Seberapa bahagianyakah aku?.
Apakah yang ku maksud bahagia adalah
tentang kelimpahan harta materi kekayaanku?. Apakah aku sedang membicarakan
itu?.
Apakah aku yang belum berkelimpahan
harta materi kekayaan boleh berbicara tentang kebahagiaan?.
Untung saja aku bukan juru hitung. Tak
ada yang bisa ku hitung karena memang tak ada yang pantas ku hitung.
Dan aku bukanlah pengumpul materi yang
cekatan. Karena aku pun tak tahu apa yang t’lah ku kumpulkan selama ini?.
Apa yang t’lah ku miliki?. Jika jiwa
ku pun bukanlah milikku.
Apa yang t’lah ku rekat erat-erat?.
Jika ruh ku pun kelak akan Kau ambil kembali.
Tuhan, apakah aku benar-benar t’lah
bahagia?.
Mungkin Kau hanya akan menjawab ;
bukankah kau masih punya iman?.
Ketika aku bertanya tentang harta
kekayaan, Kamu cuma berbisik ; bukankah kau t’lah Ku beri akal pikiran?.
Tuhan, tunjukkanlah aku selalu jalan
yang benar. Jalan yang selalu Engkau ridhoi.
Apakah hati nuranimu sudah enggan
bicara?. Atau pendengaranmu t’lah tuli?. Begitu selalu Kau jawab do’a-do’aku.
Biarkan ku selalu bertanya-tanya pada
Mu, Tuhan. Mungkin begitu cara ku dekat dengan-Mu.
Aku si fakir syukur.
Apakah makna kese dihan dan
kebahagiaan di mataku?.
Bisa jadi sangat berbeda di mata-Mu,
Tuhan?.
Aku si miskin hikmah dan si pengeluh
ini, mengapa masih saja Kau kangenin?.
Kau sapa aku dalam kesusahan dan kesedihan.
Agar selalu ku mengingat-Mu dan dekat dengan-Mu.
Aku hanyalah orang biasa. Dan Engkau
adalah Tuhan yang luar biasa.
Karena sejatinya bahagiaku adalah
seberapa besar cintaku pada-Mu, Tuhan.
*****
Kutu Kata, Apakah Aku Bahagia?, 28082012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar