“Wa alaikum salam …”
Seorang nenek seketika menghentikan pekerjaannya menyapu halaman.
“Amak … “ Pemuda yang
memasuki halaman rumah nenek itu menyapa.
“Hah !, Malin!.” Seorang
nenek terkejut melihat pemuda itu. “Kau kah Malin, anakku?.”
Sang nenek dengan mata
penuh selidik memandang lekat pemuda itu.“Malin, anakku dulu adalah anak yang
cakap, putih, bersih dan badannya tegap berisi.”
Dengan raut tak percaya
nenek itu menumpahkan amarah kepada Malin. “Jawab dulu!, Kau kah Malin
anakku?.”
“Iyo, Amak… .”
“Oh, Malin … Malin!.”
Nenek itu meradang sedih. “Kenapa kau jadi kurus begini?, kulitmu legam
terbakar matahari, dan lihat!, pakaianmu…?, kumal dan kotor, tak pantas kusebut
kau, Malin!.”
“Pantas saja, di
pelabuhan tak ada keramaian orang menyambutmu.” Kata Amak lirih. “Beda sekali
dengan dulu, ninik mamak, sanak saudara dan orang-orang dikampung dengan suka
cita mengantar kepergianmu merantau.”
“Mana istrimu yang
cantik?.” Tanya Amak sinis. “Dan pengawal-pengawalmu yang gagah?.”
“Malin datang sendiri,
Amak.”
“Mana mobil mewah?, dan
pegawai-pegawai mu yang banyak?.”
Malin cuma diam,
menundukkan wajahnya menatapi tanah. Ia malu ditelanjangi Amak seperti itu.
“Jadi, apa yang kau bawa
dari merantau, Malin?.” Tanya Amak lagi.
“Jangankan untuk membeli
sawah dan kerbau yang banyak, untuk mengembalikan sawah dan kerbau yang telah
ku jual untuk bekalmu saja, kau tak mampu!.” Kata Amak kesal.
“Malin telah berhasil,
Amak.” Sahut Malin dengan wajahnya yang berseri.
“Apa?.” Amak kaget dan
marah. “Inikah yang kau sebut berhasil, Malin!.”
“Malin telah berhasil
bertemu Ayah, Amak.” Jawab Malin dengan mata yang berbinar antara sedih dan
gembira.
“Datuk Rangkayo bukanlah
Ayah Malin.” Malin berkata lantang kepada Amak. “Amak tak pernah cerita pada
Malin, siapa Ayah Malin yang sebenarnya.”
“Amak kejam!, Amak tak
pernah mau tahu kegusaran hati Malin!.” Malin menumpahkan segala kesalnya pada
Amak.
“Pantas, Datuk Rangkayo
sering marah dan memukuli Malin sejak kecil karena Malin bukanlah anaknya dan
ia tidak punya rasa sayang sedikitpun pada Malin.”
Amak tertunduk sedih
mendengar perkataan Malin.
“Beda sekali perlakuan
Datuk Rangkayo pada Malin dan Zainab*, salah sedikit saja Malin langsung
dipukuli, Amak cuma bisa bilang ; sabarlah, Malin!, sabarlah!, Anak laki-laki
‘tak pantas menangis!.”
“Iya, Datuk Rangkayo
memang bukanlah ayahmu, Malin.” Sahut nenek itu lirih.
“Dari kecil, Amak bohongi
Malin terus!, apa karena Malin ini anak haram, Mak!.” Sahut Malin lantang.
“Malin!.” Nenek itu
menegur Malin keras. “Tak sopan, kau bicara begitu!.”
Beberapa detik Malin dan
Amak saling diam, masing-masing menekuri tanah.
“Hubungan Amak dan Ayahmu
dilarang oleh orang tua Amak, karena ayahmu bukanlah dari keluarga bangsawan.
Hubungan cinta kami pun menjadi hubungan cinta yang terlarang.” Amak
menjelaskannya pada Malin.
“Semakin dilarang,
hubungan cinta kami pun semakin jauh, hingga akhirnya Amak hamil. Ayahmu
berjanji untuk membawa Amak pergi jauh dari kampung ini, merantau ke negeri
seberang. Mendengar janjinya, Amak menjadi tenang karena memang Amak begitu
mencintai Ayahmu. Ketika bulan purnama tiba, seperti janji Ayahmu, Amak
menunggu di pelabuhan. Sejam dua jam hingga adzan subuh memanggil, Ayahmu tidak
kunjung tiba. Esoknya Amak menunggu lagi dipelabuhan, lusa nya pun begitu,
jangankan batang hidungnya, kabar beritanya pun tak ada. Semakin hari perut
buncit Amak semakin terlihat, untuk menutupi malu akhirnya Amak mau menerima
pinangan Datuk Rangkayo.”
“Kenapa Amak tidak pernah
cerita pada Malin?.”
“Terlalu sakit untuk
diceritakan, Malin.” Sahut Amak lirih. “Amak berharap waktu jua yang akan
menyembuhkan luka…. .”
“Kenapa Amak masih saja
mengharap pada sang waktu?, bukankah dulu di pelabuhan Amak juga begitu?,
mengharap pada sang waktu… tapi apa yang sang waktu berikan?, hanya kecewa dan
sakit hati, Mak!.”
“Apakah Amak masih
mencintai si “pengecut” itu?.”
“Tak tahulah, Malin … “
Amak tidak bisa menjawab pertanyaan Malin. Karena dihati Amak yang paling dalam
sesungguhnya ia masih mencintai Ayahnya Malin.
“Amak tak bisa menjawab
karena Amak masih mencintai si “pengecut” itu !.” Sahut Malin lantang. “Seperti
halnya luka … sang waktu pun tak bisa berbuat apa-apa, Mak!, Ia tak bisa
menyembuhkan luka dan tak bisa juga menghapuskan cinta!, cuma kita sendiri Mak
yang bisa!.”
Amak diam saja mendengar
penjelasan Malin.
“Malin sudah bertemu
Ayah, Mak!, Dan Malin sudah membunuhnya!.” Sahut Malin tenang.
“Hah!, Apa…?.” Amak
kaget.
“Tak pantas pula, si
“pengecut itu kupanggil Ayah, Mak!. Setelah Malin bertemu, tak ada sedikitpun
rasa kangen seorang Ayah terhadap darah dagingnya sendiri. Setelah datang dari
kampung, kerjanya cuma jadi ‘preman, mabuk-mabukan, main judi, main perempuan,
merampok dan membunuh.”
Merah muka Amak karena
malu, begitu tahu orang yang masih dicintainya hanyalah seorang ‘preman.
“Apalah ruginya, Malin
bunuh 1 orang sampah masyarakat walau Malin harus tebus dengan bui 10 tahun!.”
Jawab malin bangga. “Malin sudah balaskan sakit hati Amak karena Malin sayang
sama Amak dan di dunia ini cuma Amak yang sayang sama Malin.”
Oh, Tuhan!, haruskah ku
kutuk buah cinta yang ku sayang ini menjadi batu?. Air mata Amak yang
mengembang itu pun akhirnya jatuh membasahi pipinya yang telah keriput.
Malin Kundang Jilid 2,
11032012
*Zainab : Dalam cerpen
ini adalah adik nya Malin, satu ibu tapi lain bapak.
Keterangan Gambar : PEMBUNUHAN - Karya : Wans Sabang, 13042013
Keterangan Gambar : PEMBUNUHAN - Karya : Wans Sabang, 13042013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar