atau gincu untuk mencitrakan diriku. Karena aku adalah aku!.
Teman-teman pemusik yang lebih muda banyak memanggilku; mbah.
Hahaha, gak apa-apa. Kenapa aku
mesti malu atau menutupi diri kalau aku memang sudah pantas jadi mbah-nya
mereka. Baru saja satu lagu ku rilis, namaku sudah melambung. Lagunya yang
jenaka dan apa adanya disukai oleh tua dan muda bahkan anak-anakpun bisa
menikmati laguku. Aku gembira, Reggae yang selalu kuusung bisa diterima oleh
masyarakat. Tiba-tiba saja aku jadi orang terkenal, mereka memanggilku ; mbah
Surip. Duh, gusti, baru sekarang kita saling bertegur sapa.
Aku sang fenomenal. Begitu tulis
para wartawan tentang aku. Hahahaha, padahal aku adalah tetap aku, selalu
bersahaja dan apa adanya baik sebelum terkenal maupun setelah terkenal. Kepada
siapapun aku tetap ramah dan tidak sombong karena tanpa mereka, para
penggemarku, para penggila Reggae, mbah Surip bukanlah siapa-siapa.
Produser sibuk mengontrak
lagu-laguku, padahal lagu itu sudah lama kuciptakan dan sudah sering
kunyanyikan. Kok baru “meledak” sekarang?, Hahahaha, sakarep mu lah!.
Asal sesuai dengan kesepakatan saja. Para wartawan sibuk mengulas riwayat
hidupku. Mereka gak percaya, biar jelek-jelek begini, hahaha…aku juga pernah
kuliah. Bahkan aku pernah ambil master filsafat, tapi apa mereka percaya?.
Hahaha, sakarep mu lah!.
Waktu produser tanya, mbah Surip
uangnya kalau sudah banyak buat beli apa?. Hahaha, akujawab saja ; helicopter!.
Mereka pun tertawa dianggapnya aku gak serius. Padahal aku sudah bosan kena
macet di Jakarta, apa cuma konglomerat atau pejabat tinggi saja yang boleh naik
helicopter?. Jadi yang namanya mbah Surip gak boleh?. Hahaha, kalau gak boleh…
ya sudah!, tak gendong sajalah kemana-mana!. Hahahaha!.
Kopi dan rokoklah yang pertama
menyapa kerongkonganku tiap pagi. Lalu suara semberku diiringi gitar
kesayanganku sebagai sarapannya. Kalau sudah kerasukan Reggae, aku bisa lupa
makan atau lebih pas nya, aku tak bernafsu lagi makan. Seperti pada suatu pagi,
di awal Agustus, selepas aku menghirup kopi dan menghembuskan asap rokok kretek
kesukaanku, dokter mendiagnosaku sebagai gagal jantung dan aku dinyatakan mati.
Hahaha, siapa bilang mbah Surip
mati?. Reggae akan terus hidup, begitu juga lagu-laguku, akan terus hidup. I
love you full, hahahaha.
Bangun tidur,
tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangunnnn, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangunnnn, tidur lagi
Bangun tidur,
tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Bangunnnn, tidur lagi …
Bangun lagi, tidur lagi
Bangunnnn, tidur lagi …
Hidup adalah perjalanan. Aku tidak mati!. Aku tetap hidup dan sedang menjalani kehidupan di kehidupan lainnya. Orang yang mati adalah orang yang diam ditempat dan tidak berjalan karena akal pikirannya pun lama dibiarkannya mati. Hahahaha.
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar