Kamis, 02 Mei 2013

Ma’af Pak Bupati, Saya Sudah kentutin Bapak


Namaku ; Bekti, sesuai dengan harapan bapakku agar aku menjadi orang yang ‘ngabekti (berbakti dalam bahasa jawa). Berbakti pada raja, seperti kakek buyutku yang menjadi abdi dalem kesultanan Yogyakarta. Kalau di urut dari kakek moyangku, keturunanku adalah keturunan abdi dalem.

Kata bapakku lagi, kita ini diciptakan Tuhan untuk hidup ‘ngabekti atau berbakti agar hidup kita menjadi mulia. Dari kecil selalu kata-kata itu yang bapak ajarkan kepadaku. Waktu remaja, aku ingin menjadi seniman wayang orang, bapak melarangku keras. Dengan segala cara, bapak mengusahakan agar aku diterima kerja sebagai karyawan di kantor kabupaten.

“Pak, aku malu, masa kerja nya cuma disuruh-suruh dan ‘nganter-nganter minum bapak-bapak saja!.” Protesku, waktu aku mulai bekerja sebagai pembantu umum atau pesuruh atau office boy, istilah ‘kerennya.
“Disitulah kesempatan kamu untuk mengabdi.” Jawab Bapak sambil melotot. “Kerjakan tugasmu dengan tulus dan jujur, mengabdi kepada pemerintah sebagai pengayom kita, Insya Allah, Gusti Allah akan mengangkat derajat hidupmu sebagai orang yang mulia.”

Sudah berapa tahun yang lalu bapak kembali kepangkuan Gusti Allah. Kini aku pasrah menjalani hidup sebagai pesuruh, tidak terasa aku sudah mengabdi selama dua puluh lima tahun. Terkadang kusesali juga, mengapa aku mau saja menuruti kemauan bapak. Seandainya dulu aku nekat memilih untuk menjadi seniman wayang orang, mungkin aku sudah jadi orang terkenal seperti para pemain Srimulat. Sesal kemudian tak berguna begitu kata pepatah, mungkin ini sudah kodrat atau pilihan hidupku sendiri, pahit manis, suka dukanya, aku telan saja sendiri.

Alhamdulillah, semua anak-anakku sudah mandiri, si sulung sudah berkeluarga dan tinggal di kota lain. Tinggal si bontot yang sebentar lagi akan menikah, lalu kemudian akan pindah juga ke kota lain. Tinggal aku dan si mbok yang menempati gubuk reot ini. Sebentar lagi aku pensiun. Itu artinya sebentar lagi masa pengabdianku selesai. Masa pengabdian yang seolah tak berujung.
Pagi ini aku sibuk menyuruh si mbok untuk menyeterika baju batik KORPRI ku dan celana bahan warna hitam. 

“Pak, dimakan dulu nasi gorengnya.” Kata si mbok padaku. “Lumayan buat ganjel perut.”

“Gak usah lah, mbok…aku buru-buru, hari ini Pak Bupati mau kedatangan bapak-bapak anggota dewan, katanya sih mau ada Sidak.” Jelasku pada si mbok.

“Ya, biarin saja, yang di Sidak kan pak bupati, kenapa Bapak yang repot?.” Sahut si mbok sewot. “Nanti masuk angin kalau bapak gak sarapan.”
Aku sibuk mengenakan baju batik kebangganku, baju batik pengabdianku yang tak kenal lelah.

“Awas kalau nanti malam, bapak minta di keroki, terus…minta di pijiti, terus…minta yang “lain-lain”!.” Kata si mbok judes.

“Hehehehe, memangnya gak boleh minta yang “lain-lain”?

“Gak boleh!, pokoknya nanti malam habis nonton OVJ, aku mau tidur saja!.”
Begitulah istri, baru nasi gorengnya gak dimakan saja, sewotnya selangit. Ah, nanti juga baik sendiri, namanya juga istri biar galak juga sebenarnya dia sayang.

*****
Suasana di balai kabupaten mulai sibuk. Aku dan segenap staff lainnya, sibuk mempersiapkan akomodasi untuk rapat Pak Bupati dengan anggota Dewan.
“Pak, kok cateringnya belum datang ya?, sebentar lagi pak bupati dan anggota dewan kan mau datang?.” Tanyaku pada Pak Rahmat atasanku.

“Lah, itu apa?.” Sambil Pak Rahmat menunjuk ke arah kardus.
Aku pun menuju ke kotak kardus itu. “Mana nasinya, Pak, kok roti semua?.”

Hamburger, french fries, lengkap dengan Coca Cola, sesuai dengan pesanan anggota dewan dari Jakarta

“Oh, anggota dewan dari Jakarta sudah bosan makan nasi, Pak?.” Tanyaku lugu.

“Hehehe, iya pak, doyannya makan aspal, batu, besi dan beton, hehehehe…”

“Wah, kaya Gatot Kaca saja!, Otot kawat, Tulang besi, muka beton, hahahaha…”

“Pak Bekti sama Paryo makan aja dulu, nanti gantian sama saya, mumpung Pak Bupatinya belum datang.”

*****
Agak mojok, di belakang balai kabupaten. Aku dan Paryo makan.
“Gak nendang mending juga “nasi kucing”.” Sahut Paryo kesal sambil melahap

Sebelum aku makan, aku mencium hamburger itu. “Bau apek, Yo?.”

Paryo kaget. Diciumnya hamburgernya yang tinggal separuh itu. “Wah, Sampean ini ilmunya gak nyampe, bukan bau apek, tapi ini bau keju.”

Aku masih ragu untuk menyuapnya. “Enak, Yo?.”

“Sampean belum pernah kan?, Ya, sudah dimakan saja!.”

Aku mulai menyuapnya. Sesuap, dua suap. Ketika aku mau telan, langsung rasa mual menyerangku. “Oeeergh!, Oeergh!.” Aku pun muntah.

“Wong ndeso, gak pantas makan hamburger, hahahaha..!.” Ledek Paryo.

“Memangnya itu makanan orang kota ya, Yo?.”

“Lah!, memangnya makanan hewan?.” Tanya Paryo gak nyambung.

Langsung kusambar Coca Cola untuk menghilangkan rasa enegku “Aneh, Yo, Kok banyak semutnya ya?.”

“Hahaha… hahaha… .” Paryo puas menertawai kekampungan ku.

*****.

Tak lama menunggu, akhirnya rombongan anggota Dewan pun datang. Pak Bupati beserta staff menyambut mereka di pintu gerbang. Bincang-binvang sebentar, akhirnya mereka semua menuju ke balai. Para wartawan sibuk meliput kedatangan anggota Dewan, ada yang memotret dan ada juga yang mewawancarai salah seorang anggota Dewan.

Setelah Pak Bupati beserta staff dan anggota Dewan menempati tempat duduknya masing-masing. Aku, Paryo dan teman-teman pesuruh lainnya sibuk menyediakan minum dan makanan untuk mereka. Kebetulan aku kebagian untuk melayani Pak Bupati. Disaat aku membungkukkan badan, tiba-tiba saja perutku yang dari pagi belum diisi makanan bergolak.

“Brooootttt, Brrrooooottt, Bret!.” (suara kentut yang nyaring dan panjang)

Angin yang ada didalam perutku berontak ingin keluar, melewati lubang yang sempit (baca : pantat), Angin tersebut menjerit.

Pak Bupati dan orang-orang terdekatnya kaget. Apalagi aku, kurang ajar angin itu lewat tanpa permisi sehingga tak bisa ku tahan lagi.

Suasana mengheningkan cipta terbentuk beberapa detik. Seorang wartawan, aku biasa memanggilnya wartawan bodrex*. Dia orang yang pertama kali sadar dan kaget. “Hah!, hahahaha … hahaha!.” Lalu dia tertawa menang.

Para anggota Dewan dan para wartawan pun sontak tertawa. Ruangan balai jadi bergemuruh tawa.

“Hoi!, teman-teman ada berita Head Line nih, Pak Bupati dikentutin anak buahnya!, hahahaha…hahahaha” Teriak si wartawan bodrex pada teman wartawan lainnya.

Si wartawan bodrex telah berhasil mempermalukan Pak Bupati.

“Wakakakakak kakakak waa… .” Para anggota Dewan pun koor menertawai Pak Bupati. “Pak Bupati, apa anak buah sampean tidak di kursusi cara kentut yang baik dan benar.” Celetuk salah satu anggota Dewan.

Pak Bupati muka nya merah padam menahan malu.

Mukaku pun langsung legam, aku merangkak menghampiri Pak Bupati. “Maaf, Pak Bupati, saya sudah kentutin bapak!.”

Dengan muka ditekuk kesal, Pak Bupati berkata judes padaku. “Sudah, sana!, sana!.”

Aku diusirnya bagai seekor anjing kurap. Benar-benar Pak Bupati tak mau melihat muka ku lagi. Cuma gara-gara kentut, seluruh pengabdianku terasa sia-sia.

Akupun digelandang keluar dari balai oleh pengawal pribadinya Pak Bupati, Aku berusaha berontak karena sudah setua ini digelandang seperti maling. “Lepaskan saya, lepaskan, ijinkan saya meminta maaf pada Pak Bupati!, saya harus minta maaf, saya harus minta maaaaaaaaf … Pak Bupati, maafkan sayaaaaa, maafkan sayaaaa!.” Seperti anjing kurap yang gaek saya mengamuk.

*****

“Sudahlah, Pak…gak usah terlalu dipikirkan, bapak kan kentut tidak sengaja.” Kata si mbok prihatin.

“Sengaja atau tidak, dunia pengabdianku sudah kiamat, apa kata dunia?, pak Bekti yang tidak tahu diri ini sudah berani kentutin Pak Bupati, Duh Gusti… ampuni aku.”

“Gak usah mokso, Pak… nanti jantungnya kumat lagi!.”

“Rasanya aku mau mati saja, Mbok…Pak Bupati tidak mau memaafkan aku.” Sahutku penuh penyesalan.

“Dari pada bapak yang mati, mending si Bupati nya saja yang mati!, aku gak mau hidup di dunia yang kejam ini sendirian, Pak.” Sahut istriku terisak menangis.

Bersahut-sahutan tangis pilu yang terdengar di gubuk reot ini pun menutup malam.

*****

Suasana di kantor Kabupaten membuatku kikuk, di pojok sana segerombolan orang pada tertawa, di bawah pohon beringin dua empat orang pada cekikikan setelah aku lewat di depan mereka. Di dalam ruangan pun dengung orang menyebut-nyebut namaku sambil terbahak-bahak membuatku limbung.

Paryo menubrukku. “Hebat sampean, sudah jadi orang terkenal sekarang!.”

“Apa maksudmu, Yo?.”

“Sampean sudah jadi selebriti!, gak kalah dengan briptu Norman!, Lihat tuh di tabloid GARANG, ada foto sampean!.”

Aku bengong tak percaya.

“Foto sampean nungging lagi kentutin Pak Bupati!.”

“Yang benar kamu, Yo?.” Tanyaku semakin bingung. “Aku harus minta ma’af pada Pak Bupati.”

“Pak Bupati cuti 2 minggu, beliau butuh waktu untuk menghilangkan malu.”

Duh, Gusti, salah apa aku ini?, kenapa kau buat aku nelongso begini, Gusti!. Bisikku dalam hati.

*****

Dua minggu penyiksaan batinku. Dua minggu yang lebih banyak ku isi dengan diam. Tak ada lagi semangat hidup, jiwa pengabdianku semakin lemah lunglai.

Terngiang kembali, petuah bapakku. “Bekti, kamu bapak kasih nama itu agar hidupmu diisi dengan ngabekti (berbakti) agar kelak kamu bisa hidup mulia.”

Hidup mulia seperti apa, Pak?. Jerit batinku pada bapakku yang sudah di alam sana. Hidupku ini gak lebih dari seorang jongos!, gak beda dengan lalat, yang bisa diusir hanya dengan sekali kibasan tangan, tak berharga. Duh, bapak!, kenapa dulu kau larang aku jadi seniman wayang orang. Mungkin saja jalan hidupku akan berbeda.

Di gubuk reot ini terasa seperti di kuburan saja. Aku lebih banyak diam dan diam. Si mbok pun sungkan untuk mengajakku berbincang-bincang. Disaat malam. Saat si mbok telah terlelap tidur, sedikitpun mataku tak bisa dipicingkan, hanya memandangi langit-langit gubukku yang terbuat dari bilik yang dikapuri tebal. Seperti membedaki wajah keriputku, perlu bedak tebal agar keriputku tertutupi warna putih.

*****

Hari yang ku tunggu pun tiba. Aku menghadap ibu sekretarisnya Pak Bupati.

“Sebentar ya Pak Bekti, saya izin dulu dengan beliau, apakah beliau mau menerima bapak.”

Sekretaris itu pun masuk ke ruang PIV. Tak berapa lama, ia pun keluar.

“Maaf, Pak Bekti, Beliau tidak mau menerima bapak,karena beliau sedang sibuk.”

“Tolonglah, Bu… sebentar saja, saya cuma mau minta maaf pada beliau.”

“Tidak bisa, Pak, perintah beliau seperti itu.” Sahut Bu Sekeretaris tegas.

Aku pun meninggalkan meja sekretaris itu dengan sejuta kecamuk di pikiranku.

Aku cuma bisa menunggu dan menunggu sambil sesekali mengintip, apakah Pak Bupati sudah pulang atau 
belum. Sebuah penantian yang menjemukan.
Ketika Pak Bupati keluar dari ruang PIVnya, aku pun langsung menubrukkan diriku, aku bersimpuh dikakinya. Kuhaturkan sembah tepat dilututnya. Tapi lutut beliau, menggubrisku hingga ku tersungkur dilantai.”Apa-apan ini?.”

“Maaf kan Pak Bupati, saya sudah kentutin bapak… .” Sambil terisak tangis, aku mengiba. “saya benar-benar tidak sengaja kentutin bapak, saya mohon ma’af, Pak.”

“Ach, sudahlah!, Gak penting itu!, saya banyak urusan!.” Pak Bupati pun meninggalkanku yang masih duduk bersimpuh.

“Paaaak, Pak Bupati, maaa .. aafkan saya, saya minta ma’aaaaaffff.” Aku cuma mengiba pada angin, pada bangku-bangku dan meja-meja yang angkuh, pada lemari-lemari arsip yang acuh.

******

Dengan terhuyung aku memasuki kamar mandi kantor. Duh sakitnya dada ini. Seperti sebilah belati yang menusuk tepat di jantungku. Aku telah mengabaikan nasihat si mbok untuk mangabaikan saja masalah ini. Sebagai orang yang ngabekti, Aku tak bisa melupakan begitu saja. Seperti sebuah penghianatan terhadap raja, hanya hukuman mati yang pantas kuterima.

Kasihan si mbok, yang telah setia menemani hidupku dalam suka dan duka kehidupan.

*****
Ketika Paryo memasuki kamar mandi kantor.

“Hah!, Pak… Pak Bekti!, Paaak… hoi, tolong-tolong!.” Paryo panik, ketika melihatku tergeletak di kamar mandi. Dia berteriak minta tolong kepada karyawan lain.

Akupun menghembuskan nafas terakhirku dipangkuan Paryo, teman senasib seperjuangan.

Ma’af Pak Bupati, Saya Sudah kentutin Bapak – 17042012

Tidak ada komentar: