Remang senja. Matahari yang hampir tenggelam di riak ombak. Aku berlari-lari di pasir putih dengan hati penuh suka cita. Terus berlari hingga tepian dermaga.
Aih,
kemana si abang?. Kucari ia di geladak hingga buritan kapal. Kutanya
satu demi satu para nelayan. Haruskah ku tanya pada ribuan burung
camar?. Atau debur ombak?, mungkin hanya dia yang tahu dimana si abang.
Bulan
masih malu-malu ditingkahi awan yang gusar. Sebentar lagi malam datang.
Menutupi semua laut dengan pekat. Yang nampak hanya pantulan cahaya
lampu-lampu kapal yang di mainkan ombak.
Lelah
aku berlari. Duduk aku menekuri kapal-kapal yang datang dan pergi.
Sudah sepuluh purnama. Satu purnama demi satu purnama yang aku toreh
dengan pisau dapur di pohon randu kita. Sebagai tanda kalau aku selalu
menantimu, abang. Sampai berribu-ribu purnama, kau kutunggu, biar sampai
aku membatu, bang.
Dermaga
cinta yang kita namai bersama. Dermaga tempat pertama kita bertegur
sapa, tempat pertama kita jatuh cinta. Mengapa abang memaksa diri?. Ke
laut lepas aku pergi. Ke laut lepas aku akan beri bukti. Aku ini lelaki,
Siti!. Aku pun diam ketika harga diri abang merasa tak berarti dimata
‘Mak bapakku. Aku ini lelaki, pantang aku ingkar janji. Walau aku harus
pulang dalam peti mati. Pasti, aku akan kembali.
“Sitiiii… Siti!, pulanglah sudah larut, Nak!, pulanglah, Mak Bapak mencarimu!.” Teriak Ma Odah pembantu rumahku.
Kain
songket beberapa lembar terhampar di atas meja, perhiasan emas dan
perak dalam kotak yang sudah terbuka. Gelang, Liontin berbentuk hati,
Cincin bermatakan berlian. Semua barang pemberian Datuk Maringgi,
saudagar terkaya di kampung kita, bang. Hati ‘Mak dan Bapak langsung
terpincut. Tapi aku tidak, bang.
Mak
Bapak memaksaku ‘tuk menerima pinangan Datuk. Datuk si tua bangka yang
telah beristri lima. Setiap hari kerjanya memaksa. Siti lelah, bang.
Siti lelah. Apalah daya Siti cuma seorang wanita,bang. Yang diikat adat
dan budaya.
Dari
jendela rumah kupandangi bulan. Bulan itu juga yang menerangi malammu,
bang. Berharap pada bulan ‘tuk sampaikan salamku. Berharap pada angin
‘tuk titipkan rinduku. Berharap datang berita gembira tentang cinta kita
yang suka cita. Berharap abang datang malam ini juga.
Aku
cuma bisa menunggu dan menunggu, terus berdo’a dan meminta. Berharap
Tuhan tidak lupa memberi. Mak Bapak tak mau mengerti kita, apa Mak Bapak
tak pernah muda?, apa Mak Bapak tak mengenal cinta?. Zaman
telah berubah, Mak. Zaman sekarang berbeda, Pak. Sekarang bukan
zamannya Siti Nurbaya. Apa karena si abang miskin, lantas Mak Bapak
boleh mencaci maki?. Cinta tak mengenal kaya dan miskin karena cinta
cuma mengenal cinta itu sendiri.
“Cinta?, mau dikasih makan apa anak-anakmu, kelak?.” Teriak Mak dan Bapak padaku.
“Mak
dan Bapakmu sudah terlanjur malu, sudah banyak berhutang budi pada
Datuk!.” Kata Bapak sambil terbatuk-batuk. Selalu asma bapak kambuh jika
ia marah-marah. Tak terasa bapak sudah tua, tak setegar dulu waktu
bapak masih menjadi saudagar tembakau.
“Siti, jadilah anak yang berbakti, Nak!.” Kata-kata tajam Mak bagai sebilah belati menikam langsung ke ulu hati.
Abang,
sampai kapan aku harus menunggu?. Usiaku dimakan waktu. Mak Bapakku
malu. Para bandot tua tak bosan-bosannya terus merayu. Para pemuda iri
karena cemburu. Hei!, Siti, apakah kamu mau jadi perawan yang tak
laku-laku?. Abang, datanglah malam ini. Bawa aku pergi ke surgamu, bang.
Surga yang akan kita rajut bersama.
Kokok
ayam masih bersahutan. Mak Odah menjerit sambil berlari-lari keluar
dari kamar Siti. Mak dan Bapak yang baru selesai subuh kaget melihat Mak
Odah seperti kesurupan.
“Siti, Pak!, Siti, Pak !.” Mak Odah berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah kamar Siti.
“Ada apa dengan Siti?.” Tanya Bapak bingung.
“Siti, Pak!, Siti… Si.. ti mati gantung diri!.” Mak Odah teriak sambil menangis.
Mak dan Bapak melototi Mak Odah, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Ma Odah.
*****
Di dermaga Cinta.
Syamsul
Bahri, turun dari kapal. Langkahnya seringan kapas. Syamsul yang gagah
dengan seragam dinasnya. Sambil bersiul, ia syairkan pantun rindunya.
Ke laut lepas, abang pergi.
di separuh bumi, abang simpan sepotong hati.
memandang bintang di kelam malam.
bukan abang lupa pulang.
dan bukan abang lupa Siti.
Dengan puisi, abang pergi.
Dengan puisi juga abang kembali.
indah bunga, wangi cinta.
rintik hujan meresap jiwa.
manis rupa, menerpa rasa.
rintik hujan menyambut suka.
senyum tercium, sampai seberang.
rintik hujan abang pulang
kapal menepi, mekar di hati.
rintik hujan menagih janji.
membuang sauh, cinta berlabuh.
untuk Siti, abang kembali.
tegar melangkah di dermaga cinta.
Siti, kini abang t’lah siap menikah.
EPISODE CINTA SITI NURBAYA, 25042012
Keterangan Gambar : Pantai - Karya : Wans Sabang, 11042013
Keterangan Gambar : Pantai - Karya : Wans Sabang, 11042013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar