Selasa, 07 Mei 2013

Bukan Aku Sampahnya





Seorang pemulung ditemukan tewas di dalam parit, lebih tepatnya comberan yang airnya hitam dan bau di sebuah perkampungan kumuh.
Disekujur tubuhnya penuh luka memar dan lebam membiru. Penulis mencoba meraba, apakah ia tewas akibat dikeroyok atau digebuki massa?. Lantas, kenapa sampai ia digebuki sampai tewas?.
“Maling!.”
“Apa yang telah dimaling?.” Tanya Penulis.
“Sendal!.”
“Hah!, sendal?. Cuma sendal jepit?.” Penulis tambah terkaget-kaget. Apakah sebanding nyawanya dengan sepasang sendal jepit?. Pikir Penulis.
“Pokoknya yang maling di kampung ini, harus mati!.”
“Hah!.” Penulis tambah kaget. “Oh, my God. Jadi sendal jepit ini yang telah dicuri si pemulung?.”
Penulis memandangi sepasang sendal jepit yang kira-kira berukuran beda, yang kanan nya lebih besar dibanding sendal yang sebelah kirinya. Dan, ya ampuuunn!. Ternyata sendal itu memang tidak sama. Baik ukuran maupun warna tali sendal itu.
Sepasang sendal yang pantas untuk di buang!. Kalaupun si pemulung mengambil atau istilah mereka “mencuri”, bukankah sendal itu sudah sepantasnya jadi sampah?. Dan sampah memang “hak” nya si pemulung.
“Mengapa ia nekad mencuri sendal butut itu?.” Tanya Penulis bingung. “Apa ia sudah bosan hidup?.”
“Kerasnya persaingan di antara sesama pemulung kadang bisa menyebabkan mereka nekad dan terkesan bosan hidup.” Jelas pemulung senior.
“Tapi … .” Pertanyaan penulis hanya tercekat di kerongkongan.
Penulis pun meninggalkan lokasi kejadian. Dengan perasaan getir, kembali penulis bermain-main dengan alam pikirannya sendiri.
“Hei, bung!. Lihatlah gambar diatas!. Itu baru berita!.” Teriak Editor mengagetkan penulis.
“Kalau berita tentang pemulung yang tewas itu sudah biasa!, berita basi!.” Jelas Editor lagi.
Sich Kong, gadis cilik berusia 11 tahun asal Phnom Penh, Kamboja, dengan mata hijau yang menakjubkan. Bekerja mengumpulkan batterei-batterei bekas di gunung sampah yang membara. Sebuah bukit sampah yang luas, seluas 40 hektare dipenuhi dengan asap dimana-mana akibat pembakaran sampah logam dan batterei bekas. Tak hirau kan lagi, asap dan gas beracun yang menyedak pernafasannya. Mata Sich Kong terus saja mengeluarkan air mata akibat perihnya asap beracun itu.
Bukan hanya Sich Kong tapi banyak anak-anak kecil lainnya berusia antara 7 sampai 11 tahun, berjalan tanpa alas kaki selama kurang lebih 12 jam di pegunungan sampah. Mencari apa saja yang bisa mereka jual. Sengaja sampah-sampah itu dibakar, agar mereka cepat bisa menemukan sampah logam.
Sementara di tempat lainnya, beberapa anak kecil memisahkan ekstrak karbon dan logam seng yang mereka pisahkan dari sampah batterei. Batang karbon dan serbuk-serbuknya mereka gerus, lalu di cuci kemudian dijual  ke pabrik oleh majikan mereka untuk di daur ulang menjadi batterei baru.
Gangguan pernafasan akibat limbah berracun dan indikasi terkena kanker akibat pencemaran logam berat, semua itu jelas tak sebanding dengan upah yang ia dapat hanya cukup untuk makan keluarga mereka 1 sampai 2 hari saja.
“Bukankah di “kita”, hal seperti itu juga ada, Bung?.” Tanya penulis pada Editor.
“Yup, benar!.”
“Lantas, apa nya yang istimewa?. Sama saja kan?.” Desak penulis pada Editor.
“Ha ha ha ha, jadi apa dong berita yang istimewa?. Kasus Hambalang?, Kisruhnya KPK dengan POLRI?, atau beberapa petinggi partai yang tertangkap korup?.”
“Ha ha ha ha, itu juga sudah biasa, Bung?.” Jelas penulis. “Semua masalah atau kasus akan terlihat “sama saja” dan “biasa saja” karena hati nurani kita telah hilang, Bung!. Ha ha ha ha, bukan begitu, Bung?.”
“He he he he, ya benar juga katamu!.” Kata Editor sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“Ya, sudah kau tulis saja tentang “hati nurani yang hilang”, jadikan head line mudah-mudahan saja jadi berita “panas”.”
“Ha ha ha ha ha. Maksud, Bung. Aku harus menulis puisi tentang “hati nurani yang hilang”?.” Ejek penulis pada Editor. “Kenapa tidak sekalian saja, kita bikin lagu “cengeng”, cepat laku dan bisa menghasikan uang. Ha ha ha ha.”
“He he he he, setuju!. Setuju!. Aku akan bikin lagu cengeng, cerpen cengeng, novel cengeng dan skenario sinetron yang cengeng. He he he he… bukan kah itu yang laku dijual di masyarakat kita?.” Ejek Editor semakin bersemangat.
Sepanjang malam, ditemani secangkir dua cangkir kopi pahit dan kepulan asap dari rokok kretek yang kami hisap, terasa sekali ; ternyata hati nurani kami telah lama hilang. He he he he he, tawa kami pun sebenarnya sudah tidak lucu lagi, tawa kami  telah satire.
*****
Penulis Satire, Bukan Aku Sampahnya,  08112012

Tidak ada komentar: