Tampilkan postingan dengan label Cerpen Roman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Roman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2013

Lelaki Yang Hanya Mengenal Tanda Seru





Apa kabar sayang!.
Sudah makan siang!!!.
Lelaki yang hanya mengenal tanda seru (!). Aku sebut saja si Tanda Seru.
Apa disekolah dulu dia tidak pernah diajarkan tanda baca?. Masa tidak bisa membedakan kapan tanda seru (!) atau tanda tanya (?) dipakai.
Kalimat yang harusnya cukup di akhiri dengan titik saja, kenapa harus diakhiri dengan tanda seru?.
Aku ingin jadi penulis!. Karena mencintaimu adalah sumber inspirasiku!. Begitu isi sms yang baru kuterima beberapa menit yang lalu dari laki-laki si Tanda Seru.
Terserah saja, dia mau jadi penulis atau jadi apapun, bukan urusanku!. Aku tak perduli. Aku tegaskan sekali lagi karena aku bukanlah “siapa-siapa” nya dia. Secuilpun aku tidak ada rasa padanya.
Tentang sms-sms nya, masa sih dia tidak ‘peka?. Sejak dia nyatakan cinta, sejak itu pula aku muak untuk membalas smsnya. Apakah tidak terkesan kasar jika aku katakan bahwa aku tidak mencintainya. Bahkan aku hampir benci dengan ulahnya yang keterlaluan. Bahasa tubuhku sudah katakan tapi dia tetap saja bebal mencintaiku. Cinta itu buta, seperti katanya. Tapi buatku, dia bukan hanya buta tapi juga tuli dan bisu.
Terpaksa aku bicara apa adanya, karena rasa percaya dirinya membunuh rasa sadar dirinya. Awalnya kami adalah teman semasa kecil, sekarangpun masih tetap teman dan sampai kapanpun ‘gak lebih dan ‘gak kurang, dia hanyalah teman. Sebentar lagi, akan aku putuskan pertemanan dengannya, aku muak melihat seringai senyumnya. Rasanya mau muntah atas segala perhatiannya padaku.
“Sabarlah, Ruth.” Kata Jo padaku,”kenapa kamu tidak terus terang saja Ruth?. Jelaskan yang sebenarnya bagaimana perasaanmu padanya!.”
Sama sekali Jo tidak gusar dengan kegalauanku. Mengapa Jo begitu dingin?. Apakah Jo senang kalau aku jadian dengan si Tanda Seru itu?.
“Jo … “
“Ya, Ruth.” Sahut Jo sambil matanya tidak lepas dari monitor PC nya. “Sorry ya Ruth, aku sambil kerja, banyak laporan yang harus ku laporkan pada Boss awal bulan ini.”
“Ya, nama nya juga anak buah, harus siap disuruh apa saja, hehehe… .” Kata Jo lagi.
Kenapa Jo mengalihkan pembicaraan?. Apakah masalahku tidak penting buat Jo?. Ah, Jo, kau sama saja dengan lelaki si Tanda Seru itu. Apakah semua laki-laki memang tidak peka terhadap bahasa cinta dari lawan jenisnya?. Egois!.
“Jo, nanti pulang kerja kita ke café’ yuk?.”
“Aku pulangnya mungkin telat, Ruth. Kamu mau nunggu?.”
“He eh.” Aku mengiyakan. Menunggu seabad pun akan aku lakukan. Demi kamu, Jo. Sumringahku dalam hati.
“OK, Jo, semoga pekerjaannya cepat beres dan kita bisa cepat meluncur ke café’.”
“OK, Ruth, Thanx ya.”
Jo adalah teman sekerjaku cuma beda divisi. Jo di divisi IT sedangkan aku di Accounting. Kalau ada trouble pada PC kantor, Jo selalu sigap memperbaiki pekerjaan kami yang hang. Aku suka sama Jo, selain handsome, Jo juga smart. Tidak sombong dan murah senyum. Tidak pernah mengeluh kalau kami bawel minta bantuannya.
Bukan aku saja yang suka sama Jo. Nisa chief teller, Angie PR, dan juga Bu Rina personalia yang sudah punya suami dan dua anak. Bu Rina sering sesumbar kalau ia masih gadis, ia akan mengejar Jo sampai dapat. Atau kalau Bu Rina punya anak gadis maka ia akan mengambil Jo sebagai menantunya. Apakah itu sekedar joke atau serius, aku tidak tahu maksud perkataan Bu Rina. Yang jelas, Bu Rina tidak malu-malu mengatakan itu di depan kami semua. Dan seperti biasa, Jo cuma senyum cool. Senyum yang diam-diam aku kangenin.
Sayang, lagi apa!.
Nanti sore kita ketemu yuk!. Akan aku tunjukkan draft cerpen yang baru saja ku tulis, semoga kamu suka!.
Huh!, sms lagi dari laki-laki si Tanda Seru itu. Buru-buru aku off HP ku. Berratus kali dia sms, berribu kali aku kesal membaca smsnya. Mengapa dia masih tetap sms padahal hampir semua smsnya tak pernah kubalas. Telepon berkali-kali pun, tak pernah kuangkat. Rasanya ingin ku buang saja HP ini tapi nomor ku sudah terlanjur dikenal oleh teman-temanku.
Walhasil, setiap bunyi sms atau dering telpon, aku bergidik. Aku intip di layar HP apakah ini sms atau telpon dari si Tanda Seru atau dari orang lain?. Tanda Seru, begitu aku menulis namanya di daftar kontak HP ku. Supaya aku bisa langsung matikan kalau dia telpon.
Aku berharap Jo yang sms atau telpon. Tapi Jo cuma sms atau telpon masalah pekerjaan saja. Jo yang dingin, Jo yang tidak punya perasaan padaku.
*****
Aku menunggu Jo mengambilkan pesananku. vanilla late’ with ice sementara Jo memesan green tea dan rogu hangat. Jo suka sekali rogut, ada sensasi tersendiri, keju cairnya yang meleleh pada waktu di gigit. Apapun yang Jo suka, aku pun jadi ikut suka. Rogut dengan saos sambel yang banyak, begitu pesanku pada Jo.
Tak lama kemudian, Jo datang dengan membawa pesanan kami berdua. Lalu Jo duduk dihadapanku. Saat kami asyik menikmati rogut.
“Hai, Ruth !.” Teriak seorang laki-laki dari pintu masuk.
“Hah!.” Baru saja satu suapan rogut yang masuk kemulutku, suapan yang kedua terasa tercekat di kerongkonganku.
“Hai, rupanya kami disini!. Tadi aku sempat ke kantormu tapi kamu tidak ada!.”
Lelaki ‘tak diundang’ itu, cuek saja duduk diantara kami berdua. Seolah tak memperdulikan keberadaan kami berdua, lelaki itu terus saja ‘nyerocos.
“Aku sms dan telpon kamu beberapa kali tapi tidak kamu jawab. Hp kamu low batt? atau error?.”
Huh!, lelaki si tanda seru itu lagi!. Dari mana dia tahu kalau aku ada disini?. Apakah ini cuma suatu kebetulan saja?. Sebuah kebetulan yang aku benci!.
“Kalau kamu mau, aku akan belikan HP terbaru untuk mengganti HP jadulmu itu!. Oh, iya kenalkan …calonnya Ruth!.”
Jo menyebut nama nya lalu balas menjabat tangan lelaki itu. “Jo.”
“Teman kantor Ruth?.” Tanya lelaki itu pada Jo. Jo mengiyakan.
“Aku dan Ruth teman sejak kanak-kanak dulu. Keakraban kami berlanjut sampai kami duduk di sekolah menengah….”
Huh!, siapa yang bilang aku akrab dengannya?!. Dasar Ge er!. Bisik Ruth kesal.
Jo memperhatikan perubahan wajah Ruth yang kaku. Jo tahu kalau Ruth sebenarnya tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Kuliah lah yang memisahkan kami berdua. Akhirnya Tuhan jua yang merestui hubungan kami berdua dengan mempertemukan kami di kota ini.”
“Oh, iya?. Wow!. Sebuah persahabatan yang indah!.” Sahut Jo berusaha mencairkan suasana.
“Bukan sekedar persahabatan, Bung, tapi lebih dari itu … .” Kata lelaki si tanda seru.
“Oooohhh?. Kenapa kamu tidak cerita Ruth?.” Tanya Jo polos pada Ruth.
“Jo!.” Ruth mendelikkan matanya ke arah Jo. Marah yang dipendam akhirnya meledak juga. Ruth membanting garpu ke meja lalu meninggalkan Jo dan lelaki itu.
“Ruth!.” Teriak Jo memanggil Ruth.
Tanpa memperdulikan panggilan Jo, Ruth terus saja berlalu pergi sambil menahan isak tangisnya.
“Ah, sayang sekali Ruth pergi. Sebenarnya aku mau menunjukkan draft cerpen terbaruku padanya.” Lelaki itu mengeluarkan lembaran kertas dari tasnya. Lembaran kertas itu kemudian diserahkan pada Jo.
“Bacalah, Bung. Dan tolong kritisi aku!.” Kata Lelaki itu pada Jo.
Jo membaca sambil mengernyitkan keningnya. Mengapa setiap kalimat selalu diberi tanda seru (!) ?. Bisik Jo dalam hati.
“Bagaimana Bung ceritanya?.” Tanya Lelaki itu,
“Hmmm ,,, Ok.” Kata Jo sambil manggut-manggut. “Tapi … mengapa?.”
“Tanda seru!, maksud Bung.” Potong Lelaki itu. “Memang tulisanku banyak sekali tanda serunya. Aku suka sekali dengan tanda seru, karena menyiratkan kalau aku adalah orang yang paling percaya diri dan selalu optimis dalam memandang hidup ini.”
“Tapi, Bung … .” Protes Jo pada Lelaki itu.
Akhirnya terjadi perdebatan seru antara Jo dan Lelaki itu.
*****
Semenjak kejadian di café’. Ruth menjaga jarak dari Jo. Tak pernah lagi Ruth bertegur sapa dengan Jo. Ruth hanya sesekali mengintip Jo yang sepertinya acuh juga padanya dan asyik tenggelam dalam pekerjaannya.
“Selamat siang, mba. Ada kiriman bunga buat mba.” Tegur Security mengagetkan lamunan Ruth.
“Eh iya, Pak.” Ruth kaget. “Taruh saja diatas meja pak!.”
Security itu pun meletakkan setangkai bunga mawar dan amplop surat berwarna pink di atas meja kerja Ruth.
Ruth pun mengambil amplop surat, lalu membacanya. Seketika saja Ruth jadi kesal. Dibuangnya bunga mawar dan robekan surat itu ke tempat sampah dikolong mejanya.
Keesokan paginya security itu pun mengantarkan kiriman yang sama. Setangkai bunga mawar dan sebuah amplop surat untuk Ruth.
“Dari siapa lagi sih?.” Tanya Ruth kesal pada security.
“Mana saya tahu, mba?. Yang ngantar itu orangnya pakai sepeda sepertinya sih tukang bunga yang ada diseberang jalan itu.” Jelas security.
“Iya pak, terima kasih ya.”
Ruth membaca suratnya lalu merobek-robek dan membuangnya ke tempat sampah.
Hari ketiga, security menghampiri Ruth.
“Ini, mba!.” Sambil menyerahkan setangkai bunga mawar dan sebuah amplop berwarna pink.
“Sepertinya sama mba dengan kiriman yang kemarin.” Kata security menjelaskan.
Ruth mengerutkan keningnya. Apa sih maksud orang itu?. Huh!, dasar tidak tahu diri!. Mukanya nampak marah.
Security pun berlalu pergi dari hadapan Ruth.
“Eh, eh, Pak!.” Ruth memanggil security itu. “Oh iya Pak, mulai hari ini, apabila ada kiriman bunga mawar merah seperti itu lagi untuk saya, bapak langsung buang saja!. Gak usah diantar ke tempat saya lagi!. Ingat itu, Pak!. Jangan sampai ada di meja saya, Pak!”
“Iya, mba, Permisi!.” Sahut security itu lalu berlalu pergi.
Sampai hari ke sepuluh, kiriman bunga mawar itu pun cuma sampai di pos security. Tak pernah lagi diantar ke mejanya Ruth. Hari-hari selanjutnya Ruth mulai bisa bernafas lega. Kiriman bunga mawar dari Lelaki si tanda seru itu bagaikan teror dalam kehidupannya. Ruth tidak pernah mengindahkannya. Tapi teror itu cukup memalukan juga karena teman-teman kerja Ruth senang menyindir dan mengolok-oloknya.
Sampai suatu hari. Security datang kembali membawa setangkai mawar putih beserta amplop berwarna putih glossy ke arah meja Ruth.
Ruth langsung marah. “Bukankah saya pernah bilang pada bapak, kenapa tidak langsung dibuang saja!.”
“Tapi, mba. Dulu mba bilangnya kan mawar merah. Kalau yang ini kan mawar putih jadi saya tidak berani buang, mba.”
Ruth mengernyitkan keningnya, berfikir sebentar. “Ya sudah, taruh saja di meja Pak.”
Sepeninggal security, Ruth pun semakin penasaran. Hmm, siapa lagi yang ngirim?. Kalau dia lagi yang ngirim, aku akan laporkan ke polisi karena privacy ku jelas terganggu. Bisik Ruth dalam hati.
Ruth pun mulai membuka amplop putih itu lalu membaca suratnya : kapan kita makan rogut lagi?. Tentu saja dengan saos sambelnya yang banyak …
Joooo. Pekik Ruth gembira. Diliriknya ke arah ruang kerja Jo yang hanya dibatasi sekat panel. Jo pun membalas senyum Ruth sambil tangannya mengisyaratkan kalau Jo minta di telpon.
*****
“Ting nong, ting nong.” Bunyi suara bel pagar rumah Ruth.
“Pos kilat, mba!.” Sahut tukang Pos saat Ruth menghampirinya.
Ruth menerima sebuah bungkusan beramplop coklat lalu membubuhkan tanda tangannya di kertas tanda terima barang.
Di ruang tengah, Ruth mulai merobek kertas pembungkusnya.
Novel?. Pikir Ruth heran. Ya, sebuah novel. Lalu Ruth membaca judulnya : Sepuluh Tangkai Mawar Yang Berakhir Di Tong Sampah.
Hmm, judul yang aneh. Pikir Ruth lagi.
Hah!. Ruth kaget ketika membaca nama si penulis novel itu.
*****
Sepulang dari kantor, Jo mendapati istrinya, Ruth duduk di sofa sedang membaca novel. Matanya mengembang, sesekali diusap air matanya dengan ujung baju.
Jo heran melihat Ruth seperti itu, “kenapa Ma?.”
“Eh, oh, Papa… sudah pulang, Pa?.” Ruth bangkit dari sofa sambil mengusap tergesa ke matanya yang sembab.
“Mama kenapa?.” Tanya Jo penasaran. “Apa yang membuat Mama sedih?.”
Ruth menunjuk ke arah meja.
“Novel?.” Tanya Jo bingung. “Kapan Mama beli novel?.”
Ruth ke arah meja lalu mengambil sebuah novel dan diberikannya ke Jo.
“Tadi siang novel ini dikirim via pos.” Jelas Ruth pada Jo.
Jo masih diam saja belum mengerti.
“Penulisnya sendiri yang kirim. Katanya ini novel pertamanya, Pa.” Jelas Ruth.
“Terus?.” Tanya Jo bingung.
“Papa tahu siapa penulisnya?.” Ruth langsung memberikan novel itu pada Jo.
“Coba Papa baca halaman tiga puluh!.” Periuntah Ruth.
Jo pun membolak balik isi novel itu. Diam sesaat, lalu mulai membaca apa yang diminta oleh Ruth.
“Hah!.” Jo kaget. “Jadi penulisnya …?.” Tanya Jo tak percaya.
“Bagus, Pa, ceritanya… aku saja sampai larut membacanya.” Jelas Ruth.
“Masa sih?.” Sahut Jo penasaran. “Sudah tidak banyak tanda seru (!) nya kan?, hehehe..”
“Ih, Papa begitu banget sih, setiap orang kan bisa berubah, Pa … kalau memang dia mau.” Jelas Ruth.
“Jadi sekarang Mama ngefans sama penulisnya?.”
“Hihihi, Papa cemburu ya?.” Sahut Ruth sambil mencubit ke perut Jo dengan manja.
*****
Kutu Kata, Lelaki Yang Hanya Mengenal Tanda Seru, 20092012

Ilustrasi Gambar : s412photobucket.com

No Name



No name, buku diary biru itu selalu ada dalam tas kuliahku.
Setiap hari ku baca tulisan-tulisanmu. Seperti aku membuka lembar demi lembar jiwamu.
Kata-katamu tentang hidup dan kematian telah membangunkan aku dari tidur pedihku. Apa beda hidup dan mati katamu?, seperti yang tertulis di diarymu.
Hidup seperti kertas kosong yang siap ditulis. Dan mati seperti kertas yang penuh dengan tulisan kita yang siap kita baca kembali. Jadi hidup dan mati buatmu seperti menulis dan membaca. Hehehehe, awalnya aku tersenyum membaca tulisanmu. Dan setelah ku renungkan, benar apa katamu, no name. Bagaimana kita bisa menulis jika kita enggan membaca?.
So, simple sekali caramu memandang hidup dan mati, no name. Kita dilahirkan menangis dan orang-orang yang menyambut kita tersenyum bahagia. Bukankah itu sebuah petunjuk Tuhan?. Tanyamu dalam diary itu.  Agar ketika kita kembali, hendaklah dengan tersenyum bahagia. Dan lihatlah, orang-orang yang kita tinggalkan mereka akan menangis. Jadi hidup dibuka dengan tangis maka hendaklah ia ditutup dengan senyum.
Hidup dan mati seperti senyum dan tangis. Senyum dan tangis adalah sebuah tanda bahagia tapi bisa juga sebagai sebuah tanda pedih. Apakah kita akan terus menangis ketika kita di timpa kepedihan yang dalam?, senyum adalah sebuah tindakan yang bijak.  Apakah kita akan terus tersenyum ketika kita diberi kelimpahan rejeki?, menangis adalah sebuah bentuk syukur yang bijak.
Hehehehe, hebat. Semuda itu dia sudah bisa menyimpulkan arti hidup dan mati, senyum dan tangis. Sedangkan aku?, menafsirkan senyumnya saja aku tak bisa. Hehehehe, no name, aku rindu pada senyummu.
“No name adalah sebuah nama yang paling berharga dalam hidupku.” Kata seorang gadis bernama Litha.
Selain sibuk kuliah, Litha juga salah seorang atlet nasional berkuda. Begitulah cerita Litha padaku.
Dari sebuah perkenalan yang tak disengaja. Di kantin kampus, Litha menabrakku dan menumpahkan fruit punch nya di kaosku. Berkali-kali dia minta maaf. Aku bilang bahwa aku sudah memaafkannya. Peristiwa itu sangat memalukan buat Litha, buatku ah, masa bodo!, biarkan saja mereka tertawa-tawa puas melihat kebodohan kita, besok toh mereka akan lupa.
Entah karena perasaan bersalahnya, membuat Litha harus berkenalan denganku. Tapi buatku, berkenalan atau tidak bukan hal yang penting buatku. Karena sekarang aku sudah mempunyai teman, diary biru nya no name yang setia menemani sepiku.
Sejak peristiwa “bodoh” itu dan perkenalan pertamaku dengan Litha, keasyikkan ku membaca diarynya no name sering terusik. Litha yang ceriwis dan senang bercerita, menjadikanku seorang pendengar yang baik.
“Huruf NN, tatto yang ada dilenganmu itu tentulah sangat berarti bagimu.” Tanya Litha padaku.
Secepat itu aku membalikkan lenganku, agar tatto itu tidak terlihat lagi oleh Litha.
“Hmm, hanya tatto biasa.” Jawabku salah tingkah.
“NN, no name … nama yang sangat berarti bagimu, hinga huruf itu kau rela torehkan menyatu dalam daging dan kulitmu.”
Bagaimana Litha tahu?. Kalau NN adalah inisial dari no name yang ada di tattoku. Aku menjadi “gerah” berbincang dengannya. Terlalu ceriwis menurutku. Terlalu banyak ingin tahu.
“Ma’af, aku ada jam kuliah hari ini. Sorry Litha, aku harus pergi dulu.” Aku pun meninggalkan Litha yang hanya menatapku bengong di taman kampus.
“Hi, kalau bisa hari minggu besok ikut aku ke Ciloto, akan ku kenalkan kau dengan no name ku.” Teriak Litha padaku.
Aku sudah tak perdulikan lagi teriakkannya. Terus bergegas meninggalkan Litha sendiri di taman.
*****
Sial!, no name buat Litha hanyalah nama seekor kuda kesayangannya. No name, nama yang begitu indah buatku, nama yang selalu ku agungkan. Litha tak pernah tahu kepedihanku. Litha tak akan perduli dengan perasaanku. Tiba-tiba saja aku benci Litha, aku benci kudanya yang bernama no name. Aku benci mengapa peristiwa “bodoh” itu harus terjadi sehingga Litha dan aku berkenalan. Aku benci kenapa aku mau saja ikut dengan Litha lalu berkenalan dengan no name nya di sebuah ranch di  Ciloto, Puncak.
Aku mengutuki semua yang pernah terjadi antara aku dan Litha. NN, huruf yang ku torehkan ditubuhku adalah bukti bahwa aku menyanjung no name. Diary biru yang telah menemani hari-hari sepiku bukti bahwa aku merindukan no name.
*****
Maafkan aku, no name. Aku benci Litha, aku benci gadis ceriwis itu.
Aku bersumpah, aku tak akan jatuh cinta pada gadis itu.
Hanya senyummu yang masih ku tunggu, senyum yang telah menyalib cintaku.
Cinta yang akan kita rajut bersama nanti …
Seorang pemuda merintih berharap di atas sebuah makam. Pukul 14:30, waktu yang ia sempatkan untuk bersimpuh menangisi penyesalannya.
*****
Kutu Kata, No Name, 01072012

Keterangan Gambar : Wanita, Karya : Wans Sabang

Selamat Jalan No Name




Pukul 14:30. Biasanya on time. Detik, menit, jam dan juga mataharinya. Sengat panas yang sama diseling tiupan angin yang kurindu.
Biasanya aku tiba lebih dulu di stasiun kereta UI. Duduk didekat penjual teh botol karena payungnya yang besar yang akan menaungi aku. Dan juga dia.
Dia yang kemudian datang lalu duduk disebelahku. Kemudian melihat kearahku, melempar senyum yang ku tak mengerti. Mengeluarkan diary berwarna biru, berfikir lalu mencatat sesuatu pada diary itu.
Pukul 14:30 telah lewat. Kereta pun tiba. Aku bergegas. Dia pun bergegas, segera memasukkan diary kembali kedalam tasnya. Aku dan dia bersama beberapa orang lainnya bergegas masuk kedalam kereta karena pintu kereta akan tertutup otomatis hanya dalam beberapa setik saja.
Kalau penumpangnya penuh. Aku berdiri. Dan tak jauh dari ku, dia pun berdiri. Ketika aku melihatnya, beradu pandang. Akunya kikuk. Dan dia pun tertunduk malu. Kemudian dia angkat wajahnya lalu melempar senyum padaku. Dan aku pun membalas senyumannya.
Kalau penumpangnya kosong dan kebetulan aku dan dia dapat tempat duduk saling bersebelahan. Aku membuang pandang keluar jendela. Begitupun dia, pandangannya menyapu keseluruh ruang kereta. Ketika aku asyik memandangnya, mata kami pun beradu pandang. Dia tersenyum. Apalagi yang bisa kubuat?, akupun membalas senyumnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Begitupun mulutku diam terkunci seribu bahasa. Karena aku bukanlah tipe laki-laki yang berani menafsirkan arti sebuah senyum dari seorang gadis.
Begitulah ritual yang dia dan aku lakukan. Selalu kutanamkan dalam hati kecilku bahwa senyum yang dia berikan hanyalah senyum keramahan karena aku dan dia berasal dari kampus yang sama, menunggu di stasiun kereta yang sama, naik kereta yang sama pula. Banyak kesamaan yang memungkinkan dia untuk ramah padaku. Begitupun aku, akan ramah terhadap orang lain yang juga ramah padaku, tidak lebih dan tidak kurang. Perbedaan aku dan dia adalah kami  berbeda fakultas.
Senyum ramah yang terus ku kerdilkan dalam hati kecilku. Tanpa terasa telah berjalan  dua semester. Duh, senyum itu. Senyum yang telah mengisi kekosonganku. Senyum yang telah mewarnai hari-hariku. Senyum penyemangatku. Senyum ceriaku. Akhirnya menjadi senyum yang selalu ku rindu.
Aku menyebutnya “no name”, karena sampai saat ini aku tidak tahu siapa namanya?. Gadis pemilik senyum itu, gadis yang sering melempar senyum padaku. Karena kami memang tidak pernah berkenalan. Aku hanya berani menunggu dan terus menunggu, sebuah keinginan yang terlalu berlebih jika aku harus memperkenalkan diri lebih dulu. Karena bagiku senyum itu hanyalah milik seorang gadis yang ramah.
No name, sudah beberapa hari ini dia tidak pernah terlihat di stasiun kereta UI.  Berjuta tanya menari dalam benakku. Apakah dia telah bermobil datang dan pulang kekampus?. Atau jadwal kuliahnya yang telah berubah?. Atau memang dia sudah tak ingin lagi bertemu denganku?.
Pukul 14:30 di stasiun kereta UI yang telah membuatku menjadi si pecundang, tolol dan lelah. Lelah menafsirkan arti senyumnya, lelah hingga hari ini pun aku belum bisa menyimpulkan apa maksud dia melemparkan senyumnya padaku.
Kini aku t’lah kosong. Pandai sekali dia membuatku menjadi nol. No name, dimanakah dia?.
Kini sudah pukul 18:00, entah sudah berapa kali kereta yang lewat?. Aku masih menunggu dia. Menunggu senyum yang tak bisa kulupa. Menunggu senyum yang tak mungkin bisa kuhapus.
Kini aku t’lah kalah. Kalah oleh senyum yang telah mengacaukan selera makanku. Kalah oleh senyum yang telah merubahku menjadi kalong. Senyum no name, senyum yang masih ku tunggu. Senyum yang rela kutunggu, entah sampai kapan?.
Kuliahku berantakan. Ah, aku tak perduli!. Nilai-nilaiku merosot. Konsentrasiku cuma pada dia. No name, mengapa dia tak pernah datang lagi?. Oh, aku telah gila.  Dia telah berhasil menjadikanku orang yang paling pesimis di dunia ini, Dia telah berhasil menjadikanku orang yang paling  lancang menggugat Tuhan.
Waktu terus berlalu dan tak pernah perduli. Tak ada yang berubah, pukul 14:30, aku menunggu kereta di stasiun UI, dinaungi tenda dari tukang teh botol, sendiri. Tanpa dia, tanpa senyumnya. Dia renggut semua keceriaanku. Dia hapus semua warna-warni dalam hariku. Hanya ada kelabu dan namanya yang terpahat di relung-relung jiwaku, hanya ada no name.
*****
“Mama tunggu saja di stasiun UI, tepat jam 14:30. Dan jangan lupa, Mama bawa diaryku. Mama pegang saja diary biruku ini. Kalau ada seorang pemuda yang menanyakan siapa pemilik diary ini?. Berikan saja diaryku ini, mudah-mudahan saja dia mau mengerti. Tolong, Mam… aku mencintai dia. Tapi Mama kan tahu, dokter telah memvonis umurku. Leukemia ini akan terus menggerogoti umurku. Cuma senyum pemuda itu yang membuatku mampu bertahan hidup lebih lama dari vonis dokter itu, Mam … .”
Seorang ibu yang dipanggil Mama menangis mendengar permintaan terakhir anak gadisnya. Sebelum dia benar-benar pergi untuk selamanya.
*****
Sudah pukul 22:00. Kereta terakhir menuju jakarta baru saja lewat. Stasiun nampak sepi, cuma ada seorang pemuda duduk menekuri lantai. Matanya basah. Buku diary biru itu digenggamnya kuat-kuat, dipendam dalam dada sambil ia menahan perih batinnya.
Selamat jalan no name….
*****

Kutu Kata, Selamat Jalan No Name, 30062012

Ilustrasi Gambar : www.kwong.wordpress.com