Rabu, 29 Mei 2013

Maling Bugil Dan Penasehat Spiritualnya




       Aku mengendap-endap dalam temaram lampu, melangkahi ruang demi ruang dalam rumah besar ini. Aku hapal banget setiap sudut dan lekukan di rumah ini. Di pojok kanan ada tangga menuju ke lantai dua. Di situlah Ko Lim, tinggal bersama Enci dan adiknya si Mei Hwa.

       Mei Hwa?, gadis yang permah ku suka tapi sekarang ia sudah disekolahkan ke Hongkong oleh Ko Lim. Alasannya agar Mei Hwa tidak bisa berhubungan lagi denganku. Oh,nasib. Tiba-tiba saja bunga cinta yang baru ku tanam dan ku semai sudah hancur berantakan diinjak-injak oleh kuasanya Ko Lim. Ko Lim sepakat dengan Enci, istrinya, mereka bilang : MADESU, masa depan suram kalau Mei Hwa jadi istriku.
      
       Tapi, Ki … kenapa aku mesti bugil begini sih?.
Itu syarat, kalau kamu mau aman. Kata Ki Joko Tolol, penasihat spiritualku.
Ki, saya ini mau maling, bukan mau bikin kalender porno?.
Pokoknya turuti saja perintah Aki!. Kamu harus bugil!.
Ini adalah syarat ‘elmu sirep yang Aki dapatkan dari gurunya Aki, Ki Joko Blo’on. Supaya kamu tetap aman dan tak terlihat oleh seluruh penghuni rumah pada saat kamu maling dirumah Ko Lim.

       Degup jantungku berdebar keras, napasku memburu bagai dikejar setan. Jujur saja baru kali ini aku maling. Dan hehehe, baru kali ini juga aku bugil di rumah orang. Aku maling bukan karena butuh duit tapi lebih karena sakit hatiku pada Ko Lim yang telah memisahkan aku dengan Mei Hwa.

       Ki, apa benar Mei Hwa suka juga padaku?.
Ki Joko Tolol menerawang ke arah langit-langit rumah, mimik mukanya serius. Mei Hwa gadis baik. Cuma kata itu yang keluar dari  mulut Ki Joko Tolol.
       Terus, Ki?. Tanyaku penasaran.
Hei, anak muda, jangan Ge Er!. Setiap gadis yang baik padamu, jangan selalu kau anggap ia suka padamu. Teliti dulu, apakah ia baik karena memang ia orangnya baik dan suka berderma atau memberi atau… . Bentak Ki Joko Tolol padaku.
       Atau apa, Ki?.
Atau karena ia kasihan melihat nasibmu.
Aku bukan pengemis, Ki. Gak perlu dikasihani, jelek-jelek begini aku ini kuli bangunan.
Aku yakin Mei Hwa pun suka padaku. Tolong, Ki, bagaimana caranya agar cintaku tak bertepuk sebelah tangan.

       Siapa nama nya?, bin siapa?, tanggal lahirnya tahu?, fotonya ada?. Kata Aki nyerocos. Lalu diam kaku dan mulai menerawang ke arah langit-langit lagi.
Waaah!, gak ada orangnya!. Gak ketemu!. Jawab Ki Tolol sambil membuang desah panjang.
Aki nyarinya dimana?.
Di Indonesia lah!, memangnya mau cari dimana?. Sahut Aki kesal.
Ya, terang saja gak ketemu, orang si Mei Hwa nya sudah sekolah di Hongkong!.
Kenapa gak ngomong dari tadi?. Lain lubuk lain belalang, lain sungai lain pula ikannya, ‘elmu penerawangan Aki gak bisa tembus sampai ke sana.
Coba Aki searching di google dulu… . Ketak ketik ketak ketik ketak ketik. Tuh, kan benar si Mei Hwa nya sekarang ada di Hongkong.
Kok Aki bisa tahu?.
Lihat di face book nya, bodoh!. Jawab Aki seenaknya.
Sial!, sebenarnya yang bodoh itu aku atau dia sih. Terus, gimana Ki?.
Ya, gak bisa!.
Kok, gak bisa, Ki?.
Di atas langit masih ada langit, di sini gunung di sana gunung, di tengah-tengahnya ada si Mei Hwa, di sini bingung, di sana pun bingung di tengah-tengahnya ada samudera.
Maksudnya apa, Ki?.
‘Elmu pelet Aki gak bisa ‘nyebrangin samudera. Kejaaauuuuhan, kata Aki putus asa sambil membuang napas panjang.

       Begitu ceritanya kenapa aku sampai dendam dengan Ko Lim. Karena dia sudah memisahkan Mei Hwa dariku.
Ya, sudahlah, Ki. Aku mau maling saja di rumahnya si Ko Lim. Tapi, aku ingin si Ko Lim dan seluruh penghuni rumah itu gak ada yang tahu dan gak ada yang bisa melihat aku, Ki. Termasuk si Bruno, anjing herdernya, bagaimana Ki, bisa?.
Mau penuhi syaratnya?.
Apa, Ki?.
Bugil!.

       TV plat, DVD player lengkap dengan sound systemnya, uang ratusan lima puluh lembar di laci, kulkas?, wah berat banget angkatnya?. Cukuplah untuk di maling kali ini.
Semua barang-barang aku taruh sementara di halaman belakang. Di balik tembok tinggi sudah menunggu si Blek, teman yang membantuku maling dan nantinya si Blek akan aku kasih upah. Barang-barang ku lempar, menyeberangi tembok. Dibalik tembok, Blek sudah siap menangkapnya. Selesai semua barang-barang kukeluarkan. Aku pun bergegas menuju halaman belakang, mengenakan pakaianku kembali, dengan perantara tali, seperti bajing aku pun melompati pagar rumahnya Ko Lim.

       Musik yang ada di lokalisasi pelacuran ini sebenarnya terlalu memekakkan telinga. Tapi, gadis-gadis disini ramah dan baik-baik. Tidak seperti si Mei Hwa. Aneh, aku kok kini jadi benci sama Mei Hwa, cinta bisa merubah suka jadi benci, bayangan wajahnya yang selalu menghantuiku. Persis, sekarang aku menganggap si Mei Hwa itu hantu. Hanya dengan alkohol dan gadis montok di sebelahku yang bisa mengusir hantunya si Mei Hwa.

       “Ayo, Blek, habiskan minuman itu!. Kita puas-puasin saja malam ini!.” Kataku pada si Blek.
“Sudah setengah tiang nih!.” Sahut Si Blek mabok. “Kapal goyang, Kapten!, hahahaha… .”
“Blek, gue ngamar dulu ya, gue udah kenyang sama pantat botol, gua mau pantat yang lain, hahahaha….”
“Mantabs, Boss!.” Sahut si Blek sambil mengacungkan jempolnya.
Sambil merangkul si montok, aku berjalan gontai menuju sebuah kamar.
 “Hajar terus, bleeeeh!, jangan dikasih ampun!. Hahaha...” Teriak si Blek kepadaku.
“Hahahaha … mantabs, Blek!. Ayolah, kamu masuk juga!.” Pintaku pada si Blek.
“Hahahaha, nyantai dulu, Boss!. Blek masih milih-milih dulu soalnya yang montok sudah sama si Boss, Hehehe yang lain ‘kerempeng semua!.”

Aku sudah tenggelam dipelukan si montok. Si Blek, entahlah?, mungkin dia juga sudah tenggelam dipelukan botol.

       Aku sudah bugil menunggu dikasur lepek, di ruang sempit berdinding triplek dengan tambalan koran bekas dan poster Kajol, artis Bollywood. Kajol si hitam manis yang aku juga suka. Eksotis istilah orang bule. Pokoknya setiap gadis cantik di dunia ini, aku suka. Cuma masalahnya, mereka suka gak sama aku?.

       Satu persatu gadis montok itu melucuti pakaiannya. Ah, rasanya mahal sekali gadis ini!, Tak sabar pula aku menunggu.
“Hei, apa pula kau ini!.” Teriakku keras.
“Sabar, Bang … ini juga lagi dibuka, hihihihihi… .”
“Nanti habis waktunya!.”
“Over time lagi aja, Bang, hihihihihihi… .”
“Over time-over time, memangnya gratis?!.”

       Wow, gadis montok itu tanpa selembar benangpun menantang di depanku. Aku manjakan saja mataku, kasihan setiap hari cuma melihat semen, batu bata, pasir, kayu-kayu, dan teman-teman kuli bangunan yang dekil-dekil dan bau.

      Gadis montok itu mulai merapat. Tanganku merengkuhnya, ia telah siap menjadi pelabuhan syahwatku.
“Braaaakkk !.” Suara pecah dari arah pintu. O, pintu di tendang dari luar. “Angkat tangan!.”
Dua lelaki cepak berbadan tegap menodongkan pistol ke arahku.
Gadis montokku secepat kilat menyambar handuk yang tergeletak di lantai.
Aku bingung. Tengok kanan kiri panik, ada apa ini?.
Salah seorang lelaki cepak itu membentak. “Ayo, cepat!, ikut kami!.”
Akhirnya aku pun di gelandang ke kantor polisi.

        “Gimana, Ki kok bisa ketahuan?.” Tanyaku pada Ki Joko Tolol pada saat ia menjengukku di sel kantor polisi.
“Salah kamu sendiri!, kamu gak ngomong kalau di rumah itu ada CCTV nya?.”
“TV nya kan sudah saya jual kemarin di Taman Puring.”
“Bukan TV, Tolol!, CCTV atau kamera.”
“Mana saya tahu, Ki?.” Sahut aku bingung. “Terus, gimana Ki caranya agar saya bisa keluar dari sel ini. Kalau perlu bugil, saya akan bugil lagi deh!.”
“Dasar tolol bin blo’on, pikiranmu ‘cetek, secetek kali Ciliwung!.” Bentak Aki marah.
“Pikiranmu harus luas seluas samudera, tinggi setinggi gunung himalaya. Buka pintu pikiranmu lebar-lebar.”
“Itu, mantra nya, Ki!.”
Ki Joko Tolol kesal, ia menyeruduk kupingku. Dibisikkinnya kupingku tentang “sesuatu”, “sesuatu banget deh… .” Lama juga ia bisiki sampai air ludahnya nyemprot-nyemprot di kupingku.
“O… itu maksudnya, Ki?, aman gak, Ki?.”
Cincai lah!, semua bisa diatur, anak muda!.”

       Sepeninggal Aki, aku mulai merenung dan terus merenung di dalam sel. Kata Aki, aku harus buka pikiranku, menangkap semua peluang yang ada. Cling!, ide itu nemplok’ di jidatku. Sejak itu aku mulai merintis usaha, sel yang kumuh itu kini sudah menjadi sejuk, penjara yang sempit sudah menjadi istanaku.

Sedikit demi sedikit, dalam kurun waktu berproses, aku pun sudah bisa mengatur semuanya. Dimana lagi tempat yang aman untuk bisnis “sesuatu” itu selain di penjara?. Di jalan-jalan dan di bar-bar terlalu riskan. Benar kata si Tolol, penasihat spiritualku itu, cincai lah!, semua bisa diatur.

Dari sel kumuh dan penjara, ku jalani bisnis ini. Setelah aku dibebaskan pun, aku masih tetap menjalankan bisnis ini. Bisnis yang sangat menggiurkan. Kini, orang-orang memanggilku, Boss Besar, Bandar Narkoba yang tak tersentuh hukum.

Si Blek, kini sudah necis’. Giginya yang ompong waktu digebukin di penjara sudah di ganti gigi emas.  Seperti aku, pakaian nya jas dengan dasi kupu-kupu. Sementara Ki Joko Tolol, penasihat spiritualku sudah menjadi penasihat pribadiku. Jubah hitamnya sudah ia buang, ia ganti dengan jubah pink, dengan rantai kalung yang besar, gelang-gelang dan cincin-cincinya serba Bling-Bling serta jambul anti Krismonnya. OK juga seleranya Ki Joko Tolol, penampilannya mirip dengan Syahrini.

Dan aku?, apa yang tak bisa ku beli hari ini?. Hukum di Indonesia bisa ku beli!, sejuta Mei Hwa bisa ku beli!. Sahutku sombong.

Setiap pagi aku buka jendela, sambil berucap syukur. “Oh, Tuhan, alangkah indahnya Indonesiaku!.” @Kutz,190412



*********

Kutu Kata, Maling Bugil Dan Penasehat Spiritualnya

Ilustrasi Gambar : Dya (radyapustaka on twitter) twitter.com


Jumat, 17 Mei 2013

Burungku, Burungmu dan Garuda



Suatu sore, dibawah rindangnya pohon beringin ada debat kusir antar anak-anak tentang burung.

ANAK RAKYAT :
“Tunjukkan burung yang ada di dalam sarungmu!, kalau kamu gentle , Pasti !, burungmu dan burungku, sama-sama burung.”
ANAK PEJABAT :
“Walaupun sama-sama burung, yang jelas burungku lebih perkasa (karena ANAK PEJABAT) dari pada burungmu … dan sudah barang tentu, lebih berpengalaman (karena ANAK PEJABAT juga) dari pada burungmu!.”

Huh!, seharusnya burungku yang lebih perkasa dari pada burungnya. Bisik Anak Rakyat dalam hati. Kalau masalah pengalaman … hemmm, itu sih relatif!. Karena kamu, anak pejabat saja uangnya lebih banyak, jadi pengalaman terbangnya tinggi.

Bisa sampai mancanegara ; Hongkong, Macau, Thailand, Singapur, Las Vegas (beberapa kota judi dan surga sex). Itu pun sebatas pengakuannya saja.

Bahkan beberapa hari yang lalu, dia bilang kalau burungnya telah terbang sampai ke Uzbek juga (waktu dia berkunjung ke tempat “hiburan” di daerah Gajah Mada, Kota).
Setelah bersusah payah berfikir, Anak Rakyat pun berkata spontan.

ANAK RAKYAT :
“Mana lebih perkasa, burungmu dibanding Garuda?.”
ANAK PEJABAT :
“Ya, jelas Garuda dong!.”
ANAK RAKYAT:
“Mana yang lebih besar, burungmu atau Garuda?.”
ANAK PEJABAT :
“Kamu ini bagaimana sih?, pada masing-masing sayap burung Garuda ada 17 helai bulu, di ekornya ada 8 helai bulu dan di bagian lehernya ada 45 helai bulu … kalau burungku…? (berfikir sebentar) mana pernah aku hitung?.”
ANAK RAKYAT :
“Menurut sejarah, Garuda berasal dari burung bapak moyangku (dibaca : rakyat)!, Jadi kalau Garuda lebih perkasa dan lebih besar dari burungmu, mestinya ; burungku juga lebih perkasa dan lebih besar dari burungmu.”
ANAK PEJABAT :
“Ah!, itu kan cuma mitos saja!, sejarah kan tergantung siapa yang berkuasa!.”
ANAK RAKYAT :
“Benar juga katamu, Garuda saja sekarang sudah di ‘bonsai!.”
ANAK PEJABAT :
“Jangan ngawur, kamu!.”
ANAK RAKYAT :
“Bapakmu dan teman-teman bapakmu yang bonsai!.”
ANAK PEJABAT :
“Sembarang saja kau menuduh!, cemburu sosial ya kamu!.”
ANAK RAKYAT :
“Garuda besar yang biasa menghias di dinding sekolah kita, sudah di bonsai bapakmu menjadi sebesar pin agar bisa disematkan di jas safari bapakmu!.”
ANAK PEJABAT :
“Itu sebagai tanda penghormatan dan rasa cinta bapakku dan teman-teman nya pada Garuda.”
ANAK RAKYAT
“Kalau bicara cinta, mana lebih cinta pada Garuda, bapakmu atau aku …?.”
“Ini buktinya …”
Sambil mengangkat sarungnya, maka terlihat Anak Rakyat itu memakai celana dalam bergambar Garuda yang mencolok.
ANAK PEJABAT
“(kaget) Hei!, kurang ajar … itu pusaka negara!.”
ANAK RAKYAT
“Itu pusakamu!, bukan pusakaku … karena cuma kamu yang bisa menikmati negeri ini, ha ha ha ha ha…”

Anak Rakyat pun tertawa puas sambil pergi meninggalkan Anak Pejabat.
Debat kusir pun selesai. Hasilnya ; pepesan kosong.

Wans Sabang, GJL,160312

Keterangan Gambar : tuvaro.com

Kamar 326




“Mas, bawa berapa ?.”
“Tiga.”
“Banyak banget, Mas?”
“Gak bisa beli satu an, satu pack isinya tiga. Jadi aku bawa saja satu pack.”
*****
“Terus, sisa nya bagaimana, Mas?.”
Si Mas garuk-garuk kepala, berfikir.
“Kalau dibawa pulang resiko, Mas. Nanti kalau Papa atau Mama tahu bagaimana?. Mas nyimpen “sesuatu itu” kan jadi repot urusannya.”
“Dibuang aja ya say?.”
“Sayang. Di simpan disini aja, Mas. Kalau kita kemari lagi kan, bisa kita pakai.”
Si Mas dan pacarnya, masing-masing diam sesaat berfikir.
Si Mas bangkit dan berjalan ke arah toilet. Setelah beberapa saat, dia keluar dari toilet.
“Gak bisa nyimpen disana, kaca rias nya nempel di tembok.”
“Terus, simpan dimana dong?.”
Cling!, Aha!, aku dapat ide. Kata hati si Mas sambil senyum penuh arti.
“Kamu bangun dulu (perintah si Mas pada pacarnya). Kita simpan aja di bawah kasur. Kasurnya kan double. Bagian atasnya kasur dan bagian bawahnya adalah spring bednya. Kita taruh saja diantara kasur itu.”
Setelah kasur atas bergeser sedikit. Diletakkan sesuatu itu diselipan antara kasur atas dan kasur bagian bawahnya.
“Berapa yang disimpan?.”
“Dua say, sisanya kan memang dua.”
“Aman gak?”
“Hehehe, mana aku tahu???.”
******
Malam lainnya.
“Mas, bawa gak?.”
“Kan masih ada disana, sisa dua yang waktu itu?.”
“Memangnya masih ada, kalau hilang bagaimana?. Beli lagi aja, Mas… Aku gak mau resiko, kalau aku hamil, bagaimana, Mas?.”
“Iya, nanti kita mampir dulu ke mini market.”
“Kamarnya sudah di booking?. Kalau bisa kamar yang waktu itu, Mas. Aku suka view nya.”
“Sudah. Kamar 326 kan?. Sengaja aku pesan kamar itu lagi, hehehe, ada “tabungan” kita kan disana.”
“Sisa dua yang kita taruh di selipan kasurkan?.
“He eh. hehehe… .” Jawab si Mas cengengesan.
*****
“Sisa dua yang ini, kita taruh lagi aja diselipan kasur, Mas.”
“Iya deh. Kamu bangun dulu (perintah si Mas pada pacarnya)!.”
Digesernya kasur bagian atas sedikit. Dengan wajah senang, si Mas berkata pada pacarnya.
“Say!, say, masih ada say, sisa yang kemarin, hehehe … .!.”
“Gak hilang.”
“Gak kok, masih utuh. Kita simpan lagi aja sisa yang kemarin, hehehe, jadi “tabungan” kita ada empat.”
“Ya Mas. Sekalian aja kita jadikan kamar 326 ini sebagai kamar favorit kita.”
“Kamar “Cinta Sejati” . Hehehe, gimana say suka gak dengan nama itu?.”
“Wuiiih. Pffuih!. Melambung rasanya aku, Mas.”
*****
Malam lain lagi.
“Kamar sudah OK?.”
“Sudah aku booking untuk malam ini. Tenang saja, Say … kamar 326, kamar “Cinta Sejati”, saksi cinta kita abadi.
“Siiip lah, Mas!.”
*****
“Coba di cek dulu, Mas. “Tabungan” kita masih ada gak?.”
Si Mas menggeser kasur bagian atas.
“Hah!.” Si Mas kaget.
“Kenapa?.”
“Tabungan kita beranak. Terakhir kan tabungan kita ada empat. Wah, sekarang ada delapan.”
“Delapan?, banyak banget Mas.”
“Iya, punya kita empat. Dan yang empat lagi mereknya beda-beda. Yang dua Durex dan yang dua lagi Fiesta.”
“Punya kita Sutra, masih utuh ada empat.” Jelas si Mas panjang lebar pada pacarnya.
“Yang Durex dan Fiesta itu punya siapa?.”
“Mana aku tahu, say?. Yang jelas pasti pemiliknya adalah orang yang berbeda. Karena pilihannya beda.”
“Itu artinya, sudah banyak yang tahu dong tempat rahasia kita, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say.”
“Termasuk kamar 326 ini?, sudah banyak orang yang favoritkan dong, Mas?.”
“Hehehe, Iya kali say. Memangnya kenapa?.”
“Huh!, Sebel aku!.” Tiba-tiba saja muka si pacar berubah cemberut. Mukanya ditekuk persis dompet tanggung bulan.
“Bagaimana say, mau coba yang mana?. Sutra?, Durex?. Atau Fiesta?. Hehehe, mumpung banyak pilihan nih.”
“Malas aku!. Sudah hilang mood ku!.” Teriak si pacar pada Mas nya.
“Malam ini kita nonton TV aja!, gak usah minta yang macam-macam!.” Teriak si pacar lagi.
“Nonton TV doang?”. Tanya si Mas lugu.
Si Mas semakin jutek dilihatnya pacarnya asyik nonton TV kabel, sambil memencet-mencet remote, berpindah-pindah channel.
Keduanya saling diam beberapa saat. Kamar 326 hanya dibisingi suara TV.
“Mas … Mas … Kapan kita kawin?.” Tanya si pacar pada Masnya.
Si Mas diam saja, pura-pura tidur tertelungkup memeluk bantal.
“Gak baik kan kita begini terus?. Dulu bilangnya, nanti kalau sudah selesai kuliah. Eh, sekarang sudah selesai kuliah, bilangnya nanti kalau sudah dapat kerja.”
“Nah, giliran sudah kerja, alasannya ada saja ; belum siap lah!, masih mau mengejar karir lah!. bla bla bla … dasar laki-laki, pintar cari alasan!. Pokoknya, kalau minggu depan Mas gak datang melamar, kita putus saja deh!. ” Teriak si pacar pada Mas nya.
Gak tahu si Mas nya pura-pura tidur atau memang sudah tertidur pulas.Bantal yang tadi dipeluknya kini sudah berpindah untuk menutupi wajah dan telinganya.
*****
Kutu Kata, Kamar 326 - 20052012


Ilustrasi Gambar : http://chicatphilsplace.blogspot.com

Selasa, 07 Mei 2013

Off The Record




Penulis diundang oleh Mabes Polri dalam rangka …. (Sengaja penulis kosongkan agar pihak-pihak yang terkait tidak merasa terusik).

Seminar yang dilaksanakan bertujuan untuk memberikan “wawasan” dan “penyegaran” kepada para reporter, wartawan media cetak dan televisi, serta tidak ketinggalan para wartawan bodrex dan penulis lepas atau para pengamat di negeri ini. Duh, betapa banyaknya pengamat di negeri ini?. Apa yang luput dari pengamatan nya para pengamat?.

Pembicara dari Mabes Polri mengisahkan tentang kehebatan dan kepiawai-an anggotanya dalam mengungkap, membongkar lalu menangkap jaringan terorisme di negeri ini.

Para pendengar sudah mulai ‘ngantuk dan jenuh. Wah, Rehat kopi atau coffee break masih lama?. Pikir penulis. Mulut sudah asem dan pikiran tambah mumet di jejalin doktrin-doktrin tentang betapa pentingnya Hankamnas demi keutuhan NKRI.

Disela-sela kejenuhan para pendengar. Salah seorang wartawan kritis langsung saja menyahut ; “Bagaimana dengan kasus Munir?. Kasus penculikan-penculikan lainnya, kenapa belum bisa diungkap?.”
Lampu ruangan tiba-tiba padam.

“Aaargh!. Gubrak! Auuuuw!.” Suara hiruk pikuk dari tengah ruang sidang. Seperti suara orang yang terkena pukulan.

“Bukan!, bukan kami,Pak!. Bukan saya yang bertanya tadi!.”

Lampu ruang menyala kembali.

Orang yang menyanggah tadi kemudian di papah,lalu diboyong oleh dua orang berbadan tegap dan berkepala cepak.“Auuuw!.” Orang yang digiring itu nampak kesakitan sambil mengelus-elus pipinya yang memar.

“Maaf ya bapak-bapak, ada “kesalah pahaman” sedikit, bapak tadi belum dipersilahkan bertanya… Eh, malah bertanya!. Jadi merusak “skenario” seminar yang sudah kami buat!.” Kata sang pembicara mencoba menjelaskan.

“Dan kejadian yang “memalukan” tadi tolong “off the record” ya… Kalau sampai “bocor”, Identitas bapak-bapak yang ada di ruangan ini sudah kami catat!.” Kata si pembicara lagi.
“Diminta kerja sama bapak-bapak semua demi menjaga keutuhan NKRI, bagi yang membocorkan bisa dikenai tuduhan subversif!.”

Penulis melirik ke arah sebelah. Wartawan itu nampak kaku wajahnya, keringat dingin deras mengucur dari pelipisnya.

“Kenapa Pak?.” Tanya Penulis pada wartawan disebelah penulis.
“Anu … Anuuu.. Mmm… (gugup), saya mau pipisss, Mas!.”

“Kalau mau pipis, ya ke toilet saja Pak!.” Pinta penulis.

“Saya takut… Nanti dituduh subversif!.” Kata wartawan itu. “Kasihan istri muda saya, baru nikah tiga bulan masa sudah jadi janda nantinya!.”

Tok!, Tok!, Tok!. Terdengar suara palu diketuk. “Bapak-bapak semua harap tenang… .”

Setelah ruang seminar kembali tenang. “Pokoknya tenang saja, amplop-amplop buat bapak-bapak semua sudah kami siapkan!. Tapi tolong masalah amplop ini “off the record” juga ya, demi kode etik jurnalistik!.”

“Setuju!.” Suara koor terdengar bersemangat.

“Amplop apa Mas?.” Tanya penulis bingung. “Supaya seminar ini berjalan sesuai dengan “skenario” mereka.”

“Maksudnya?.” Tanya penulis lagin asli karena penulis benar-benar gak ngerti.

“Mas gak butuh amplopnya?.” Tanya wartawan itu.

“Iya, saya butuh isi nya… Hehehe, amplopnya buat Mas saja!.” Sahut penulis ceria dan kelihatannya penulis mulai mengerti maksudnya “skenario” itu.

*****
Penulis Satire, Off The Record, 12112012

Ilustrasi Gambar : ana-jannah.blogspot.com