Seorang
pemulung ditemukan tewas di dalam parit, lebih tepatnya comberan yang airnya
hitam dan bau di sebuah perkampungan kumuh.
Disekujur
tubuhnya penuh luka memar dan lebam membiru. Penulis mencoba meraba, apakah ia
tewas akibat dikeroyok atau digebuki massa?. Lantas, kenapa sampai ia digebuki
sampai tewas?.
“Maling!.”
“Apa
yang telah dimaling?.” Tanya Penulis.
“Sendal!.”
“Hah!,
sendal?. Cuma sendal jepit?.” Penulis tambah terkaget-kaget. Apakah sebanding
nyawanya dengan sepasang sendal jepit?. Pikir Penulis.
“Pokoknya
yang maling di kampung ini, harus mati!.”
“Hah!.”
Penulis tambah kaget. “Oh, my God. Jadi sendal jepit ini yang telah dicuri si
pemulung?.”
Penulis
memandangi sepasang sendal jepit yang kira-kira berukuran beda, yang kanan nya
lebih besar dibanding sendal yang sebelah kirinya. Dan, ya ampuuunn!. Ternyata
sendal itu memang tidak sama. Baik ukuran maupun warna tali sendal itu.
Sepasang
sendal yang pantas untuk di buang!. Kalaupun si pemulung mengambil atau istilah
mereka “mencuri”, bukankah sendal itu sudah sepantasnya jadi sampah?. Dan
sampah memang “hak” nya si pemulung.
“Mengapa
ia nekad mencuri sendal butut itu?.” Tanya Penulis bingung. “Apa ia sudah bosan
hidup?.”
“Kerasnya
persaingan di antara sesama pemulung kadang bisa menyebabkan mereka nekad dan
terkesan bosan hidup.” Jelas pemulung senior.
“Tapi
… .” Pertanyaan penulis hanya tercekat di kerongkongan.
Penulis
pun meninggalkan lokasi kejadian. Dengan perasaan getir, kembali penulis
bermain-main dengan alam pikirannya sendiri.
“Hei,
bung!. Lihatlah gambar diatas!. Itu baru berita!.” Teriak Editor mengagetkan
penulis.
“Kalau
berita tentang pemulung yang tewas itu sudah biasa!, berita basi!.” Jelas
Editor lagi.
Sich
Kong, gadis cilik berusia 11 tahun asal Phnom Penh, Kamboja, dengan mata hijau
yang menakjubkan. Bekerja mengumpulkan batterei-batterei bekas di gunung sampah
yang membara. Sebuah bukit sampah yang luas, seluas 40 hektare dipenuhi dengan
asap dimana-mana akibat pembakaran sampah logam dan batterei bekas. Tak hirau
kan lagi, asap dan gas beracun yang menyedak pernafasannya. Mata Sich Kong
terus saja mengeluarkan air mata akibat perihnya asap beracun itu.
Bukan
hanya Sich Kong tapi banyak anak-anak kecil lainnya berusia antara 7 sampai 11
tahun, berjalan tanpa alas kaki selama kurang lebih 12 jam di pegunungan
sampah. Mencari apa saja yang bisa mereka jual. Sengaja sampah-sampah itu
dibakar, agar mereka cepat bisa menemukan sampah logam.
Sementara
di tempat lainnya, beberapa anak kecil memisahkan ekstrak karbon dan logam seng
yang mereka pisahkan dari sampah batterei. Batang karbon dan serbuk-serbuknya
mereka gerus, lalu di cuci kemudian dijual ke pabrik oleh majikan mereka
untuk di daur ulang menjadi batterei baru.
Gangguan
pernafasan akibat limbah berracun dan indikasi terkena kanker akibat pencemaran
logam berat, semua itu jelas tak sebanding dengan upah yang ia dapat hanya
cukup untuk makan keluarga mereka 1 sampai 2 hari saja.
“Bukankah
di “kita”, hal seperti itu juga ada, Bung?.” Tanya penulis pada Editor.
“Yup,
benar!.”
“Lantas,
apa nya yang istimewa?. Sama saja kan?.” Desak penulis pada Editor.
“Ha
ha ha ha, jadi apa dong berita yang istimewa?. Kasus Hambalang?, Kisruhnya KPK
dengan POLRI?, atau beberapa petinggi partai yang tertangkap korup?.”
“Ha
ha ha ha, itu juga sudah biasa, Bung?.” Jelas penulis. “Semua masalah atau
kasus akan terlihat “sama saja” dan “biasa saja” karena hati nurani kita telah
hilang, Bung!. Ha ha ha ha, bukan begitu, Bung?.”
“He
he he he, ya benar juga katamu!.” Kata Editor sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“Ya,
sudah kau tulis saja tentang “hati nurani yang hilang”, jadikan head line
mudah-mudahan saja jadi berita “panas”.”
“Ha
ha ha ha ha. Maksud, Bung. Aku harus menulis puisi tentang “hati nurani yang
hilang”?.” Ejek penulis pada Editor. “Kenapa tidak sekalian saja, kita bikin
lagu “cengeng”, cepat laku dan bisa menghasikan uang. Ha ha ha ha.”
“He
he he he, setuju!. Setuju!. Aku akan bikin lagu cengeng, cerpen cengeng, novel
cengeng dan skenario sinetron yang cengeng. He he he he… bukan kah itu yang
laku dijual di masyarakat kita?.” Ejek Editor semakin bersemangat.
Sepanjang
malam, ditemani secangkir dua cangkir kopi pahit dan kepulan asap dari rokok
kretek yang kami hisap, terasa sekali ; ternyata hati nurani kami telah lama
hilang. He he he he he, tawa kami pun sebenarnya sudah tidak lucu lagi, tawa
kami telah satire.
*****
Penulis Satire, Bukan Aku Sampahnya, 08112012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar