Namaku ; Bekti, sesuai dengan harapan bapakku agar aku menjadi orang yang ‘ngabekti (berbakti dalam bahasa jawa). Berbakti pada raja, seperti kakek buyutku yang menjadi abdi dalem kesultanan Yogyakarta. Kalau di urut dari kakek moyangku, keturunanku adalah keturunan abdi dalem.
Kata bapakku lagi, kita ini diciptakan Tuhan untuk hidup ‘ngabekti
atau berbakti agar hidup kita menjadi mulia. Dari kecil selalu
kata-kata itu yang bapak ajarkan kepadaku. Waktu remaja, aku ingin
menjadi seniman wayang orang, bapak melarangku keras. Dengan segala
cara, bapak mengusahakan agar aku diterima kerja sebagai karyawan di
kantor kabupaten.
“Pak, aku malu, masa kerja nya cuma
disuruh-suruh dan ‘nganter-nganter minum bapak-bapak saja!.” Protesku,
waktu aku mulai bekerja sebagai pembantu umum atau pesuruh atau office
boy, istilah ‘kerennya.
“Disitulah kesempatan kamu untuk
mengabdi.” Jawab Bapak sambil melotot. “Kerjakan tugasmu dengan tulus
dan jujur, mengabdi kepada pemerintah sebagai pengayom kita, Insya Allah, Gusti Allah akan mengangkat derajat hidupmu sebagai orang yang mulia.”
Sudah berapa tahun yang
lalu bapak kembali kepangkuan Gusti Allah. Kini aku pasrah menjalani
hidup sebagai pesuruh, tidak terasa aku sudah mengabdi selama dua puluh
lima tahun. Terkadang kusesali juga, mengapa aku mau saja
menuruti kemauan bapak. Seandainya dulu aku nekat memilih untuk menjadi
seniman wayang orang, mungkin aku sudah jadi orang terkenal seperti para
pemain Srimulat. Sesal kemudian tak berguna begitu kata pepatah,
mungkin ini sudah kodrat atau pilihan hidupku sendiri, pahit manis, suka
dukanya, aku telan saja sendiri.
Alhamdulillah, semua
anak-anakku sudah mandiri, si sulung sudah berkeluarga dan tinggal di
kota lain. Tinggal si bontot yang sebentar lagi akan menikah, lalu
kemudian akan pindah juga ke kota lain. Tinggal aku dan si mbok yang
menempati gubuk reot ini. Sebentar lagi aku pensiun. Itu artinya sebentar lagi masa pengabdianku selesai. Masa pengabdian yang seolah tak berujung.
Pagi ini aku sibuk menyuruh si mbok untuk menyeterika baju batik KORPRI ku dan celana bahan warna hitam.
“Pak, dimakan dulu nasi gorengnya.” Kata si mbok padaku. “Lumayan buat ganjel perut.”
“Gak usah lah, mbok…aku buru-buru, hari
ini Pak Bupati mau kedatangan bapak-bapak anggota dewan, katanya sih mau
ada Sidak.” Jelasku pada si mbok.
“Ya, biarin saja, yang di Sidak kan pak
bupati, kenapa Bapak yang repot?.” Sahut si mbok sewot. “Nanti masuk
angin kalau bapak gak sarapan.”
Aku sibuk mengenakan baju batik kebangganku, baju batik pengabdianku yang tak kenal lelah.
“Awas kalau nanti malam, bapak minta di keroki, terus…minta di pijiti, terus…minta yang “lain-lain”!.” Kata si mbok judes.
“Hehehehe, memangnya gak boleh minta yang “lain-lain”?
“Gak boleh!, pokoknya nanti malam habis nonton OVJ, aku mau tidur saja!.”
Begitulah istri, baru nasi
gorengnya gak dimakan saja, sewotnya selangit. Ah, nanti juga baik
sendiri, namanya juga istri biar galak juga sebenarnya dia sayang.
*****
Suasana di balai kabupaten
mulai sibuk. Aku dan segenap staff lainnya, sibuk mempersiapkan
akomodasi untuk rapat Pak Bupati dengan anggota Dewan.
“Pak, kok cateringnya
belum datang ya?, sebentar lagi pak bupati dan anggota dewan kan mau
datang?.” Tanyaku pada Pak Rahmat atasanku.
“Lah, itu apa?.” Sambil Pak Rahmat menunjuk ke arah kardus.
Aku pun menuju ke kotak kardus itu. “Mana nasinya, Pak, kok roti semua?.”
“Hamburger, french fries, lengkap dengan Coca Cola, sesuai dengan pesanan anggota dewan dari Jakarta
“Oh, anggota dewan dari Jakarta sudah bosan makan nasi, Pak?.” Tanyaku lugu.
“Hehehe, iya pak, doyannya makan aspal, batu, besi dan beton, hehehehe…”
“Wah, kaya Gatot Kaca saja!, Otot kawat, Tulang besi, muka beton, hahahaha…”
“Pak Bekti sama Paryo makan aja dulu, nanti gantian sama saya, mumpung Pak Bupatinya belum datang.”
*****
Agak mojok, di belakang balai kabupaten. Aku dan Paryo makan.
“Gak nendang mending juga “nasi kucing”.” Sahut Paryo kesal sambil melahap
Sebelum aku makan, aku mencium hamburger itu. “Bau apek, Yo?.”
Paryo kaget. Diciumnya hamburgernya yang
tinggal separuh itu. “Wah, Sampean ini ilmunya gak nyampe, bukan bau
apek, tapi ini bau keju.”
Aku masih ragu untuk menyuapnya. “Enak, Yo?.”
“Sampean belum pernah kan?, Ya, sudah dimakan saja!.”
Aku mulai menyuapnya. Sesuap, dua suap.
Ketika aku mau telan, langsung rasa mual menyerangku. “Oeeergh!,
Oeergh!.” Aku pun muntah.
“Wong ndeso, gak pantas makan hamburger, hahahaha..!.” Ledek Paryo.
“Memangnya itu makanan orang kota ya, Yo?.”
“Lah!, memangnya makanan hewan?.” Tanya Paryo gak nyambung.
Langsung kusambar Coca Cola untuk menghilangkan rasa enegku “Aneh, Yo, Kok banyak semutnya ya?.”
“Hahaha… hahaha… .” Paryo puas menertawai kekampungan ku.
*****.
Tak lama menunggu, akhirnya rombongan
anggota Dewan pun datang. Pak Bupati beserta staff menyambut mereka di
pintu gerbang. Bincang-binvang sebentar, akhirnya mereka semua menuju ke
balai. Para wartawan sibuk meliput kedatangan anggota Dewan, ada yang
memotret dan ada juga yang mewawancarai salah seorang anggota Dewan.
Setelah Pak Bupati beserta staff dan
anggota Dewan menempati tempat duduknya masing-masing. Aku, Paryo dan
teman-teman pesuruh lainnya sibuk menyediakan minum dan makanan untuk
mereka. Kebetulan aku kebagian untuk melayani Pak Bupati. Disaat aku
membungkukkan badan, tiba-tiba saja perutku yang dari pagi belum diisi
makanan bergolak.
“Brooootttt, Brrrooooottt, Bret!.” (suara kentut yang nyaring dan panjang)
Angin yang ada didalam perutku berontak ingin keluar, melewati lubang yang sempit (baca : pantat), Angin tersebut menjerit.
Pak Bupati dan orang-orang terdekatnya
kaget. Apalagi aku, kurang ajar angin itu lewat tanpa permisi sehingga
tak bisa ku tahan lagi.
Suasana mengheningkan cipta terbentuk
beberapa detik. Seorang wartawan, aku biasa memanggilnya wartawan
bodrex*. Dia orang yang pertama kali sadar dan kaget. “Hah!, hahahaha …
hahaha!.” Lalu dia tertawa menang.
Para anggota Dewan dan para wartawan pun sontak tertawa. Ruangan balai jadi bergemuruh tawa.
“Hoi!, teman-teman ada berita Head Line
nih, Pak Bupati dikentutin anak buahnya!, hahahaha…hahahaha” Teriak
si wartawan bodrex pada teman wartawan lainnya.
Si wartawan bodrex telah berhasil mempermalukan Pak Bupati.
“Wakakakakak kakakak waa… .” Para
anggota Dewan pun koor menertawai Pak Bupati. “Pak Bupati, apa anak buah
sampean tidak di kursusi cara kentut yang baik dan benar.” Celetuk
salah satu anggota Dewan.
Pak Bupati muka nya merah padam menahan malu.
Mukaku pun langsung legam, aku merangkak menghampiri Pak Bupati. “Maaf, Pak Bupati, saya sudah kentutin bapak!.”
Dengan muka ditekuk kesal, Pak Bupati berkata judes padaku. “Sudah, sana!, sana!.”
Aku diusirnya bagai seekor anjing kurap.
Benar-benar Pak Bupati tak mau melihat muka ku lagi. Cuma gara-gara
kentut, seluruh pengabdianku terasa sia-sia.
Akupun digelandang keluar dari balai
oleh pengawal pribadinya Pak Bupati, Aku berusaha berontak karena sudah
setua ini digelandang seperti maling. “Lepaskan saya, lepaskan, ijinkan
saya meminta maaf pada Pak Bupati!, saya harus minta maaf, saya harus
minta maaaaaaaaf … Pak Bupati, maafkan sayaaaaa, maafkan sayaaaa!.”
Seperti anjing kurap yang gaek saya mengamuk.
*****
“Sudahlah, Pak…gak usah terlalu dipikirkan, bapak kan kentut tidak sengaja.” Kata si mbok prihatin.
“Sengaja atau tidak, dunia pengabdianku
sudah kiamat, apa kata dunia?, pak Bekti yang tidak tahu diri ini sudah
berani kentutin Pak Bupati, Duh Gusti… ampuni aku.”
“Gak usah mokso, Pak… nanti jantungnya kumat lagi!.”
“Rasanya aku mau mati saja, Mbok…Pak Bupati tidak mau memaafkan aku.” Sahutku penuh penyesalan.
“Dari pada bapak yang mati, mending si
Bupati nya saja yang mati!, aku gak mau hidup di dunia yang kejam ini
sendirian, Pak.” Sahut istriku terisak menangis.
Bersahut-sahutan tangis pilu yang terdengar di gubuk reot ini pun menutup malam.
*****
Suasana di kantor Kabupaten membuatku
kikuk, di pojok sana segerombolan orang pada tertawa, di bawah pohon
beringin dua empat orang pada cekikikan setelah aku lewat di depan
mereka. Di dalam ruangan pun dengung orang menyebut-nyebut namaku sambil
terbahak-bahak membuatku limbung.
Paryo menubrukku. “Hebat sampean, sudah jadi orang terkenal sekarang!.”
“Apa maksudmu, Yo?.”
“Sampean sudah jadi selebriti!, gak kalah dengan briptu Norman!, Lihat tuh di tabloid GARANG, ada foto sampean!.”
Aku bengong tak percaya.
“Foto sampean nungging lagi kentutin Pak Bupati!.”
“Yang benar kamu, Yo?.” Tanyaku semakin bingung. “Aku harus minta ma’af pada Pak Bupati.”
“Pak Bupati cuti 2 minggu, beliau butuh waktu untuk menghilangkan malu.”
Duh, Gusti, salah apa aku ini?, kenapa kau buat aku nelongso begini, Gusti!. Bisikku dalam hati.
*****
Dua minggu penyiksaan batinku. Dua
minggu yang lebih banyak ku isi dengan diam. Tak ada lagi semangat
hidup, jiwa pengabdianku semakin lemah lunglai.
Terngiang kembali, petuah bapakku. “Bekti, kamu bapak kasih nama itu agar hidupmu diisi dengan ngabekti (berbakti) agar kelak kamu bisa hidup mulia.”
Hidup mulia seperti apa, Pak?. Jerit
batinku pada bapakku yang sudah di alam sana. Hidupku ini gak lebih dari
seorang jongos!, gak beda dengan lalat, yang bisa diusir hanya dengan
sekali kibasan tangan, tak berharga. Duh, bapak!, kenapa dulu kau larang
aku jadi seniman wayang orang. Mungkin saja jalan hidupku akan berbeda.
Di gubuk reot ini terasa seperti di
kuburan saja. Aku lebih banyak diam dan diam. Si mbok pun sungkan untuk
mengajakku berbincang-bincang. Disaat malam. Saat si mbok telah terlelap
tidur, sedikitpun mataku tak bisa dipicingkan, hanya memandangi
langit-langit gubukku yang terbuat dari bilik yang dikapuri tebal.
Seperti membedaki wajah keriputku, perlu bedak tebal agar keriputku
tertutupi warna putih.
*****
Hari yang ku tunggu pun tiba. Aku menghadap ibu sekretarisnya Pak Bupati.
“Sebentar ya Pak Bekti, saya izin dulu dengan beliau, apakah beliau mau menerima bapak.”
Sekretaris itu pun masuk ke ruang PIV. Tak berapa lama, ia pun keluar.
“Maaf, Pak Bekti, Beliau tidak mau menerima bapak,karena beliau sedang sibuk.”
“Tolonglah, Bu… sebentar saja, saya cuma mau minta maaf pada beliau.”
“Tidak bisa, Pak, perintah beliau seperti itu.” Sahut Bu Sekeretaris tegas.
Aku pun meninggalkan meja sekretaris itu dengan sejuta kecamuk di pikiranku.
Aku cuma bisa menunggu dan menunggu
sambil sesekali mengintip, apakah Pak Bupati sudah pulang atau
belum.
Sebuah penantian yang menjemukan.
Ketika Pak Bupati keluar
dari ruang PIVnya, aku pun langsung menubrukkan diriku, aku bersimpuh
dikakinya. Kuhaturkan sembah tepat dilututnya. Tapi lutut beliau,
menggubrisku hingga ku tersungkur dilantai.”Apa-apan ini?.”
“Maaf kan Pak Bupati, saya sudah
kentutin bapak… .” Sambil terisak tangis, aku mengiba. “saya benar-benar
tidak sengaja kentutin bapak, saya mohon ma’af, Pak.”
“Ach, sudahlah!, Gak penting itu!, saya banyak urusan!.” Pak Bupati pun meninggalkanku yang masih duduk bersimpuh.
“Paaaak, Pak Bupati, maaa .. aafkan
saya, saya minta ma’aaaaaffff.” Aku cuma mengiba pada angin, pada
bangku-bangku dan meja-meja yang angkuh, pada lemari-lemari arsip yang
acuh.
******
Dengan terhuyung aku memasuki kamar
mandi kantor. Duh sakitnya dada ini. Seperti sebilah belati yang menusuk
tepat di jantungku. Aku telah mengabaikan nasihat si mbok untuk
mangabaikan saja masalah ini. Sebagai orang yang ngabekti, Aku tak bisa melupakan begitu saja. Seperti sebuah penghianatan terhadap raja, hanya hukuman mati yang pantas kuterima.
Kasihan si mbok, yang telah setia menemani hidupku dalam suka dan duka kehidupan.
*****
Ketika Paryo memasuki kamar mandi kantor.
“Hah!, Pak… Pak Bekti!, Paaak… hoi,
tolong-tolong!.” Paryo panik, ketika melihatku tergeletak di kamar
mandi. Dia berteriak minta tolong kepada karyawan lain.
Akupun menghembuskan nafas terakhirku dipangkuan Paryo, teman senasib seperjuangan.
Ma’af Pak Bupati, Saya Sudah kentutin Bapak – 17042012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar