Kamis, 02 Mei 2013

Ulang Tahun



Ulang Tahun?.  Apa sih Ulang Tahun?, mengapa pula tahun harus diulang-ulang?.
Rima, putriku semata wayang merengek minta dirayakan pas hari ulang tahunnya. Ah, ada-ada saja si Rima itu, memangnya ia lupa atau pura-pura tidak tahu kalau bapaknya ini hanyalah seorang pemulung.
“Sudahlah, Pak Wi, gak usah dipikirin namanya juga anak-anak. Buat orang-orang seperti kita ini sudah bisa makan tiap hari saja sudah bagus.” Nasihat Pak Uwo, teman sesama pemulung.
“Memangnya Pak Wi, lagi ketiban rejeki?.” Tanya Mas Item seolah mengejekku. “Kue tart itu mahal, Pak Wi… Hehehe, bisa beli kue tart tapi kita gak bisa makan selama seminggu, mau?.”
Pertanyaan Mas Item benar-benar telah menampar kesadaranku. “Pilih mana Pak Wi, merayakan ulang tahun tapi uangnya boleh hutang sama si rentenir itu lalu Pak Wi dikejar-kejar hutang sampai tak nyenyak tidur atau … ?.”
“Atau apa, Mas?.”
“Atau Pak Wi dan keluarga hidup tenang dan tidur nyenyak … karena gak ngutang sama si rentenir itu cuma gara-gara mau merayakan ulang tahun.”
Hmm, kalau dipikir dengan otak waras, semua sindiran Mas Item itu benar. Kok, aku bisa kalah ya dengan rengekkan si Rima?. Pokoknya nanti kalau ketemu si Rima, aku bilang saja ; maaf Rima, bapak mu ini cuma pemulung, jadi kamu gak usah punya mimpi yang macam-macam deh!.
Eh, ladalah!. Pas ketemu Rima di gubukku. Lalu mendengar rengekannya, kok aku jadi gak tega ya!. Namanya juga putri semata wayang, duh kapan lagi aku bisa membahagiakan Rima. Pokoknya dengan cara apapun, Ulang Tahun Rima harus dirayakan, dibuat pesta, mau kecil-kecilan kek!, atau besar-besaran kek!. Yang penting Rima nya senang. Dan aku sebagai bapaknya bangga sudah bisa membahagiakan Rima.
Lah wong, pesta ulang tahunnya cuma sekali seumur hidupnya kok, masa aku tidak usahakan sih?. Kalau sampai Rima ngambek seumur hidup dan menyesal punya bapak kere’ seperti aku ini, apa aku tidak menyesal nantinya?.
Kue tart setinggi semeter telah berdiri diantara kerumunan anak-anak para pemulung dan gelandangan.
“Happy birthday to you … happy birth day to you .. happy birth day, happy birth day … happy birth day to you… .” Suara anak-anak bernyanyi.
Sementara para bapak-bapak dan ibu-bu memandang sinis ke arah pesta itu. Mas Item acuh, cuma sesekali melirik ke arah ku tart itu. Pak Uwo, mukanya kaku dan senyumnya kecut sekali. Mereka mungkin tidak suka karena aku nekad merayakan ulang tahunnya Rima. Ah, biar saja!, mereka tidak bisa memahami perasaanku pada Rima, anakku.
“Eh, eh … tukang fotonya sudah datang!. Mari pak, mari!, ayo cepat difoto pak!.” Teriakku senang ke arah anak muda berranbut gimbal, tukang foto keliling.
Anak muda itu bergegas mempersiapkan kameranya.
“Ayo, anak-anak berdiri!. berdiri semua sambil bernyanyi dan bertepuk tangan!. Rima berdiri ditengah kue tart itu!. Ayo cepat mau difoto nih!.” Teriakku bersemangat.
Hanya beda beberapa centi tinggi Rima dengan kue tart itu. Tapi wajah Rima masih bisa terlihat jelas kalau di foto. Wah, ulang tahun yang hebat!. Bisikku dalam hati. Kue tart yang mewah dan megah!. Rima nampak senang sekali, senyum manis nya selalu dia umbar kepada teman-temannya dan sesekali juga kepadaku. Tak terkira, hatiku pun senang melihat Rima senang.
Diantara kerumunan bapak-bapak, si Gembul anak tanggung berbadan tambun nyeletuk mengomentari pesta yang meriah itu.
“Wah, pesta besar nih Pak Wi!. Jangan lupa kue nya ya… Gembul paling doyan kue ulang tahun!.”
“Huh!, dasar gembul!. Mikirnya makan melulu!.” Teriak Mas Item judes.
“Memangnya Mas Item gak doyan kue ulang tahun?.” Tanya Gembul polos.
“Hehehe… sabar ya Gembul, nanti kalau acaranya selesai, saya kasih kue nya!.” Teriakku pada Gembul.
Setelah tukang foto keliling mengambil beberapa gambar.Tukang foto itupun pulang dan berjanji akan bertemu denganku lagi apabila hasil fotonya telah selesai dicetak.
Sebagian anak-anak asyik menikmati kue-kue yang ada di dalam kantong plastik seperti : lontong, risol dan tahu isi serta dua buah permen dan segelas sirop.  Sebagian lagi sudah pada pulang sambil membawa bungkusan kantong plastik yang tadi kuberikan.
Para bapak-bapak dan ibu-ibu yang menonton pun mulai membubarkan diri juga.
“Hei Pak Wi, jangan dimakan sendiri kue tartnya bisa “kencing manis” nanti!. Sindir Pak Uwo sambil berlalu pergi.
Aku pun diam saja sambil memandang kepergian Pak Uwo.
Dikolong jembatan dipinggiran rel kereta, suasana malam jadi sepi kembali. Rima sudah masuk kembali ke gubukku. Tinggal Mas Item dan si Gembul yang masih melototin kue tart.
“Kapan dipotong kue tartnya?. Gembul udah gak tahan nih!.” Pinta Gembul padaku.
“Iya Pak Wi, Hehehe…jujur saja aku juga belum pernah nyobain kue raksasasa itu!.” Kata Mas Item polos.
Aku cuma nyengir saja. “Gak bisa dipotong apa lagi dimakan!, kue tart ini saya buat dari styrofoam yang di cat!.”
“Hah!.” Mas Item dan Gembul bengong memelototi aku dan kue tart raksasa itu bergantian.
“Hehehe, kalau tahu isi dan lontongnya masih ada, mau?.”
Mas Item dan si Gembul saling berpandangan bergantian.
“Sekalian sama kopi nya, Pak Wi … biar ada teman nya.” Jawab si Gembul bernafsu.
“Huh!, dasar Gembul ya tetap saja gembul.” Jawab Mas Item ketus.
“Hehehehe, ya udah saya bikinin dulu kopinya, biar kita bisa ngobrol-ngobrol sambil joint kopi.”
“Nah, itu baru mantap, Pak Wi… para pemulung ibu kota sedang joint kopi!.” Kata si Gembul senang.
“Dan tentu saja sambil ngomongin politik, terus ngritikkin para pejabat kita yang gak becus, joint kopinya jadi tambah seru!. Hehehehe…. .”  Sahut Mas Item penuh semangat.
“Hehehehe… wah joint kopinya bisa semalam sntuk nih!. Ya udah saya bikin dulu kopi nya.” Pak Wi pun masuk kedalam gubuknya meninggalkanMas Item dan si Gembul yang masih asyik berhaha hihi.
*****
Kutu Kata, Ulang Tahun, 22092012
Ilustrasi Gambar : Sumber Dari : foto.detik.com

Tidak ada komentar: