Papa!,
Tolong angkat jemuran!, Hujaaaaaan!. Begitu teriak istriku. Aku dan istriku
langsung berjibaku, angkat-angkat pakian yang telah kering, agar tak ditangisi
lagi oleh hujan.
Hujan
yang sering jadi sumber inspirasiku dulu sebagai penulis fiksi. Kini jadi
sumber umpatanku. Tak ada indahnya lagi, semua jadi terhambat gara-gara hujan.
My Stupid Boss pasti akan marah. Ia lebih senang berdebat dari pada mendengar
seribu alasanku.
Kenapa
terlambat lagi?. Hujan, Boss!. Ah, alasan saja. Semua juga kehujanan tapi tidak
ada yang terlambat seperti kamu!. Ya, Boss. Aku cuma berani jawab, iya Boss,
iya Boss, sambil manggut-manggutkan kepala seperti beo.
Kalau
sudah seperti ini, siapa yang mesti disalahkan?. Hujan?. Jemuran?. Istriku yang
bawel?. Rumahku yang jauh dari kantor?. Jalan Tol yang tolol?. Bis yang
jalannya seperti keong?. Pemerintahan yang gak becus?. Atau nasib?. Nasib
siapa?, Nasibku sendiri?. Duh, masa sih aku harus menyalahkan nasib, betapa
tidak pandai bersyukurnya aku, Banyak orang yang bernasib lebih buruk dari aku
tapi ia lebih pandai bersyukur.
Selamat,
target penjualan tercapai!. My stupid Boss menjabat erat tanganku. Oh, iya,
untuk semester ini target penjualan kita tingkatkan lagi dua puluh persen,
sebuah tawaran yang menantang tentunya. Tingkatkan terus penjualan, malu lah
kalau sampai kamu kalah dengan sales-sales baru yang lebih lincah dan gesit. My
stupid Boss, memang pintar. Sisi kemaluanku, ia sentil keras. Hingga semangat
kerjaku kembali dipecut bagai kuda. Target, target, target dan target.
My
stupid Boss selalu bilang, semangat kerja berbanding lurus dengan kinerja.
Kinerja berbanding lurus dengan prestasi. Prestasi berbanding lurus dengan laba
perusahaan. Tapi, My stupid Boss lupa, apakah laba perusahaan berbanding lurus
dengan pendapatanku?. Dan pendapatanku akan berbanding lurus dengan anggaran
belanja rumah tanggaku?. Kenyataan nya tidak. Anggaran belanja rumah tangga
selalu naik sementara pendapatanku, hanya terkoreksi sedikit.
Puisi-puisi
indah yang biasa ku coret di buku saku, kini telah berubah isi catatannya.
Pampers buat dede habis, susu buat kakak dan dede tinggal sedikit, stock beras
dan telor buat bulan ini takut harganya naik, rentetan bon-bon alfa dan indomaret,
uang bayaran sekolah si kakak, uang kebersihan dan keamanan, gara-gara papa gak
ikut ronda jadi kena denda. Bayar arisan keluarga, ada undangan pernikahan dari
kerabat, bulan ini saja sudah ada empat undangan, bayar ini, bayar itu. Huh!,
bisa pecah kepala ini rasanya.
Kemana
hilangnya sisi romantis pada diriku?, kemana hilangnya si “Khalil Gibran”?.
Bila cinta mendatangimu, ikuti dia. Walaupun jalannya sulit
dan terjal. Ketika cinta memahkotaimu, ia akan menyalibmu… Kata-kata yang sering ku kutip dari
Khalil Gibran.
Oh,
cinta. Aku benar-benar sudah tersalib olehnya. Puisi-puisi indah yang sering ku
sms pada istriku sering tak terbalas. Terkadang cuma dijawab, Pa jangan sms
yang gak penting, pulsa mahaaaaaallll!. Kata-kata itu tak pernah terucap dulu
pada waktu kita masih pacaran, sehari saja tidak di sms-in puisi. Dia selalu
bilang, sudah gak sayang lagi ya?, sudah bosan ya?, sudah punya pacar lagi?,
O,begitu ya?.
Mau
makan jadi ingat kamu, mau tidur ingat kamu, mau nafas ingat kamu, mungkin mau
kentut juga ingat kamu, bahkan mau BAB (baca : Buang Air Besar) harus ingat
kamu. Duh, romantis sekali. Dunia serasa milik kami berdua, yang lain
‘ngontrak.
Seiring
berjalannya waktu, rumah tanggaku sudah dikaruniai dua orang anak. Si Kakak
yang baru kelas empat sekolah dasar. Dan si dede yang hampir setahun usianya,
sudah bisa ‘ngoceh dan berjalan merangkak. Kebutuhan rumah tangga kami pun
semakin meningkat. Tidak ada lagi anggaran, untuk jalan-jalan atau beli buku
seperti kegemaranku. Semua sudah tersedot untuk “hal-hal penting” saja, begitu
kata istriku. Dunia yang dulu indah dan terasa romantis berubah menjadi sempit
dan penuh kerepotan.
Pa,
habis kerja langsung pulang. Jangan “nongkrong” lagi dengan teman kerja, dede
badannya panas lagi. Begitu isi sms yang masuk dari istriku siang ini.
“Pa,
gimana kalau dede di rawat?.” Kata istriku panik.
“Kita
lihat hasil lab. darahnya dulu ya Bu.” Sahut Dokter menenangkan istriku. “Kalau
memang terindikasi typus ya sebaiknya dirawat, Bu.”
Aku
dan istriku keluar dari ruang dokter. Menunggu hasil lab. darah nya si dede.
Kira-kira membutuhkan waktu dua jam untuk mengetahui hasilnya, kata Dokter itu.
Di
ruang tunggu pasien. Aku terduduk diam. Istrikupun diam. Kami memandang
lorong-lorong rumah sakit yang kosong. Istriku menggengam tanganku. Akupun
balas meremas. Genggamannya makin lama makin keras. Lalu ia terisak tangis.
Isak tangisnya yang lembut lambut laun mampu mengguncangkan bahunya. Aku ajak
istriku keluar dari ruang tunggu karena volume tangisnya takut mengganggu
ketenangan rumah sakit.
“Kenapa
Ma?.”
Istriku
pun langsung menubruk memelukku, menumpahkan tangisnya.
“Kasihan
dede, Pa… kasihan.”
“Iya,
Ma.. Papa juga sayang sama dede.”
“Mama
tidak bisa membayangkan selang-selang infus yang tertancap di lengannya yang
mungil, Pa!.”
Mengingat
kata-lata istriku, aku pun merasa iba dengan dede. Semoga kamu kuat ya, de.
Bisikku dalam hati.
Setelah
reda tangis istriku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, setelah aku lihat ke
arah jam tanganku. Kira-kira pukul dua belas hasil lab. nya keluar. Hmm, masih
ada waktu sejam lagi.
“Oh,
ya Ma… dari siang mama belum makan kan?.”
“Mana
sempat, Pa. Mama juga gak kepikiran.”
“Kita
makan dulu yuk, nanti mama ikut sakit, wah papa bisa repot deh.”
“Makan
dimana Pa, malam-malam begini?.”
“Itu
!.” Sambil aku menunjuk ke sebuah warung kecil. Sego kucing, warungnya Mbah
Belut. Sebuah warung nasi angkringan khas Jogjakarta.
Aku
memesan nasi gudeg, krecek, tempe bacem dan sate laler (sate laler adalah
sate ayam yang irisan ayamnya kecil-kecil seperti laler atau lalat),
minumnya STMJ (susu telor madu jahe). Istrku memesan nasi gudeg, burung dara
crispy dan minum nya teh tawar hangat. Baru beberapa suap kami makan, lampu penerangan
warung padam. Mati lampu, kata Mbah Belut, kakek-kakek yang sigap dan penuh
semangat melayani kami.
Mbah
Belut, meletakkan lilin yang dinyalakan di atas piring kecil ke hadapan kami.
Praktis, kami hanya diterangi oleh nyala lilin itu.
“Sudah
lama ya Pa, kita gak candle light dinner?.” Kata istriku.
“Hehehe,
akhirnya kesampaian juga!, candle light dinner di warung angkringan?, Oh…so
sweet.” Sahutku bercanda.
“Sate
lalernya enak, Pa?.”
“Mama
mau cobain, nih!.” Sambil aku menyuapkan sate laler ke mulut istriku.
“Hmm,
lumayan Pa. Burung dara crispy nya juga enak loh, Pa.” Kata istrku semangat.
“Papa mau?.”
Langsung
saja, istriku menyuapi Burung dara crispy ke mulutku. “Di cocol pakai sambal
goreng, nikmat rasanya, Pa!.”
“Jangan
banyak-banyak sambalnya, Ma.”
“Gak,
sedikit kok!.”
Burung
dara crispy nya sudah nikmat ku lumat.
“Enakkan,
Pa?.” Tanya istriku meyakinkan.
“He
eh!.” Aku tidak bisa berkata karena mulutku masih penuh Burung dara crispy.
“Romantis
ya Pa?, hihihihi. Papa tahu saja deh, tempat-tempat yang romantis, hihihi.”
Kata istriku sambil cekikikan senang.
Romantis?,
ah masa sih?. pikirku dalam hati. Ternyata romantis itu tidak selalu harus di
restoran-restoran yang mewah dan mahal. Romantis itu adalah suasana. Suasana
hati kita yang rindu akan situasi yang penuh arti.
Aku
hampir lupa, kapan kami terakhir suap-suapan?. O, waktu pernikahan kami saat
acara suap-suapan. Masa pengantin baru. Saat kami berbulan madu ke pantai
Pangandaran. Setelah itu, tidak pernah lagi. Hari-hari kami nyaris ditelan
kesibukan masing-masing. Aku sibuk kerja, Istriku sibuk mengurus anak dan
mengurus rumah mungil kami.
“Alhamdulillah,
hasil tes darahnya menunjukkan negatif typus. Si dede cuma kena radang
tenggorokan makanya demam.” Sahut Dokter sambil menuliskan resep. “Obatnya
ditebus, antibiotiknya dihabiskan ya Bu.”
“Gak
perlu dirawatkan, Dok?.”
“Gak,
gak usah. Di rawat di rumah saja.” Sahut Dokter itu ringan.
Istriku
gembira mendengar kabar itu. Ia langsung memelukku. Tanpa malu, di hadapan
dokter ia ciumi pipiku berkali-kali. Ah, aku kok jadi cengeng. Terasa hangat
air mataku meleleh di pipi.
“Cepat
sembuh ya dede nya.” Kata dokter menyadarkan kami.
“Hihihi,
iya Dok. Ma kasih ya Dok.” Sahut istriku malu-malu.
Dengan
sumringah, aku dan istriku membawa dede pulang kembali.
“Kenapa
lagi, Pa motornya?.” Tanya istriku di saat aku berkali-kali sedang menstarter
motorku di halaman parkir rumah sakit.
“Maklumlah,
motor butut.” Sahutku sambil sibuk menstarter. Aku putar coke nya. Aku starter
lagi.
“Berrrrrrr!.”
Suara motorku pun hidup.
Istriku
sambil menggendong dede, duduk dibelakangku. Motor mulai meluncur ke arah
rumahku yang tidak jauh dengan rumah sakit.
“Sudah
berapa tahun motor ini setia mengantar kita pergi kemana-mana ya Pa?.” Tanya
istriku dalam terpaan angin malam yang dingin.
“Iya.”
Sahutku sambil teriak. “Hebat motornya, biar butut juga masih OK, Ma.”
“Malam-malam
dingin begini diboncengi Papa sambil peluk Papa, enak juga ya.”
“Sudah
lama kita gak jalan-jalan seperti ini, Pa.” Kata istriku sambil mengencangkan
pelukannya. “Hmm, romantis rasanya, Pa… Mama jadi tambah sayang deh sama Papa.”
“Romantis?,
apanya yang romantis, Ma?.”
“Jalan-jalan
tengah malam begini, naik motor butut sambil memeluk Papa itu romantis.” Sahut
istriku.
“Motor
butut yang setia mengantar kita kemana saja itu romantis, Pa.” Sahut istriku
lagi.
Motor
butut kok jadi romantis juga?. Hehehehe. Istriku terus saja berkata-kata. Aku
cuma jawab iya karena aku harus konsentrasi di jalan saat mengendarai motor
butut kami. Pikiranku pun kembali teringat akan cerita My stupid Boss dulu
waktu ia sedang marahan dengan istrinya.
Romantis itu bukan hanya kata-kata indah yang ada dalam
puisi, juga bukan hanya hayalan-hayalan indah yang ada dalam dongeng-dongeng.
Suka duka, pahit getirnya kehidupan itu juga romantis tergantung bagaimana kita
memaknainya. Tanggung jawab kita sebagai seorang kepala rumah tangga, sebagai
seorang suami, sebagai seorang bapak itu juga termasuk romantis.
Hehehe,
benar juga kata My stupid Bossku. My stupid Bossku yang bijak, kaya akan
pengalaman hidup. Tanpa sadar, baru kali ini aku memuji Bossku. Hehehe, itu
juga termasuk romantis kan?.
******
Kutu Kata, 26042012
ilustrasi Gambar : etsy.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar