Kamis, 02 Mei 2013

Romantis yang Hilang Sepagi Ini



Masih adakah sedikit saja sisi romantis pada diriku?.

Papa!, Tolong angkat jemuran!, Hujaaaaaan!. Begitu teriak istriku. Aku dan istriku langsung berjibaku, angkat-angkat pakian yang telah kering, agar tak ditangisi lagi oleh hujan.

Hujan yang sering jadi sumber inspirasiku dulu sebagai penulis fiksi. Kini jadi sumber umpatanku. Tak ada indahnya lagi, semua jadi terhambat gara-gara hujan. My Stupid Boss pasti akan marah. Ia lebih senang berdebat dari pada mendengar seribu alasanku.

Kenapa terlambat lagi?. Hujan, Boss!. Ah, alasan saja. Semua juga kehujanan tapi tidak ada yang terlambat seperti kamu!. Ya, Boss. Aku cuma berani jawab, iya Boss, iya Boss, sambil manggut-manggutkan kepala seperti beo.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang mesti disalahkan?. Hujan?. Jemuran?. Istriku yang bawel?. Rumahku yang jauh dari kantor?. Jalan Tol yang tolol?. Bis yang jalannya seperti keong?. Pemerintahan yang gak becus?. Atau nasib?. Nasib siapa?, Nasibku sendiri?. Duh, masa sih aku harus menyalahkan nasib, betapa tidak pandai bersyukurnya aku, Banyak orang yang bernasib lebih buruk dari aku tapi ia lebih pandai bersyukur.

Selamat, target penjualan tercapai!. My stupid Boss menjabat erat tanganku. Oh, iya, untuk semester ini target penjualan kita tingkatkan lagi dua puluh persen, sebuah tawaran yang menantang tentunya. Tingkatkan terus penjualan, malu lah kalau sampai kamu kalah dengan sales-sales baru yang lebih lincah dan gesit. My stupid Boss, memang pintar. Sisi kemaluanku, ia sentil keras. Hingga semangat kerjaku kembali dipecut bagai kuda. Target, target, target dan target.

My stupid Boss selalu bilang, semangat kerja berbanding lurus dengan kinerja. Kinerja berbanding lurus dengan prestasi. Prestasi berbanding lurus dengan laba perusahaan. Tapi, My stupid Boss lupa, apakah laba perusahaan berbanding lurus dengan pendapatanku?. Dan pendapatanku akan berbanding lurus dengan anggaran belanja rumah tanggaku?. Kenyataan nya tidak. Anggaran belanja rumah tangga selalu naik sementara pendapatanku, hanya terkoreksi sedikit.

Puisi-puisi indah yang biasa ku coret di buku saku, kini telah berubah isi catatannya. Pampers buat dede habis, susu buat kakak dan dede tinggal sedikit, stock beras dan telor buat bulan ini takut harganya naik, rentetan bon-bon alfa dan indomaret, uang bayaran sekolah si kakak, uang kebersihan dan keamanan, gara-gara papa gak ikut ronda jadi kena denda. Bayar arisan keluarga, ada undangan pernikahan dari kerabat, bulan ini saja sudah ada empat undangan, bayar ini, bayar itu. Huh!, bisa pecah kepala ini rasanya.

Kemana hilangnya sisi romantis pada diriku?, kemana hilangnya si “Khalil Gibran”?.

Bila cinta mendatangimu, ikuti dia. Walaupun jalannya sulit dan terjal. Ketika cinta memahkotaimu, ia akan menyalibmu… Kata-kata yang sering ku kutip dari Khalil Gibran.

Oh, cinta. Aku benar-benar sudah tersalib olehnya. Puisi-puisi indah yang sering ku sms pada istriku sering tak terbalas. Terkadang cuma dijawab, Pa jangan sms yang gak penting, pulsa mahaaaaaallll!. Kata-kata itu tak pernah terucap dulu pada waktu kita masih pacaran, sehari saja tidak di sms-in puisi. Dia selalu bilang, sudah gak sayang lagi ya?, sudah bosan ya?, sudah punya pacar lagi?, O,begitu ya?.

Mau makan jadi ingat kamu, mau tidur ingat kamu, mau nafas ingat kamu, mungkin mau kentut juga ingat kamu, bahkan mau BAB (baca : Buang Air Besar) harus ingat kamu. Duh, romantis sekali. Dunia serasa milik kami berdua, yang lain ‘ngontrak.

Seiring berjalannya waktu, rumah tanggaku sudah dikaruniai dua orang anak. Si Kakak yang baru kelas empat sekolah dasar. Dan si dede yang hampir setahun usianya, sudah bisa ‘ngoceh dan berjalan merangkak. Kebutuhan rumah tangga kami pun semakin meningkat. Tidak ada lagi anggaran, untuk jalan-jalan atau beli buku seperti kegemaranku. Semua sudah tersedot untuk “hal-hal penting” saja, begitu kata istriku. Dunia yang dulu indah dan terasa romantis berubah menjadi sempit dan penuh kerepotan.

Pa, habis kerja langsung pulang. Jangan “nongkrong” lagi dengan teman kerja, dede badannya panas lagi. Begitu isi sms yang masuk dari istriku siang ini.

“Pa, gimana kalau dede di rawat?.” Kata istriku panik.

“Kita lihat hasil lab. darahnya dulu ya Bu.” Sahut Dokter menenangkan istriku. “Kalau memang terindikasi typus ya sebaiknya dirawat, Bu.”

Aku dan istriku keluar dari ruang dokter. Menunggu hasil lab. darah nya si dede. Kira-kira membutuhkan waktu dua jam untuk mengetahui hasilnya, kata Dokter itu.

Di ruang tunggu pasien. Aku terduduk diam. Istrikupun diam. Kami memandang lorong-lorong rumah sakit yang kosong. Istriku menggengam tanganku. Akupun balas meremas. Genggamannya makin lama makin keras. Lalu ia terisak tangis. Isak tangisnya yang lembut lambut laun mampu mengguncangkan bahunya. Aku ajak istriku keluar dari ruang tunggu karena volume tangisnya takut mengganggu ketenangan rumah sakit.

“Kenapa Ma?.”

Istriku pun langsung menubruk memelukku, menumpahkan tangisnya.

“Kasihan dede, Pa… kasihan.”

“Iya, Ma.. Papa juga sayang sama dede.”

“Mama tidak bisa membayangkan selang-selang infus yang tertancap di lengannya yang mungil, Pa!.”

Mengingat kata-lata istriku, aku pun merasa iba dengan dede. Semoga kamu kuat ya, de. Bisikku dalam hati.
Setelah reda tangis istriku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, setelah aku lihat ke arah jam tanganku. Kira-kira pukul dua belas hasil lab. nya keluar. Hmm, masih ada waktu sejam lagi.

“Oh, ya Ma… dari siang mama belum makan kan?.”

“Mana sempat, Pa. Mama juga gak kepikiran.”

“Kita makan dulu yuk, nanti mama ikut sakit, wah papa bisa repot deh.”

“Makan dimana Pa, malam-malam begini?.”

“Itu !.” Sambil aku menunjuk ke sebuah warung kecil. Sego kucing, warungnya Mbah Belut. Sebuah warung nasi angkringan khas Jogjakarta.

Aku memesan nasi gudeg, krecek, tempe bacem dan sate laler (sate laler adalah sate ayam yang irisan ayamnya kecil-kecil seperti laler atau lalat), minumnya STMJ (susu telor madu jahe). Istrku memesan nasi gudeg, burung dara crispy dan minum nya teh tawar hangat. Baru beberapa suap kami makan, lampu penerangan warung padam. Mati lampu, kata Mbah Belut, kakek-kakek yang sigap dan penuh semangat melayani kami.

Mbah Belut, meletakkan lilin yang dinyalakan di atas piring kecil ke hadapan kami. Praktis, kami hanya diterangi oleh nyala lilin itu.

“Sudah lama ya Pa, kita gak candle light dinner?.” Kata istriku.

“Hehehe, akhirnya kesampaian juga!, candle light dinner di warung angkringan?, Oh…so sweet.” Sahutku bercanda.

“Sate lalernya enak, Pa?.”

“Mama mau cobain, nih!.” Sambil aku menyuapkan sate laler ke mulut istriku.

“Hmm, lumayan Pa. Burung dara crispy nya juga enak loh, Pa.” Kata istrku semangat. “Papa mau?.”

Langsung saja, istriku menyuapi Burung dara crispy ke mulutku. “Di cocol pakai sambal goreng, nikmat rasanya, Pa!.”

“Jangan banyak-banyak sambalnya, Ma.”

“Gak, sedikit kok!.”

Burung dara crispy nya sudah nikmat ku lumat.

“Enakkan, Pa?.” Tanya istriku meyakinkan.

“He eh!.” Aku tidak bisa berkata karena mulutku masih penuh Burung dara crispy.

“Romantis ya Pa?, hihihihi. Papa tahu saja deh, tempat-tempat yang romantis, hihihi.” Kata istriku sambil cekikikan senang.

Romantis?, ah masa sih?. pikirku dalam hati. Ternyata romantis itu tidak selalu harus di restoran-restoran yang mewah dan mahal. Romantis itu adalah suasana. Suasana hati kita yang rindu akan situasi yang penuh arti.

Aku hampir lupa, kapan kami terakhir suap-suapan?. O, waktu pernikahan kami saat acara suap-suapan. Masa pengantin baru. Saat kami berbulan madu ke pantai Pangandaran. Setelah itu, tidak pernah lagi. Hari-hari kami nyaris ditelan kesibukan masing-masing. Aku sibuk kerja, Istriku sibuk mengurus anak dan mengurus rumah mungil kami.

“Alhamdulillah, hasil tes darahnya menunjukkan negatif typus. Si dede cuma kena radang tenggorokan makanya demam.” Sahut Dokter sambil menuliskan resep. “Obatnya ditebus, antibiotiknya dihabiskan ya Bu.”

“Gak perlu dirawatkan, Dok?.”

“Gak, gak usah. Di rawat di rumah saja.” Sahut Dokter itu ringan.

Istriku gembira mendengar kabar itu. Ia langsung memelukku. Tanpa malu, di hadapan dokter ia ciumi pipiku berkali-kali. Ah, aku kok jadi cengeng. Terasa hangat air mataku meleleh di pipi.

“Cepat sembuh ya dede nya.” Kata dokter menyadarkan kami.

“Hihihi, iya Dok. Ma kasih ya Dok.” Sahut istriku malu-malu.

Dengan sumringah, aku dan istriku membawa dede pulang kembali.

“Kenapa lagi, Pa motornya?.” Tanya istriku di saat aku berkali-kali sedang menstarter motorku di halaman parkir rumah sakit.

“Maklumlah, motor butut.” Sahutku sambil sibuk menstarter. Aku putar coke nya. Aku starter lagi.

“Berrrrrrr!.” Suara motorku pun hidup.

Istriku sambil menggendong dede, duduk dibelakangku. Motor mulai meluncur ke arah rumahku yang tidak jauh dengan rumah sakit.

“Sudah berapa tahun motor ini setia mengantar kita pergi kemana-mana ya Pa?.” Tanya istriku dalam terpaan angin malam yang dingin.

“Iya.” Sahutku sambil teriak. “Hebat motornya, biar butut juga masih OK, Ma.”

“Malam-malam dingin begini diboncengi Papa sambil peluk Papa, enak juga ya.”

“Sudah lama kita gak jalan-jalan seperti ini, Pa.” Kata istriku sambil mengencangkan pelukannya. “Hmm, romantis rasanya, Pa… Mama jadi tambah sayang deh sama Papa.”

“Romantis?, apanya yang romantis, Ma?.”

“Jalan-jalan tengah malam begini, naik motor butut sambil memeluk Papa itu romantis.” Sahut istriku.

“Motor butut yang setia mengantar kita kemana saja itu romantis, Pa.” Sahut istriku lagi.
Motor butut kok jadi romantis juga?. Hehehehe. Istriku terus saja berkata-kata. Aku cuma jawab iya karena aku harus konsentrasi di jalan saat mengendarai motor butut kami. Pikiranku pun kembali teringat akan cerita My stupid Boss dulu waktu ia sedang marahan dengan istrinya.

Romantis itu bukan hanya kata-kata indah yang ada dalam puisi, juga bukan hanya hayalan-hayalan indah yang ada dalam dongeng-dongeng. Suka duka, pahit getirnya kehidupan itu juga romantis tergantung bagaimana kita memaknainya. Tanggung jawab kita sebagai seorang kepala rumah tangga, sebagai seorang suami, sebagai seorang bapak itu juga termasuk romantis.

Hehehe, benar juga kata My stupid Bossku. My stupid Bossku yang bijak, kaya akan pengalaman hidup. Tanpa sadar, baru kali ini aku memuji Bossku. Hehehe, itu juga termasuk romantis kan?.

******

Kutu Kata, 26042012
ilustrasi Gambar : etsy.com


Tidak ada komentar: