Sering ibuku berkata lirih,
”maklumilah keadaan ibu dan bersabarlah … .”
Nampak, ibuku tidak lagi seperti
yang dulu, usia telah merenggut keayuan dan kebugarannya.
Memang aku harus banyak-banyak
bersabar. Tapi bisakah aku sesabar ibu ketika ia merawatku semasa bayi?.
“Jangan tergesa-gesa, nafas ibu
suka sesak kalau terburu-buru, nak.” Begitu kata ibu ketika aku jalan
bersamanya. Dan karena tak sabarnya, dengan muka cemberut dan kesal memandangi
langkah-langkah ibu yang lambat menghampiriku yang telah berdiri jauh di
depannya.
“Disaat kedua kaki ibu semakin
lemah karena sering diserang rematik, jangan kau tambah rasa ngilu di kaki ku
dengan cemberutmu … ulurkan tanganmu yang masih muda dan kuat, papahlah ibumu
ini, nak!. Sebagaimana ibu dulu dengan hati-hati memapah dan menuntunmu ketika
kau mulai berjalan tertatih-tatih, selangkah demi selangkah, setapak demi
setapak, lalu kemudian kau jatuh dan menangis… Selalu ku bujuk, ayo nak!,
bangkit lagi!, berjalan lagi!… Dan kau pun merangkak, berdiri, berjalan
perlahan… sampai kini kau telah bisa berjalan mendahului ibumu ini.”
Aku jadi teringat, di masa
kanak-kanakku, saat aku menumpahkan kuah makanan di seluruh baju dan celanaku
hingga berceceran berantakan di lantai. Dengan senyum, ibu melap sisa kuah
makanan di mulutku, membersihkan tubuhku, mengganti bajuku yang kotor dengan
yang bersih. Setelah aku rapih, ibu menyapu membersihkan sisa-sisa makanan yang
berserakan yang telah ku tumpahkan di lantai.
Ibu pernah berkata, “jangan
sungkan apalagi merasa jijik, di saat ibu sakit keras dan membutuhkanmu untuk
membersihkan tubuh ibu … masih ingat tidak?, disaat masa kecil dulu, ibu dengan
susah payah dan berusaha dengan seribu satu cara membujukmu untuk mau mandi.”
Oh ibu, aku jadi teringat juga,
di saat aku belum bisa mengikatkan tali sepatuku sendiri, tanpa merasa bosan,
ia mengikatkan tali sepatuku setiap pagi disaat aku hendak berangkat ke
sekolah. Lambat laun, ia pun mengajariku hingga aku bisa mengikatkan tali
sepatuku sendiri.
“Jangan kau bosan mendengar
perkataan “nenek-nenek” ini, yang sering ibu ulang-ulang, bersabarlah dan
jangan kau potong pembicaraanku takut aku lupa apa yang telah aku ucapkan
sebelumnya … rasa-rasanya ibu sudah mulai pikun, nak. Hmmm, dulu disaat kau
baru belajar bicara, dengan sabar aku mengulang-ulang kata demi kata sampai kau
mampu ucapkan sebuah kata yang pertama kali bisa keluar dari mulut mungilmu …
Ma … Ma … Ma … ya cuma kata itu yang bisa terucap tapi aku mengerti maksudnya …
kau berusaha untuk memanggil-manggilku.”
“Dari satu kata demi satu kata,
hingga kalimat demi kalimat, cerita demi cerita yang sering ibu dongengkan
sebelum tidur … hingga kau pun teridur pulas terbuai dalam alam mimpimu, nak …
terus menerus ibu lakukan agar kelak kau jadi anak yang pandai.”
Ya, memang sekarang-sekarang
ini, aku sering tidak sabar mendengar ibu bicara selain ucapannya yang kurang
jelas dan juga topik pembicaraannya sering kali melenceng.
“Maklumilah, nak … ibu sudah
beranjak tua … beri sedikit waktu untuk ibu bisa mengingat-ingat kembali apa
yang sedang kita bicarakan, nak. Bagi ibu .. topik pembicaraan bukanlah hal
yang penting!. Kesabaranmu untuk mau mendengarkan dan menemani ibu ngobrol, itu
saja sudah membahagiakanku.”
“Jangan tertawai ibu, di saat
ibu kebingungan menggunakan HP yang baru saja kamu belikan. Katamu alat ini lah
yang bisa mengobati rasa kangen ibu padamu nak. Tapi ma’af ibu bingung … dan
gak pandai menggunakannya.”
Ah ibu, ada-ada saja!. masa
pakai HP saja tidak bisa?. Mungkin anakku yang terkecil lebih pandai
menggunakan HP dari pada ibu. Kenapa aku sering ‘ketus sekali pada ibu?. Dulu
semasa aku kecil, ibu tak pernah ketus menjawab setiap pertanyaanku, kenapa
begini, bu?. mengapa bisa begitu bu?. Seperti sebuah encyclopedia ibu
telah memuaskan rasa ingin tahuku.
“Jangan bersedih, nak … bukankah
setiap yang hidup akan mati?, setiap yang ada lalu tiada?. Semakin hari ibu
terus beranjak tua dan selalu akan merepotkan dan menyusahkanmu saja. Ibu
selalu berdo’a agar ibu cepat dipanggil … pulang dalam keadaan khusnul
khotimah. Hapuslah air matamu, nak … Bukankah kehidupan akan terus berputar
seperti itu?. Kematian bukanlah perpisahan, kematian hanyalah jedah, tempat ibu
istirah seperti bapakmu … Apakah kamu tidak ingin berkumpul
bersama-sama lagi di surga nanti?. Sudahlah!, air mata mu hanya menyiratkan
ketidak yakinanmu akan ada alam lain selain alam fana’ ini. Muluskan dan
lapangkan jalan ibu ‘tuk kembali dengan do’a dan kesabaranmu … Berilkan kasih
sayang kepada anak-anakmu sebagaimana ibu berikan kasih sayang yang tulus
kepadamu … .”
Aku sudah berusaha keras untuk
tidak menitikkan air mata lagi. Iya ibu, kita akan berkumpul bersama lagi di
surga nanti …
Ma’afkan aku ibu … ini tetes
mata terakhir sebagai tanda keikhlasanku jika kelak Tuhan menjemputmu.
*****
Kutu Kata, Saat Ibu Beranjak Tua, 221212
Ilustrasi Gambar : Sumber dari : www..lokerseni.web.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar