Sabtu, 06 April 2013

Pasar Malam Di Kepalaku




Pernahkah tuan dan nyonya datang ke pasar malam?.

Begitu hiruk pikuknya keramaian. Lalu lalang orang datang dan pergi. Keriuhan dan kegaduhan campur aduk disana sini.

Hei!, aku suka kesemrawutan ini!. Karena semakin semrawut artinya pasar malam ini semakin ramai!. Ha ha ha ha, ayo ! ayo terus ramaikan!. Kalau perlu semakin malam akan semakin ramai!. Ramaikan terus sampai pagi!. Bukankah semakin ramai, aku semakin untung besar!. Ha ha ha ha, aku suka kesemrawutan ini!. 

Karena dalam kesemrawutan ini aku semakin hidup!. Begitu teriak si Pengelola pasar malam.
Bunyi derit decit besi saling beradu seperti jerit kengerian yang saling bersahut. Tekanan roda besi dari mainan kereta-keretaan saling bergesek dengan rel nya yang terbuat dari besi juga.

Koar-koar musik sember dari speaker diselingi bunyi lip lop dari beberapa lampu-lampu penghias komidi putar menambah gaduh suasana.

Sahut-sahutan suara serak para pedagang kaki lima berrebut menawarkan barang dagangannya. menyempurnakan pesta keriuhan ini.

Hentikaaaan!. Aku butuh sejenak saja ketenangan!. Aku sedang menunggu dia. Kalau kalian terus saja berisik, bagaimana dia mau datang menjemputku. Aku cuma seorang nenek renta yang sedang menunggu mati. Biarkan aku nikmati keheningan di sisa-sisa hari ku ini.

Kegaduhan demi kegaduhan yang tak berirama itu membuatku takut. Suara-suara gelisahku, pekiknya semakin keras terdengar.

Teganya kalian menyiksa ku, seorang nenek renta dan tak berdaya ini!. Beri aku sedikit saja ketenangan, please … .

Hmm, sebuah penyamaran yang nyaris sempurna. Siapa yang mengira kalau pasar malam ini adalah sarang teroris?. Si Pengelolanya adalah pemimpin teroris. Dan para karyawannya adalah kaki tangannya.

Sambil menyelam minum air, sekali dayung dua tiga pulau dia lampaui. Sambil menyamar, mereka bisa mengumpulkan dana. Sudah berapa tempat mereka ledakkan?. Secepatnya aku harus tahu, tempat mana lagi yang akan mereka ledakkan?.

Segala sesuatu nya harus dengan cermat kuteliti. Aku tidak ingin kecolongan lagi. Segala kemungkinan harus diperhitungkan. Bukankah pasar malam ini juga adalah tempat keramaian?. Hmm, mungkin saja!. Aku harus berani berfikir terbalik. Ya, mungkin saja target mereka selanjutnya adalah pasar malam ini. Sebuah sasaran empuk tentunya!, selain akan menelan banyak korban nyawa, efeknya juga akan menimbulkan kehebohan yang dahsyat. Bukan hanya TV-TV lokal yang akan meliput, stasiun TV mancanegara juga akan meliputnya. Tragedi ini bukan hanya akan menjadi tragedi nasional. Bahkan akan menjadi hari berkabung bagi seluruh dunia. Target mereka berhasil. Bukankah itu yang mereka cari?. Popularitas!.

Sudahlah, nak. Ayo, kita pulang!. Berapapun uang yang Papa bawa akan habis kalau kalian terus saja memainkan semua permainan di pasar malam ini.

Sudah berapa kali kalian terus saja berputar-putar di komidi putar?. Tanya seorang bapak kepada kedua putranya. Sudah berapa kali kalian naik kereta-keretaan yang hanya berputar-putar saja dan tidak pernah sampai?. Apa kalian tidak pusing?. Papa saja yang hanya menonton kalian bermain, rasanya sudah mual. 

Kalau saja Papa tidak tahan, bisa jadi Papa akan muntah lalu kepala Papa kliyengan kemudian pingsan. Dan kalau Papa pingsan, siapa yang akan mengawasi kalian bermain?.

Sebenarnya itu alasanku saja!. Sebagai seorang bapak dengan penghasilan pas-pas an harus pintar-pintar menyiasati pengeluaran belanja rumah tangga. Yang jelas, tidak ada budget untuk hiburan. Sedikit saja uang terpakai untuk hiburan itu artinya ada budget lain yang akan dikorbankan, biasanya budget transportasi dan makan siangku yang dikurangi jatahnya. Semua demi anak, sudah seharusnya begitu kan sebagai seorang bapak?.

“Selamat siang, Kapten!.”

“Kapten?. Eh, oh … “ Aku gugup. “Aku … aku … aku bukan kapten, Prof!.”

Aku sedang mengawasi anak-anakku. Jawabku sudah mulai tenang.

“Kemana sang kapten pergi?.”

“Aku … aku … aku tidak tahu, Prof!.”

“Baiklah, aku akan menjenguk sang kapten dulu. Awasi anak-anakmu, permainan di pasar malam itu kadang berbahaya!. Mereka asal bikin saja tidak memikirkan keselamatan bagi penggunanya, yang penting asal mereka untung saja!.”

“Hei, Prof bicaramu jangan sinis begitu!. Aku ini pengusaha bukan tukang tipu!.” Tiba-tiba suaraku berrubah, lebih tegas dan keras aksen bicaranya.

“Ok!, Ok!, saya tidak pernah bilang bapak sebagai seorang penipu. Yang saya maksudkan adalah safety!. Itu yang kadang banyak dilupakan oleh para pengusaha.”

“Ah!, sudahlah!. Malas aku bicara denganmu, Prof!, kamu memang orang yang anti dengan pengusaha. Apa jadinya negeri ini kalau bangsanya sendiri tidak mau jadi pengusaha?.”

Tiba-tiba saja wajahku kaku seperti orang yang sedang menahan amarah. Urat dan kerut diwajahku semakin menonjol.

“Prof ?.” Tanya seorang gadis berpakaian sama dengan Pak Profesor yang serba putih-putih. Gadis itu memandangi wajahku dengan serius.

“Lihatlah!, ada fase transformasi dari satu karakter ke karakter yang lain, perhatikan perubahan mimik wajah dan intonasi suaranya!.”

“Maksudnya, Prof?.” Tanya gadis itu lagi.

“Bapak ini mempunyai gangguan kejiwaan!. Dalam dirinya dia bisa memiliki beberapa kepribadian.”

“Selamat siang, Kapten!.” Sapa Profesor padaku.

“Selamat siang, Prof!.”

“Bagaimana hasil pengamatan intelejenmu, Kapten?.”

“Semakin jelas saja, Prof!. Target sudah bisa dipastikan, tinggal mencari tahu kapan dan jam berapa bom itu akan diledakkan?.”

“Sudah jelas pelakunya?.”

“Sudah, Prof!. Bahkan jaringannya pun sudah tercium.”

“Kenapa tidak ditangkap saja?.”

“Kami perlu barang bukti, Prof. Tanpa barang bukti, kasus ini menjadi lemah!. Dan semua hasil intelejenku akan sia-sia, Prof!.”

“Jadi menunggu bom meledak dulu?.” Tanya Profesor kesal. “Seperti biasa kan, selalu begitu?.”

Aku diam sejenak, berfikir keras mencerna maksud pertanyaan Profesor.

“Sudah dicatat semua hasil pengamatanmu?. Tanya Profesor kepada gadis itu.

“Sudah, Prof.” Sahut gadis itu.

“Pribadi per pribadi harus kamu teliti. Apakah masing-masing pribadi berdiri sendiri? atau saling berkait dan saling mendukung?. Dengan begitu kamu bisa meneliti latar belakang yang menyebabkan ia memiliki kepribadian ganda.”

“Hei, Prof, kapan malaikat maut menjemputku?. Sudah terlalu lama aku hidup didunia ini. Huh, bosan!.” Suaraku kecil tapi melengking hampir mirip suara seorang wanita.

“Tidak usah ditunggu, Nek!. Kalau sudah waktunya, nenek juga pasti dijemput.” Kata Profesor berusaha menenangkanku.

“Tapi, kapan Prof?. Aku sudah muak dengan suara-suara bising pasar malam itu!.”

“Sambil menunggu dijemput lebih baik nenek perbanyak dengan do’a dan zikir, mengingat Tuhan.”

“Sudah terlalu banyak aku berdo’a, Prof!. Tapi hasilnya nihil!.”

“Sabarlah, Nek … .”

“Ah, selalu itu saja yang Prof katakan. Do’a, zikir dan sabar. Prof berusaha menghiburku tapi ma’af … aku tidak terhibur, Prof!.”

“Apa yang Prof katakan benar, Nek. Nenek mesti banyak sabar supaya tensi nenek tidak tinggi.” Kata Gadis itu berusaha menenangkanku.

Bah!, cuma ocehan gadis “ingusan”, apa perlu juga ku tulis kata-katanya?. Bukankah apa yang dia katakan sudah dikatakan sebelumnya oleh Prof?. Lagi-lagi pengulangan kata, itu menandakan bahwa intelektual gadis itu tidak berbobot. Ia hanya mementingkan penampilannya saja. Gak akan ‘nyambung dia bicara denganku!. Gak level kalau aku harus berdebat dengan gadis “ingusan” itu. Lebih baik aku diam saja, menutup diri jika gadis itu mulai bertanya-tanya kepadaku.

“Hmm…” . Profesor kembali mengamatiku.

“Ada satu kepribadian lagi yang dimiliki oleh bapak ini yang hampir saja saya lupa menceritakannya.”

“Apa lagi, Prof?.”

Kamuflase, Nanti kamu cari arti dari kata itu dari beberapa literatur ya.”

“Baik, Prof!.”

“Biasanya binatang ber-kamuflase untuk melindungi dirinya. Entahlah manusia apa yang mereka ingin lindungi?.”

“Jati dirinya, mungkin Prof?.”

“Ya, coba saja kamu teliti itu juga!.”

“Lihat, ia sedang sibuk menulis.” Prof menunjuk ke arahku. “Dia juga mengaku sebagai seorang penulis fiksi, senang mencoret-coret, membuat skets dan menulis di kertas. Makanya saya sediakan kertas dan ballpoint di ruangan ini, biar dia bisa bebas ber-ekspresi.”

“Prof pernah baca hasil tulisannya?.”

“Hah, mana aku ngerti?!. Mungkin saja itu sebuah karya tulis atau cuma sekedar coretan tak bermutu, aku tidak mendalami itu.”

“Baik, Prof nanti akan saya baca juga semua hasil coretannya. Siapa tahu bisa menjadi data pendukung untuk mengetahui siapa bapak ini sebenarnya.”

“Oh iya …” Prof berfikir sebentar. “Sebagai seorang penulis dia sering menyebut dirinya dengan nama pena ; Kutu Kata!.”

“Kutu Kata?. Hi hi hi hi, nama yang unik dan lucu. Semakin membuat saya tertarik untuk mengambil kasus ini sebagai bahan disertasi saya nanti, Prof.”

“Ok baiklah, sesi untuk hari ini, saya rasa cukup. Untuk pendalaman materi, kamu bisa selidiki sendiri kasusnya.”

“Baik, Prof … terima kasih untuk sesi hari ini. Kalau nanti ada kendala saya akan menghubungi Prof lagi.”
Profesor dan gadis itu meninggalkan ku sendiri di ruang serba putih ini.

Huh!, siapa yang sudi bicara denganmu, gadis ingusan!. Bisikku dalam hati.

*****

Pasar Malam Di Kepalaku, 26092012, Lembang, 201012

Keterangan Gambar : The Devils - Karya : Wans Sabang, 12042013

Tidak ada komentar: