Kamis, 02 Mei 2013

Si Pembisik Presiden



Hans tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.

“Mom, Mom … Mom!.” Hans memanggil Mommy nya.

Tas ranselnya dilemparkan ke sofa. Jaket almamaternya kemudian menyusul hinggap di punggung sofa.

“Moooom, Moooommmm !.”

Mommy pun keluar dari dalam kamar. Dengan piyama bermotif bunga dan rambut masih digelung.

“Ada apa, Hans?.” Tanya Mommy bingung.

“Moomm, Mom, aku akan jadi orang terkenal, Mom!.” Jawab Hans penuh semangat.

Mommy bingung melihat Hans, anak semata wayangnya berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Sambil menggengam lengan Mommynya, Hans berucap keras. “Sebentar lagi aku akan jadi orang terkenal, Mom!.”

Daddy keluar dari kamar, sambil tangan kanannya membetulkan kaca mata plus nya dan tangan kirinya memegang lipatan koran.

Sambil merebut koran yang ada di tangan Daddynya, Hans menunjukkan koran itu pada Mom dan Dad nya. 
“Wajah Hans akan terpampang besar di halaman pertama koran ini!.”

Mommy dan Daddy hanya saling lirik.

“Siapa yang masuk koran?, kamu?.” Tanya Daddy pada Hans.

Hans mengangguk dengan semangat. “Revolusi, Dad!.”

“Apa?.” Tanya Mommy bingung.

“Hanya dengan Revolusi negara ini akan berubah, Dad!.”

“Maksudmu?.” Tanya Daddy bingung.

“Pokoknya Revolusi!, Itu sudah harga mati, Dad, Revolusi sampai mati!.” Sahut Hans sambil mengacungkan tangan.

Hans meninggalkan Mom dan Dad nya yang masih bengong.

“Hei!, Hans.. jangan gila kau!.” Teriak Daddy pada Hans. Tapi, Hans acuh saja.

*****

Di ruang oval. Mr Presiden berdiri gagah memandangi cermin besar yang ada di ruangan itu.

“Kalau bukan aku, siapa orang yang pantas menjadi presiden dinegeri ini?.” Tanya Mr. Presiden dalam hati.
Inggih Pak, inggih pak. Selain bapak, tidak ada orang lain yang lebih berpengalaman untuk menjadi presiden?. Mr Presiden teringat akan laporan Bapak Hari-Hari Omong Kosong, salah satu menterinya.

Seluruh rakyat masih menghendaki bapak untuk jadi presiden. Mr Presiden cuma manggut-manggut saja waktu Bapak Hari -Hari Omong Kosong datang menghadapMr Preside. 

Mr Presiden, sudah saatnya anda beristirahat. Menikmati hari tua anda dengan memancing di Kepulauan Seribu, berkunjung ke peternakan anda di Tapos atau bermain dengan cucu. Begitu bisik si Pembisik kepada tuannya, Mr Presiden.

Cucu anda tentu saja akan senang bermain-main dengan Eyangnya, hehehehe…. . Kata si pembisik lagi.
Sudah cukuplah pengabdian anda pada negeri ini, mundur dengan legowo membuat diri anda terlihat elegant.

Kalau aku mundur, siapa yang akan menggantikan aku?. Tanya Mr Presiden pada si Pembisik. Semua anak laki-lakiku tak ada yang bisa diharapkan, borjouis dan foya-foya saja kerjanya. Aku hanya bisa berharap pada putri tertuaku saja.

Bagaimana kalau putri tertuaku saja yang akan menggantikan aku, Pak Hari-Hari Omong Kosong?. Aku akan legowo.

Hah!, apa kata dunia Pak?. Negara kita ini bukan kerajaan. Rakyat masih menghendaki bapak untuk menjadi presiden. Kalau perlu, bapak jadi presiden seumur hidup. Itu yang sedang kita godok di Partai Kuning kita.

Seumur hidup?. Huh!, memalukan!. Kata si Pembisik.

Siapa yang memalukan?. Tanya Mr. Presiden marah. Aku?. Atau si penjilat itu?. Memang sengaja ku pelihara anjing itu karena sampai saat ini dia masih setia padaku. Tapi mata batinku tidak bisa dibohongi, sekali Dorna tetap saja dia Dorna.

Baru saja, anjing anda berkata ; negara kita ini bukan kerajaan. Dan anda bukan raja kan?. Itu yang ku maksud dengan memalukan. Kata si Pembisik.

*****

Tanggal 27 Juli 1996, Di Jalan Diponegoro No 58, Jakarta Pusat.

Terjadi pengambil alihan secara paksa dan penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang dikuasai kubu Megawati Soekarnoputri oleh kubu Soerjadi yang dibantu oleh massa dan segerombolan pemuda cepak dan berbadan tegap, disinyalir gerombolan itu adalah aparat dari kepolisian dan TNI.

Massa pendukung Surjadi dan segerombolan pemuda cepak dan berbadan tegap, bersiap-siap untuk menyerbu. Sasaran utama mereka adalah beberapa pemuda yang berdemo sambil menari-nari dan meneriakkan yel-yel.

“Revolusi!, Revolusi sampai mati!.”

“Revolusi!, Revolusi sampai mati!.”

“Revolusi!, Revolusi sampai mati!.”

Peristiwa penyerbuan ini kemudian meluas menjadi chaos terjadi kerusuhan dan pembakaran gedung-gedung serta beberapa kendaraan di sekitar Jalan Diponegoro, Salemba, Kramat dan Senen.

*****

“Gila kamu, Hans!.” Teriak Daddy sambil membanting koran. Ketika Daddy, Mommy dan Hans sedang sarapan di meja makan.

“Ini Revolusi, Dad, Kita perlu berubah!.” Kata Hans kalem.

“Please, Hans, apa yang sudah kamu lakukan?, sampai Daddymu marah.”

“Coba lihat ini, Mom!.” Sambil Daddy menunjukkan sebuah foto di koran.

“Hah!, sudah gila kamu Hans!.” Teriak Mommy kaget.

“Hans, sudah bilang kan Mom, Hans akan jadi orang terkenal Mom!.”

“Tapi bukan dengan cara seperti ini Hans!.” Kata Mommy pada Hans.

“Sebentar lagi Hans akan dijemput oleh jurnalis media on line dalam dan luar negeri. Hans akan di wawancara sebagai nara sumber, Mom!.”

“Kamu bisa dituduh makar Hans dengan membakar foto-foto presiden!.” Sahut Daddy kesal. “Kalau kamu mau demo, ya demo saja, gak perlu kamu pakai bakar-bakar foto presiden. Subversif itu namanya!”

“Ah, ini sudah biasa Dad dalam sebuah revolusi.”

“Ting nong!, Ting nong!.” Suara bel dari luar pintu.

“Mom Dad, Hans permisi dulu, Hans sudah dijemput.” Hans pamit sambil mencium tangan Mommy dan Daddy nya.

“Eh, Hans kau habiskan dulu rotinya!.” Teriak Mom pada Hans.

“Gampang itu Mom, nanti disana Hans juga dikasih makan!.”

“Jam berapa kau pulang?.”

“Sebentar, Mom nanti sore juga Hans pulang!.”

“Kalau kau pulang malam, jangan lupa telpon Mommy!.”

“OK, Mom Dad, Hans pergi dulu ya..bye!.”

*****

Dua tahun kemudian. Mei 1998.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan, rupiah yang terus anjlok, kelaparan dimana-mana, demo mahasiswa yang semakin hari semakin besar, rakyat marah, semua menuntut anda mundur. Kata si Pembisik di dalam pesawat pada waktu Mr. Presiden berkunjung ke negara-negara sahabat.

Percuma anda ke luar negeri, kredibilitas anda sudah hancur!. Kata si Pembisik itu lagi.

Kerut di kening Mr. Presiden mulai nampak. Pipinya pun semakin cekung. Senyum khasnya telah hilang.
Apa yang anda harapkan dari si anjing Dorna itu?. Para penjilat-penjilat lainnya. Mereka semua akan menusuk anda dari belakang. Lihatlah nanti!. Percayalah pada kata-kataku!.

Nrimo dan legowo. Seperti yang sering anda ucapkan kepada para wartawan. Mundurlah dengan legowo. Kapal sudah hampir karam.

Tidak!, aku tidak akan mundur sejengkalpun!. Sampai titik darah penghabisan. Aku akan memberikan kekuasaan ini pada putri tertuaku. Yang kelak nanti akan melindungi aset-aset kekayaanku.

Terserah!. Terserah anda sajalah!. Aku ini kan cuma si Pembisik. Aku ini adalah hati nurani anda sendiri, Mr Presiden. Terserah anda, apakah anda mau mendengarkan apa yang telah aku bisikkan atau anda abaikan saja semua bisikanku.

*****

Akhirnya Mr. Presiden bisa digulingkan dalam sebuah tragedi Mei 1998, yang kemudian dikenal dengan gerakan Reformasi. Kaum muda, para mahasiswa dan kaum intelektual dari kelas menengah yang bediri di baris depan gerakan Reformasi.

Kejatuhan Mr. Presiden memberikan harapan baru. Euforia masyarakat terjadi dimana-mana. Gerakan Reformasi bukanlah akhir dari perjuangan untuk melakukan perubahan di Indonesia. Masih terbentang jalan panjang nan berliku untuk menuju Indonesia baru.

Salah satu hadiah dari gerakan Reformasi adalah sumbat kebebasan bersuara yang dibuka. Pers dibebaskan, masyarakat tak lagi dibatasi dan diawasi dalam berserikat dan berkumpul. Kini semua orang boleh bicara apa saja, termasuk mengkritik pemerintah dan presidennya.

Dulu waktu kekuasaan Mr. Presiden masih absolut, orang-orang yang menentangnya akan diculik, dibunuh atau dibuang dan sebagian lagi dimasukkan kedalam penjara sebagai tahanan politik yang tak terampuni.

*****

Sebuah bajaj menghampiri Mommy yang sedang berteduh dibawah pohon beringin.

“Eh, Pak Jokowi!.” Sahut Mommy kepada tukang bajaj langganannya.

“Ke Komnas HAM lagi, Mom?.” Tanya Pak Jokowi.

“Iya, Pak!.”

Mommy pun langsung masuk kedalam bajaj yang panas dan sumpek itu.

Disela-sela jeritan mesin bajaj yang memekakkan telinga terjadi dialog antara Mommy dan Pak Jokowi, tukang bajaj langganannya.

“Sudah ada kabar tentang Hans, Mom?.”

“Belum Pak.”

“Si Daddy, Papa nya Hans sebenarnya sih sudah pasrah, Pak.”

“Tapi saya sebagai ibu yang melahirkan Hans, tidak akan menyerah begitu saja.”

“Sebagai seorang ibu, saya selalu berharap Hans masih hidup tapi…kalau memang Hans sudah meninggal, saya harus tahu dimana kuburannya?.” Kata Mommy sedih.

*****

Mereka yang sejatinya menjadi penggerak gerakan Reformasi, lambat laun semakin terpinggirkan. Bagaikan minyak dengan air, idealisme mereka tak bisa disatukan dengan para oportunis. Oportunis-oportunis politik yang menguasai parlemen dan pemerintahan dari pusat sampai daerah.

Seorang Budiman Sudjatmiko yang dituduh sebagai penggerak kerusuhan 27 Juli 1996, sempat dijebloskan ke dalam penjara selama 13 tahun pada masa pemerintahan orde baru. kini sudah hidup makmur. Setelah membubarkan partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dipimpinnya karena tidak lolos verifikasi, menjadi kutu loncat dengan menumpang perahu PDIP lalu kemudian menjadi anggota parlemen dan kini hidupnya sudah makmur.

Andi Arif yang menjadi salah satu korban penculikan yang ditengarai dilakukan oleh Tim Mawar yang dipimpin oleh Prabowo Subiyanto, kini masuk dalam pemerintahan.
Anehnya, salah satu dari sembilan aktivis yang diculik Tim Mawar yaitu Pius Lustrilanang, kini malah menjadi tokoh penting di Partai Gerindra, partai yang didirikan oleh Prabowo.

Politik kadang memang di luar akal sehat. Di dalam politik, tidak ada lawan maupun kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Selama kepentingan politiknya sama, bisa menjadi kawan. Tapi akan menjadi lawan jika kepentingan politiknya berbeda. Kepentingan siapa?, kepentingan rakyat?, Kalau kita lihat hari ini, sia-sia rasanya gerakan Reformasi yang telah menumpahkan darah. Bagai menggarami air laut. Pantas, kalau sebagian orang mengatakan bahwa politik itu kotor, politik itu kejam.

Diambil dari catatan aktivis yang berserakan.

Kutu Kata, Si Pembisik Presiden, 28042012

Ilustrasi Gambar : mikeportal.blogspot.com

Romantis yang Hilang Sepagi Ini



Masih adakah sedikit saja sisi romantis pada diriku?.

Papa!, Tolong angkat jemuran!, Hujaaaaaan!. Begitu teriak istriku. Aku dan istriku langsung berjibaku, angkat-angkat pakian yang telah kering, agar tak ditangisi lagi oleh hujan.

Hujan yang sering jadi sumber inspirasiku dulu sebagai penulis fiksi. Kini jadi sumber umpatanku. Tak ada indahnya lagi, semua jadi terhambat gara-gara hujan. My Stupid Boss pasti akan marah. Ia lebih senang berdebat dari pada mendengar seribu alasanku.

Kenapa terlambat lagi?. Hujan, Boss!. Ah, alasan saja. Semua juga kehujanan tapi tidak ada yang terlambat seperti kamu!. Ya, Boss. Aku cuma berani jawab, iya Boss, iya Boss, sambil manggut-manggutkan kepala seperti beo.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang mesti disalahkan?. Hujan?. Jemuran?. Istriku yang bawel?. Rumahku yang jauh dari kantor?. Jalan Tol yang tolol?. Bis yang jalannya seperti keong?. Pemerintahan yang gak becus?. Atau nasib?. Nasib siapa?, Nasibku sendiri?. Duh, masa sih aku harus menyalahkan nasib, betapa tidak pandai bersyukurnya aku, Banyak orang yang bernasib lebih buruk dari aku tapi ia lebih pandai bersyukur.

Selamat, target penjualan tercapai!. My stupid Boss menjabat erat tanganku. Oh, iya, untuk semester ini target penjualan kita tingkatkan lagi dua puluh persen, sebuah tawaran yang menantang tentunya. Tingkatkan terus penjualan, malu lah kalau sampai kamu kalah dengan sales-sales baru yang lebih lincah dan gesit. My stupid Boss, memang pintar. Sisi kemaluanku, ia sentil keras. Hingga semangat kerjaku kembali dipecut bagai kuda. Target, target, target dan target.

My stupid Boss selalu bilang, semangat kerja berbanding lurus dengan kinerja. Kinerja berbanding lurus dengan prestasi. Prestasi berbanding lurus dengan laba perusahaan. Tapi, My stupid Boss lupa, apakah laba perusahaan berbanding lurus dengan pendapatanku?. Dan pendapatanku akan berbanding lurus dengan anggaran belanja rumah tanggaku?. Kenyataan nya tidak. Anggaran belanja rumah tangga selalu naik sementara pendapatanku, hanya terkoreksi sedikit.

Puisi-puisi indah yang biasa ku coret di buku saku, kini telah berubah isi catatannya. Pampers buat dede habis, susu buat kakak dan dede tinggal sedikit, stock beras dan telor buat bulan ini takut harganya naik, rentetan bon-bon alfa dan indomaret, uang bayaran sekolah si kakak, uang kebersihan dan keamanan, gara-gara papa gak ikut ronda jadi kena denda. Bayar arisan keluarga, ada undangan pernikahan dari kerabat, bulan ini saja sudah ada empat undangan, bayar ini, bayar itu. Huh!, bisa pecah kepala ini rasanya.

Kemana hilangnya sisi romantis pada diriku?, kemana hilangnya si “Khalil Gibran”?.

Bila cinta mendatangimu, ikuti dia. Walaupun jalannya sulit dan terjal. Ketika cinta memahkotaimu, ia akan menyalibmu… Kata-kata yang sering ku kutip dari Khalil Gibran.

Oh, cinta. Aku benar-benar sudah tersalib olehnya. Puisi-puisi indah yang sering ku sms pada istriku sering tak terbalas. Terkadang cuma dijawab, Pa jangan sms yang gak penting, pulsa mahaaaaaallll!. Kata-kata itu tak pernah terucap dulu pada waktu kita masih pacaran, sehari saja tidak di sms-in puisi. Dia selalu bilang, sudah gak sayang lagi ya?, sudah bosan ya?, sudah punya pacar lagi?, O,begitu ya?.

Mau makan jadi ingat kamu, mau tidur ingat kamu, mau nafas ingat kamu, mungkin mau kentut juga ingat kamu, bahkan mau BAB (baca : Buang Air Besar) harus ingat kamu. Duh, romantis sekali. Dunia serasa milik kami berdua, yang lain ‘ngontrak.

Seiring berjalannya waktu, rumah tanggaku sudah dikaruniai dua orang anak. Si Kakak yang baru kelas empat sekolah dasar. Dan si dede yang hampir setahun usianya, sudah bisa ‘ngoceh dan berjalan merangkak. Kebutuhan rumah tangga kami pun semakin meningkat. Tidak ada lagi anggaran, untuk jalan-jalan atau beli buku seperti kegemaranku. Semua sudah tersedot untuk “hal-hal penting” saja, begitu kata istriku. Dunia yang dulu indah dan terasa romantis berubah menjadi sempit dan penuh kerepotan.

Pa, habis kerja langsung pulang. Jangan “nongkrong” lagi dengan teman kerja, dede badannya panas lagi. Begitu isi sms yang masuk dari istriku siang ini.

“Pa, gimana kalau dede di rawat?.” Kata istriku panik.

“Kita lihat hasil lab. darahnya dulu ya Bu.” Sahut Dokter menenangkan istriku. “Kalau memang terindikasi typus ya sebaiknya dirawat, Bu.”

Aku dan istriku keluar dari ruang dokter. Menunggu hasil lab. darah nya si dede. Kira-kira membutuhkan waktu dua jam untuk mengetahui hasilnya, kata Dokter itu.

Di ruang tunggu pasien. Aku terduduk diam. Istrikupun diam. Kami memandang lorong-lorong rumah sakit yang kosong. Istriku menggengam tanganku. Akupun balas meremas. Genggamannya makin lama makin keras. Lalu ia terisak tangis. Isak tangisnya yang lembut lambut laun mampu mengguncangkan bahunya. Aku ajak istriku keluar dari ruang tunggu karena volume tangisnya takut mengganggu ketenangan rumah sakit.

“Kenapa Ma?.”

Istriku pun langsung menubruk memelukku, menumpahkan tangisnya.

“Kasihan dede, Pa… kasihan.”

“Iya, Ma.. Papa juga sayang sama dede.”

“Mama tidak bisa membayangkan selang-selang infus yang tertancap di lengannya yang mungil, Pa!.”

Mengingat kata-lata istriku, aku pun merasa iba dengan dede. Semoga kamu kuat ya, de. Bisikku dalam hati.
Setelah reda tangis istriku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, setelah aku lihat ke arah jam tanganku. Kira-kira pukul dua belas hasil lab. nya keluar. Hmm, masih ada waktu sejam lagi.

“Oh, ya Ma… dari siang mama belum makan kan?.”

“Mana sempat, Pa. Mama juga gak kepikiran.”

“Kita makan dulu yuk, nanti mama ikut sakit, wah papa bisa repot deh.”

“Makan dimana Pa, malam-malam begini?.”

“Itu !.” Sambil aku menunjuk ke sebuah warung kecil. Sego kucing, warungnya Mbah Belut. Sebuah warung nasi angkringan khas Jogjakarta.

Aku memesan nasi gudeg, krecek, tempe bacem dan sate laler (sate laler adalah sate ayam yang irisan ayamnya kecil-kecil seperti laler atau lalat), minumnya STMJ (susu telor madu jahe). Istrku memesan nasi gudeg, burung dara crispy dan minum nya teh tawar hangat. Baru beberapa suap kami makan, lampu penerangan warung padam. Mati lampu, kata Mbah Belut, kakek-kakek yang sigap dan penuh semangat melayani kami.

Mbah Belut, meletakkan lilin yang dinyalakan di atas piring kecil ke hadapan kami. Praktis, kami hanya diterangi oleh nyala lilin itu.

“Sudah lama ya Pa, kita gak candle light dinner?.” Kata istriku.

“Hehehe, akhirnya kesampaian juga!, candle light dinner di warung angkringan?, Oh…so sweet.” Sahutku bercanda.

“Sate lalernya enak, Pa?.”

“Mama mau cobain, nih!.” Sambil aku menyuapkan sate laler ke mulut istriku.

“Hmm, lumayan Pa. Burung dara crispy nya juga enak loh, Pa.” Kata istrku semangat. “Papa mau?.”

Langsung saja, istriku menyuapi Burung dara crispy ke mulutku. “Di cocol pakai sambal goreng, nikmat rasanya, Pa!.”

“Jangan banyak-banyak sambalnya, Ma.”

“Gak, sedikit kok!.”

Burung dara crispy nya sudah nikmat ku lumat.

“Enakkan, Pa?.” Tanya istriku meyakinkan.

“He eh!.” Aku tidak bisa berkata karena mulutku masih penuh Burung dara crispy.

“Romantis ya Pa?, hihihihi. Papa tahu saja deh, tempat-tempat yang romantis, hihihi.” Kata istriku sambil cekikikan senang.

Romantis?, ah masa sih?. pikirku dalam hati. Ternyata romantis itu tidak selalu harus di restoran-restoran yang mewah dan mahal. Romantis itu adalah suasana. Suasana hati kita yang rindu akan situasi yang penuh arti.

Aku hampir lupa, kapan kami terakhir suap-suapan?. O, waktu pernikahan kami saat acara suap-suapan. Masa pengantin baru. Saat kami berbulan madu ke pantai Pangandaran. Setelah itu, tidak pernah lagi. Hari-hari kami nyaris ditelan kesibukan masing-masing. Aku sibuk kerja, Istriku sibuk mengurus anak dan mengurus rumah mungil kami.

“Alhamdulillah, hasil tes darahnya menunjukkan negatif typus. Si dede cuma kena radang tenggorokan makanya demam.” Sahut Dokter sambil menuliskan resep. “Obatnya ditebus, antibiotiknya dihabiskan ya Bu.”

“Gak perlu dirawatkan, Dok?.”

“Gak, gak usah. Di rawat di rumah saja.” Sahut Dokter itu ringan.

Istriku gembira mendengar kabar itu. Ia langsung memelukku. Tanpa malu, di hadapan dokter ia ciumi pipiku berkali-kali. Ah, aku kok jadi cengeng. Terasa hangat air mataku meleleh di pipi.

“Cepat sembuh ya dede nya.” Kata dokter menyadarkan kami.

“Hihihi, iya Dok. Ma kasih ya Dok.” Sahut istriku malu-malu.

Dengan sumringah, aku dan istriku membawa dede pulang kembali.

“Kenapa lagi, Pa motornya?.” Tanya istriku di saat aku berkali-kali sedang menstarter motorku di halaman parkir rumah sakit.

“Maklumlah, motor butut.” Sahutku sambil sibuk menstarter. Aku putar coke nya. Aku starter lagi.

“Berrrrrrr!.” Suara motorku pun hidup.

Istriku sambil menggendong dede, duduk dibelakangku. Motor mulai meluncur ke arah rumahku yang tidak jauh dengan rumah sakit.

“Sudah berapa tahun motor ini setia mengantar kita pergi kemana-mana ya Pa?.” Tanya istriku dalam terpaan angin malam yang dingin.

“Iya.” Sahutku sambil teriak. “Hebat motornya, biar butut juga masih OK, Ma.”

“Malam-malam dingin begini diboncengi Papa sambil peluk Papa, enak juga ya.”

“Sudah lama kita gak jalan-jalan seperti ini, Pa.” Kata istriku sambil mengencangkan pelukannya. “Hmm, romantis rasanya, Pa… Mama jadi tambah sayang deh sama Papa.”

“Romantis?, apanya yang romantis, Ma?.”

“Jalan-jalan tengah malam begini, naik motor butut sambil memeluk Papa itu romantis.” Sahut istriku.

“Motor butut yang setia mengantar kita kemana saja itu romantis, Pa.” Sahut istriku lagi.
Motor butut kok jadi romantis juga?. Hehehehe. Istriku terus saja berkata-kata. Aku cuma jawab iya karena aku harus konsentrasi di jalan saat mengendarai motor butut kami. Pikiranku pun kembali teringat akan cerita My stupid Boss dulu waktu ia sedang marahan dengan istrinya.

Romantis itu bukan hanya kata-kata indah yang ada dalam puisi, juga bukan hanya hayalan-hayalan indah yang ada dalam dongeng-dongeng. Suka duka, pahit getirnya kehidupan itu juga romantis tergantung bagaimana kita memaknainya. Tanggung jawab kita sebagai seorang kepala rumah tangga, sebagai seorang suami, sebagai seorang bapak itu juga termasuk romantis.

Hehehe, benar juga kata My stupid Bossku. My stupid Bossku yang bijak, kaya akan pengalaman hidup. Tanpa sadar, baru kali ini aku memuji Bossku. Hehehe, itu juga termasuk romantis kan?.

******

Kutu Kata, 26042012
ilustrasi Gambar : etsy.com


Sule Jadi Gubernur Jawa Barat Dan Presidennya?, Harus Lebih Lucu Dari Sule




Manusia adalah hewan yang paling tahan menderita dan ia harus menciptakan tawa untuk mempertahankan kewarasannya - Nietzche.

Melepas kepenatan dari seharian bekerja menjadi sebuah kebutuhan. Kebutuhan akan “dunia baru” setelah sumpek di dunia kerja.

Mengapa OVJ di TV7, ratingnya bagus?. Mengapa stand up comedy jadi tren baru?. Mengapa tayangan-tayangan lawakan atau komedi lebih di apresiasi oleh masyarakat bawah dan kaum muda (tergantung kemasannya, segmen mana yang dituju) ?.

Indonesian Lawyers Club (ILC) di tv One, sidang-sidang di DPR yang ditayangkan di tv, pidato-pidato presiden, apakah tak lebih dari tayangan komedi juga?. Ya, komedi tingkat tinggi karena “dimainkan” oleh komedian-komedian tingkat tinggi pula. Yang sering di apresiasi oleh masyarakat dengan gaya bahasa satire berupa : Ironi (dengan gaya bahasa sindiran yang halus),  Sarkasme (dengan gaya bahasa sindiran yang kasar, cenderung mengejek, mencibir, menghina bahkan mencaci maki) dan Parodi (dengan gaya bahasa ‘plesetan).

Komedi adalah suatu bentuk kesusastraan yang diciptakan untuk menghibur dan seringkali digunakan untuk memperbaiki atau menjelaskan sesuatu melalui kelucuan-kelucuan. Komedi sering mempertunjukkan ketidakseimbangan, keanehan-keanehan, kebodohan tokoh-tokohnya yang sering digambarkan dalam bentuk karikatural atau dalam bentuk yang berlebihan. Semua itu dibuat agar tujuan atau pesan moral yang ingin disampaikan berhasil. - Encyclopedia Americana.

Zaman dahulu, humor pernah diklasifikasikan sebagai sesuatu yang kejam, agresif dan merendahkan derajat manusia. Pergeseran nilai terus berubah, Aristophanes, penulis komedi yangterkenal dari Yunani, mulai menertawakan manusia dan lembaga-lembaga yang diciptakannya sejak 400 SM.
Plato dan Aristoteles, mengocok perut dengan mempertunjukkan komedi dengan perbuatan-perbuatan “angkuh” dan di luar batas, saat itu telah diterima sebagai bagian dari kesusastraan.
Film-film bisu sejenis Charlie Chaplin kemudian muncul, memberikan kesempatan pada orang untuk mengejek dan menertawakan manusia lainnya.

Keajaiban dunia elektronik, radio, tv dan film bersuara membuat booming Komedi. Dan surga untuk para komedian (pelawak).

Apa jadinya jika para pejabat publik, para pengamat politik serta para lawyers (seperti yang ditayangkan tv One) beralih fungsi menjadi para komedian?. Lucu?, tergantung dari sudut mana kita memandangnya karena lucu atau humor itu adalah sebuah fenomena yang kompleks. Tidak ada teori umum atau definisi yang disepakati bersama tentang nilai lucu atau humor itu sendiri.

Apa jadinya jika para komedian atau para pelawak beralih fungsi menjadi pejabat publik, pengamat politik bahkan mungkin Lawyers?.  Lucu?, pasti sangat lucu. Bukankah fenomena-fenomena itu telah terjadi di negeri ini?.

Terkejut melihat sebuah tayangan infotainment, berita tentang Sule yang ingin dicalonkan jadi Gubernur Jawa Barat. Penulispun berandai-andai. Kalau Sule jadi Gubernur Jawa Barat, Presidennya harus lebih lucu dari Sule. Tidak perlu ada pemilu, cukup audisi saja 10 orang pelawak legendaris dan terkenal di negeri ini. Masyarakat tinggal SMS, vote siapa pelawak idola nya yang pantas jadi presiden. Misalnya : Reg SPASI PARTO Presidenku. kirim ke 911. Pelawak yang paling banyak mendapatkan SMS, maka otomatis dialah yang akan menjadi presiden di negeri ini.

Seandainya ini terwujud, alangkah lucunya negeri ini?. Tidak perlu repot-repot lagi, untuk mencari seorang komedian atau pelawak saja mesti pakai kampanye dan PEMILU yang menelan anggaran negara (baca: uang rakyat) yang besar dan cenderung diselewengkan.


 kutu kata, Sule Jadi Gubernur Jawa Barat Dan Presidennya?, Harus Lebih Lucu Dari Sule, 14042012

Referensi :
- Wikipedia Indonesia.
- Encyclopedia Americana.
- Infotainment-infotainment.


Ilustrasi Gambar :  nandazaimiz.wordpress.com

Yuk, Kita Peringati Hari Kartini !





Kenapa setiap tahun, setiap tanggal 21 April selalu di rayakan hari Kartini?. Tanya teman Kutu waktu itu.

Kalau setiap hari, capeeeeee deh …. Itu jawab Kutu pada sang teman.
*****

Waktu itu Kutu masih PAUD, belum ngerti apa-apa dan gak kenal dengan ibu-ibu yang bernama Kartini. Semua teman Kutu, anak-anak PAUD semua kan, gak ada yang STW (dibaca : setengah tua).
Kutu cuma disuruh pakai, pakaian adat. Mama Kutu bingung, karena Mama merasa orang Indonesia, bukan orang Jawa lagi. Papa nya Mama orang Jawa tapi Mama nya Mama bukan orang Jawa walhasil Mama berdarah gad0-gad0. Dan Kutu berdarah kredok, pecel atau ketoprak. Mana Kutu tahu, Kutu kan masih PAUD?.
Untuk membeli baju daerah atau baju adat jelas dibutuhkan uang bukannya daun. Sewa pun pakai uang juga bukan pakai sendal jepit. Papanya Kutu pulang kerumah dengan muka cemberut. Waktu ditanya Mama, Papa cemberut kenapa?. Papa bilang, musim hujan gak ada yang mau minum cendol, dagangan sepi.
Mama jadi pusing gara-gara hari Kartini. Sebenarnya yang bikin pusing Mama bukan Bu Kar (maksudnya : Katini) tapi Bu Eyot (guru play grupnya Kutu).
“Huh, gara Kartini nih Mama jadi bingung!.”
“Sudah, Ma, cuek’in aja, Bu Kar bukan saudara kita ini.” Sahut Kutu.
“Nanti kamu dimarahin Bu Eyot!, Mama kan gak enak.”
“Memangnya Bu Eyot itu siapanya Bu Kar sih, Ma?.” Tanya Kutu polos.
“Ah, percuma ngomong sama anak kecil, kamu gak ngerti deh. Besokkan hari Kartini, sekolahan kamu kan  ada Carnaval pakaian adat keliling kampung.”
“Asyik, Kutu mauuuu, Ma, banyak makanan nya kan?.”
“Makanan melulu yang dipikirin!.” Kata Mama kesal. “Dari pada pusing, sudah besok kamu gak usah ikut saja!.”
“Ya, Mamaaaaa, gak seru dong!.”
“Au ah, gelap!.” Sahut Mama sambil meninggalkan Kutu yang sedih.
Namanya juga Kutu, dari pada sedih mending dia main. Main ke rumah Legowo, teman play grup sekaligus tetangganya.
“Wo, besok kamu ikut carnaval?.” Tanya Kutu.
“Ikut, dong. Besok saya pakai pakaian Jawa, pakai blangkon!.”
“Huh!, pakai blangkon aja bangga!.” Sahut Kutu Kesal.
Timothi datang sambil cengengesan. Timothi adalah teman play grup Kutu dan Legowo yang berasal dari Irian.
“Kenapa kamu cengengesan, Timothi?.” Tanya Hafid.
“Pokoknya, lihat saja besok!, di carnaval nanti, pasti aku yang paling heboh!.”
Wow, decak kagum Kutu dan Hafid.
Kutu pulang dari rumah Hafid, hati nya bertambah sedih. Teman-teman yang lain pada ikut Carnava, sedangkan aku tidak. Gara-gara cendolnya Papa gak laku, aku tidak bisa memperingati hari Kartini.
Hari H- Kartini tiba. Di halaman sekolah PAUD Desa Rangkat.
Suasana pagi di desa Rangkat ada warna-warni. Oh, ramai anak-anak PAUD desa Rangkat yang sedang bersiap-siap mengikuti acara Carnaval pakaian adat. Ada yang berpakaian adat jawa, sunda, minang dan betawi dan lain-lain.
Ibu-ibu yang mengantar pun ceria, wajahnya gembira melihat anak-anaknya yang cantik, anggun dan  gagah dengan pakaian adatnya.
Timothi datang bersama Mamanya. Beberapa ibu-ibu cengengesan, melirik Timothi bergantian melihat Mama nya juga.
Timothi, masuk ke barisan belakang. Seorang ibu ‘nyeletuk kepada Mamanya Timothi.
“Kok, Pakai koteka, Mama Timothi?.”
“Bandel, Bu anaknya!, dikasih pakaian adat yang lain dia gak mau!, mau nya pakai koteka!.” Sahut Mama nya Timothi.
“Ya, maklumlah… namanya juga anak-anak!.” Sahur Mamanya Timothi cengar-cengir.
“Hihihihihih… lucu ya anu nya, imut-imut !.” Sahut Ibu-ibu yang lain sambil menunjuk ke arah Timothi.
“Apanya yang lucu sih, Bu?.” Tanya Ibu yang disebelahnya gak ngerti.
“Itu sih, bukan lucu Bu!, tapi woooow seram.” Kata ibu yang lain lagi.
“Apanya yang seram sih, ibu-ibu?.” Tanya Mama Timothi.
“Hehehehe… koteka nya, Bu!.” Sahut ibu yang lain.
Seluruh murid-murid PAUD sudah bersiap-siap baris.
Tiba-tiba dari arah lain, seorang anak kecil berteriak-teriak.
“woiii, woiiii tunggu!, Kutu mau ikuuuuut!.”
Kutu berlari ke arah barisan anak-anak.
Sambil memperagakan gerakan silat beberapa jurus, Kutu berteriak, “Ciaaat!, ciat!, ciaaat!, Berubah!, berubah!.”
Ibu-ibu pada tertawa melihat gerak dan pakaian adat yang dikenakan si Kutu.
“Aya aya wae ya si Kutu!.” Tanyat seorang ibu dengan logat sundanya yang kental. “Eta teh, pakaian adat naon?.”
“Mane gue tau?.” Sahut Ibu lain dengan logat betawinya. “Emang gue pikirin, yang penting si Kutu pakai pakaian, tul’ gak ibu-ibu?.”
“Betttuuuuuul.” Sahut ibu-ibu koor.
“Jammaaaaaaaaah !.” Tiba-tiba dari arah belakang seorang ibu Jail menirukan suara da’i kondang. “Oww.. jamaah.”
Bu Eyot cengar cengir melihat tingkah si Kutu. Berhubung dia guru, jadi Bu Eyot harus Jaim dan terlihat bijak menanggapi tingkah anak-anak PAUD, terutama si Kutu.
“Hehehehehe… Kutu sini!, ayo baris paling depan!.”  Panggil Bu Eyot.
Kutu pun menghampiri Bu Eyot dan berdiri di barisan paling depan.
“Hehehehehe, by the way, kamu pakai pakaian apa, Kutu?.” Tanya Bu Eyot.
“Wah, kamseupay nih Bu guru, ini baju Megaloman!.” Sahut Kutu bangga, Dan langsung kutu memperagakan beberapa gerakan silat, lalu berteriak. “Ciiiaaaat!, ciat!, ciiiaaat!, Berubah!, berubah!.”
Bu Eyot jadi ketawa melihat tingkah lucu si Kutu.
“Hehehehehe … yang pentingkan kita peringati hari Kartini.” Kata Bu Eyot pada bu guru yang lainnya.
“Ho oh, Bu, hari Kartini bukan hari Kartono, Bu.” Sahut guru lain gak nyambung.
“Anak-anak PAUD Desa Rangkat, sudah siaaaaapppp!.” Teriak Bu Eyot pada anak-anak semua.
“Siiiiiaaaaap, Bu!.” Serempak anak-anak berteriak lantang.
“Ibu-ibu jangan ngerumpi melulu ya!, anak-anaknya pada dikawal ya ibu-ibu!.” Sahut Bu Eyot pada ibu-ibu.
Tetap saja, namanya ibu-ibu enakkan ngerumpi dari pada memperhatikan anak-anaknya, hehehehe.
Kutu gagah berjalan dibarisan paling depan. Disebelahnya, gadis cilik yang cantik dan anggun dengan pakaian adat jawa ala Kartini kecil.
“Kutu kenapa setiap tahun, setiap tanggal 21 April diperingati hari Kartini?.” Tanya Kartini kecil pada Kutu.
“Kalau setiap hari, capeeeee deh!.” Jawab Kutu seenaknya.

*****

Kutu Kata si Kutu Buku Rangkat, 21 April 2012

Ilustrasi Gambar :  juliefisipuns.blogspot.com


Ma’af Pak Bupati, Saya Sudah kentutin Bapak


Namaku ; Bekti, sesuai dengan harapan bapakku agar aku menjadi orang yang ‘ngabekti (berbakti dalam bahasa jawa). Berbakti pada raja, seperti kakek buyutku yang menjadi abdi dalem kesultanan Yogyakarta. Kalau di urut dari kakek moyangku, keturunanku adalah keturunan abdi dalem.

Kata bapakku lagi, kita ini diciptakan Tuhan untuk hidup ‘ngabekti atau berbakti agar hidup kita menjadi mulia. Dari kecil selalu kata-kata itu yang bapak ajarkan kepadaku. Waktu remaja, aku ingin menjadi seniman wayang orang, bapak melarangku keras. Dengan segala cara, bapak mengusahakan agar aku diterima kerja sebagai karyawan di kantor kabupaten.

“Pak, aku malu, masa kerja nya cuma disuruh-suruh dan ‘nganter-nganter minum bapak-bapak saja!.” Protesku, waktu aku mulai bekerja sebagai pembantu umum atau pesuruh atau office boy, istilah ‘kerennya.
“Disitulah kesempatan kamu untuk mengabdi.” Jawab Bapak sambil melotot. “Kerjakan tugasmu dengan tulus dan jujur, mengabdi kepada pemerintah sebagai pengayom kita, Insya Allah, Gusti Allah akan mengangkat derajat hidupmu sebagai orang yang mulia.”

Sudah berapa tahun yang lalu bapak kembali kepangkuan Gusti Allah. Kini aku pasrah menjalani hidup sebagai pesuruh, tidak terasa aku sudah mengabdi selama dua puluh lima tahun. Terkadang kusesali juga, mengapa aku mau saja menuruti kemauan bapak. Seandainya dulu aku nekat memilih untuk menjadi seniman wayang orang, mungkin aku sudah jadi orang terkenal seperti para pemain Srimulat. Sesal kemudian tak berguna begitu kata pepatah, mungkin ini sudah kodrat atau pilihan hidupku sendiri, pahit manis, suka dukanya, aku telan saja sendiri.

Alhamdulillah, semua anak-anakku sudah mandiri, si sulung sudah berkeluarga dan tinggal di kota lain. Tinggal si bontot yang sebentar lagi akan menikah, lalu kemudian akan pindah juga ke kota lain. Tinggal aku dan si mbok yang menempati gubuk reot ini. Sebentar lagi aku pensiun. Itu artinya sebentar lagi masa pengabdianku selesai. Masa pengabdian yang seolah tak berujung.
Pagi ini aku sibuk menyuruh si mbok untuk menyeterika baju batik KORPRI ku dan celana bahan warna hitam. 

“Pak, dimakan dulu nasi gorengnya.” Kata si mbok padaku. “Lumayan buat ganjel perut.”

“Gak usah lah, mbok…aku buru-buru, hari ini Pak Bupati mau kedatangan bapak-bapak anggota dewan, katanya sih mau ada Sidak.” Jelasku pada si mbok.

“Ya, biarin saja, yang di Sidak kan pak bupati, kenapa Bapak yang repot?.” Sahut si mbok sewot. “Nanti masuk angin kalau bapak gak sarapan.”
Aku sibuk mengenakan baju batik kebangganku, baju batik pengabdianku yang tak kenal lelah.

“Awas kalau nanti malam, bapak minta di keroki, terus…minta di pijiti, terus…minta yang “lain-lain”!.” Kata si mbok judes.

“Hehehehe, memangnya gak boleh minta yang “lain-lain”?

“Gak boleh!, pokoknya nanti malam habis nonton OVJ, aku mau tidur saja!.”
Begitulah istri, baru nasi gorengnya gak dimakan saja, sewotnya selangit. Ah, nanti juga baik sendiri, namanya juga istri biar galak juga sebenarnya dia sayang.

*****
Suasana di balai kabupaten mulai sibuk. Aku dan segenap staff lainnya, sibuk mempersiapkan akomodasi untuk rapat Pak Bupati dengan anggota Dewan.
“Pak, kok cateringnya belum datang ya?, sebentar lagi pak bupati dan anggota dewan kan mau datang?.” Tanyaku pada Pak Rahmat atasanku.

“Lah, itu apa?.” Sambil Pak Rahmat menunjuk ke arah kardus.
Aku pun menuju ke kotak kardus itu. “Mana nasinya, Pak, kok roti semua?.”

Hamburger, french fries, lengkap dengan Coca Cola, sesuai dengan pesanan anggota dewan dari Jakarta

“Oh, anggota dewan dari Jakarta sudah bosan makan nasi, Pak?.” Tanyaku lugu.

“Hehehe, iya pak, doyannya makan aspal, batu, besi dan beton, hehehehe…”

“Wah, kaya Gatot Kaca saja!, Otot kawat, Tulang besi, muka beton, hahahaha…”

“Pak Bekti sama Paryo makan aja dulu, nanti gantian sama saya, mumpung Pak Bupatinya belum datang.”

*****
Agak mojok, di belakang balai kabupaten. Aku dan Paryo makan.
“Gak nendang mending juga “nasi kucing”.” Sahut Paryo kesal sambil melahap

Sebelum aku makan, aku mencium hamburger itu. “Bau apek, Yo?.”

Paryo kaget. Diciumnya hamburgernya yang tinggal separuh itu. “Wah, Sampean ini ilmunya gak nyampe, bukan bau apek, tapi ini bau keju.”

Aku masih ragu untuk menyuapnya. “Enak, Yo?.”

“Sampean belum pernah kan?, Ya, sudah dimakan saja!.”

Aku mulai menyuapnya. Sesuap, dua suap. Ketika aku mau telan, langsung rasa mual menyerangku. “Oeeergh!, Oeergh!.” Aku pun muntah.

“Wong ndeso, gak pantas makan hamburger, hahahaha..!.” Ledek Paryo.

“Memangnya itu makanan orang kota ya, Yo?.”

“Lah!, memangnya makanan hewan?.” Tanya Paryo gak nyambung.

Langsung kusambar Coca Cola untuk menghilangkan rasa enegku “Aneh, Yo, Kok banyak semutnya ya?.”

“Hahaha… hahaha… .” Paryo puas menertawai kekampungan ku.

*****.

Tak lama menunggu, akhirnya rombongan anggota Dewan pun datang. Pak Bupati beserta staff menyambut mereka di pintu gerbang. Bincang-binvang sebentar, akhirnya mereka semua menuju ke balai. Para wartawan sibuk meliput kedatangan anggota Dewan, ada yang memotret dan ada juga yang mewawancarai salah seorang anggota Dewan.

Setelah Pak Bupati beserta staff dan anggota Dewan menempati tempat duduknya masing-masing. Aku, Paryo dan teman-teman pesuruh lainnya sibuk menyediakan minum dan makanan untuk mereka. Kebetulan aku kebagian untuk melayani Pak Bupati. Disaat aku membungkukkan badan, tiba-tiba saja perutku yang dari pagi belum diisi makanan bergolak.

“Brooootttt, Brrrooooottt, Bret!.” (suara kentut yang nyaring dan panjang)

Angin yang ada didalam perutku berontak ingin keluar, melewati lubang yang sempit (baca : pantat), Angin tersebut menjerit.

Pak Bupati dan orang-orang terdekatnya kaget. Apalagi aku, kurang ajar angin itu lewat tanpa permisi sehingga tak bisa ku tahan lagi.

Suasana mengheningkan cipta terbentuk beberapa detik. Seorang wartawan, aku biasa memanggilnya wartawan bodrex*. Dia orang yang pertama kali sadar dan kaget. “Hah!, hahahaha … hahaha!.” Lalu dia tertawa menang.

Para anggota Dewan dan para wartawan pun sontak tertawa. Ruangan balai jadi bergemuruh tawa.

“Hoi!, teman-teman ada berita Head Line nih, Pak Bupati dikentutin anak buahnya!, hahahaha…hahahaha” Teriak si wartawan bodrex pada teman wartawan lainnya.

Si wartawan bodrex telah berhasil mempermalukan Pak Bupati.

“Wakakakakak kakakak waa… .” Para anggota Dewan pun koor menertawai Pak Bupati. “Pak Bupati, apa anak buah sampean tidak di kursusi cara kentut yang baik dan benar.” Celetuk salah satu anggota Dewan.

Pak Bupati muka nya merah padam menahan malu.

Mukaku pun langsung legam, aku merangkak menghampiri Pak Bupati. “Maaf, Pak Bupati, saya sudah kentutin bapak!.”

Dengan muka ditekuk kesal, Pak Bupati berkata judes padaku. “Sudah, sana!, sana!.”

Aku diusirnya bagai seekor anjing kurap. Benar-benar Pak Bupati tak mau melihat muka ku lagi. Cuma gara-gara kentut, seluruh pengabdianku terasa sia-sia.

Akupun digelandang keluar dari balai oleh pengawal pribadinya Pak Bupati, Aku berusaha berontak karena sudah setua ini digelandang seperti maling. “Lepaskan saya, lepaskan, ijinkan saya meminta maaf pada Pak Bupati!, saya harus minta maaf, saya harus minta maaaaaaaaf … Pak Bupati, maafkan sayaaaaa, maafkan sayaaaa!.” Seperti anjing kurap yang gaek saya mengamuk.

*****

“Sudahlah, Pak…gak usah terlalu dipikirkan, bapak kan kentut tidak sengaja.” Kata si mbok prihatin.

“Sengaja atau tidak, dunia pengabdianku sudah kiamat, apa kata dunia?, pak Bekti yang tidak tahu diri ini sudah berani kentutin Pak Bupati, Duh Gusti… ampuni aku.”

“Gak usah mokso, Pak… nanti jantungnya kumat lagi!.”

“Rasanya aku mau mati saja, Mbok…Pak Bupati tidak mau memaafkan aku.” Sahutku penuh penyesalan.

“Dari pada bapak yang mati, mending si Bupati nya saja yang mati!, aku gak mau hidup di dunia yang kejam ini sendirian, Pak.” Sahut istriku terisak menangis.

Bersahut-sahutan tangis pilu yang terdengar di gubuk reot ini pun menutup malam.

*****

Suasana di kantor Kabupaten membuatku kikuk, di pojok sana segerombolan orang pada tertawa, di bawah pohon beringin dua empat orang pada cekikikan setelah aku lewat di depan mereka. Di dalam ruangan pun dengung orang menyebut-nyebut namaku sambil terbahak-bahak membuatku limbung.

Paryo menubrukku. “Hebat sampean, sudah jadi orang terkenal sekarang!.”

“Apa maksudmu, Yo?.”

“Sampean sudah jadi selebriti!, gak kalah dengan briptu Norman!, Lihat tuh di tabloid GARANG, ada foto sampean!.”

Aku bengong tak percaya.

“Foto sampean nungging lagi kentutin Pak Bupati!.”

“Yang benar kamu, Yo?.” Tanyaku semakin bingung. “Aku harus minta ma’af pada Pak Bupati.”

“Pak Bupati cuti 2 minggu, beliau butuh waktu untuk menghilangkan malu.”

Duh, Gusti, salah apa aku ini?, kenapa kau buat aku nelongso begini, Gusti!. Bisikku dalam hati.

*****

Dua minggu penyiksaan batinku. Dua minggu yang lebih banyak ku isi dengan diam. Tak ada lagi semangat hidup, jiwa pengabdianku semakin lemah lunglai.

Terngiang kembali, petuah bapakku. “Bekti, kamu bapak kasih nama itu agar hidupmu diisi dengan ngabekti (berbakti) agar kelak kamu bisa hidup mulia.”

Hidup mulia seperti apa, Pak?. Jerit batinku pada bapakku yang sudah di alam sana. Hidupku ini gak lebih dari seorang jongos!, gak beda dengan lalat, yang bisa diusir hanya dengan sekali kibasan tangan, tak berharga. Duh, bapak!, kenapa dulu kau larang aku jadi seniman wayang orang. Mungkin saja jalan hidupku akan berbeda.

Di gubuk reot ini terasa seperti di kuburan saja. Aku lebih banyak diam dan diam. Si mbok pun sungkan untuk mengajakku berbincang-bincang. Disaat malam. Saat si mbok telah terlelap tidur, sedikitpun mataku tak bisa dipicingkan, hanya memandangi langit-langit gubukku yang terbuat dari bilik yang dikapuri tebal. Seperti membedaki wajah keriputku, perlu bedak tebal agar keriputku tertutupi warna putih.

*****

Hari yang ku tunggu pun tiba. Aku menghadap ibu sekretarisnya Pak Bupati.

“Sebentar ya Pak Bekti, saya izin dulu dengan beliau, apakah beliau mau menerima bapak.”

Sekretaris itu pun masuk ke ruang PIV. Tak berapa lama, ia pun keluar.

“Maaf, Pak Bekti, Beliau tidak mau menerima bapak,karena beliau sedang sibuk.”

“Tolonglah, Bu… sebentar saja, saya cuma mau minta maaf pada beliau.”

“Tidak bisa, Pak, perintah beliau seperti itu.” Sahut Bu Sekeretaris tegas.

Aku pun meninggalkan meja sekretaris itu dengan sejuta kecamuk di pikiranku.

Aku cuma bisa menunggu dan menunggu sambil sesekali mengintip, apakah Pak Bupati sudah pulang atau 
belum. Sebuah penantian yang menjemukan.
Ketika Pak Bupati keluar dari ruang PIVnya, aku pun langsung menubrukkan diriku, aku bersimpuh dikakinya. Kuhaturkan sembah tepat dilututnya. Tapi lutut beliau, menggubrisku hingga ku tersungkur dilantai.”Apa-apan ini?.”

“Maaf kan Pak Bupati, saya sudah kentutin bapak… .” Sambil terisak tangis, aku mengiba. “saya benar-benar tidak sengaja kentutin bapak, saya mohon ma’af, Pak.”

“Ach, sudahlah!, Gak penting itu!, saya banyak urusan!.” Pak Bupati pun meninggalkanku yang masih duduk bersimpuh.

“Paaaak, Pak Bupati, maaa .. aafkan saya, saya minta ma’aaaaaffff.” Aku cuma mengiba pada angin, pada bangku-bangku dan meja-meja yang angkuh, pada lemari-lemari arsip yang acuh.

******

Dengan terhuyung aku memasuki kamar mandi kantor. Duh sakitnya dada ini. Seperti sebilah belati yang menusuk tepat di jantungku. Aku telah mengabaikan nasihat si mbok untuk mangabaikan saja masalah ini. Sebagai orang yang ngabekti, Aku tak bisa melupakan begitu saja. Seperti sebuah penghianatan terhadap raja, hanya hukuman mati yang pantas kuterima.

Kasihan si mbok, yang telah setia menemani hidupku dalam suka dan duka kehidupan.

*****
Ketika Paryo memasuki kamar mandi kantor.

“Hah!, Pak… Pak Bekti!, Paaak… hoi, tolong-tolong!.” Paryo panik, ketika melihatku tergeletak di kamar mandi. Dia berteriak minta tolong kepada karyawan lain.

Akupun menghembuskan nafas terakhirku dipangkuan Paryo, teman senasib seperjuangan.

Ma’af Pak Bupati, Saya Sudah kentutin Bapak – 17042012