Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2013

Saat Ibu Beranjak Tua



Di saat ibuku beranjak tua.
Sering ibuku berkata lirih, ”maklumilah keadaan ibu dan bersabarlah … .”
Nampak, ibuku tidak lagi seperti yang dulu, usia telah merenggut keayuan dan kebugarannya.
Memang aku harus banyak-banyak bersabar. Tapi bisakah aku sesabar ibu ketika ia merawatku semasa bayi?.
“Jangan tergesa-gesa, nafas ibu suka sesak kalau terburu-buru, nak.” Begitu kata ibu ketika aku jalan bersamanya. Dan karena tak sabarnya, dengan muka cemberut dan kesal memandangi langkah-langkah ibu yang lambat menghampiriku yang telah berdiri jauh di depannya.
“Disaat kedua kaki ibu semakin lemah karena sering diserang rematik, jangan kau tambah rasa ngilu di kaki ku dengan cemberutmu … ulurkan tanganmu yang masih muda dan kuat, papahlah ibumu ini, nak!. Sebagaimana ibu dulu dengan hati-hati memapah dan menuntunmu ketika kau mulai berjalan tertatih-tatih, selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, lalu kemudian kau jatuh dan menangis… Selalu ku bujuk, ayo nak!, bangkit lagi!, berjalan lagi!… Dan kau pun merangkak, berdiri, berjalan perlahan… sampai kini kau telah bisa berjalan mendahului ibumu ini.”
Aku jadi teringat, di masa kanak-kanakku, saat aku menumpahkan kuah makanan di seluruh baju dan celanaku hingga berceceran berantakan di lantai. Dengan senyum, ibu melap sisa kuah makanan di mulutku, membersihkan tubuhku, mengganti bajuku yang kotor dengan yang bersih. Setelah aku rapih, ibu menyapu membersihkan sisa-sisa makanan yang berserakan yang telah ku tumpahkan di lantai.
Ibu pernah berkata, “jangan sungkan apalagi merasa jijik, di saat ibu sakit keras dan membutuhkanmu untuk membersihkan tubuh ibu … masih ingat tidak?, disaat masa kecil dulu, ibu dengan susah payah dan berusaha dengan seribu satu cara membujukmu untuk mau mandi.”
Oh ibu, aku jadi teringat juga, di saat aku belum bisa mengikatkan tali sepatuku sendiri, tanpa merasa bosan, ia mengikatkan tali sepatuku setiap pagi disaat aku hendak berangkat ke sekolah. Lambat laun, ia pun mengajariku hingga aku bisa mengikatkan tali sepatuku sendiri.
“Jangan kau bosan mendengar perkataan “nenek-nenek” ini, yang sering ibu ulang-ulang, bersabarlah dan jangan kau potong pembicaraanku takut aku lupa apa yang telah aku ucapkan sebelumnya … rasa-rasanya ibu sudah mulai pikun, nak. Hmmm, dulu disaat kau baru belajar bicara, dengan sabar aku mengulang-ulang kata demi kata sampai kau mampu ucapkan sebuah kata yang pertama kali bisa keluar dari mulut mungilmu … Ma … Ma … Ma … ya cuma kata itu yang bisa terucap tapi aku mengerti maksudnya … kau berusaha untuk memanggil-manggilku.”
“Dari satu kata demi satu kata, hingga kalimat demi kalimat, cerita demi cerita yang sering ibu dongengkan sebelum tidur … hingga kau pun teridur pulas terbuai dalam alam mimpimu, nak … terus menerus ibu lakukan agar kelak kau jadi anak yang pandai.”
Ya, memang sekarang-sekarang ini, aku sering tidak sabar mendengar ibu bicara selain ucapannya yang kurang jelas dan juga topik pembicaraannya sering kali melenceng.
“Maklumilah, nak … ibu sudah beranjak tua … beri sedikit waktu untuk ibu bisa mengingat-ingat kembali apa yang sedang kita bicarakan, nak. Bagi ibu .. topik pembicaraan bukanlah hal yang penting!. Kesabaranmu untuk mau mendengarkan dan menemani ibu ngobrol, itu saja sudah membahagiakanku.”
“Jangan tertawai ibu, di saat ibu kebingungan menggunakan HP yang baru saja kamu belikan. Katamu alat ini lah yang bisa mengobati rasa kangen ibu padamu nak. Tapi ma’af ibu bingung … dan gak pandai menggunakannya.”
Ah ibu, ada-ada saja!. masa pakai HP saja tidak bisa?. Mungkin anakku yang terkecil lebih pandai menggunakan HP dari pada ibu. Kenapa aku sering ‘ketus sekali pada ibu?. Dulu semasa aku kecil, ibu tak pernah ketus menjawab setiap pertanyaanku, kenapa begini, bu?. mengapa bisa begitu bu?. Seperti sebuah encyclopedia ibu telah memuaskan rasa ingin tahuku.
“Jangan bersedih, nak … bukankah setiap yang hidup akan mati?, setiap yang ada lalu tiada?. Semakin hari ibu terus beranjak tua dan selalu akan merepotkan dan menyusahkanmu saja. Ibu selalu berdo’a agar ibu cepat dipanggil … pulang dalam keadaan khusnul khotimah. Hapuslah air matamu, nak … Bukankah kehidupan akan terus berputar seperti itu?. Kematian bukanlah perpisahan, kematian hanyalah jedah, tempat ibu istirah seperti bapakmu … Apakah kamu tidak ingin berkumpul bersama-sama lagi di surga nanti?. Sudahlah!, air mata mu hanya menyiratkan ketidak yakinanmu akan ada alam lain selain alam fana’ ini. Muluskan dan lapangkan jalan ibu ‘tuk kembali dengan do’a dan kesabaranmu … Berilkan kasih sayang kepada anak-anakmu sebagaimana ibu berikan kasih sayang yang tulus kepadamu … .”
Aku sudah berusaha keras untuk tidak menitikkan air mata lagi. Iya ibu, kita akan berkumpul bersama lagi di surga nanti …
Ma’afkan aku ibu … ini tetes mata terakhir sebagai tanda keikhlasanku jika kelak Tuhan menjemputmu.

*****
Kutu Kata, Saat Ibu Beranjak Tua, 221212

Ilustrasi Gambar : Sumber dari : www..lokerseni.web.id

Aku Ingin Pulang




Aku ingin pulang, kawan.
Pulang ke kesejatian.
Pulang dan tak ingin kembali lagi.
Mati maksudmu?. Tanya kawan padaku.
Memangnya setelah mati, selesai sudah semua urusanmu?. Tanya kawan itu lagi padaku.
Tak semudah itu, sobat. Setelah kita mati pun, urusan kita baru saja dimulai. Satu persatu benang kusut itu akan di urai.
Tangan dan kakimu akan bicara tentang hidupmu dulu di dunia fana. Kawanku menjelaskan tentang kehidupan setelah kematian.
Ah, kadang aku buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Aku cuma berharap setelah aku mati, selesai sudah semua urusan.
Tubuhku akan dimakan cacing, ulat dan bakteri pengurai lainnya hingga lebur jadi tanah. Dari tanah kembali lagi ke tanah, bukankah itu akan lebih baik?.
Tak perlu kau cari karena kematian pasti akan datang. Entah dimana dan kapan?, itu yang kita tidak pernah tahu.
Apakah kita bisa memilih kapan, dimana dan dengan cara apa kita akan mati?. Kalau saja bisa, setiap orang pasti akan memilih yang sesuai dengan harapannya.
Begitu kawanku menjelaskan tentang kematian padaku.
Perasaan ingin pulang ku tak pernah surut atau hilang. Rasa nya aku ingin mati dari kehidupan di dunia. Kalau pun dihidupkan kembali di alam lain, aku akan memilih kehidupanku yang lebih baik dari di dunia ini. Tentu saja ini sebuah keinginan yang tak berlebihankan?.
Memangnya kita punya hak untuk memilih sobat?. Tanya kawanku lagi.
Kenapa waktu di dalam rahim ibumu dulu kamu tidak memilih kehidupan yang baik?. Tanya kawanku mengejek.
Aku cuma diam. Tak bisa menjawab pertanyaan kawanku.
Jadi kita cuma harus menjalaninya saja, kawan?. Tanyaku penasaran. Menjalani saja apa yang t’lah digariskan untuk kita?.
Kini kawanku yang terdiam. Beberapa saat, dia hanya bisa menarik napas lalu membuangnya kesal.
Ah, terserah kau sajalah sobat!. Kau mau mati atau tidak, itu urusanmu!. Bukankah kalau kau mati pun tak akan ada orang yang merindui kamu?. Kata kawanku kesal.
Hahaha, mungkin cuma kamu saja yang tidak menginginkan aku mati. Bukankah begitu, kawan?. Tanyaku padanya.
Jangan Ge Er, sobat!. Lihatlah siapa yang akan menangisi kematian kita nanti!. Kata kawanku menantang.
Ok!, tentu saja harus ada yang mati lebih dulu diantara kita. Dan yang masih hidup akan menjadi saksi, siapa kelak yang akan menangisi kematian kita masing-masing.
Hahaha, apakah kau akan menangisi kematianku, sobat?. Hahaha, aku tak perlu sedu sedanmu itu!. Ejek kawanku.
Aku juga!. Tak perlu isak tangismu yang meraung-raung di batu nisanku, kawan!. Biar tak seorangpun yang akan menangisi!. Walau langit menurunkan rintik hujannya pun, aku tak akan rela!. Biarkan aku sendiri dalam kematianku!. Hahahaha!.
Ha!, begitu getir keinginanmu sobat!.  Biar aku sajalah yang mati lebih dulu, agar kau sempat menangisi aku, hahaha. Dan aku akan merasa tersanjung ditangisimu, sobat!. Kata kawanku mulai merajuk.
Hei!, lancang sekali kau kawan!. Dari awal aku bicara, aku yang lebih dulu ingin pulang. Bukankah kau masih mencintai dunia ini sobat!. Kau masih betahkan di dunia ini?.
Biar aku saja yang lebih dulu mati. Dan aku tak minta setetes pun air mata darimu, kawan. Karena aku tak butuh itu!. Lepaskan kepergianku seperti kau melepaskan angin…
Kentut, maksudmu?. Hahaha, baiklah kalau memang itu sudah mau mu. Aku akan mengentuti kepergianmu kelak, Ok?.
Hahaha, bukan itu maksudku kawan. Tapi tak apalah!. Apakah ada bedanya tangisan dan kentut mu itu?. Hahaha, sama-sama tak berguna, kawan!. Cuma basa-basi pengantar upacara kematian saja, agar terlihat lebih tragis tentunya, bukan begitu kawan?.
Hahaha, apakah kita ini sudah gila, sobat?. Berrebut tentang kematian. Bukankah kematian itu rahasia Tuhan?.
*****
Tak perlu sedu sedan itu,
Aku ini binatang jalang,
Dari kumpulan yang terbuang …
Syair karya Chairil Anwar itu agar di pahat di batu nisanku kelak jika aku telah tiada. Begitu pesanku pada kawanku. Begitu kami tinggal dua orang yang tersisa yang masih hidup kala kami tersesat di Gunung Lawu.
Dari lima orang yang tersesat, aku dan kawanku memilih jalur menyusuri sungai menuju ke desa terdekat. Sementara tiga orang kawan kami lainnya, mencoba menyusuri hutan mencari jejak-jejak yang pernah kita lalui.
Sudah seminggu lebih kami tersesat dan hanya berputar-putar diantara lembah dan jurang di Gunung Lawu. Kelaparan dan keletihan yang amat sangat, membuat kematian seperti sebuah lelucon dimata kami.
Disebuah pagi yang masih dipenuhi kabut, sebujur tubuh kawanku kaku membiru akibat dingin yang menusuk tulang kami semalam. Aku mencoba membangunkan nya. Dia tetap kaku tak bergerak. Matanya melotot, mulutnya ternganga tapi tak ada jejak desah yang keluar dari mulutnya. Aku pun terdiam, jatuh tersungkur ke tanah.
Tuhan, kenapa tidak aku saja mati?. Bukankah aku yang selalu minta ingin pulang…
Tanpa terasa hangat menetes di pipiku. Aih, akhirnya aku menangisi mu kawan. Apakah kau masih perlu sedu sedanku itu, kawan?.
Aku akan menemanimu kawan!. Mati dalam pendakian adalah cara mati terhormat bagi pendaki gunung seperti kita. Aku ingin mati di Mount Everest, begitu cita-citaku dulu. Ah, itu cuma darah mudaku saja. Melihat kau terbujur kaku saja aku sudah menangis tersedu-sedu. Sudah berapa lama aku menangisi jenazah kawanku tapi tetap saja aku tidak mati-mati.
Matahari telah sepenggalan naik, kabut mulai pudar dicerai terik.
Selamat tinggal kawan!. Aku tidak ingin mati disini!, aku hanya ingin mati di Mount Everest dalam pendakianku nanti.
*****
Setelah setengah hari aku terseok dan tertatih-tatih menyusuri jalan curam, aku pun ditemukan oleh beberapa orang tim SAR. Teriak-teriakan mereka yang riuh tertelan deru angin. Saat mataku manangkap fatamorgana itu, tiba-tiba saja semangatku seperti dibakar kembali. Aku melambai-lambaikan tangan ke arah mereka.
“Woooooiii… !.”
Diantara mereka ada yang menangkap isyaratku. Mereka pun akhirnya bergegas memburuku. Seketika itu juga aku pingsan. Dan tak tahu apa-apa lagi.
Tuhan aku yang selalu ingin pulang. Hanya bisa menangisi kepergian empat orang temanku lainnya saat mereka dikebumikan. Ya, diantara kami berlima yang tersesat cuma aku yang selamat. Apakah aku harus berterima kasih pada-Mu, Tuhan?.
Ah, entahlah?. Dari puncak gunung ke puncak gunung lainnya aku mencari-Mu, Tuhan. Kini aku dan timku menyusuri jalan setapak ke puncak Gunung Kerinci. Akankah kita saling bertegur sapa lagi, Tuhan?.
*****

Kutu Kata, Aku Ingin Pulang, 27022012

Rangking 1



“Rangking berapa pak anaknya?”. Tanya seorang ibu orang tua murid.
“Satu!.”
“Wah, hebat ya.”
“Iya.” Kataku mantap sambil elus-elus kepala anakku.
Hatta, anakku nyengir saja waktu rambut ikalnya ku elus sayang.
*****
Pertanyaan yang sama dari istriku waktu aku dan Hatta tiba dirumah.
“Rangking berapa, Pa?.” Tanya istriku penasaran.
“Satu!.”
“Serius, Pa?,” Tanya istriku kesal.
Tanpa menjawab apapun. Kuberikan rapot anakku.
“Huh, ini sih bukan rangking satu!, ini rangking dua!.” Kata istriku kesal. “Dua dari belakang.”
Memang betul apa kata istriku. Hatta rangking dua puluh empat dari dua puluh lima, jumlah murid di kelasnya.
“Untung saja naik.” Kata istriku ketus. Sambil menutup rapot, lalu meletekannya begitu saja di meja sudut.
Wage datang menghampiri ke arah ku dan Mama nya.
“Masak apa, Ma?. Hatta lapar.”
“Ayam goreng kecap kesukaanmu. Ambil sendiri saja ya.” Kata Mama pada Hatta.
Hatta pun sigap membalikkan badannya. Sebelum dia meninggalkan kami, aku pun memanggilnya.
“Hatta, sini!.”
“Ada apa lagi, Pa?, Hatta kan udah laperrrr.”
“Kalau teman-teman kamu tanya, Hatta rangking berapa, Hatta jawabnya apa?.” Tanyaku mengingatkan Hatta.
“Satu!.” Teriak Hatta.
“Hebat, mantabs!. Itu baru anak Papa. Anak Papa semua adalah anak-anak terbaik, rangking satu semua.” Kataku memujinya. “Ya, sudah sana kamu makan dulu.”
Hatta pun pergi menuju dapur.
*****
Perlu aku jelaskan, Hatta adalah anak kedua kami. Sekarang duduk dikelas tiga mau naik ke kelas empat. Beda dengan si sulung anak pertamaku. Rangking si sulung selalu Top Ten di sekolahnya. Walaupun beda dengan kakaknya, perhatianku pada Hatta tidak berbeda. Semua anak dapat perhatian yang sama, aku tahu sebagai orang tua kita mesti adil karena kalau pilih kasih tidak bagus untuk perkembangan mental si anak.
Hatta bukanlah anak yang bodoh. Bagiku tidak anak yang bodoh yang bodoh. Kita sebagai orang tuanya dan juga guru disekolahnya yang berperan membentuk anak itu. Walaupun sering tertinggal dalam pelajaran di sekolahnya menurutku Hatta adalah anak yang kreatif. Bukankah setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangan yang unik?.
Sebagai anak dengan gerak motorik terbaik waktu di TK. Lebih cepat dan tepat dalam menyusun puzzle. Tidak cengeng ketika di tinggal sendiri waktu di TK. Lebih mudah mengurus anak yang bisa mandiri sejak kecil. Tertawanya kencang dan lepas, selalu riang gembira. Walaupun berbadan lebih kecil tapi selalu jadi leader diantara teman-temannya.
Dan yang membanggakan buatku, Hatta adalah anak “apa adanya”. Kalau ia tidak suka akan sesuatu maka ia akan katakan tidak suka. Teguh pendiriannya dan tidak mau dipaksa.
Seperti halnya masalah sekolah. Ia katakan bahwa ia tidak suka dengan “tetek bengek” yang ada di sekolah. Tugas-tugas sekolah, PR, Ulangan maupun Ujian di sekolah merupakan sesuatu yang ia tidak suka. Bagaimana mau dapat nilai bagus kalau soal ujiannya tidak dijawab?, hanya didiamkan kosong saja. Ketika kutanyakan kenapa ia tidak mengisi soal ujian itu?. Dengan ringannya, ia katakan bahwa ia tidak suka. Kutanya lagi, apa karena Hatta gak bisa?. Ia jawab bisa.
Malam harinya aku dan istriku dengan sedikit membujuk agar Hatta mau mengerjakan soal ujian itu. Akhirnya dikerjakan juga dan hasilnya membuat aku dan istriku bengong, ternyata cuma salah satu, artinya anakku bisa bukannya “bodoh”. Sejak itu kami tidak pernah memaksakan kehendak kami. Dengan nasihat, bujukan dan sedikit reward, akhirnya Hatta mulai mudah diarahkan untuk mau belajar. Walaupun kebiasaannya mencoret-coret buku dengan gambaran hayalinya belum bisa berubah.
Rangking bukanlah tujuan utama kami dalam mendidik anak. Pernah pada suatu hari ia pulang sekolah dengan muka cemberut. Ketika kutanyakan, ia kesal karena teman-temannya banyak yang nyontek makanya hasil ujiannya bagus. Sedangkan ia dapat nilai jelek, selain karena ia tidak bisa, Hatta pun tidak mau menyontek. Akupun tertawa bangga. Akhirnya sikap fair, jujur dan “apa adanya” yang selalu ku tanamkan pada Hatta membuahkan hasil.
“Lihat, Ma, anak kita punya prinsip.” Kataku pada istriku.
“Tapi kalau gak naik kelas bagaimana?.”
“Gak apa-apa, Ma. Buat apa dia naik kelas tapi bukan hasil jerih payahnya sendiri. Aku lebih suka dan bangga kalau dia begitu, Ma.”
Biasanya istriku cuma diam pasrah kalau aku sudah bicara tentang idealisme ku dalam mendidik anak-anakku.
“Terus bagaimana Pa, kok anak kita gak cocok sih dengan sekolah?.” Tanya istriku menyerah.
“Mama tahu Albert Einsten?.”
Istriku diam.
“Dia juga termasuk anak yang tidak cocok dengan sistim pendidikan di sekolah. Karena tidak ada kemajuan, akhirnya ibunya mengambil alih pendidikan si Albert itu dengan sistim home schooling.”
“Maksudnya Pa?.”
“Ibunya yang mendidik si Albert itu di rumah, meletakkan dasar-dasar keilmuan dan pembentukan karakter anaknya hingga si Albert menjadi seorang penemu besar di dunia. Berkat penemuan si Albert itu dianggap membawa kemajuan peradaban manusia.”
Istriku bengong mendengarkan penjelasanku yang sangat meyakinkan.
“Nanti kalau sudah besar anak kita jadi apa ya, Pa?. Apa bisa jadi si Albert juga?.” Tanya istriku lugu.
“Hahahaha, orang seperti si Albert itu termasuk “barang langka” yang diciptakan Tuhan. Tapi…why not?. Apa yang tak mungkin di dunia ini?. Bisa saja anak kita lebih hebat dari si Albert. Dengan catatan, kemampuan kita mendidiknya harus lebih sabar, lebih care dan lebih hebat dari ibunya si Albert.” Kataku penuh semangat.
“Tapi, Ma… Papa gak berharap terlalu “muluk”. Mama ‘ngerti kan kenapa Papa ‘ngotot memberikan nama Hatta pada anak kedua kita?.”
“Papa ingin anak kita mengikuti jejak Bung Hatta. Sang proklamator tercinta, jujur, sederhana tapi bijaksana. Mengerti apa yang tersirat dalam hati rakyatnya sehingga ketika beliau dimakamkan, iring-iringan masyarakat yang menyemut. Hujan air mata dari pelosok negeri. Berjuta kepala tertunduk haru saat melepas beliau pergi.”
“Hiks, kok Mama jadi sedih Pa.” Kata istriku dengan airmata yang mengembang di kedua bola matanya.
“Kalau ingat beliau, Papa juga suka sedih Ma. Mungkin Tuhan terlalu cepat memanggilnya…ketika negeri ini masih merindukan pemimpin yang bersahaja dan sederhana seperti beliau.”
“Iya Pa, Mudah-mudahan ya Pa anak kita bisa seperti beliau.”
“Iya, Ma. Yang penting kita selalu berusaha dan berdo’a agar Tuhan memberikan yang terbaik buat anak kita.”
Istriku pun memeluk haru. Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya meledak juga. Akupun ikut meneteskan air mata penuh harap.
“Jadi Pa, kalau ada tetangga kita yang nanya Hatta rangking berapa?. Mama akan jawab dengan lantang: satuuuuu!.” Kata istriku mantabs sambil menghapus sisa air matanya yang masih ada di ujung mata.
“Hehehehe, pokoknya semua anak-anak Papa adalah anak-anak Rangking : satu, Ma.” Kataku dengan suara parau karena haru.
*****
Kutu Kata, Rangking : 1, 21062012

Dedicated for : Bung Hatta
“Terbayang baktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas jiwa sederhanamu. Bernisan bangga, berkafan do’a dari kami yang merindukan orang sepertimu…”
(Lirik lagu “Bung Hatta” dari Iwan Fals)

Ilustrasi Gambar : www.hendywicaksono.com

Jual Es Di Kutub Utara



Apa yang diajarkan di sekolah?. Berhitung dan Menghapal. Apakah bekal itu cukup untuk menghadapi kerasnya persaingan hidup?.
Aku memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Papa marah. Dan Mama menasehatiku agar aku menuruti saja kemauan Papa. Kalau kamu gak kuliah terus kamu mau apa?. Kerja?. Kerja apa?. Apa ada pekerjaan yang baik untuk seorang lulusan sekolah menengah?. Ya, tentu saja tidak ada. Terus?. Papa bingung dan Mama diam saja menunggu reaksiku.
Menjadi seorang Enterpreneur, Pa. Jelasku pada Papa. Apa itu?. Tanya Papa sinis. Setelah aku jelaskan bahwa istilah itu hanyalah persamaan dari wiraswasta, Papa melotot padaku. Dagang?, kamu mau dagang?. Mama ngeri melihat Papa mulai melotot. Dengan bibir gemetar, Mama lontarkan juga suara hatinya yang dari tadi tercekat di tenggorokannya. Memangnya salah kalau anak kita mau dagang, Pa?. Tanya Mama membelaku.
Bisa apa dia?. Teriak Papa pada kami. Bukankah Papa juga adalah seorang pedagang?. Tanya Mama mulai berani membelaku. Iya, Pa. Kataku pelan. Beda!, dari kecil aku memang dilahirkan sebagai seorang pedagang, menjual Koran, tukang semir sepatu, jualan gorengan, hingga sekarang Papa punya pabrik. Mental pedagang Papa sudah terbentuk dari kecil. Kalau dia, apa?. Papa menunjuk ke arah hidungku. Anak manja!. Sudah besar saja, bangun pagi masih dibangunkan oleh alarm atau Mamamu.
Salah Papa terlalu memanjakanmu. Kata Papa penuh penyesalan. Kerasnya jiwa Papa terbentuk karena Papa dulunya memang anak orang yang tak mampu. Begitu pahitnya masa kecil Papa, sehingga untuk membeli sarapan saja Papa harus menjual sepuluh koran atau menyemir tiga pasang sepatu dulu. Makanya Papa tidak ingin anak-anak Papa mengalami nasib seperti Papa. Semua anak-anak, Papa sekolahkan tinggi kalau perlu ke luar negeri agar kelak setelah lulus akan mendapatkan pekerjaan yang pantas. Begitupun harapan semua orang tua ingin agar anaknya hidup bahagia.
Papa hanya akan buang-buang uang saja memaksaku kuliah. Kataku berusaha tegar. Aku tetap mau usaha sendiri, Pa. Sudahlah Pa, gak baikkan memaksakan kehendak kita pada anak. Kata Mama membelaku lagi. Baik!, kalau kamu mau usaha, kamu magang aja dulu diperusahaan Papa setahun. Kamu boleh pilih mau magang di divisi apa?, marketing, HRD, atau finance?. Bagaimana?. Tanya Papa mulai lembut.
Tapi, Pa. Aku mau usaha sendiri. Jiwaku bukan disitu, Pa. Kataku berusaha menjelaskan pada Papa. Apalagi Tirta?, nama mu air tidak sepantasnya kamu keras kepala seperti batu. Apa aku telah salah kasih nama, Ma?. Harusnya dulu aku kasih nama anak ini, Karang atau Batu, Ma. Kata Papa menyindirku. Mama diam mulai takut lagi.
Ok. Ok. Ok, terus kamu mau usaha apa?. Tanya Papa melecehkanku.
Aku mengeluarkan draft atau mungkin lebih tepat disebut coretan-coretan gagasanku. Aku jelaskan mulai dari pra produksi, kemudian produksi atau yang aku sebut packing dan paska produksi yang meliputi marketing dan promo serta distribusi.
Setelah hampir sejam aku jelaskan, wajah Papa dingin tak bergeming. Aku yakin itu karena Papa tidak tertarik dengan presentasiku. Maklumlah hanya presentasi yang dibuat oleh seorang lulusan sekolah menengah. Lebih parah lagi, muka Mama berkerut tidak mengerti dengan penjelasanku.
Jadi apa yang kamu mau jual?. Air?. Hanya air putih tanpa rasa?. Tanya Papa mendelik.
Aku jawab dengan mantap. Iya, Papa.
Kamu mau jual es di kutub utara?. Tanya Papa melotot. Aku tidak mengerti dengan pertanyaan Papa. Aku beranikan diri untuk bertanya. Maksud, Papa?. Aku tanya, Papa malah balik bertanya. Tirta, sebenarnya apa isi dalam kepalamu?. Pertanyaan yang menyakitkanku. Papa telah menganggapku tolol.
Indonesia itu adalah tanah air. Dari kata itu saja, harusnya kamu bisa menyimpulkan. Air bukan masalah disini. Lain halnya kalau kau jual air di gurun sahara sana. Orang tinggal gali sumur saja sudah bisa mendapatkan air. Begitu mudahnya orang mendapatkan air lalu kenapa kamu mau menjual air?. Dalam prinsip ilmu ekonomi manapun, pendapatmu itu salah. Jual apa yang dibutuhkan oleh pasar, itu baru bisnis, Tirta. Jadi kalau kau jual air disini sama juga dengan kau jual es di kutub utara. Siapa yang mau beli?.
Kamu bukan bisnisman, Tirta. Kamu orang gila!. Kata Papa kasar. Atau kamu hanyalah seorang penjudi. Dengan marah Papa meninggalkan aku dan Mama. Mama diam menatapi lantai. Antara aku dan Mama cuma ada sepi. Tidak mungkin Mama mau membelaku lagi. Aku pun pergi meninggalkan Mama tanpa sepatah katapun. Dalam hati aku terus membatin, akan aku buktikan, Pa!.
Hmm, lihatlah Pa!. Di meja direktur itu terpampang papan namaku. Dan di dindingnya ada beberapa penghargaan dan diploma. Satu yang aku banggakan, sebuah kertas penghargaan dari sebuah majalah Bisnis dan Ekonomi yang menyebutku ; Sang Pelopor.
Sayangnya Papa telah meninggal dunia sebelum aku benar-benar sukses. Akhirnya aku pun bisa membahagiakan Mama. Perusahaan Air Minum Mineral terbesar di Indonesia, mungkin di Asia Tenggara. Bukan hanya untuk kebutuhan dalam negeri, produk kami pun sudah merambah ke manca negara. Tentu saja, perusahaan itu berdiri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang dan melelahkan. Butuh keahlian dan managemen yang rapi. Langkah awal memang selalu langkah yang paling sulit, yaitu melawan paradigma Papa, seperti paradigma masyarakat pada umumnya.
Apa yang kamu jual?. Air?. Hanya air putih tanpa rasa?. Bukan hanya Papa yang telah mencemoohkan aku. Mungkin juga berjuta-juta manusia lainnya. Semoga Papa damai di alam sana. Aku sudah buktikan, Pa. Kalau aku bukanlah orang gila atau seorang penjudi. Akulah Sang Pelopor, Pa!. Sang Pelopor yang berani mematahkan pendapat Papa.
“Pak!, Pak!, jadi kita menjual produk kita ke kutub utara?.” Tanya seorang staff Research and Development di perusahaanku. Tanya yang telah membuyarkan lamunanku.
“Apa?. Jadi!, Jadi dong!.” Jawabku tegas.
“Tapi, Pak.”
“Kenapa?, kamu ragu?, memangnya orang di kutub utara tidak butuh minum?.” Tanyaku melotot pada staffku.
“Turunkan tim riset kesana, sekarang juga!.” Perintahku tegas.
“Siap, Pak!.”
*****

Kutu Kata, Jual Es Di Kutub Utara, 27052012

Ilussstrasi Gambar : honeymoon.com