Sabtu, 06 April 2013

Siapa Yang Menghamili Wanita Gila Itu?



Hah!, wanita gila itu hamil?.

Oh, Tuhan siapa yang tega membuatnya hamil?.  Suami nya?, Ah sejak pertama kali ku lihat dia, wanita itu memang sudah gila. Pakaian nya compang camping seadanya. Kulitnya berdaki tebal, campuran yang sempurna antara debu (mungkin juga tanah) dan segalon keringat. Bagaimana dia bisa bersuami?, dan setahuku tidak ada satu lelakipun sampai saat ini yang mengakui kalau wanita gila itu adalah istrinya.

Jijik juga melihatnya. Gila!, Biadab yang menghamili wanita gila itu!. Bagaimana mungkin mau menyetubuhinya. Melihat wanita gila itu sama juga dengan melihat seonggok sampah.

Apa mungkin para security di perumahan ini?.  Aku pernah dengar dari temanku, di perumahan temanku di daerah Sunter, Jakarta Utara, pernah terjadi para securitynya memperkosa wanita gila berramai-ramai.
Gila!, bagaimana mungkin?.

Ya, mungkin saja. Kata temanku.

Gak jijik?. Terus wanita gila itu diam saja diperkosa?. Ah, gak masuk akal!. Kenapa dia tidak mengamuk saja?, bukankah orang gila itu tindakannya seringkali di luar batas wajar dan sering mengamuk.

Sebelum diperkosa. Wanita gila itu diberi makanan. Setelah sudah jinak (istilah temanku saja), wanita gila itu dimandikan, di gosok, disikat sampai licin, rambutnya pun dikeramasin sampai menghabiskan satu botol samphoo. Pokoknya wanita gila itu di permak sampai mulus kembali. Setelah bersih, dia diberi pakaian.

Terus?. Tanyaku penasaran. Benar-benar cerita yang unik buatku. Kok ada orang yang mau memperkosa tapi dengan teliti, telaten dan sabar sekali?.

Setelah tubuhnya mulus kembali dan diberi pakaian bersih…Ya diperkosa, bergiliran, berramai-ramai, disekap di pos security selama tiga hari tiga malam.

Kok bisa sih?. Tanyaku masih bingung dengan cerita temanku.

Apa bedanya orang gila dengan kita?. Tanya temanku mulai berlogika. Cuma jiwanya saja kan yang beda?, makanya disebut orang sakit jiwa. Kalau tubuhnya ya sama saja dengan kita.  Kalau dari sono nya sudah mulus ya biar gila juga tetap saja mulus cuma bedanya kotor saja mungkin. Kata temanku berusaha meyakinkan aku.

Apalagi kalau wanta gila itu setelah dibersihkan, ternyata tubuhnya mulus, buah dadanya ranum seperti mangga matang di pohon dan pinggulnya sexy seperti gitar spanyol, aku yakin kamu pasti akan suka. Dan tentu saja kamu pun akan bernafsu memperkosa wanita itu walau pun jiwa nya sakit.

Hehehehe… ada-ada saja kamu ini. Sahutku acuh. Siapa juga yang mau perkosa orang gila?, kalau bukan orang itu “lebih gila” dari si orang gila. Alias biangnya gila!, alias biadab!, alias binatang! (ah, binatang saja mungkin tak sebiadab itu, pikirku).

Dan anehnya, wanita gila itu setelah diperkosa berramai-ramai malah sembuh dari gilanya. Terus wanita gila itu diberi ongkos untuk balik ke kampungnya lagi. Kata temanku lagi.

Kok bisa sih?, gak mungkinlah. Aku yakin kalau cerita temanku yang terakhir itu terlalu dilebih-lebihkan. Biar terlihat lebih seru, menarik dan Believe it Or Not.

Kalau aku perhatikan Pak Jon, kepala security diperumahanku. Orangnya sangat tegas dan berwibawa dimata kami warga perumahan. Dan tentu saja dimata para anak buahnya. Mana mungkin orang sewibawa itu bisa memperkosa wanita gila bersama-sama dengan anak buahnya?. Dan lagi juga, Pak Jon orangnya alim, sering aku lihat Pak Jon bersarung dan berpeci waktu maghrib tiba. Buru-buru ku tepis pikiran gilaku sendiri.

Pikiranku langsung melayang ke Mario, si preman cap kampret. Preman kok takut sama istri?. Orang-orang di perumahanku banyak yang bilang walaupun tampangnya sangar dan sadis, Mario takut banget sama istrinya. Ada juga yang bilang kalau Mario kebal dengan segala jenis senjata tajam (kecuali tusuk sate dari bambu).

Gara-gara Mario menuntut ilmu kebal, “burung”nya tidak bisa bangun lagi, itu sudah persyaratan yang harus ia terima dari gurunya. Makanya dia takut sekali dengan istrinya. Walaupun istrinya sering tertangkap basah berselingkuh dengan para “berondong” (baca: lelaki muda atau lelaki ABG), Mario tidak bisa marah karena ia takut kalau rahasia tentang “burung”nya menjadi gosip Head Line di perumahan kami.

Mario?, burungnya saja tidak bisa berkicau. Bagaimana dia mau menghamili waita gila itu?.

Siapa lagi yang bisa kutanyai?. Mbok Bariah, si tukang sapu yang merawat taman di perumahanku?, dia pasti tahu. Pikirku. Tapi…tidak pernah ku lihat Mbok Bariah bicara dengan siapapun di perumahan ini. Dia lebih senang gerundel dengan tanamannya, dengan sapunya, dengan peluhnya dan dengan rokok kreteknya saja. Apa salahnya kucoba?.

“Rokok!.” Kataku sambil menyodorkan sebatang rokok kretek pada Mbok Bariah.

Mbok Bariah heran melihatku, heran melihat ada orang yang mau bersimpati padanya dengan memberikan rokok. Dengan pandangan takut, ia pun mengambil rokok yang ku berikan.

“Api.” Sambil ku menyodorkan rokokku yang masih menyala.

Dengan hisapan yang kuat. Nyala api dari rokokku berpindah ke rokoknya. Kami pun berdua menghisap rokok dalam-dalam, menghembuskan polusi asap pada taman yag indah dan tertata rapi ini.

“Panas juga ya Mbok siang ini.” Kataku basa-basi membuka percakapan. “Biasanya kalau siangnya panas menyengat begini, sore atau malamnya suka hujan.”

Percuma saja basa-basiku. Tak ia perdulikan. Mbok Bariah, si gagu, begitu anak-anak di perumahan kami sering menggodanya. Kenapa tidak to the point saja, percuma bicara lama-lama sama orang gagu. Pikirku kesal.

“Mbok Bariah tahu siapa yang menghamili wanita gila itu?.” Kataku dengan sedikit kesal.

Mbok Bariah yang sedari tadi diam langsung melotot ke arahku. “Kenapa tanya aku?.”

Ditodong pertanyaan itu, aku pun bingung dan tak bisa menjawab pertanyaan Mbok Bariah.

“Tanya saja dengan orang gila itu!.” Kata Mbok Bariah melototkan matanya padaku.

Aku pun pergi meninggalkan Mbok Bariah yang tak bersahabat itu.

Tanya saja dengan orang gila itu!. Kurang aja sekali Mbok Bariah itu, masa aku disuruh bicara dengan orang gila. Memangnya aku sudah tidak waras?. Beberapa saat aku cuma diam, pertanyaan ku tentang wanita gila itu menjadi buntu. Masa sih aku harus bicara dengan orang gila?.

“Nih, pakaian!.” Kataku sambil menyodorkan baju daster yang ku pikir muat dengan wanita gila itu. “Ganti pakaianmu yang sudah gak karuan itu!.”

Wanita gila itu memandangku sambil senyum-senyum. “Hihihihih.. “

Langsung saja di copotnya pakaian “gila” nya itu. Bugil di depan mataku. Sesaat pikiranku pun melayang pada cerita temanku. Hmmm, mulus juga wanita ini, badannya padat berisi, kalau perutnya tidak buncit karena hamil, sexy juga. Kalau dibersihkan, hmm…lelaki mana yang tidak suka?. Secepat kilat aku stop pikiran liarku. Sebagai orang terhormat, aku tidak pernah mau memanjakan pikiran-pikiran kotor seperti itu.
Setelah wanita gila itu selesai berdaster. Akupun memberanikan diri bertanya.

“Siapa yang telah menghamili kamu?.” Tanyaku sesak, kasihan melihat nasibnya yang sial.

“Hihihihihih… .” Wanita gila itu cuma cengengesan sambil senyam senyum memandang mataku tajam.

“Suami kamu?.” Ah, pertanyaan yang tolol. Bagaimana mungkin ia bersuami.

Wanita gila itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘Lalu siapa yang telah menghamili kamu?.”

“Kamuuuu… hihihi… kamu sayang ku…hihihihih.” Kata wanita gila itu menunjukku dengan gaya manjanya.

“Aku?.” Tanyaku pada diriku sendiri. “Hahahahaha… aku?.”

Gila!, siapa juga yang sudi menyetubuhi wanita gila itu.

“Hihihihihi…kamu lah sayangku, hihihihi… aku lah dewi mu, gadis pujaanmu, gadis pujaan mu.. Oh, dewi ku, kemarilah gadis pujaanku.” Wanita gila itu mulai ngaco, ngomong ngalor ngidul gak karuan. Lalu wanita gila itu pun pergi meninggalkan aku yang masih saja terpaku dengan sejuta tanya.

*****

Suara dari neraka memekakkan telingaku. Sebotol chivas, setia menemani risauku. Hingar bingar musik techno. Wanita-wanita malam yang genit dan binal. Ah, persetan dengan semua ini!. Aku terperosok dalam diskotik ini. Terperosok pada labirin sepi.

Dewiku, gadis pujaanku, kemarilah temani sepiku. Datanglah malam ini, gadis pujaanku. Aku mulai melantur karena mabuk. Bagaimana si wanita gila itu tahu tentang dewiku?, tahu tentang gadis pujaanku?. Apa benar yang dikatakan wanita gila itu?. Apa aku yang menghamilinya?. Setaaaaaaan!, aku tenggelamkan gelisahku dalam sebotol chivas lagi.

Hehehehehe, kini aku sudah jadi pemabuk berat. Tiap hari, pulang hampir pagi dalam keadaan sempoyongan dan ngoceh-ngoceh aneh. Dewi ku, gadis pujaanku, kemarilah temani aku, oh, dewiku janganlah kau pergi. Persis, seperti waktu aku baru ditinggal oleh istriku. Begitu terpukulnya aku, waktu Dewi, istriku pergi meninggalkanku bersama laki-laki lain. Ia tidak mau mema’afkanku karena aku sering menampar dan memukulinya. Aku lupa persisnya kenapa aku mulai memukuli istriku?, apa karena kami tidak punya anak dari perkawinan kami?, atau karena usaha ku yang saat itu sedang down hingga stress pekerjaan terbawa sampai ke rumah. Aku sudah menyesalinya, meminta ma’af padanya tapi tetap saja ia pergi dengan lelaki lain.

Bagaikan menyusun kembali puzzle luka batinku. Aku mencoba mengingat kembali, betapa frustasinya aku setelah ditinggal Dewi, istriku, gadis yang selalu ku puja-puja ketika kami berpacaran dulu. Hari-hari ku isi dengan mabuk dan mabuk. Mencoba melupakan Dewiku dengan mabuk, hingga suatu malam dalam keadaan mabuk, di taman ini aku melihat “Dewi ku” kembali dengan pakaian compang-campingnya yang menantang gairahku. Ah, mengapa wanita gila itu lagi yang bermain-main, bernyanyi-nyanyi dan menari-nari di pikiranku. Aku menepisnya keras, Bagaimana mungkin aku yang orang terhormat ini menghamili wanita gila itu?. Menyetubuhinya saja aku jijik!.

Taman itu. Wanita gila itu. Mabuk ku. Dewi ku. Gadis pujaanku. Semua menari-nari di benakku. Terlalu sakit hingga tak pernah ku selesaikan puzzle luka batinku itu, biar ia berantakan dan berserakan begitu saja. Biar ia berdebu, kusam dan sekarat dimakan rayap waktu.

Dalam keadaan sempoyongan mabuk. Di dekat taman perumahan, saat waktu hampir masuk subuh, Mbok Bariah menegurku.

“Selamat pagi anak muda!.”

“Heh!.” Dengan acuh ku angkat sebelah tanganku.

“Sudah tahu siapa yang menghamili wanita gila itu?.” Tanya Mbok Bariah menampar hati nuraniku. 

“Hehehehehe … hehehehe.” Tawa serigala Mbok Mariah menyeringai lapar. Puas ia mencabik-cabik hatiku, lalu memakannya rakus.

Hati nuraniku pun menjerit. “Setaaaaaaaannnn!.”

*****

Siapa Yang Menghamili Wanita Gila Itu? - 01052012


Manusia adalah hewan yang paling tahan menderita dan ia harus menciptakan tawa untuk mempertahankan kewarasannya - Nietzche.
Salam humor selalu untuk para pembaca setia. Sebuah salam unik, salam jenaka terhangat dari si penulis. Yang selalu berharap agar kita semua tetap waras dalam menjalani kerasnya kehidupan. Amien.
“Kita-kita yang punya tanggung jawab moral untuk menulari virus “waras” pada masyarakat yang t’lah “sakit” .” Salam humor selalu dari si Kutu Kata.


Keterangan Gambar : Wanita Hamil - Karya : Wans Sabang, 08042013




Tidak ada komentar: