Sabtu, 30 Maret 2013

Episode Cinta Siti Nurbaya



Remang senja. Matahari yang hampir tenggelam di riak ombak. Aku berlari-lari di pasir putih dengan hati penuh suka cita. Terus berlari hingga tepian dermaga.
Aih, kemana si abang?. Kucari ia di geladak hingga buritan kapal. Kutanya satu demi satu para nelayan. Haruskah ku tanya pada ribuan burung camar?. Atau debur ombak?, mungkin hanya dia yang tahu dimana si abang.

Bulan masih malu-malu ditingkahi awan yang gusar. Sebentar lagi malam datang. Menutupi semua laut dengan pekat. Yang nampak hanya pantulan cahaya lampu-lampu kapal yang di mainkan ombak.
Lelah aku berlari. Duduk aku menekuri kapal-kapal yang datang dan pergi. Sudah sepuluh purnama. Satu purnama demi satu purnama yang aku toreh dengan pisau dapur di pohon randu kita. Sebagai tanda kalau aku selalu menantimu, abang. Sampai berribu-ribu purnama, kau kutunggu, biar sampai aku membatu, bang.
Dermaga cinta yang kita namai bersama. Dermaga tempat pertama kita bertegur sapa, tempat pertama kita jatuh cinta. Mengapa abang memaksa diri?. Ke laut lepas aku pergi. Ke laut lepas aku akan beri bukti. Aku ini lelaki, Siti!. Aku pun diam ketika harga diri abang merasa tak berarti dimata ‘Mak bapakku. Aku ini lelaki, pantang aku ingkar janji. Walau aku harus pulang dalam peti mati. Pasti, aku akan kembali.

“Sitiiii… Siti!, pulanglah sudah larut, Nak!, pulanglah, Mak Bapak mencarimu!.” Teriak Ma Odah pembantu rumahku.

Kain songket beberapa lembar terhampar di atas meja, perhiasan emas dan perak dalam kotak yang sudah terbuka. Gelang, Liontin berbentuk hati, Cincin bermatakan berlian. Semua barang pemberian Datuk Maringgi, saudagar terkaya di kampung kita, bang. Hati ‘Mak dan Bapak langsung terpincut. Tapi aku tidak, bang.

Mak Bapak memaksaku ‘tuk menerima pinangan Datuk. Datuk si tua bangka yang telah beristri lima. Setiap hari kerjanya memaksa. Siti lelah, bang. Siti lelah. Apalah daya Siti cuma seorang wanita,bang. Yang diikat adat dan budaya.

Dari jendela rumah kupandangi bulan. Bulan itu juga yang menerangi malammu, bang. Berharap pada bulan ‘tuk sampaikan salamku. Berharap pada angin ‘tuk titipkan rinduku. Berharap datang berita gembira tentang cinta kita yang suka cita. Berharap abang datang malam ini juga.

Aku cuma bisa menunggu dan menunggu, terus berdo’a dan meminta. Berharap Tuhan tidak lupa memberi. Mak Bapak tak mau mengerti kita, apa Mak Bapak tak pernah muda?, apa Mak Bapak tak mengenal cinta?. Zaman telah berubah, Mak. Zaman sekarang berbeda, Pak. Sekarang bukan zamannya Siti Nurbaya. Apa karena si abang miskin, lantas Mak Bapak boleh mencaci maki?. Cinta tak mengenal kaya dan miskin karena cinta cuma mengenal cinta itu sendiri.

“Cinta?, mau dikasih makan apa anak-anakmu, kelak?.” Teriak Mak dan Bapak padaku.
“Mak dan Bapakmu sudah terlanjur malu, sudah banyak berhutang budi pada Datuk!.” Kata Bapak sambil terbatuk-batuk. Selalu asma bapak kambuh jika ia marah-marah. Tak terasa bapak sudah tua, tak setegar dulu waktu bapak masih menjadi saudagar tembakau.
“Siti, jadilah anak yang berbakti, Nak!.” Kata-kata tajam Mak bagai sebilah belati menikam langsung ke ulu hati.

Abang, sampai kapan aku harus menunggu?. Usiaku dimakan waktu. Mak Bapakku malu. Para bandot tua tak bosan-bosannya terus merayu. Para pemuda iri karena cemburu. Hei!, Siti, apakah kamu mau jadi perawan yang tak laku-laku?. Abang, datanglah malam ini. Bawa aku pergi ke surgamu, bang. Surga yang akan kita rajut bersama.

Kokok ayam masih bersahutan. Mak Odah menjerit sambil berlari-lari keluar dari kamar Siti. Mak dan Bapak yang baru selesai subuh kaget melihat Mak Odah seperti kesurupan.

“Siti, Pak!, Siti, Pak !.” Mak Odah berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah kamar Siti.
“Ada apa dengan Siti?.” Tanya Bapak bingung.
“Siti, Pak!, Siti… Si.. ti mati gantung diri!.” Mak Odah teriak sambil menangis.

Mak dan Bapak melototi Mak Odah, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Ma Odah.

*****

Di dermaga Cinta.
Syamsul Bahri, turun dari kapal. Langkahnya seringan kapas. Syamsul yang gagah dengan seragam dinasnya. Sambil bersiul, ia syairkan pantun rindunya.

Ke laut lepas, abang pergi.
di separuh bumi, abang simpan sepotong hati.
memandang bintang di kelam malam.
bukan abang lupa pulang.
dan bukan abang lupa Siti.
Dengan puisi, abang pergi.
Dengan puisi juga abang kembali.
indah bunga, wangi cinta.
rintik hujan meresap jiwa.
manis rupa, menerpa rasa.
rintik hujan menyambut suka.
senyum tercium, sampai seberang.
rintik hujan abang pulang
kapal menepi, mekar di hati.
rintik hujan menagih janji.
membuang sauh, cinta berlabuh.
untuk Siti, abang kembali.
tegar melangkah di dermaga cinta.
Siti, kini abang t’lah siap menikah.

EPISODE CINTA SITI NURBAYA, 25042012


Keterangan Gambar : Pantai - Karya : Wans Sabang, 11042013

Tidak ada komentar: