Rima, putriku semata wayang
merengek minta dirayakan pas hari ulang tahunnya. Ah, ada-ada saja si Rima itu,
memangnya ia lupa atau pura-pura tidak tahu kalau bapaknya ini hanyalah seorang
pemulung.
“Sudahlah, Pak Wi, gak usah
dipikirin namanya juga anak-anak. Buat orang-orang seperti kita ini sudah bisa
makan tiap hari saja sudah bagus.” Nasihat Pak Uwo, teman sesama pemulung.
“Memangnya Pak Wi, lagi ketiban
rejeki?.” Tanya Mas Item seolah mengejekku. “Kue tart itu mahal, Pak Wi…
Hehehe, bisa beli kue tart tapi kita gak bisa makan selama seminggu, mau?.”
Pertanyaan Mas Item benar-benar
telah menampar kesadaranku. “Pilih mana Pak Wi, merayakan ulang tahun tapi
uangnya boleh hutang sama si rentenir itu lalu Pak Wi dikejar-kejar hutang
sampai tak nyenyak tidur atau … ?.”
“Atau apa, Mas?.”
“Atau Pak Wi dan keluarga hidup
tenang dan tidur nyenyak … karena gak ngutang sama si rentenir itu cuma
gara-gara mau merayakan ulang tahun.”
Hmm, kalau dipikir dengan otak
waras, semua sindiran Mas Item itu benar. Kok, aku bisa kalah ya dengan
rengekkan si Rima?. Pokoknya nanti kalau ketemu si Rima, aku bilang saja ; maaf
Rima, bapak mu ini cuma pemulung, jadi kamu gak usah punya mimpi yang
macam-macam deh!.
Eh, ladalah!. Pas ketemu Rima di
gubukku. Lalu mendengar rengekannya, kok aku jadi gak tega ya!. Namanya juga
putri semata wayang, duh kapan lagi aku bisa membahagiakan Rima. Pokoknya
dengan cara apapun, Ulang Tahun Rima harus dirayakan, dibuat pesta, mau
kecil-kecilan kek!, atau besar-besaran kek!. Yang penting Rima nya senang. Dan
aku sebagai bapaknya bangga sudah bisa membahagiakan Rima.
Lah wong, pesta ulang tahunnya
cuma sekali seumur hidupnya kok, masa aku tidak usahakan sih?. Kalau sampai
Rima ngambek seumur hidup dan menyesal punya bapak kere’ seperti aku ini, apa
aku tidak menyesal nantinya?.
Kue tart setinggi semeter telah
berdiri diantara kerumunan anak-anak para pemulung dan gelandangan.
“Happy birthday to you … happy
birth day to you .. happy birth day, happy birth day … happy birth day to you…
.” Suara anak-anak bernyanyi.
Sementara para bapak-bapak dan
ibu-bu memandang sinis ke arah pesta itu. Mas Item acuh, cuma sesekali melirik
ke arah ku tart itu. Pak Uwo, mukanya kaku dan senyumnya kecut sekali. Mereka
mungkin tidak suka karena aku nekad merayakan ulang tahunnya Rima. Ah, biar
saja!, mereka tidak bisa memahami perasaanku pada Rima, anakku.
“Eh, eh … tukang fotonya sudah
datang!. Mari pak, mari!, ayo cepat difoto pak!.” Teriakku senang ke arah anak
muda berranbut gimbal, tukang foto keliling.
Anak muda itu bergegas
mempersiapkan kameranya.
“Ayo, anak-anak berdiri!.
berdiri semua sambil bernyanyi dan bertepuk tangan!. Rima berdiri ditengah kue
tart itu!. Ayo cepat mau difoto nih!.” Teriakku bersemangat.
Hanya beda beberapa centi tinggi
Rima dengan kue tart itu. Tapi wajah Rima masih bisa terlihat jelas kalau di
foto. Wah, ulang tahun yang hebat!. Bisikku dalam hati. Kue tart yang mewah dan
megah!. Rima nampak senang sekali, senyum manis nya selalu dia umbar kepada
teman-temannya dan sesekali juga kepadaku. Tak terkira, hatiku pun senang melihat
Rima senang.
Diantara kerumunan bapak-bapak,
si Gembul anak tanggung berbadan tambun nyeletuk mengomentari pesta yang meriah
itu.
“Wah, pesta besar nih Pak Wi!.
Jangan lupa kue nya ya… Gembul paling doyan kue ulang tahun!.”
“Huh!, dasar gembul!. Mikirnya
makan melulu!.” Teriak Mas Item judes.
“Memangnya Mas Item gak doyan
kue ulang tahun?.” Tanya Gembul polos.
“Hehehe… sabar ya Gembul, nanti
kalau acaranya selesai, saya kasih kue nya!.” Teriakku pada Gembul.
Setelah tukang foto keliling
mengambil beberapa gambar.Tukang foto itupun pulang dan berjanji akan bertemu
denganku lagi apabila hasil fotonya telah selesai dicetak.
Sebagian anak-anak asyik
menikmati kue-kue yang ada di dalam kantong plastik seperti : lontong, risol
dan tahu isi serta dua buah permen dan segelas sirop. Sebagian lagi sudah
pada pulang sambil membawa bungkusan kantong plastik yang tadi kuberikan.
Para bapak-bapak dan ibu-ibu
yang menonton pun mulai membubarkan diri juga.
“Hei Pak Wi, jangan dimakan
sendiri kue tartnya bisa “kencing manis” nanti!. Sindir Pak Uwo sambil berlalu
pergi.
Aku pun diam saja sambil
memandang kepergian Pak Uwo.
Dikolong jembatan dipinggiran
rel kereta, suasana malam jadi sepi kembali. Rima sudah masuk kembali ke
gubukku. Tinggal Mas Item dan si Gembul yang masih melototin kue tart.
“Kapan dipotong kue tartnya?.
Gembul udah gak tahan nih!.” Pinta Gembul padaku.
“Iya Pak Wi, Hehehe…jujur saja
aku juga belum pernah nyobain kue raksasasa itu!.” Kata Mas Item polos.
Aku cuma nyengir saja. “Gak bisa
dipotong apa lagi dimakan!, kue tart ini saya buat dari styrofoam yang di
cat!.”
“Hah!.” Mas Item dan Gembul
bengong memelototi aku dan kue tart raksasa itu bergantian.
“Hehehe, kalau tahu isi dan
lontongnya masih ada, mau?.”
Mas Item dan si Gembul saling
berpandangan bergantian.
“Sekalian sama kopi nya, Pak Wi
… biar ada teman nya.” Jawab si Gembul bernafsu.
“Huh!, dasar Gembul ya tetap
saja gembul.” Jawab Mas Item ketus.
“Hehehehe, ya udah saya bikinin
dulu kopinya, biar kita bisa ngobrol-ngobrol sambil joint kopi.”
“Nah, itu baru mantap, Pak Wi…
para pemulung ibu kota sedang joint kopi!.” Kata si Gembul senang.
“Dan tentu saja sambil ngomongin
politik, terus ngritikkin para pejabat kita yang gak becus, joint kopinya jadi
tambah seru!. Hehehehe…. .” Sahut Mas Item penuh semangat.
“Hehehehe… wah joint kopinya
bisa semalam sntuk nih!. Ya udah saya bikin dulu kopi nya.” Pak Wi pun masuk
kedalam gubuknya meninggalkanMas Item dan si Gembul yang masih asyik berhaha
hihi.
*****
Kutu Kata, Ulang
Tahun, 22092012
Ilustrasi Gambar : Sumber Dari : foto.detik.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar