Ram sudah memvonis, hidupku
tidak akan lama lagi. Ah, Ram sok tahu!. Siapa yang bisa menebak umur?. Tuhan
bilang, kita tidak boleh menyerah. Bukan hanya satu, penyakit yang ku derita
saling berhubungan. Jantung, Tekanan Darah Tinggi, Kolesterol dan beberapa
penyakit lainnya yang belum sempat terdeteksi. Semuanya berkonspirasi untuk
membunuhku.
Ram adalah dokter yang sabar.
Pria keturunan India berkebangsaan Inggris. Sesering aku meragukan
kemampuannya, sesering itu pula aku mengagumi diagnosanya.
“Nick, jangan kau selalu ketergantungan pada obat.” Kata Ram sambil menempelkan ballpointnya pada buku resep.
“Hei Ram, siapa yang membuat
pengusaha obat-obatan itu kaya?. Orang seperti aku, Ram!. Si Tua Bangka yang
kaya raya!. Ha ha ha.”
Ram diam saja, serius menulis
resep.
“Ram, jangan lupa!, aku minta
obat yang paling paten yang pernah di ciptakan oleh manusia. Berapapun
harganya, bukan masalah buatku. Kau tulis saja obat-obat paten di resep itu!.”
“Hmm, Nick pernah kau dengar
bahwa obat yang paling paten adalah pikiran.” Kata Ram menjelaskan.
“Maksudmu, Ram?.”
“Pikiran, Nick. Pikiran yang
tenang adalah metode penyembuhan yang efektif. Self Healing, aku pernah baca
bukunya, Nick.”
“Kamu percaya bualan itu, Ram?.
Oh, Ram buat apa kamu susah payah ambil spesialis?.”
“Sudah waktunya kita berfikir Back
to Nature, Nick. Penyembuhan dari diri sendiri dengan menggunakan
bahan-bahan dari alam… yang aku yakin, efek sampingnya lebih aman dibandingkan
obat-obatan berbahan kimia.”
“Aku bukan kelinci percobaanmu,
Ram!.”
“OK, Nick itu juga baru sebuah
gagasanku saja.”
Ram memberikan resep yang
nantinya harus aku tebus di apotik.
Sedikitnya apa yang Ram
sarankan, aku pun setuju. Siapa manusia yang tidak ingin pikirannya tenang?.
Dalam sisa hidup ini, seharusnya aku pun sudah hidup tenang. Apalagi yang aku
pikirkan?.
Bagiku, kelimpahan rejeki
ternyata tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan.
Apa yang telah diajarkan oleh
para motivator pada saat aku muda dulu ternyata tidak semuanya benar. Raihlah
kekayaan materi sebanyak mungkin maka pintu gerbang kebahagiaan telah terbuka
untuk kita. Huh, cuma teori basi!. Pada kenyataannya dalam hidup ini terdapat
juga, apa yang sering kita sebut sebagai : faktor x. Kebahagiaan adalah
perkalian dari kelimpahan rejeki dengan faktor x. Jika faktor x nya nol maka
kebahagiaannya pun nol.
Sejak sore ini, perutku
mulas-mulas. Aku tidak tahu apa karena salah makan atau pengaruh obat?. Ram
pernah bilang, akibat terlalu sering mengkosumsi obat-obatan penurun tekanan
darah, endapannya akan mengganggu saluran pencernaan. Apakah ini saatnya
endapan-endapan itu mengamuk?. Oh God, mulasnya tak tertahankan.
Aku bergegas ke toilet. Untuk
memelorotkan celana saja rasanya sudah tak ada waktu lagi. Kecepatannya seperti
kilat, aku berlomba dengan sepersekian detik. Hah, akhirnya…aku bisa duduk,
menarik nafas lega lalu…Perutku membuang semua endapan-endapan busuk itu. Baru
saja satu tarikan nafas, sesuatu telah membuatku kaget. Entah itu batu, kayu,
besi atau mungkin tangan yang telah meninju lubang pembuanganku. Tidak terlalu
keras tapi telah membuatku kaget. Jantungku seketika berhenti. Aku terjatuh
dari tepi WC, tak sadarkan diri. Mungkin pingsan. Oh, ternyata Tuhan
berkehendak lain, setelah berhenti sedetik ternyata jantungku tak di ijinkan
berdetak lagi. Nick, saatnya kamu mati. Kata lelaki bersayap yang menjemputku
mengangkasa.
Seekor katak yang terperangkap
di dalam lubang WC. Entah mekanisme penyelamatan diri apa yang ia pakai?. Katak
yang terjepit diantara selangkangan Nick, akhirnya bisa keluar dari dalam
lubang WC yang telah memenjarakannya. Katak yang berlumuran kotoran Nick,
melompat-lompat. Lompatan kegirangan atau memang cuma melompat-lompat saja yang
ia bisa.
Selang beberapa jam, Barbara,
wanita yang pelit senyum membuka pintu toilet. Berteriak histeris, ketika
menemukan tubuh Nick, suaminya telah terbujur kaku.
Sejam kemudian. Tim forensik,
Kepala Unit Kriminalitas beserta staff dari kepolisian tiba di rumah Nick.
Kesimpulan sementara, Nick meninggal karena jantung bukan karena pembunuhan,
ditubuh Nick tidak ditemukan bekas-bekas penganiayaan. Misteri yang tak
terpecahkan adalah ditemukannya kotoran Nick yang berceceran di lantai. Dari lantai
toilet menuju ke lorong yang menuju pintu belakang rumah Nick. Lagi-lagi polisi
terlalu cepat mengambil kesimpulan, Nick tak tahan buang air besar, hingga
berceceran kemana-mana. Wow, kesimpulan yang masuk akal bukan?.
*****
Sebuah pemakaman yang dingin.
Pemakaman tanpa sedih dan air mata. Barbara dengan gaun hitam dan topi lebar,
hitam berrenda plus kaca mata hitam Aigner-nya menutupi wajah pucat yang
pelit senyum. Didampingi Alan, anak sulung disebelah kanannya. Dan Jean, putri
bungsunya. Mereka berduapun mengenakan gaun hitam. Dibelakang Barbara, Tuan
Cassidy pengacaranya Nick. Lelaki tua yang kalem dan penuh wibawa. Ia hanya
tertunduk menekuri gundukan tanah merah yang ada di depannya, yang sebentar
lagi akan mengubur mayat, client nya.
Pidato perpisahan yang penuh
basa-basi. Dan do’a yang sangat umum dari pendeta. From dust to dust,
Hei Nick!, sebentar lagi kau akan jadi debu tapi sebelum itu kau akan
dihancurkan oleh cacing tanah dan bakteri pengurai lainnya. Prosesi pemakaman
Nick selesai. Tinggal nisan yang betuliskan RIP (dibaca : Rest In
Peace) yang menemani Nick.
*****
Tuan Cassidy membacakan surat
wasiat yang telah disiapkan oleh Nick semasa hidupnya. Barbara, Alan dan Jean
berharap cemas. Cuma Barbara yang bisa menyimpan kegusarannya. Alan dan Jean
sangat amatir, mereka terlihat kaku.
Seluruh kekayaan Nick, asuransi,
deposito dan saham-sahamnya di beberapa perusahaan besar disumbangkan kepada
lembaga-lembaga dan yayasan sosial.
Ram ketiban durian runtuh,
cita-citanya untuk mendirikan Pusat Therapy Self Healing akhirnya bisa
terwujud. Dengan dana hibah dari Nick, obsesi terbesar Ram yaitu menyatukan
metode pengobatan barat dan timur sebentar lagi akan terwujud.
Tuan Cassidy mendapatkan sepuluh
persen dari total aset kekayaan Nick, atas pengabdian seumur hidupnya pada
Nick.
Barbara, Alan dan Jean semakin
tegang mendengar surat wasiat yang dibacakan Tuan Cassidy.
Barbara hanya mendapatkan rumah
yang sekarang ditempatinya. Dan tunjangan bulanan yang hanya cukup untuk
kebutuhan rumah tangga sederhana. Pesan Nick pada Barbara, “Barbara, selamat
menikmati kehidupan sosialitamu yang lebih kamu cintai dari pada aku, suamimu.”
Alan hanya mendapatkan jam saku Cartier
yang antik. Dan sebuah pesan singkat dari Nick, “Al, waktu itu seperti pedang,
kalau kau tak pandai menggunakannya, maka ia akan membunuhmu.”
“Shit!, fuck you, Dad!.”
Alan tak bisa menahan kemarahannya.
Jean mendapatkan dana
pendidikan. Jean bisa meneruskan kuliahnya, terserah dimana Jean mau. Dana
pendidikan yang lumayan besar disediakan Nick untuk Jean, putri bungsunya. Tapi
sayang, dana itu hanya untuk pendidikan dan tak bisa di uangkan.
Selesai membacakan surat wasiat,
Tuan Cassidy pun pamit pergi.
Alan yang sedari tadi sudah
kesal, akhirnya ia pun menumpahkan kemarahannya. “Hei, Mom, harusnya aku yang
dapat bagian paling besar. Bukan orang lain, Mom!. Karena akulah yang taruh
katak itu di lubang WC.”
Barbara diam, wajahnya yang
pucat semakin beku memandang Alan tajam.
Jean melongo, mulutnya membentuk
huruf O. Matanya memandang kaget ke wajah Alan.
“Bukankah kalian juga
menginginkan kematian Papa?.” Tanya Alan pada Barbara dan Jean.
Barbara tanpa sepatah kata,
meninggalkan Alan. Jean pun ikut meninggalkan Alan tapi ia pergi ke arah yang
berbeda dengan Barbara.
Tinggal Alan sendirian yang
merasa bersalah. “Hei, hei, cepat atau lambat bukankah Papa akan mati juga?.”
Alan berteriak-teriak ke arah Barbara dan Jean.
“Don’t be naif !,
bukankah kalian juga senang dengan kematian Papa?. Hahahaha … .”
*****
Kutu Kata, Seekor
Katak Yang Terperangkap Di Dalam Lubang WC, 09062012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar