Bismillah. Niatku sudah bulat.
Aku akan carikan wanita lain buat suamiku. Suamiku tercinta, aku mencintainya
karena Allah. Mudah-mudahan niatku di ridhoi oleh Allah. Dan keikhlasanku tidak
di salah artikan oleh suamiku.
Mencintai suamiku karena Allah
adalah keindahan yang agung. Semoga suamiku pun seperti itu, mencintaiku karena
Allah. Bukan mencintai karena paras dan tubuhku semata. Atau perasaan gila
cinta karena nafsu yang tak bisa kami jaga.
Seperti bunga mawar yang tumbuh
dihalaman rumah. Aku selalu merawat dan menjaga cintaku. Memupuki agar selalu
terlihat sedap dipandang mata. Hari demi hari selalu terbaharui perasaan cinta
pada suamiku.
Bahtera rumah tangga yang telah
kami arungi bersama telah membuahkan dua buah hati kami. Secara ekonomi
awalnya, kami hidup pas-pas an. Suamiku berdagang buku-buku agama dan
obat-obatan herbal secara keliling. Berkat keuletan dan bakat dagangnya,
akhirnya kami bisa mengontrak sebuah kios sederhana yang disulap menjadi toko
buku dan obat-obatan herbal ditambah dengan pakaian muslim, barang titipan dari
beberapa ibu-ibu teman pengajianku.
Alhamdulillah. Dalam
kesederhanaan cinta kami tumbuh mekar. Seiring dengan kemajuan usaha kami,
cinta kami pun semakin tercium harumnya. Aku tambah sayang pada suamiku. Dan
aku selalu berdo’a pada Allah agar begitu juga perasaan suamiku padaku.
Sekarang usaha suamiku semakin
berkembang. Usaha yang awalnya coba-coba, malah menjadi bisnis utama keluarga
kami. Membuat pesanan kubah mesjid dengan bermacam model untuk dikirim ke
berbagai daerah. Pesanan semakin membanjir wal hasil rejeki kami pun berlimpah.
Suamiku lebih sering berkeliling ke berbagai daerah di nusantara apabila banyak
pesanan.
Kasihan suamiku. Pulang dari
daerah sudah langsung ke bengkel las, mengontrol para pekerja agar kubah yang
dibuat sesuai dengan pesanan baik ukuran, bahan maupun modelnya. Suamiku tidak
ingin mengecewakan pelanggan.
Keinginan untuk menikahkan
suamiku dengan wanita lain, mulanya tidak ditanggapi serius olehnya. Dipikirnya
aku cuma cari perhatian saja. Demi Allah, niatku ikhlas. Ikhlas lahir dan
batin. Karena bagiku mencintai bukan berarti memiliki atau menguasai. Mencintai
adalah memberi. Memberi kebahagiaan pada suamiku itu lebih penting dari pada
hanya mengurusi perasaanku saja. Apakah aku tidak mempunyai rasa cemburu?.
Wanita mana sih yang tidak punya rasa cemburu?. Aku mencintainya karena Allah,
aku lawan rasa cemburuku dengan banyak bersyukur karena telah diberikan
kesempatan untuk menjadi istri dari suami yang baik, sayang dan bertanggung
jawab seperti Abi.
“Bi, Umi ikhlas kok.” Kataku
pada saat suamiku di rumah. “Kalau memang ada yang Abi suka, sebutkan saja
orangnya, nanti akan aku lamarkan.”
“Umi, ini bicara apa sih?.” Kata
suamiku mencoba untuk “tidak paham” apa yang ku bicarakan.
“Umi kasihan sama Abi, kerja
diluar kota sampai beberapa hari, pindah dari satu kota ke kota yang lain.”
“Terus?.” Tanya suamiku
mengancingkan baju koko nya.
“Bukankah poligami itu tidak
dilarang oleh agama kita, Bi?.”
“Dan Umi rasa secara ekonomi,
Insya Allah Abi sekarang lebih siap.”
Suamiku diam saja. Mematut diri
di kaca rias, merapikan dandanannya sebelum berangkat ke mesjid.
“Umi pikir lebih baik Abi beristri
lagi. Di daerah dimana Abi akan menetap lama disana dan ada orang yang akan
merawat dan melayani Abi dengan penuh kasih sayang.”
“Dari pada … .”
“Dari pada apa, Mi?.”
“Ah, namanya juga laki-laki…
dari pada fitnah. Di tempat yang jauh dari rumah kemudian Abi dekat dengan
wanita lain yang bukan haknya. Itu yang Umi khawatirkan, Bi. Kalau sampai itu
terjadi, rasanya Umi pun punya andil dalam perbuatan dosa itu.”
“Insya Allah tidak, Mi. Hanya
Umi dan anak-anak yang selalu terbayang kalau Abi jauh dari rumah.”
“Bukankah mencegah itu akan
lebih baik, Bi, siapa sih yang tahu persis kondisi keimanan kita?. Besok atau
lusa nanti, apakah iman kita dalam keteguhan?. Namanya juga manusia, Abi pun
pasti punya kelemahan dan keterbatasan.” Kataku memberi saran.
“Kalau memang ada wanita lain
yang sreg di hati Abi, entah itu teman bisnis Abi atau familinya
kenalan Abi atau anak gadisnya teman bisnis Abi, perawan atau janda asal
seiman. Umi akan lamarkan buat Abi.”
“Bagaimana, Bi?.” Tanyaku
mendesak.
“Allahu Akbar…. Allahu Akbar.”
Suara Adzan maghrib terdengar dari masjid.
“Sudah maghrib, Mi… Abi ke
mesjid dulu ya.” Kata suamiku sambil ngeloyor pergi.
Selesai Adzan, aku pun sholat
maghrib di rumah. Selesai sholat aku pun berdo’a ; Ya Allah, kuatkan niatku,
lapangkan hatiku, hilangkan rasa cemburuku, gantikan dengan rasa ikhlas dan
mahabbah kepada-Mu. Berikan suamiku jodoh wanita solehah, yang baik
dan sayang serta tulus merawat dan melayani suamiku.”
Selesai sholat, aku pun
menyiapkan makan buat suami dan anak-anakku. Sudah mau masuk waktu isya,
suamiku belum balik dari mesjid. Mungkin ia ada di mesjid sekalian sholat isya,
seperti kebiasaan yang sering ia lakukan.
Selesai waktu sholat isya,
suamiku pun belum balik ke rumah. Ku tunggu sampai jam 10 malam, mau aku sms tapi
ku batalkan karena hp suamiku tertinggal dirumah. Apakah ia marah?, Apakah ia
kesal karena kebawelanku yang menyuruhnya untuk menikah lagi?. Perasaan sedih
berkecamuk. Jujur, aku ikhlas, Bi. Apakah ia telah menyalah artikan maksud
baikku?. Astagfirullah, apakah aku terlalu memaksakan kehendakku sendiri?.
Sudah lewat jam 12 malam, aku
masih sulit tertidur. Suamiku belum balik kerumah. Ya, sudah larut malam. Lampu
kamar ku matikan. Sebelum mengejapkan mata, batinku pun memohon. Ma’afkan aku,
Bi, aku sangat sayang pada Abi.
Tanpa sepatah katapun
pembicaraan tentang rencana pernikahan itu. Paginya, suamiku pamit untuk pergi
ke Balik Papan, mungkin minggu depan baru kembali. Aku mencium lengan suamiku,
lalu pipinya kemudian diikuti oleh kedua anak kami mencium lengan Abinya.
Pagi ini terasa sepi sekali.
Bukan karena Abi tidak di rumah. Tapi karena dari semalam sampai tadi pagi
sebelum berangkat, Abi begitu dingin. Tak ada canda atau cerita seperti
biasanya. Selesai mengantar anak-anak ke sekolah. Aku cuma bermalas-malas di
kamar. Mau masak atau mengerjakan pekerjaan rumah, rasa nya segan sekali.
Mungkin dengan menyalakan TV, hatiku akan sedikit terhibur. Aku pun bangkit ke
arah TV. Mataku tertuju pada sebuah kotak dan selembar surat yang ada di
atas TV.
“Assalamu’alaikum. Ma’af, Mi…
baru sempat Abi belikan kalung perak kesukaan Umi. Kalung perak yang sudah lama
Umi inginkan. Kemarin waktu Abi ke Jogja, Abi sempatkan ke kota Gede, pusat
pengrajin perak. Abi jadi ingat waktu kita baru menikah dulu Umi pernah bilang.
“Gak usah, kalung emas, Bi. Mungkin mahal harganya, kalung perak juga gak
apa-apa, Bi. Keindahannya tetap akan menambah kasih sayang Abi pada Umi… .
“Oh, iya masalah tawaran Umi
agar Abi menikah lagi, itu bukanlah hal yang penting. Semalam Abi tahajud dan
berharap agar rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah. Fokus kita
sekarang adalah anak-anak, bagaimana agar kita bisa memberikan pendidikan yang
terbaik buat anak-anak. Ma’afkan Abi yang tidak punya banyak waktu buat Umi dan
anak-anak. Hehehehe, mungkin sekarang saatnya Abi jadi Boss, punya asisten yang
bisa dipercaya untuk menangani pekerjaan-pekerjaan Abi di daerah. Sedikit demi
sedikit nanti akan Abi lepas pekerjaan pada asisten itu. Sabar ya, butuh waktu
untuk mewujudkan itu semua.
Cinta dan sayang Abi hanya untuk Umi dan anak-anak,
anugerah terindah yang Allah berikan…
Tanpa terasa, aku menitikkan air
mata. Air mata kasih sayang. Ku baca surat dari suamiku sampai selesai. Setelah
itu, aku buka kotak perhiasan.
Aih, kalung perak yang indah.
Dengan liontin berbentuk dua hati yang saling berkait.
Selamat bekerja suamiku, selamat
berjuang mencari nafkah demi keluarga. Semoga Allah memberikan pahala yang
setimpal untuk Abi, pahlawanku tercinta.
******
Kutu Kata,
16052012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar