Aku mengendap-endap dalam temaram lampu,
melangkahi ruang demi ruang dalam rumah besar ini. Aku hapal banget setiap
sudut dan lekukan di rumah ini. Di pojok kanan ada tangga menuju ke lantai dua.
Di situlah Ko Lim, tinggal bersama Enci dan adiknya si Mei Hwa.
Mei Hwa?, gadis yang permah ku suka tapi
sekarang ia sudah disekolahkan ke Hongkong oleh Ko Lim. Alasannya agar Mei Hwa tidak
bisa berhubungan lagi denganku. Oh,nasib. Tiba-tiba saja bunga cinta yang baru
ku tanam dan ku semai sudah hancur berantakan diinjak-injak oleh kuasanya Ko
Lim. Ko Lim sepakat dengan Enci, istrinya, mereka bilang : MADESU, masa depan suram kalau Mei Hwa jadi istriku.
Tapi, Ki … kenapa aku mesti bugil begini
sih?.
Itu
syarat, kalau kamu mau aman. Kata Ki Joko Tolol, penasihat spiritualku.
Ki,
saya ini mau maling, bukan mau bikin kalender porno?.
Pokoknya
turuti saja perintah Aki!. Kamu harus bugil!.
Ini
adalah syarat ‘elmu sirep yang Aki dapatkan dari gurunya Aki, Ki Joko Blo’on.
Supaya kamu tetap aman dan tak terlihat oleh seluruh penghuni rumah pada saat
kamu maling dirumah Ko Lim.
Degup jantungku berdebar keras, napasku
memburu bagai dikejar setan. Jujur saja baru kali ini aku maling. Dan hehehe,
baru kali ini juga aku bugil di rumah orang. Aku maling bukan karena butuh duit
tapi lebih karena sakit hatiku pada Ko Lim yang telah memisahkan aku dengan Mei
Hwa.
Ki, apa benar Mei Hwa suka juga padaku?.
Ki
Joko Tolol menerawang ke arah langit-langit rumah, mimik mukanya serius. Mei
Hwa gadis baik. Cuma kata itu yang keluar dari mulut Ki Joko Tolol.
Terus, Ki?. Tanyaku penasaran.
Hei,
anak muda, jangan Ge Er!. Setiap gadis yang baik padamu, jangan selalu kau
anggap ia suka padamu. Teliti dulu, apakah ia baik karena memang ia orangnya
baik dan suka berderma atau memberi atau… . Bentak Ki Joko Tolol padaku.
Atau apa, Ki?.
Atau
karena ia kasihan melihat nasibmu.
Aku
bukan pengemis, Ki. Gak perlu dikasihani, jelek-jelek begini aku ini kuli
bangunan.
Aku
yakin Mei Hwa pun suka padaku. Tolong, Ki, bagaimana caranya agar cintaku tak
bertepuk sebelah tangan.
Siapa nama nya?, bin siapa?, tanggal
lahirnya tahu?, fotonya ada?. Kata Aki nyerocos. Lalu diam kaku dan mulai
menerawang ke arah langit-langit lagi.
Waaah!,
gak ada orangnya!. Gak ketemu!. Jawab Ki Tolol sambil membuang desah panjang.
Aki
nyarinya dimana?.
Di
Indonesia lah!, memangnya mau cari dimana?. Sahut Aki kesal.
Ya,
terang saja gak ketemu, orang si Mei Hwa nya sudah sekolah di Hongkong!.
Kenapa
gak ngomong dari tadi?. Lain lubuk lain belalang, lain sungai lain pula
ikannya, ‘elmu penerawangan Aki gak bisa tembus sampai ke sana.
Coba
Aki searching di google dulu… . Ketak ketik ketak ketik ketak
ketik. Tuh, kan
benar si Mei Hwa nya sekarang ada di Hongkong.
Kok
Aki bisa tahu?.
Lihat
di face book nya, bodoh!. Jawab Aki seenaknya.
Sial!,
sebenarnya yang bodoh itu aku atau dia sih. Terus, gimana Ki?.
Ya,
gak bisa!.
Kok,
gak bisa, Ki?.
Di
atas langit masih ada langit, di sini gunung di sana
gunung, di tengah-tengahnya ada si Mei Hwa, di sini bingung, di sana pun bingung di
tengah-tengahnya ada samudera.
Maksudnya
apa, Ki?.
‘Elmu
pelet Aki gak bisa ‘nyebrangin samudera. Kejaaauuuuhan, kata Aki putus asa sambil
membuang napas panjang.
Begitu ceritanya kenapa aku sampai dendam
dengan Ko Lim. Karena dia sudah memisahkan Mei Hwa dariku.
Ya,
sudahlah, Ki. Aku mau maling saja di rumahnya si Ko Lim. Tapi, aku ingin si Ko
Lim dan seluruh penghuni rumah itu gak ada yang tahu dan gak ada yang bisa
melihat aku, Ki. Termasuk si Bruno, anjing herdernya, bagaimana Ki, bisa?.
Mau
penuhi syaratnya?.
Apa,
Ki?.
Bugil!.
TV plat, DVD player lengkap dengan sound
systemnya, uang ratusan lima
puluh lembar di laci, kulkas?, wah berat banget angkatnya?. Cukuplah untuk di
maling kali ini.
Semua
barang-barang aku taruh sementara di halaman belakang. Di balik tembok tinggi
sudah menunggu si Blek, teman yang membantuku maling dan nantinya si Blek akan
aku kasih upah. Barang-barang ku lempar, menyeberangi tembok. Dibalik tembok,
Blek sudah siap menangkapnya. Selesai semua barang-barang kukeluarkan. Aku pun
bergegas menuju halaman belakang, mengenakan pakaianku kembali, dengan
perantara tali, seperti bajing aku pun melompati pagar rumahnya Ko Lim.
Musik yang ada di lokalisasi pelacuran
ini sebenarnya terlalu memekakkan telinga. Tapi, gadis-gadis disini ramah dan
baik-baik. Tidak seperti si Mei Hwa. Aneh, aku kok kini jadi benci sama Mei
Hwa, cinta bisa merubah suka jadi benci, bayangan wajahnya yang selalu
menghantuiku. Persis, sekarang aku menganggap si Mei Hwa itu hantu. Hanya
dengan alkohol dan gadis montok di sebelahku yang bisa mengusir hantunya si Mei
Hwa.
“Ayo, Blek, habiskan minuman itu!. Kita
puas-puasin saja malam ini!.” Kataku pada si Blek.
“Sudah
setengah tiang nih!.” Sahut Si Blek mabok. “Kapal goyang, Kapten!, hahahaha… .”
“Blek,
gue ngamar dulu ya, gue udah kenyang sama pantat botol, gua mau pantat yang
lain, hahahaha….”
“Mantabs,
Boss!.” Sahut si Blek sambil mengacungkan jempolnya.
Sambil
merangkul si montok, aku berjalan gontai menuju sebuah kamar.
“Hajar terus, bleeeeh!, jangan dikasih ampun!.
Hahaha...” Teriak si Blek kepadaku.
“Hahahaha
… mantabs, Blek!. Ayolah, kamu masuk juga!.” Pintaku pada si Blek.
“Hahahaha,
nyantai dulu, Boss!. Blek masih milih-milih dulu soalnya yang montok sudah sama
si Boss, Hehehe yang lain ‘kerempeng semua!.”
Aku
sudah tenggelam dipelukan si montok. Si Blek, entahlah?, mungkin dia juga sudah
tenggelam dipelukan botol.
Aku sudah bugil menunggu dikasur lepek,
di ruang sempit berdinding triplek dengan tambalan koran bekas dan poster
Kajol, artis Bollywood. Kajol si hitam manis yang aku juga suka. Eksotis
istilah orang bule. Pokoknya setiap gadis cantik di dunia ini, aku suka. Cuma
masalahnya, mereka suka gak sama aku?.
Satu persatu gadis montok itu melucuti
pakaiannya. Ah, rasanya mahal sekali gadis ini!, Tak sabar pula aku menunggu.
“Hei,
apa pula kau ini!.” Teriakku keras.
“Sabar,
Bang … ini juga lagi dibuka, hihihihihi… .”
“Nanti
habis waktunya!.”
“Over
time lagi aja, Bang, hihihihihihi… .”
“Over
time-over time, memangnya gratis?!.”
Wow, gadis montok itu tanpa selembar benangpun
menantang di depanku. Aku manjakan saja mataku, kasihan setiap hari cuma
melihat semen, batu bata, pasir, kayu-kayu, dan teman-teman kuli bangunan yang dekil-dekil
dan bau.
Gadis montok itu mulai merapat. Tanganku
merengkuhnya, ia telah siap menjadi pelabuhan syahwatku.
“Braaaakkk
!.” Suara pecah dari arah pintu. O, pintu di tendang dari luar. “Angkat
tangan!.”
Dua
lelaki cepak berbadan tegap menodongkan pistol ke arahku.
Gadis
montokku secepat kilat menyambar handuk yang tergeletak di lantai.
Aku
bingung. Tengok kanan kiri panik, ada apa ini?.
Salah
seorang lelaki cepak itu membentak. “Ayo, cepat!, ikut kami!.”
Akhirnya
aku pun di gelandang ke kantor polisi.
“Gimana,
Ki kok bisa ketahuan?.” Tanyaku pada Ki Joko Tolol pada saat ia menjengukku di
sel kantor polisi.
“Salah
kamu sendiri!, kamu gak ngomong kalau di rumah itu ada CCTV nya?.”
“TV
nya kan sudah
saya jual kemarin di Taman Puring.”
“Bukan
TV, Tolol!, CCTV atau kamera.”
“Mana
saya tahu, Ki?.” Sahut aku bingung. “Terus, gimana Ki caranya agar saya bisa
keluar dari sel ini. Kalau perlu bugil, saya akan bugil lagi deh!.”
“Dasar
tolol bin blo’on, pikiranmu ‘cetek, secetek kali Ciliwung!.”
Bentak Aki marah.
“Pikiranmu
harus luas seluas samudera, tinggi setinggi gunung himalaya. Buka pintu
pikiranmu lebar-lebar.”
“Itu,
mantra nya, Ki!.”
Ki
Joko Tolol kesal, ia menyeruduk kupingku. Dibisikkinnya kupingku tentang
“sesuatu”, “sesuatu banget deh… .” Lama juga ia bisiki sampai air ludahnya
nyemprot-nyemprot di kupingku.
“O…
itu maksudnya, Ki?, aman gak, Ki?.”
“Cincai
lah!, semua bisa diatur, anak muda!.”
Sepeninggal Aki, aku mulai merenung dan terus
merenung di dalam sel. Kata Aki, aku harus buka pikiranku, menangkap semua
peluang yang ada. Cling!, ide itu nemplok’ di jidatku. Sejak itu aku mulai
merintis usaha, sel yang kumuh itu kini sudah menjadi sejuk, penjara yang
sempit sudah menjadi istanaku.
Sedikit
demi sedikit, dalam kurun waktu berproses, aku pun sudah bisa mengatur
semuanya. Dimana lagi tempat yang aman untuk bisnis “sesuatu” itu selain di
penjara?. Di jalan-jalan dan di bar-bar terlalu riskan. Benar kata si Tolol,
penasihat spiritualku itu, cincai lah!, semua bisa diatur.
Dari
sel kumuh dan penjara, ku jalani bisnis ini. Setelah aku dibebaskan pun, aku
masih tetap menjalankan bisnis ini. Bisnis yang sangat menggiurkan. Kini,
orang-orang memanggilku, Boss Besar, Bandar Narkoba yang tak tersentuh hukum.
Si
Blek, kini sudah necis’. Giginya yang ompong waktu digebukin di penjara sudah
di ganti gigi emas. Seperti aku, pakaian nya jas dengan dasi kupu-kupu.
Sementara Ki Joko Tolol, penasihat spiritualku sudah menjadi penasihat
pribadiku. Jubah hitamnya sudah ia buang, ia ganti dengan jubah pink, dengan
rantai kalung yang besar, gelang-gelang dan cincin-cincinya serba Bling-Bling
serta jambul anti Krismonnya. OK juga seleranya Ki Joko Tolol, penampilannya
mirip dengan Syahrini.
Dan
aku?, apa yang tak bisa ku beli hari ini?. Hukum di Indonesia bisa ku beli!,
sejuta Mei Hwa bisa ku beli!. Sahutku sombong.
Setiap
pagi aku buka jendela, sambil berucap syukur. “Oh, Tuhan, alangkah indahnya
Indonesiaku!.” @Kutz,190412
*********
Kutu Kata, Maling Bugil Dan Penasehat Spiritualnya
Ilustrasi Gambar : Dya (radyapustaka on twitter) twitter.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar