Sabtu, 06 April 2013

Siapa Yang Menghamili Wanita Gila Itu?



Hah!, wanita gila itu hamil?.

Oh, Tuhan siapa yang tega membuatnya hamil?.  Suami nya?, Ah sejak pertama kali ku lihat dia, wanita itu memang sudah gila. Pakaian nya compang camping seadanya. Kulitnya berdaki tebal, campuran yang sempurna antara debu (mungkin juga tanah) dan segalon keringat. Bagaimana dia bisa bersuami?, dan setahuku tidak ada satu lelakipun sampai saat ini yang mengakui kalau wanita gila itu adalah istrinya.

Jijik juga melihatnya. Gila!, Biadab yang menghamili wanita gila itu!. Bagaimana mungkin mau menyetubuhinya. Melihat wanita gila itu sama juga dengan melihat seonggok sampah.

Apa mungkin para security di perumahan ini?.  Aku pernah dengar dari temanku, di perumahan temanku di daerah Sunter, Jakarta Utara, pernah terjadi para securitynya memperkosa wanita gila berramai-ramai.
Gila!, bagaimana mungkin?.

Ya, mungkin saja. Kata temanku.

Gak jijik?. Terus wanita gila itu diam saja diperkosa?. Ah, gak masuk akal!. Kenapa dia tidak mengamuk saja?, bukankah orang gila itu tindakannya seringkali di luar batas wajar dan sering mengamuk.

Sebelum diperkosa. Wanita gila itu diberi makanan. Setelah sudah jinak (istilah temanku saja), wanita gila itu dimandikan, di gosok, disikat sampai licin, rambutnya pun dikeramasin sampai menghabiskan satu botol samphoo. Pokoknya wanita gila itu di permak sampai mulus kembali. Setelah bersih, dia diberi pakaian.

Terus?. Tanyaku penasaran. Benar-benar cerita yang unik buatku. Kok ada orang yang mau memperkosa tapi dengan teliti, telaten dan sabar sekali?.

Setelah tubuhnya mulus kembali dan diberi pakaian bersih…Ya diperkosa, bergiliran, berramai-ramai, disekap di pos security selama tiga hari tiga malam.

Kok bisa sih?. Tanyaku masih bingung dengan cerita temanku.

Apa bedanya orang gila dengan kita?. Tanya temanku mulai berlogika. Cuma jiwanya saja kan yang beda?, makanya disebut orang sakit jiwa. Kalau tubuhnya ya sama saja dengan kita.  Kalau dari sono nya sudah mulus ya biar gila juga tetap saja mulus cuma bedanya kotor saja mungkin. Kata temanku berusaha meyakinkan aku.

Apalagi kalau wanta gila itu setelah dibersihkan, ternyata tubuhnya mulus, buah dadanya ranum seperti mangga matang di pohon dan pinggulnya sexy seperti gitar spanyol, aku yakin kamu pasti akan suka. Dan tentu saja kamu pun akan bernafsu memperkosa wanita itu walau pun jiwa nya sakit.

Hehehehe… ada-ada saja kamu ini. Sahutku acuh. Siapa juga yang mau perkosa orang gila?, kalau bukan orang itu “lebih gila” dari si orang gila. Alias biangnya gila!, alias biadab!, alias binatang! (ah, binatang saja mungkin tak sebiadab itu, pikirku).

Dan anehnya, wanita gila itu setelah diperkosa berramai-ramai malah sembuh dari gilanya. Terus wanita gila itu diberi ongkos untuk balik ke kampungnya lagi. Kata temanku lagi.

Kok bisa sih?, gak mungkinlah. Aku yakin kalau cerita temanku yang terakhir itu terlalu dilebih-lebihkan. Biar terlihat lebih seru, menarik dan Believe it Or Not.

Kalau aku perhatikan Pak Jon, kepala security diperumahanku. Orangnya sangat tegas dan berwibawa dimata kami warga perumahan. Dan tentu saja dimata para anak buahnya. Mana mungkin orang sewibawa itu bisa memperkosa wanita gila bersama-sama dengan anak buahnya?. Dan lagi juga, Pak Jon orangnya alim, sering aku lihat Pak Jon bersarung dan berpeci waktu maghrib tiba. Buru-buru ku tepis pikiran gilaku sendiri.

Pikiranku langsung melayang ke Mario, si preman cap kampret. Preman kok takut sama istri?. Orang-orang di perumahanku banyak yang bilang walaupun tampangnya sangar dan sadis, Mario takut banget sama istrinya. Ada juga yang bilang kalau Mario kebal dengan segala jenis senjata tajam (kecuali tusuk sate dari bambu).

Gara-gara Mario menuntut ilmu kebal, “burung”nya tidak bisa bangun lagi, itu sudah persyaratan yang harus ia terima dari gurunya. Makanya dia takut sekali dengan istrinya. Walaupun istrinya sering tertangkap basah berselingkuh dengan para “berondong” (baca: lelaki muda atau lelaki ABG), Mario tidak bisa marah karena ia takut kalau rahasia tentang “burung”nya menjadi gosip Head Line di perumahan kami.

Mario?, burungnya saja tidak bisa berkicau. Bagaimana dia mau menghamili waita gila itu?.

Siapa lagi yang bisa kutanyai?. Mbok Bariah, si tukang sapu yang merawat taman di perumahanku?, dia pasti tahu. Pikirku. Tapi…tidak pernah ku lihat Mbok Bariah bicara dengan siapapun di perumahan ini. Dia lebih senang gerundel dengan tanamannya, dengan sapunya, dengan peluhnya dan dengan rokok kreteknya saja. Apa salahnya kucoba?.

“Rokok!.” Kataku sambil menyodorkan sebatang rokok kretek pada Mbok Bariah.

Mbok Bariah heran melihatku, heran melihat ada orang yang mau bersimpati padanya dengan memberikan rokok. Dengan pandangan takut, ia pun mengambil rokok yang ku berikan.

“Api.” Sambil ku menyodorkan rokokku yang masih menyala.

Dengan hisapan yang kuat. Nyala api dari rokokku berpindah ke rokoknya. Kami pun berdua menghisap rokok dalam-dalam, menghembuskan polusi asap pada taman yag indah dan tertata rapi ini.

“Panas juga ya Mbok siang ini.” Kataku basa-basi membuka percakapan. “Biasanya kalau siangnya panas menyengat begini, sore atau malamnya suka hujan.”

Percuma saja basa-basiku. Tak ia perdulikan. Mbok Bariah, si gagu, begitu anak-anak di perumahan kami sering menggodanya. Kenapa tidak to the point saja, percuma bicara lama-lama sama orang gagu. Pikirku kesal.

“Mbok Bariah tahu siapa yang menghamili wanita gila itu?.” Kataku dengan sedikit kesal.

Mbok Bariah yang sedari tadi diam langsung melotot ke arahku. “Kenapa tanya aku?.”

Ditodong pertanyaan itu, aku pun bingung dan tak bisa menjawab pertanyaan Mbok Bariah.

“Tanya saja dengan orang gila itu!.” Kata Mbok Bariah melototkan matanya padaku.

Aku pun pergi meninggalkan Mbok Bariah yang tak bersahabat itu.

Tanya saja dengan orang gila itu!. Kurang aja sekali Mbok Bariah itu, masa aku disuruh bicara dengan orang gila. Memangnya aku sudah tidak waras?. Beberapa saat aku cuma diam, pertanyaan ku tentang wanita gila itu menjadi buntu. Masa sih aku harus bicara dengan orang gila?.

“Nih, pakaian!.” Kataku sambil menyodorkan baju daster yang ku pikir muat dengan wanita gila itu. “Ganti pakaianmu yang sudah gak karuan itu!.”

Wanita gila itu memandangku sambil senyum-senyum. “Hihihihih.. “

Langsung saja di copotnya pakaian “gila” nya itu. Bugil di depan mataku. Sesaat pikiranku pun melayang pada cerita temanku. Hmmm, mulus juga wanita ini, badannya padat berisi, kalau perutnya tidak buncit karena hamil, sexy juga. Kalau dibersihkan, hmm…lelaki mana yang tidak suka?. Secepat kilat aku stop pikiran liarku. Sebagai orang terhormat, aku tidak pernah mau memanjakan pikiran-pikiran kotor seperti itu.
Setelah wanita gila itu selesai berdaster. Akupun memberanikan diri bertanya.

“Siapa yang telah menghamili kamu?.” Tanyaku sesak, kasihan melihat nasibnya yang sial.

“Hihihihihih… .” Wanita gila itu cuma cengengesan sambil senyam senyum memandang mataku tajam.

“Suami kamu?.” Ah, pertanyaan yang tolol. Bagaimana mungkin ia bersuami.

Wanita gila itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘Lalu siapa yang telah menghamili kamu?.”

“Kamuuuu… hihihi… kamu sayang ku…hihihihih.” Kata wanita gila itu menunjukku dengan gaya manjanya.

“Aku?.” Tanyaku pada diriku sendiri. “Hahahahaha… aku?.”

Gila!, siapa juga yang sudi menyetubuhi wanita gila itu.

“Hihihihihi…kamu lah sayangku, hihihihi… aku lah dewi mu, gadis pujaanmu, gadis pujaan mu.. Oh, dewi ku, kemarilah gadis pujaanku.” Wanita gila itu mulai ngaco, ngomong ngalor ngidul gak karuan. Lalu wanita gila itu pun pergi meninggalkan aku yang masih saja terpaku dengan sejuta tanya.

*****

Suara dari neraka memekakkan telingaku. Sebotol chivas, setia menemani risauku. Hingar bingar musik techno. Wanita-wanita malam yang genit dan binal. Ah, persetan dengan semua ini!. Aku terperosok dalam diskotik ini. Terperosok pada labirin sepi.

Dewiku, gadis pujaanku, kemarilah temani sepiku. Datanglah malam ini, gadis pujaanku. Aku mulai melantur karena mabuk. Bagaimana si wanita gila itu tahu tentang dewiku?, tahu tentang gadis pujaanku?. Apa benar yang dikatakan wanita gila itu?. Apa aku yang menghamilinya?. Setaaaaaaan!, aku tenggelamkan gelisahku dalam sebotol chivas lagi.

Hehehehehe, kini aku sudah jadi pemabuk berat. Tiap hari, pulang hampir pagi dalam keadaan sempoyongan dan ngoceh-ngoceh aneh. Dewi ku, gadis pujaanku, kemarilah temani aku, oh, dewiku janganlah kau pergi. Persis, seperti waktu aku baru ditinggal oleh istriku. Begitu terpukulnya aku, waktu Dewi, istriku pergi meninggalkanku bersama laki-laki lain. Ia tidak mau mema’afkanku karena aku sering menampar dan memukulinya. Aku lupa persisnya kenapa aku mulai memukuli istriku?, apa karena kami tidak punya anak dari perkawinan kami?, atau karena usaha ku yang saat itu sedang down hingga stress pekerjaan terbawa sampai ke rumah. Aku sudah menyesalinya, meminta ma’af padanya tapi tetap saja ia pergi dengan lelaki lain.

Bagaikan menyusun kembali puzzle luka batinku. Aku mencoba mengingat kembali, betapa frustasinya aku setelah ditinggal Dewi, istriku, gadis yang selalu ku puja-puja ketika kami berpacaran dulu. Hari-hari ku isi dengan mabuk dan mabuk. Mencoba melupakan Dewiku dengan mabuk, hingga suatu malam dalam keadaan mabuk, di taman ini aku melihat “Dewi ku” kembali dengan pakaian compang-campingnya yang menantang gairahku. Ah, mengapa wanita gila itu lagi yang bermain-main, bernyanyi-nyanyi dan menari-nari di pikiranku. Aku menepisnya keras, Bagaimana mungkin aku yang orang terhormat ini menghamili wanita gila itu?. Menyetubuhinya saja aku jijik!.

Taman itu. Wanita gila itu. Mabuk ku. Dewi ku. Gadis pujaanku. Semua menari-nari di benakku. Terlalu sakit hingga tak pernah ku selesaikan puzzle luka batinku itu, biar ia berantakan dan berserakan begitu saja. Biar ia berdebu, kusam dan sekarat dimakan rayap waktu.

Dalam keadaan sempoyongan mabuk. Di dekat taman perumahan, saat waktu hampir masuk subuh, Mbok Bariah menegurku.

“Selamat pagi anak muda!.”

“Heh!.” Dengan acuh ku angkat sebelah tanganku.

“Sudah tahu siapa yang menghamili wanita gila itu?.” Tanya Mbok Bariah menampar hati nuraniku. 

“Hehehehehe … hehehehe.” Tawa serigala Mbok Mariah menyeringai lapar. Puas ia mencabik-cabik hatiku, lalu memakannya rakus.

Hati nuraniku pun menjerit. “Setaaaaaaaannnn!.”

*****

Siapa Yang Menghamili Wanita Gila Itu? - 01052012


Manusia adalah hewan yang paling tahan menderita dan ia harus menciptakan tawa untuk mempertahankan kewarasannya - Nietzche.
Salam humor selalu untuk para pembaca setia. Sebuah salam unik, salam jenaka terhangat dari si penulis. Yang selalu berharap agar kita semua tetap waras dalam menjalani kerasnya kehidupan. Amien.
“Kita-kita yang punya tanggung jawab moral untuk menulari virus “waras” pada masyarakat yang t’lah “sakit” .” Salam humor selalu dari si Kutu Kata.


Keterangan Gambar : Wanita Hamil - Karya : Wans Sabang, 08042013




Dokter JIwa Dan Pasiennya





Seorang anak muda berrambut gimbal dan berpakaian kumal ada diketinggian tower listrik. Tangan kirinya memeluk erat tiang penyangga tower. Sedangkan tangan kanan nya asyik ber dag-dag ria, sambil sesekali jemarinya ditempelkan ke bibir,tanda kecupan. Duh, mesranya kemudian ber dag-dag lagi. Berteriak-teriak tapi suara nya ditelan deru angin dan riuh keramaian orang-orang yang menontonnya.

“Hoooi!, turun!, mau mati kamu ya!.” Teriak seorang bapak berkumis tebal yang gemas berkerumun di bawah tower.

“Huh!, dasar orang gila mau mati saja bikin heboh!.” Teriak seorang ibu gembrot sewot.

Orang-orang yang berkerumun dibawah, melongo sambil mulutnya menganga. Hati-hati, mulutnya bisa kemasukkan laler nanti. Dan giginya bisa kering nanti. Gara-gara “cumi” ; cucah mingkem, hehehehe.

Para kru TV O’on dan Metro Mini TV, sibuk meliput. Bak seorang selebriti, pemuda berrambut gimbal dan berpakaian kumal setelah lelah ber dag-dag pada udara. Kini ia ber dag-dag pada kamera yang menyorotnya. Dan sambil melemparkan senyum kuda nya ke arah reporter TV yang cantik-cantik.

Seperti biasa, petugas penyelamat selalu datang terlambat. Kalau cepat datang, cerita jadi gak seru. Dengan dipaksa oleh tiga orang petugas. Yang satu memegang kakinya, Yang kedua menjambak rambut gimbalnya, Yang ketiga meremas selangkangan nya.

“Auuu!.”

“Mau turun, gak?, kalau gak saya remukin nih?.” Ancam petugas ketiga.

Di ancam seperti itu. Pemuda berrambut gimbal itu kapok. Sedikit demi sedikit, akhirnya dia mau juga di tuntun untuk turun.

“Mas!, Mas kenapa naik ke tower listrik?, mau bunuh diri ya?.” Tanya seorang reporter TV.

“Kenapa Mas, tolong diceritakan dong Mas?.” Tanya reporter TV lainnya.

“Huuuuhhhhh!, Narsis banget lo!, Huuuuuuu … .” Teriak penonton yang sedari tadi cemas, akhirnya jadi kesal.

“Sorry, sorry, no comment… no comment!.” Sahut pemuda berrambut gimbal.

*****
Di ruang terapi, Ahli penyakit jiwa.

“Bagaimana, Dok?.” Tanya seorang ibu sedih. ”Apa nama penyakitnya, Dok?.”

Si pemuda berrambut gimbal itu cengengesan ke dokter dan ke sang ibu. “I miss her, Mom… I miss her, Dok!, hehehehe… “

“Too much love will kill you.” Kata Dokter itu kalem.

“Maksud nya Dok?.” Tanya ibu itu bingung.

*****

Sebagai terapis, Dokter ahli jiwa yang terkenal sampai sejagat. Akhirnya sang ibu menyerahkan kesembuhan anaknya pada Dokter jiwa itu. Tentu saja dengan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang tidak sebentar. Perlu kesungguhan dan modal yang besar untuk menyembuhkan penyakit gila.

Dengan terapi yang teratur, dari hari ke hari mulai tampak ada perubahan pada diri si pemuda itu. Rambutnya yang gimbal kini sudah di potong tipis, rambutnya yang ikal hitam itu member kesan macho. Tentu saja giginya pun sudah putih cemerlang, tidak berwarna warni. Pakaian nya sudah necis, tidak kumal seperti dulu. Bagi yang baru mengenalnya, tidak akan menyangka kalau pemuda cool itu dulunya adalah pasien penyakit jiwa.

*****

“Pa, jadi gak nganter Mama ke mall?.” Rajuk si Mama pada suaminya, si Dokter jiwa.

“Krukkkkuuuk, groook, kruuuuk kkkkuuuuk grook… .” Sang Dokter jiwa masih asyik bermain-main dengan “Susi Susanti”, burung Perkutut kesayangannya. Burung perkutut pemenang lomba nasional.

“Pa!.” Teriak si Mama.

“Eh, oh iya!.” Sang Dokter kaget, lalu membalikkan badannya kea rah istrinya. Tapi pikirannya masih pada “Susi Susanti” nya. Secepat kilat, Dokter jiwa itu bias mengendalikan suasana.

“Hei, Bro!, kamu bisa bawa mobil kan?.” Tanya Dokter jiwa pada si pemuda cool yang masih tenggelam pada lembaran-lembaran majalah wanita di teras rumahnya.

Pemuda yang dipanggil si Bro itu kaget sebentar, lalu menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia bisa membawa mobil.

Matic, Bro mobilnya!.” Kata Dokter jiwa itu mengingatkan.

“No problem, it’s OK, Dok!.” Sahut si Bro, pemuda cool yang macho.

*****

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino.
Pepatah di masyarakat jawa, tentang cinta yang (bisa) timbul karena kedekatan sehari-hari.
Cinta tidak memandang gila atau waras. Karena mencintai adalah sebuah kegilaan itu sendiri.
Begitu halusnya jerat asmara dalam memerangkap sang korban. Lebih halus dari jerat sang laba-laba dalam memerangkap korban lalu memangsanya puas.

Kedekatan antara si Bro dengan keluarga Dokter jiwa itu merupakan sebuah kedekatan yang wajar. Si Dokter jiwa yang terkenal sampai sejagat. Tidak cukup punya waktu buat kedua bidadarinya, yaitu si Mama, istrinya dan Agnes, putri tunggalnya.

Kedekatan yang bermula dari mobil matic si Dokter jiwa. “Susi Susanti” yang begitu menyita bahkan sudi memperkosa waktunya si Dokter jiwa. Ah, semua itu seperti sebuah skenario yang telah tersusun rapi dengan jalinan konflik yang penuh kejutan. Siapa yang menyangka akan berakhir seperti ini?. Apakah Tuhan si maha pembuat skenario hidup?. Apakah si Bro, pemuda cool yang dulunya gila telah merancang dan merekayasa semua ini?, Rasanya terlalu pintar buat ukuran otaknya si Bro sendiri.

Bukan hanya sang waktu. Dan juga bukan hanya matahari, atau bulan dan bintang-bintang yang menaungi susunan tata surya kita. Aliran darah kita adalah misteri. Desah napas kita pun misteri. Sebuah misteri adalah kesempurnaan dari kelemahan-kelemahan jiwa yang asyik diselimut nafsu. Nafsu manusiawi yang Tuhan lebih tahu dari manusia itu sendiri.

*****

“Apa. Kamu hamil?.” Tanya si Dokter jiwa marah pada Agnes, putrinya. “Siapa?, siapa lelaki bangsat itu!.”

“Papaaaa (teriak marah), dia sayangnya Agnes, dia bukan bangsat!.”

“Setan!, babi!, anjing!, bangsat!, hantu blau sekali pun, aku gak perduli!.” Teriak-teriak Dokter jiwa yang sudah tidak bisa menjadi tuan atas jiwanya sendiri.

“Sudahlah, Pa… jangan marah-marah begitu!, malu kan nanti dilihat tetangga.” Kata si Mama lembut.

“Kamu juga!.” Teriak si Dokter jiwa marah pada si Mama. “Gak becus ngurus anak!, hobinya ke mall melulu, ngabis-ngabisin duit gak karuan, huh, dasar perempuan sial!.”

“Papa tuh yang kegilaan sama “Susi Susanti”.” Sahut si Mama kesal. “Apa Papa punya waktu buat istri dan anak?, ngaca dong, Pa!.”

Si Bro, pemuda cool itu tidak berani memandangi pertengkaran keluarga itu. Ia diam, tekun menekuri motif keramik ruang tamu rumah dokter itu. Sebuah motif penuh misteri, sebuah lukisan alam yang absurd.

“Hei, Bro!, bawa matic itu, kita pergi dari neraka ini!.” Ajak si Dokter jiwa mengagetkan si Bro.

*****

Di puncak Pass, di sebuah ketinggian sambil memandang  jurang yang curam. Mobil matic si Dokter jiwa parkir disitu.

“Akan aku tembak, si lelaki bangsat itu!.” Kata Dokter jiwa pada si Bro.

“Dia yang sudah merusak rumah tanggaku!.” Kata Dokter itu lagi. Lagi-lagi, Bro cuma diam.

“Sebenarnya aku tidak percaya, kalau istriku sudah berselingkuh dengan lelaki itu!.”

“Dari gerak gerik dan tingkah lakunya yang seperti gadis ABG. Dan yang lebih jelas lagi dari BB an istriku dengan lelaki bangsat itu, yang pernah ku baca, begitu mesra dan seronok kata-katanya!.”

Berjam-jam si Dokter jiwa itu curhat dengan si Bro, pemuda cool bekas pasiennya.

*****

Si Dokter jiwa yang terkenal sampai sejagat kaget ketika dilihatnya di meja makan ada sepucuk surat dari putrinya.
Selain kepergian putrinya dengan lelaki bangsat itu, yang lebih mengagetkan si Dokter jiwa adalah isi surat yang menyatakan bahwa terpaksa putrinya pergi karena ia tidak rela lelaki kesayangannya di rebut oleh sang Mama.

Wajah si Dokter merah padam, kebakaran. Bukan hanya janggutnya tapi harga dirinya serasa di panggang di bara api menyala.
Sarapan susu dan roti panggangnya jadi terbengkalai. Si Mama bengong melihat suaminya bergegas terburu-buru meninggalkan meja makan.
Selang beberapa detik. Si Dokter sudah mengacung-acungkan pistolnya.

“Siapa?, Siapa lelaki bangsat itu?!.” Sambil si Dokter menodongkan pistol ke arah istrinya. “Ayo, ngaku!, ngaku saja!.”

“Papaaaa, sadar, Pa!, Papa ini kenapa?, kemasukan setan apa sih, Pa?.”

“Kamu yang setan!.”

Ditengah kecamuknya pertengkaran. Tiba-tiba Bi Isah tergopoh-gopoh, ngos-ngos an.

“Pak, Pak … si Susi, si Susi!.” Teriak Bi Isah.

“Hah!, kenapa si Susi?.”

“Celaka, Pak!, si Susi ikut mabur.”

“Apaaa?.” Teriak si Dokter jiwa kaget yang sangat.

Kali ini, ia benar-benar sudah tidak bisa menguasai jiwanya. Mungkin, ia sendiri kini tidak tahu, dimana lagi jiwanya bersemayam.

“Setaaaaannnn!.” Teriak si Dokter jiwa. Selalu kita lebih senang dan gampang sekali menyalahkan setan atas segala perbuatan nafsu kita sendiri.

Ditariknya picu pistol itu beberapa kali.

“Klik!, Klik!, Klik!.” Bunyi picu pistol yang ditarik.

“Mampus kau!, Mampus kau!, Mampus!, Mampus, hehehehehehe… .”

Si Mama yang ketakutan jadi bengong melihat, pistol tak berpeluru yang ditembakkan berkali-kali oleh si Dokter jiwa. Oh, Gusti, beruntung pistol itu lupa di isi peluru oleh suaminya. Kalau pistol itu terisi peluru, mungkin kejadiannya akan berbeda.

*****

Di sel rumah sakit jiwa, Cilendek, Bogor.

“Mampus kau!, Mampus kau!, dor!, dor!, mapus!, mampus!, hehehehehehe… .” Suara dari dalam sel rumah sakit jiwa.

“Susiiii, Sussssiiii Susanti, jangan pergiiiii!, sial!, sial, mampus kau!, mampus kau!.” Ketawa dan jeritan yang memilukan.

“Kenapa dia, Prof?.” Tanya Asisten, seorang mahasiswi psikologi semester terakhir bertanya kepada si Prof, seorang tenaga ahli di rumah sakit itu sekaligus dosen pembimbingnya.

“Biasa!, Too much love will kill you!.”

“Maksudnya, Prof?.”

“Hehehehe, gila karena cinta.” Jawab profesor itu kalem.

*****
Dokter Jiwa Dan Pasiennya, 120512

Keterangan Gambar : Dokter - Karya : Wans Sabang, 08042013

Aku Menulis Karena Aku Sakit Jiwa




Menulis, menulis dan terus menulis.  Aku terus saja menulis. Menuangkan semua apa yang ada didalam kepalaku. Terus kutuang tapi rasanya tak pernah penuh. Pikiran-pikiran itu selalu membanjiri kepalaku, aku takut tenggelam dalam pikiran-pikiran itu. Semua harus ku salurkan, harus ku tuang ke dalam gelas-gelas pikiran lainnya. Aku takut tenggelam, aku takut tenggelam.

Gangguan kejiwaan yang bernama Skizofrenia telah begitu parah mempengaruhi otakku, mempengaruhi fungsi normal kognitif, emosional dan tingkah lakuku.

Kemampuan kognitif bisa diartikan sebagai kecerdasan atau intelegensi seseorang dalam memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisa, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. Pengetahuan yang kudapatkan karena aktivitas tersebut mempengaruhi kepercayaan terhadap sesuatu atau seseorang. Karena fungsi kognitif ku yang tidak normal maka akan mempengaruhi sikap atau perilaku ku yang tidak normal juga terhadap sesuatu atau seseorang. Sikap atau perilaku ku sering berbeda bahkan bertentangan dengan kaidah-kaidah umum, aku lebih senang berfikir terbalik atau mempunyai paradigma yang berbeda dengan kebanyakan orang. Akibat perbedaan itu, aku sering memiliki pemahaman, pendapat atau keyakinan yang salah (atau lebih tepatnya adalah berbeda).

Suara-suara dari luar mendesak masuk kedalam kepalaku. Aku tak bisa kontrol lagi mana yang positif dan negatif. Begitu aku meyakini suara-suara negatif sebagai sebuah keyakinan yang benar maka aku menganggap keyakinan atau kepercayaanku itulah yang paling benar. Dan sering menganggap bahwa akulah yang paling hebat karena telah menemukan “kebenaran sejati”. Jika ada orang lain yang berbeda keyakinan atau kepercayaan denganku, perilaku ku menanggapinya dengan wajah dingin tanpa emosi, sinis bahkan sampai benci dan menganggap orang tersebut sebagai musuh atau orang yang kapan waktu bisa menganiaya dan menguasaiku. Gangguan paranoid yang berlebihan. Tidak mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain.

Menurut Dokter jiwa yang mendiagnosaku, Gejala Skizofrenia selain disebabkan karena stresor lingkungan dan faktor genetik, banyak juga faktor lain yang bisa memicu seseorang mengalami gangguan kejiwaan itu.

Stresor lingkungan adalah situasi atau pengalaman yang bertekanan berat atau kronis dan tidak dapat dikendalikan oleh seseorang sehingga stresor itu mengganggu fungsi normal kejiwaaan orang tersebut.

Yang dibutuhkan dari orang-orang terdekatku adalah perhatian dan empati, kesabaran dalam menghadapi segala perilaku ku. Jangan mengkritik atau menyalahkanku secara berlebihan jika pengetahuan, pendapat, keyakinan dan kepercayaanku berbeda. Jika aku merasa tersudut, aku akan menutup diri, menarik diri secara sosial, lebih senang menyendiri dan diam, menentang apapun tanpa alasan jelas, mengamuk dan berbuat semaunya.

Siapa bilang gangguan Skizofrenia ini tidak bisa sembuh?. Dengan perawatan dan pemberian obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan  dengan perawatan terapi psikologis gangguan kejiwaan ini bisa disembuhkan, kata Dokter jiwaku.

Kamu pernah menonton filam A beautiful of mind ?. Aku cuma menggelengkan kepala saat Dokter itu bertanya kepadaku. A beautiful of mind adalah sebuah film yang terinspirasi oleh kisah hidupnya Jhon Nash, seorang doktor  ahli ilmu matematika yang berhasil meraih hadiah Nobel pada tahun 1994. Jhon Nash telah membuktikan dengan kemauan dan segala usahanya serta kesabaran dan kehebatan istrinya dalam mendampingi Jhon Nash maka ia bisa tetap berprestasi dan gangguan Skizofrenia nya bisa sembuh. Dokter jiwaku menjelaskan tentang film itu.

“Dok!, Dok!, lihatlah!.” Aku bergegas menghampirinya lalu menunjukkan buku catatanku kepadanya.
Dokter memperhatikan dan membaca isi tulisanku dalam hati. Menulis, menulis, menulis … . Dokter tersenyum, seluruh catatanku itu sebenarnya hanya berisi tulisan  ; menulis, menulis, menulis dan menulis.

“Dok, kapan aku sembuh?.”
“Tergantung kemauanmu!. Kalau kau mau cepat sembuh maka kau akan bisa cepat sembuh.” Kata Dokter menjelaskan.
“Aku akan simpan hasil karyaku ini, Dok. Kalau aku sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit ini maka novel ini akan saya terbitkan menjadi sebuah buku. Bagaimana, Dok?.”
“Wah, bagus itu. Aku setuju sekali.”
“Tapi, Dok … tinta ballpointku habis. Padahal aku sudah berrencana malam nanti aku akan menulis novel yang lebih bagus dari ini.” Jelasku bersemangat.
“Buku tulisnya masih ada?.” Tanya Dokter.
“Sisa satu lagi, Dok!.”
“Baiklah, nanti aku suruh perawat untuk membawakan satu lusin buku dan satu pak ballpoint kekamarmu.”
“Terima kasih, Dok!, terima kasih!.” Jawabku gembira.
“Hei, sobat! sebentar lagi aku akan menjadi penulis hebat!. Hahaha … aku akan menjadi penulis terkenal!.” Aku dengan senang dan bersemangat menyapa para pasien yang ada dirumah sakit ini. “Hahahaha … sebentar lagi!. Ya, sebentar lagi!. Hahahaha … .”

*****

 Aku Menulis Karena Aku Sakit Jiwa, 29092012


Aku Menulis Karena Aku Sakit Jiwa, adalah salah sebuah cerpen dari buku kumpulan cerpen Kutu Kata yang berjudul : Orang-Orang Bilang Aku Gila!.


Keterangan Gambar : Fly - Karya : Wans Sabang, 11042013